
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
.
Di sebuah hotel bernama Alana. Alana adalah kata yang di ambil dari bahasa Jerman kuno yang artinya adalah berharga. Hotel tersebut adalah hotel yang di bangun sebagai bukti cinta antara Kakek Tuan Farhan dengan Neneknya atau bisa di bilang hotel tersebut di bangun untuk mengenang ibu dari Tuan Wijaya. Karena sebelum ibunya meninggal beliau berpesan untuk mendirikan sebuah hotel untuknya.
Hotel Alana memiliki empat lantai dan di lantai satu sedang ada beberapa pekerja berbadan besar yang sedang mendekorasi ruangan tersebut menjadi sangat cantik dengan pernak-pernik bunga juga lampu hiasan di atasnya. Dan untuk sementara hotel Alana di tutup sementara waktu sehingga tidak ada tamu hotel yang menginap di sana.
Para karyawan hotel Alana juga ikut serta dalam kegiatan tersebut ada yang membersihkan lantai, kaca juga membantu memasang kain dengan warna putih sebagai dekorasi panggung pernikahan.
Sedangkan keluarga Shireen sudah di Indonesia sejak empat hari yang lalu, di jemput langsung oleh Tuan Farhan menggunakan jet pribadi miliknya. Dan saat ini keluarga Shireen menetap di hotel Alana tepatnya di lantai dua, kamar nomor A23.
Tepat pada hari ke sepuluh yang sudah di janjikan oleh Tuan Farhan bahwa pernikahan antara Hamas dan Shireen akan berlangsung. Dan hari ini adalah hari ke sembilan yang mana tersisa satu hari lagi sebelum hari pernikahan Hamas dan Shireen yang akan di adakan di hotel Alana. Undangan pernikahan pun sudah di sebar ada lima ratus tamu yang di undang dan semuanya adalah rekan kerja Tuan Farhan sedangkan dari pihak keluarga Shireen tidak ada yang di undang.
Sedang di Mansion Utama sudah ada orang tua Shireen, juga Shireen tentunya. Selain mereka ada Tuan Smith, Tuan Zeus dan rombongannya yang ikut hadir di pernikahan Hamas. Sedang Tuan rumah semuanya ada kecuali Jons, Tuan Farhan dan dua D karena mereka sedang berada di kota pahlawan atau kota Surabaya, mereka sedang menjemput adik Jons yang sudah lama tidak bertemu itu.
Kini di ruang keluarga ada empat keluarga yang sedang berkumpul, bercerita ria dengan wajah berseri-seri. Yaitu Tuan Wijaya, Tuan Smith, Tuan Zeus dan Tuan Aldert.
"Karena semuanya sudah di sini ada yang ingin saya sampaikan." Tuan Wijaya membuka percakapan menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruang keluarga. Di sana juga ada Richo, Tio dan Alex sedangkan para perempuan mereka berkumpul di samping Mansion lebih tepatnya di taman.
Richo baru saja kembali dari Meksiko ia sedang mengejar tambatan hatinya di sana, sepertinya pria jones itu sudah mantap melabuhkan hatinya pada perempuan asal Meksiko.
Terlihat Richo menundukkan kepalanya saat Tuan Wijaya angkat bicara, sesekali pria berkulit sawo matang itu meremas telapak tangannya merasa deg-degan atas ungkapan Tuan Wijaya selanjutnya.
"Saya di sini mewakili Richo sebagai orang tua walinya ingin meminang ponakan dari Tuan Zeus yang bernama Karla" semakin sulit rasanya sekadar menelan ludah, seakan terhimpit kerongkongan Richo kala kalimat lamaran akhirnya terlontar dari mulut Boss besarnya.
Tio dan Alex melirik ke arah temannya menyenggol pelan lengan Richo melempar senyum penuh arti.
Tuan Zeus kemudian menatap Richo tersenyum tipis lalu kemudian menjawab "Karena kedua belah pihak sama-sama suka dan saling mencintai..., saya rasa tidak berhak saya untuk tidak menjawab iya. Saya menerima pinangan dari Tuan Wijaya untuk ponakan saya"
Semuanya tersenyum lebar kala Tuan Zeus menerima lamaran dadakan dari Tuan Wijaya begitupun dengan Richo. Pria itu tak henti-hentinya tersenyum bahkan sampai di ledekin oleh dua sahabatnya.
"Cieeee, yang sebentar lagi melepas status bujangan nih" ledek Tio dan Alex membuat semua di sana tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah merah Richo.
"Iya dong, lagian umurku sudah tidak muda lagi" tutur Richo dengan wajah yang masih berseri-seri.
"Alhamdulillah kini miliaran anak Richo akan berada di tempat yang benar juga hehehehe" celetuk Tuan Wijaya membuat Alex, Tio dan Richo melotot tajam. Sedangkan Tuan Smith, Tuan Zeus hanya geleng-geleng kepala atas ucapan pria tua yang memang benar adanya.
"Hmmm, bagaimana jika pernikahan Richo dan Karla di gabung saja dengan pernikahan Hamas dan Shireen?" usul Tuan Wijaya memberi ide.
"Kalau aku sih mau-mau aja" celetuk Richo tanpa sadar membuat semua atensi mengarah padanya.
"Hahahaha, sepertinya Richo sudah tidak sabar untuk malam pertama nih" kata Alex.
"Sabar Richo, kamu pasti akan merasakan nikmatnya surga dunia hahahaha" kali ini Tuan Zeus ikut menimpali sedangkan Tuan Aldert hanya diam sesekali tersenyum tipis. Dirinya tidak mengerti apa yang di bahas oleh orang-orang di sekitarnya karena dirinya tidak mengerti bahasa Indonesia.
Tuan Wijaya kemudian menatap Tuan Aldert ia lalu berbicara menggunakan bahasa Inggris agar Tuan Aldert mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Tadi saya baru melamar ponakan Tuan Zeus untuk anak angkat saya, dan Tuan Zeus menerimanya, saya juga mengusulkan untuk menikahkan anak angkat saya dan calonnya bersama dengan pernikahan Hamas dan Shireen." Tuan Aldert mengangguk mengerti.
"Ide yang bagus, itu terdengar sangat menarik" jawab Tuan Aldert. Membuat Tuan Wijaya tersenyum tipis.
Tak berselang lama dua buah mobil Bentley Motors berwarna merah dan hitam pekat memasuki halaman luas Mansion Utama. Dua mobil tersebut belum lama di pesan oleh Tuan Farhan di perusahaan mobil mewah yang berada di Britania dan harga satu unit mobil Bentley dengan jenis Motors mencapai kisaran 8 miliar. Benar-benar tidak di ragukan kekayaan raja Iblis, semahal apapun brand tersebut bukan masalah baginya. Uang adalah sesuatu yang mudah baginya, apa yang ingin di beli pasti akan terwujud.
Setelah terparkir dua mobil Bentley, penumpang di dalamnya pun turun dari dalam. Terlihat seorang wanita dewasa dan dua anak kecil dengan pakaian syar'i, lalu diikuti oleh dua pria dewasa dan satu lagi seorang wanita dan dua putranya.
Mereka kemudian masuk ke dalam Mansion.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu" ucap seorang anak laki-laki dan perempuan bersamaan. Dafa dan Daffin melirik dua anak di sampingnya yang baru berumur 8 tahun. Sedikit merasa asing walau begitu mereka sangat menyukai kalimat yang di sebut oleh dua sepupunya.
"Masya Allah. Bunda, Abi ini rumah siapa? besar sekali" tanya anak laki-laki itu.
"Ini rumah Kakek dan Nenek sayang" jawab wanita yang menggunakan kemeja biru muda dengan bawahan Jeans, siapa lagi kalau bukan Jons.
"Ooh, rumah Kakek dan Nenek" Jons hanya tersenyum melihat wajah polos ponakannya itu.
"Sini, Tante kenalin sama Kakek dan Nenek" ajak Jons dan dua anak laki-laki dan perempuan itu mengangguk. Sedangkan Dafa dan Daffin berjalan bersama Ayu.
"Bunda Ayu sangat cantik" celetuk Dafa dan Daffin membuat wanita yang di panggil bunda Ayu oleh dua D tersenyum tipis.
"Terima kasih sayang, kalian juga sangat tampan" dua D melebarkan senyumnya kala Ayu memuji mereka.
Mereka kemudian berjalan memasuki ruang tamu lalu melangkahkan kaki menuju ruang keluarga di mana orang-orang rumah berkumpul.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung