Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 98 # Kisah Ibu Erika



“Oma, Jenny baru saja tiba, sebaiknya kita pesankan dulu minuman dan makanan ya untuk nya!” Sanggah Jo yang tak mau Oma nya terus mengganggu tujuan awal dia bertemu dengan Jenny.


“Astaga! Oma sampai lupa sayang, maafkan ya! kau mau di pesankan apa Jenn?” Tutur Oma seraya tersenyum merekah.


“Em…” Seketika kedua bola mata Jenny menangkap wajah tak asing berjalan gemulai di depan Restoran yang memang hampir semua berdinding Kaca, sehingga sangat mudah untuk melihat situasi di luar Restoran dari dalam tempat tersebut.


“Itu kan Gea? sedang apa dia di sini? apa dia bersama Kenny ya? ko perasaanku jadi gak enak ya?” Batin Jenny.


“Jenn, apa kau baik-baik saja? kenapa akhir-akhir ini kau selalu melamun? apa semuanya baik-baik saja?” Tegur Jo.


“Ah… maaf, aku hanya sedikit pusing Tuan, em… sepertinya aku pesan minuman segar saja deh, aku juga masih kenyang soalnya!” Tutur Jenny sambil menunjuk salah satu nama minuman dari buku menu yang dia pegang.


“Baiklah, kau tunggu sebentar ya! aku akan memesankan nya untuk mu!” Seru Jo yang segera melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan Restoran.


Tak lama pesanan Jenny pun tersaji, Mereka masih berbincang ringan seputaran pernikahan Shakira yang akan di laksanakan dua hari mendatang. Jenny ternyata di minta menjadi pendamping pengantin sesuai permintaan Oma Dona.


“Jenn, sepertinya Oma harus menemui sahabat Oma dulu sekarang, kalian teruskan saja berbincang nya, mungkin Oma juga akan ikut pulang bersama sahabat Oma nanti,”Tutur Oma Dona seraya beranjak dari duduknya.


“Jo antar sampai depan ya Oma, nanti Jo suruh sion untuk mengantar Oma, biar Jo pulang pakai taksi saja nanti!” Seru Jo yang tak tega jika membiarkan Oma nya pulang sendirian tanpa supir.


“Tidak perlu Jo, Oma akan menumpang mobil sahabat Oma, sepertinya dia sudah di jemput oleh cucu nya,” Ucap Oma Dona meyakinkan.


“Ha… ya sudah, ayo! Jo antar sampai depan!”.


“Jenn, kau tunggu sebentar ya!” Titah Jo sambil menggandeng tangan Oma Dona menuju depan Restoran.


Sekembalinya Jo, Jenny segera mengutarakan maksud dan tujuannya bertemu dengan Jo siang itu. Jo sangat tak menyangka sekaligus terkejut saat tau kebenaran yang Jenny tuturkan.


“Tuan, sebenarnya apa yang terjadi pada Ibu ku? kenapa dia tidak mengenaliku saat kami berjumpa di gudang bahan makanan kemarin!” Tanya Jenny.


“Itu… “ Jo terlihat sendu sambil menatap ke sembarang arah sebelum mulai bercerita.


“Dulu Ibu adalah pengasuh ku, sejak Mamah terbaring di atas tempat tidur karena gagal ginjalnya, beliau jadi tidak bisa merawat ku dengan baik, jadi ibu memutuskan untuk mencari pengasuh, dan saat itu lah aku di asuh dan di besarkan oleh Ibu mu Jenn,” Ucap Jo memulai cerita.


“Lalu… kondisi Mamah saat itu semakin memburuk dan sangat membutuhkan donor ginjal sesegera mungkin, Papah dan keluarganya sudah berusaha mencari donor yang cocok untuk Mamah, namun mereka tidak menemukannya sama sekali, hingga akhirnya… Ibu menawarkan ginjalnya sendiri karena kasihan melihat Papah yang terus berjuang tanpa hasil apa pun.”.


Tuk sejenak Jo menundukkan kepalanya, sepertinya pria itu butuh perjuangan untuk menceritakan kisah Ibu kandungnya yang sudah tiada. Jenny yang paham segera mengelus pundak Jo seakan menyalurkan semangat agar tak terlarut dalam kesedihannya.


“Tuan! maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat mu sedih, aku…” Ucap Jenny yang segera di sanggah oleh Jo.


“Tidak apa-apa Jenn, aku akan menceritakannya sampai selesai, aku tidak ingin membuatmu penasaran lagi tentang kondisi Ibu mu,” Jo kembali menghela kasar nafasnya, Pria tampan itu pun kembali melanjutkan ceritanya.


“Setelah Papah menerima tawaran Ibu, mereka segera bergegas menuju Rumah Sakit tempat Mamah di rawat, dan setelah melakukan serangkaian tes, puji Tuhan ginjal Ibu cocok untuk menjadi pendonor Mamah,”.


“Dokter segera membawa mereka ke ruang operasi untuk melakukan pendonoran tersebut, hingga akhirnya operasi berjalan lancar, Mamah akhirnya bisa tertolong, Papah dan keluarga kami begitu bersyukur dan bahagia,”.


“Syukurlah, aku ikut bahagia mendengarnya Tuan!” Sahut Jenny menyela cerita Jo.


Pria tampan itu terlihat tersenyum miris, karena Jenny belum mendengar cerita selanjutnya. Jo akhirnya memilih menuntaskan ceritanya meski itu membuat hatinya sedih kembali karena teringat mendiang Ibu kandungnya.


“Ya, tapi kebahagiaan itu harus lenyap saat tiba-tiba saja Mamah mengalami kejang akibat seseorang yang melepas selang oksigennya.”.


“Mamah tidak tertolong, malam itu juga Mamah pergi untuk selama-lamanya.” Tutur Jo seraya menitihkan air mata.


Jenny semakin merasa bersalah, karenanya Jo menjadi sedih kembali mengingat Ibu kandungnya yang sudah tiada. Dengan penuh sesal Jenny meraih sebelah tangan Jo dan dia genggam cukup erat seakan menyampaikan penyesalannya pada pria tampan tersebut.


“It’s ok, Jenn! I am fine!” Seru Jo seraya mengusap air matanya.


“Aku lanjutkan ceritanya ya,” Ucap Jo kemudian.


“Hm… aku akan terus mendengarkan Tuan!” Lirih Jenny.


“Setelah kepergian Mamah, Papah begitu terpukul dan terpuruk. Dia jadi sering merokok dan pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Di saat kondisi Papah terpuruk, Ibu lah yang selalu menjaga dan merawatnya, begitu juga dengan aku! Ibu tanpa lelahnya merawat kami berdua. Hingga akhirnya Papah melihat ketulusan Ibu dan mulai jatuh cinta padanya. Dan di tahun kedua Mamah meninggal, akhirnya Papah menikahi Ibu.” Ada seulas senyum di bibi Jo saat menceritakan bagaimana bahagianya sang Papah setelah menikahi Ibunya Jenny.


“Setelah dua tahun membina rumah tangga dengan Ibu, Ayah semakin bahagia, begitu pun dengan aku yang kembali merasakan kelembutan dan kasih sayang seorang Ibu yang sempat menghilang setelah kepergian Mamah.”.


“Dan ini bagian cerita yang akan membuat mu tau kenapa Ibu mu tidak mengenali mu lagi Jen!” Jo menatap lekat ke arah manik indah milik Jenny.


“Lanjutkan lah Tuan, aku akan mendengarkannya sampai tuntas!” Seru Jenny.


“Hm… kau semakin cantik jika di lihat dari jarak dekat seperti ini Jenn,” Batin Jo yang masih menatap lekat pada Jenny.


“Tuan! kenapa kau malah menatap ku seperti itu?” Tegur Jenny.


“Sorry, aku hanya terpesona melihat wajah cantikmu,” Jujur Jo.


“Kau masih bisa menggombal ya, sudahlah! ayo lanjutkan ceritanya, aku sudah sangat penasaran nih!” Tutur Jenny menghilangkan rasa canggung yang menyerangnya.


“Baiklah! aku akan melanjutkannya untuk mu Jenn,” Ucap Jo sambil membenarkan posisi duduknya.


“Di tahun kedua itu juga, Papah akhirnya mengetahui orang yang sudah membuat Mamah meregang nyawa. Karena terkejut mendengar siapa pelakunya yang tak lain sahabat Mamah dan Papah sendiri, Papah begitu terkejut hingga mengalami serangan jantung dan langsung di larikan ke Rumah Sakit.”.


“Kebetulan saat itu Ibu sedang menghadiri rapat di Sekolah ku, jadi Ibu dan aku belum mengetahui kondisi Papah saat itu, hingga Ibu dan aku mendapat kabar mengejutkan itu. Papah dinyatakan meninggal dunia saat perjalanan menuju Rumah Sakit.”.


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys…😘😘