
“Mom, sebaiknya Mommy juga pulang saja, biar Jenny yang menunggu Nenek hari ini, Mommy juga harus istirahat supaya tidak ikutan sakit,” Pinta Jenny.
“Tapi, apa kau sendiri tidak lelah Jenn? Kenn bilang akhir-akhir ini kau sering terlihat pucat dan muntah-muntah, apa kau baik-baik saja, sayang?” Tanya Mom Bella terlihat cemas.
“Jenny baik-baik saja Mom, mungkin Jenny kemarin memang terlalu lelah membantu pernikahan Rangga dan Shakira, Mommy tidak perlu cemas ya!” Sahut Jenny seraya menunjukkan senyum terbaiknya.
“Ha…syukurlah kalau kau baik-baik saja, eh…tapi apa benar tidak apa-apa ya Jenn kalau Mom pulang sekarang? nanti kalau Nenek bangun dan mencari Mommy bagaimana?” Tutur Mom Bella kembali bertanya.
“Mom tenang saja, Jenny akan merawat Nenek dengan baik ko, serahkan saja pada Jenny, ok!” Sahut Jenny meyakinkan.
“Baiklah, kalau begitu Mom pulang sekarang ya sayang, sepertinya Migrain Mom bisa kambuh lagi kalau terlalu lama diam di Rumah Sakit begini, terimakasih ya sudah mau menggantikan Mommy menjaga Nenek, Mommy pulang dulu ya sayang, kau baik-baik di sini ya, bye!” Tutur Mom Bella yang segera beranjak dan meraih hand bag nya sebelum berlalu keluar dari ruangan Ibu nya itu.
Selepas kepergian Mom Bella, Jenny segera merapihkan ruangan tersebut yang sedikit berantakan dengan sisa-sisa sampah bekas makanan yang Mom Bella lahap semenjak Nenek Martha di rawat di Rumah Sakit. Setelah semuanya selesai, Jenny mencuci tangannya dan menghampiri Nenek Martha yang terlihat masih terlelap tidur.
Perlahan, Jenny membenarkan selimut Nenek Martha yang tersingkap. Gadis itu duduk di samping kaki kiri Nenek Martha seraya memijat kaki wanita paruh baya tersebut dengan penuh kasih dan sayang. Membuat Nenek Martha yang sebenarnya sudah terbangun menikmati pijatannya itu dengan nyaman.
“Seandainya Jenny bisa memutar waktu pertemuan kita, Nek! Jenny pasti akan lebih menjaga sikap. Apa lagi kalau Jenny tau jika Nenek adalah Nenek nya Kenny, Jenny pasti akan sangat senang bisa berjumpa dengan Nenek saat di Mall waktu itu,”
“Nek, Jenny tau sikap Jenny salah saat itu, untuk itu Jenny minta maaf yang sebesar-besarnya pada Nenek, Jenny mohon Nenek jangan membenci Kenny hanya karena dia membela Jenny, Kenny begitu menyayangi Nenek.” Jenny terlihat men jeda ucapannya sesaat ketika bulir bening dari kedua kelopak matanya meluncur bebas di pipi mulusnya.
“Dia begitu khawatir dan panik saat mendengar kabar Nenek di bawa ke Rumah Sakit, dia sampai mengabaikan Jenny sendirian di rumah demi menemui Nenek, dan melihat sendiri kondisi Nenek saat itu. Jenny mohon maafkan Jenny Nek, Jenny tidak ingin melihat Kenny bersedih seperti kemarin.” Gadis itu akhirnya tak dapat membendung lagi air matanya, Nenek Martha yang sedari tadi mendengarkan ocehannya itu, sekuat tenaga menahan air matanya yang seakan ingin meluncur bebas di pipi keriput nya.
“Apa aku sudah salah ya menolak gadis cantik ini? sepertinya dia tidak terlalu buruk juga! tapi aku masih malu jika harus menunjukkan kesalahan ku dan menerimanya secara terang-terangan.” Batin Nenek Martha yang masih mementingkan egonya.
Sejurus kemudian, Jenny beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar tak terlihat sembab. Setelah lebih segar Jenny kembali keluar dan di buat sedikit terkejut karena Nenek Martha ternyata sudah terbangun dengan posisi terduduk di tempat tidur pasien nya.
“Nenek! apa Nenek membutuhkan sesuatu?” Tanya Jenny seraya menghampiri.
“Duduk lah, dan ceritakan latar belakang keluarga mu!” Ketus Nenek Martha namun dengan gesture tubuh yang sudah jauh lebih baik dan menerima kehadiran Jenny.
Tanpa membantah, Jenny segera menuruti perintah Nenek Martha tersebut dan menceritakan latar belakang keluarganya tanpa menutup-nutupi apa pun yang dia punya selama ini. Meski Jenny tidak dilahirkan dari keluarga yang berada seperti suaminya, namun gadis itu memiliki keistimewaan tersendiri dengan segala sifat dan sikap yang di milikinya.
“Gadis ini ternyata benar-benar baik, dia juga cantik. Ternyata Dona benar! meski aku tidak memberinya senyum sedikit pun sejak pertama bertemu, sikapnya tidak berubah sama sekali. Bahkan setelah kepergian Bella di ruangan ku ini, aku pikir dia kan membalas dendam padaku, tapi ternyata gadis ini begitu tulus merawat ku tanpa mengeluh,” Batin Nenek Martha.
“Nek! apa Nenek baik-baik saja?” Tegur Jenny yang membuat lamunan Nenek Martha buyar seketika.
“A…aku baik-baik saja, ya sudah kalau begitu aku ingin makan sekarang, kau siapkan lah!” Tutur Nenek Martha yang masih menjaga egonya.
“Baiklah Nek, Jenny siapkan dulu ya!”.
Di belahan dunia lainnya, seorang pria paruh baya terlihat baru saja menyelesaikan pergulatan panasnya dengan seorang wanita penghibur. Pria itu sampai terlentang di atas ranjang nya yang sudah tak berbentuk.
“Tuan! aku pergi sekarang ya, terimakasih untuk tips nya, hubungi aku lagi ya kalau butuh di puaskan.” Tutur sang wanita penghibur.
“Pergilah, aku sudah tidak butuh dirimu! ha…aku harus segera menelepon Gea sekarang, wanita itu terlalu lama bermain-main dengan si pria sombong itu.” Gerutu pria paru baya tersebut seraya mencari kontak Gea di ponselnya.
“Halo baby? apa kau merindukan aku?” Sapa Gea setelah sambungan telepon terhubung.
“Ge, mau sampai kapan kau bermain-main terus dengan pria sombong itu? kau ingat misi kita kan? aku sudah lelah menunggu nya, apa lagi kau tidak pernah mengunjungi aku lagi setelah kembali ke tanah air mu, aku jadi harus membayar wanita murahan lagi untuk menuntaskan hasrat ku!” Keluh si pria paruh baya.
“Sabar lah Mark, aku hanya ingin membuat rumah tangganya berantakan dulu, baru nanti aku kembali memuaskan mu dan menghamburkan uang curian kita bersama-sama, kau tenang saja, ok!” Sahut Gea dengan nada menggodanya.
“Ha…baiklah, tapi sepertinya aku akan menyusul mu ke sana besok, aku sudah tidak tahan ingin menyantap tubuh mu lagi baby. kau sambut aku besok ya!” Pinta pria paruh baya yang memiliki nama Mark tersebut.
“Baiklah, aku akan menyambut mu dengan senang hati baby, kalau begitu aku tutup teleponnya dulu ya, bye baby…emmmuach.” Ucap Gea di iringin dengan ciuman jauh di ujung perbincangannya.
*****
“Silahkan lewat sini Tuan! Tua Hendrik sudah menunggu anda di dalam,” Tutur seorang pelayan yang menggiring Kenny untuk bertemu dengan koleganya.
“Terimakasih!”.
“Ti, kau hubungi Jenny ya! beri dia kabar kalau kita sudah mendarat dengan selamat sekarang!” Seru Kenny.
“Baik Tuan.” Tian segera mencari kontak Jenny dan mengirimnya chat untuk memberi kabar pada Jenny jika Kenny sudah mendarat di tempat tujuannya dengan selamat saat ini.
Ting…
“Kak Tian kenapa mengirim ku chat?” Batin Jenny seraya memeriksa ponselnya.
“Hei! kenapa kau malah memainkan ponsel? aku masih lapar, cepat kupas kan apel untuk ku!” Tegur Nenek Martha yang membuat Jenny sedikit terkejut. Namun secepat kilat gadis itu menunjukkan senyuman terbaiknya yang bisa membuat hati siapa saja meleleh jika melihatnya.
“Baiklah Nek, tunggu sebentar ya!” Seru Jenny seraya menyimpan kembali ponselnya dan beranjak meraih buah apel yang tergeletak di sebuah wadah di atas meja di depannya.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys…😘😘😘