Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 101 # Pertemuan



Kedua perempuan berbeda usia itu akhirnya berpisah kembali ke tempat tujuan mereka masing-masing. Acara demi acara pun telah terlaksana dengan begitu lancar dan hikmat, kedua mempelai pengantin pun kini sedang menerima ucapan selamat dari beberapa tamu yang datang malam itu.


Di tempat lain, namun masih di gedung yang sama. Jenny terlihat baru selesai menuntaskan kebiasaan barunya semenjak di nyatakan hamil oleh Dokter kandungan beberapa waktu lalu. Wajah gadis cantik itu berubah pucat setelah Jenny memuntahkan isi perutnya karena mual yang tiba-tiba menyerangnya akibat menghirup parfum seseorang.


“Huft! sepetinya aku harus memakai masker biar aman,”.


“Tapi aku harus mencarinya dimana ya?” Gumamnya lagi.


“Jenn! kenapa kau pucat sekali? jangan bilang kau habis muntah-muntah lagi ya!” Seru seorang pria menghampiri.


“Aku memang baru selesai muntah Kak, hal ini biasa ko untuk wanita hamil seperti ku,”.


“Hm… tapi kau sudah tidak apa-apa kan sekarang?”.


“Tenang saja, aku masih bisa menahannya ko, oh iya! Kakak sudah bertemu Ibu kah?” Tanya Jenny pada Aldo yang tak lain pria yang menegurnya barusan.


“Belum Jenn, Kakak pikir kau akan membawa Kakak padanya tadi, tapi setelah Kakak tunggu-tunggu kau tidak muncul juga, jadi Kakak berniat mencari mu untuk menagih janji itu!” Tutur Aldo.


“Ya sudah, kalau begitu kita hampiri Ibu sekarang saja ya, tapi sebelumnya Jenny mau minta tolong di carikan masker mulut ya Kak, sepertinya Jenny akan muntah lagi kalau mencium aroma parfum tamu-tamu yang hadir, Jenny tidak kuat menghirupnya!” Sahut Jeny seraya meminta bantuan sang Kakak.


“Baiklah, Kakak akan meminta maskernya dulu sekarang, kau tunggu sebentar ya!”.


Tanpa menunggu waktu lagi, Aldo segera beranjak untuk mencarikan masker mulut untuk adik tersayangnya. Setelah mendapatkannya Aldo segera kembali menghampiri Jenny dan memberikan masker tersebut pada Jenny.


“Ini… kalau kau tidak kuat sebaiknya kau pulang saja lebih dulu, lagi pula suami mu kemana sih? bukannya menemani istri yang sedang hamil malah keluyuran kemana-mana,” Ucap Aldo mengungkapkan kekesalannya.


“Kenny sedang menunggu orangtuanya Kak, sudahlah! aku tidak apa-apa ko, sebaiknya kita temui Ibu saja ya sekarang!” Seru Jenny mengalihkan kekesalan Kakaknya.


Kedua Kakak beradik tersebut akhirnya menemui sang Ibu yang ternyata sudah menunggu kedatang mereka berdua di salah satu kamar hotel tempat acara pernikahan di gelar. Karena kesehatan Ibu Erika masih belum sepenuhnya pulih, jadi beliau harus banyak istirahat, seperti saat ini. Ibu Erika tengah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan di temani putra sambungnya yang begitu tulus dan setia merawatnya.


“Sayang, sebaiknya kau temani Oma saja di bawah, Ibu tidak apa-apa ko tinggal di sini sendiri, kau pasti bosan jika menunggu bersama Ibu di sini,” Seru Ibu Erika.


“Jo tidak akan pernah bosan menemani Ibu, bagi Jo Ibu adalah wanita tercantik yang pernah Jo miliki, biarkan Jo menemani Ibu di sini ya!” Tutur Jo seraya mengecup sebelah punggung tangan sang Ibu sambung dengan begitu lembut.


“Kau putra Ibu yang tertampan dan terbaik Jo, Ibu begitu bangga bisa memiliki mu.”.


Tak berselang lama, suara ketukan pintu terdengar menggema dengan begitu nyaring. Menandakan jika ada seseorang yang tengah berusaha berkunjung ke kamar hotel tersebut.


Tok…tok…tok…


“Sepertinya itu Jenny Bu, Jo buka pintunya dulu ya!” Ucap Jo seraya beranjak untuk membukakan pintu.


Ceklek…


“Loh! Tuan, kenapa bisa berada di sini?” Tanya Aldo sesaat Jonathan sudah membuka pintu.


“Kakak sudah mengenalnya juga ya?” Tanya Jenny penasaran.


“Beliau bos besar di perusahaan Kakak Jenn, mana mungkin Kakak tidak mengenalinya,” Tutur Aldo menjelaskan.


Jenny dan Aldo akhirnya menuruti perkataan Jonathan dan ikut masuk ke dalam kamar hotel tersebut. Setelah keduanya duduk di sofa ruang tamu kamar hotel tersebut, Jo segera menghampiri Ibu sambungnya untuk memberi tahu kabar kedatangan kedua anak kandungnya yang sudah menunggu di ruang tamu.


“Bu, Jenny dan Kakaknya sudah menunggu, ayo aku bantu menghampiri mereka!” Seru Jo dengan begitu penuh kasih sayangnya menggiring sang Ibu sambung untuk menemui kedua anak kandungnya.


“Ibu! apa Ibu baik-baik saja?” Jenny segera beranjak kala melihat sang Ibu yang sudah terlihat menghampiri mereka berdua.


“Ibu baik-baik saja sayang! apa ini…” Ucap Ibu Erika menggantung saat sorot matanya beradu dan saling mengunci dengan kedua bola mata milik Aldo.


Pria gagah yang merupakan Kakak kandung Jenny tersebut nampak masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Tiba-tiba saja kedua mata tersebut mulai berembun dan siap meluncurkan bulir bening yang akan membasahi pipinya.


Secara hati-hati dan perlahan, Jenny membawa sang Ibu menghampiri Kakaknya. Jenny membantu Ibunya duduk di samping Aldo agar memudahkan keduanya untuk melepas rindu.


“Ibu… Aldo tidak sedang bermimpi kan?” Gumam Aldo terbata-bata.


“Ini memang Ibu nak, kemari lah!” Ibu Erika membentangkan kedua tangannya, dia memeluk Aldo layaknya dia memeluk Jenny hari kemarin.


Aldo yang sudah tak tahan lagi akhirnya berhambur masuk ke dalam dekapan sang Ibu yang begitu dia rindukan. Setelah di rasa lebih tenang, Aldo melerai pelukannya dari sang Ibu dan beralih menggenggam kedua tangan renta Ibu nya itu.


“Bu… Aldo benar-benar merindukan Ibu, apa selama ini Ibu hidup dengan baik? Aldo selalu berdoa setiap malam agar kita bisa berkumpul kembali seperti dulu, Aldo selalu memimpikan Ibu di setiap malam setelah kabar Ibu menghilang beberapa tahun lalu. Aldo…” Aldo tercekat di sela isak dan penuturannya. Pria itu benar-benar sudah tak tau haru berekspresi seperti apa lagi saat itu. Dia benar-benar bahagia sekaligus terharu, akhirnya Ibu yang dia cari-cari selama ini bisa dia jumpai kembali meski dalam keadaan Amnesia.


“Maafkan Ibu nak, meski Ibu masih sulit untuk mengingat kalian, tapi Ibu berjanji akan berusaha lebih keras lagi untuk sembuh, kalian bertiga adalah kebahagiaan Ibu dan juga alasan Ibu untuk tetap hidup, sayang!” Tutur Ibu Erika menimpali.


Mereka berempat akhirnya berpelukan menyalurkan rasa kasih sayang mereka pada sang Ibu yang begitu mereka sayangi. Jo begitu senang akhirnya dia bisa memiliki saudara meski itu sebatas saudara tiri, keinginannya sejak dulu itu akhirnya di kabulkan oleh Ibu sambungnya yang selama ini selalu merawatnya sejak dia masih belia.


“Tuan, aku sungguh tak bisa berkata apa pun lagi selain berterimakasih, aku benar-benar sudah berhutang banyak padamu, kau selalu membantu ku selama ini, terimakasih ya!”.


“It’s ok Kak, sekarang kita sudah menjadi keluarga, jadi kalian tidak perlu sungkan lagi, ok!” Sahut Jo dengan senyum merekahnya.


“Kalian memang anak-anak Ibu yang luar biasa sayang, Ibu benar-benar beruntung memiliki kalian di hidup Ibu,” Ucap Ibu Erika yang kini sedang di rangkul oleh Jenny dari samping.


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys…😘