
Kenny nampak menepuk keningnya karena terlupa dengan istrinya.
"Astaga! Kenn lupa memberitahunya Mom, karena panik Kenn langsung pergi begitu saja tadi, Jenny pasti sedang mencari Kenn sekarang, Kenn coba hubungi dia dulu deh,” Serunya seraya meraba saku pakaian dan jaket yang dia gunakan. Namun hasilnya nihil. Kenny tidak menemukannya di kantong mana pun, bahkan dia juga melupakan dompetnya yang di letakan di atas nakas samping tempat tidur.
“Kenapa Kenn? apa kau melupakan ponselmu?” Tanya Papah Oscar yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik putranya itu.
“Sepertinya ponsel dan dompet Kenny tertinggal di kamar Pah, duh… kenapa bisa sampai lupa sih!” Gerutu Kenny.
“Haist! kau ini ceroboh sekali sih Kenn, ya sudah kau hubungi istrimu pakai ponsel Mommy saja, nih…” Mom Bella segera memberikan ponselnya pada Kenny.
Dengan cepat pria tampan itu langsung menghubungi nomor ponsel sang istri melalui ponsel Mommy nya, namun setelah beberapa kali di hubungi, Jenny sama sekali tidak menjawab panggilan teleponnya itu. Seketika Kenny menjadi cemas, dilihat dari terakhir kali bertatapan dengan istrinya, Jenny nampak lebih pucat dan sering muntah-muntah. Pria itu kini menjadi gelisah dan memutuskan untuk pulang sebentar ke rumah mewahnya untuk memastikan sendiri keadaan sang istri.
“Mom, sepertinya Kenn harus pulang dulu sebentar, Mommy tunggu di sini sebentar dengan Papah tidak apa-apa kan?”.
“Apa yang terjadi Kenn? menantu Mommy tidak apa-apa kan?” Tanya Mom Bella khawatir.
“Jenny tidak menjawab telepon dari Kenny Mom, Kenny jadi khawatir kalau terjadi sesuatu padanya saat ini, apa lagi belakang ini, Kenn sering mendengar dan melihat dia muntah-muntah Mom, Kenn jadi khawatir dengan keadaannya, Kenn susul dia dulu ya!” Tutur Kenny.
“Astaga! ya sudah kalau begitu kau pulang saja Kenn, biarkan Mommy dan Papah saja yang jaga Nenek malam ini, kau temani istri mu saja!” Seru Mom Bella memberi saran.
“Benar Kenn, pergilah, biar kami yang menjaga Nenek mu di sini, pastikan lah keadaan menantu Papah baik-baik saja sekarang!” Tambah Papah Oscar yang tak kalah khawatir.
“Baiklah Pah, Kenn pergi sekarang ya.” Kenny segera melenggang pergi dari ruangan Nenek Martha dengan tergesa dan menghampiri parkiran untuk menyalakan mobil yang akan dia gunakan pulang.
Setibanya di rumah, Kenny begitu terkejut saat tak mendapati keberadaan sang istri di mana pun, kebetulan hari itu semua pekerja di rumahnya sedang ia liburkan karena permintaan Jenny yang tadinya takut akan bermalam di rumah kedua orangtuanya.
“Sayang! sayang! Jenn… kau dimana?” Teriak Kenny seraya mengelilingi rumahnya untuk mencari keberadaan sang istri.
“Kemana dia ya? ah…sebaiknya aku cari ponselku dulu saja, aku akan meminta bantuan Tian agar lebih cepat menemukannya.” Gumam Kenny yang kembali bergegas menuju kamarnya untuk mencari keberadaan ponselnya.
Tut..tut…tut…
“Iya Tuan!” Sahut Tian dari sebrang telepon.
“…”.
“Baiklah Tuan , akan saya lakukan sekarang juga!”.
“Ha… sebenarnya Nona kemana lagi sih? apa dia kembali ke Apartemen untuk menyelesaikan dekorasinya ya? tapi kan dekorasinya sudah selesai tadi,” Gumam Tian heran sendiri.
Tanpa berkata lagi akhirnya pria yang berusia 3 Tahun lebih tua dari Kenny itu menjalankan tugasnya untuk membantu Kenny mencari keberadaan istrinya.
“Apa aku telepon ke rumah Ibu saja ya? siapa tau karena takut, dia pulang ke rumah Ibunya,” Gumam Kenny.
“Halo? Siapa ya?” Sapa seseorang di sebrang telepon.
“Ha…halo Yah! Ini Kenn yang menelepon, apa Kenn mengganggu Ayah?” Tutur Kenny memberanikan diri.
“Em… tidak apa-apa ko Yah, Kenny hanya ingin menanyakan acara pernikahan Rangga, semuanya berjalan dengan lancar kan tadi?” Sangkal Kenny yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk menanyakan keberadaan sang istri.
Kenny pikir, jika Jenny ada di rumah orang tua angkatnya, Ayah Primus pasti akan langsung membicarakan keberadaan sang istri saat itu juga, namun setelah berbincang-bincang cukup lama, Ayah Primus sama sekali tidak membicarakan tentang keberadaan Jenny. Akhirnya Kenny pun memilih mengakhiri sambungan teleponnya setelah beralasan ingin beristirahat. Dan ternyata jawaban dari sang Ayah mertua membuat nya lebih yakin jika Jenny tidak berada di sana saat ini.
“Ya sudah, jaga putri Ayah dengan baik ya Kenn, jangan sampai dia kelelahan setelah acara tadi,” Tutur Ayah Primus sebelum sambungan teleponnya benar-benar berakhir.
“Baiklah Yah, kalau begitu Kenny tutup teleponnya ya, selamat malam.” Ucap Kenny seraya memutuskan sambungan teleponnya.
Kenny terlihat semakin gelisah dan khawatir, beberapa kali ia menghela kasar nafasnya untuk menenangkan pikirannya.
“Apa jangan-jangan dia mendengar ucapan ku tadi ya? lalu dia sekarang sedang mencari tahu tentang ucapan ku tadi! astaga… apa yang harus aku lakukan jika itu semua benar terjadi!” Kenny begitu frustasi, dia menjambak rambutnya sendiri dengan begitu kuat, dia benar-benar tak bisa membayangkan jika Jenny sampai meninggalkannya kelak.
“Sayang, kumohon maafkan aku apa pun yang kau ketahui nanti Jenn, aku benar-benar telah banyak bersalah padamu, aku mohon maafkan aku! aku benar-benar menyesalinya!” Gumam Kenny seraya terduduk lemas di samping sofa ruang tamu rumahnya.
Tak lama terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti di pekarangan rumah. Kenny tak menghiraukannya, pria itu masih terlihat meratapi kesalahannya pada sang istri. Kenny pikir yang saat ini berada di pekarangan rumahnya itu adalah Tian, namun ternyata dugaannya salah. Derap langkah yang kian mendekat itu terdengar begitu pelan dan hampir tak terdengar oleh Kenny yang sedang menunduk pilu di tempatnya semula. Setelah berada di dekat pria tersebut, seseorang itu pun mengulurkan tangannya untuk membangunkan Kenny.
“Kenn!”.
“Sa…sayang! kau dari mana saja?” Kenny segera beranjak dan memeluk erat tubuh istrinya yang masih terlihat begitu pucat tersebut.
“A…aku! aku dari Rumah Sakit barusan, maafkan aku ya karena pergi tak bilang dulu padamu, lagi pun tadi aku sudah berusaha menghubungi ponselmu, tapi ternyata ponselmu tertinggal di atas tempat tidur kita, jadi aku langsung pergi,” Tutur Jenny lirih.
“Kenapa kau ke Rumah Sakit? kau tidak apa-apa kan? Ya Tuhan, wajahmu benar-benar pucat sayang! kau tidak sedang menyembunyikan penyakit apa pun dari ku kan, Jenn!” Tanya Kenny bertubi-tubi setelah melepaskan pelukannya.
“Aku hanya sembelit Kenn, karena tadi aku sakit perut lagi dan tak tahan, akhirnya aku pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksakannya, kau tidak perlu cemas, aku baik-baik saja ko,”.
“Oh iya! kau tadi kemana? aku sudah mencari mu tapi tidak juga ketemu, apa kau ke kantor? apa semuanya baik-baik saja?” Kini giliran Jenny yang bertanya dengan kecemasannya.
“A…aku tadi juga habis dari Rumah Sakit sayang!” Jawab Kenny terbata. Dia merasa bersalah karena membiarkan istrinya berobat sendirian, padahal mungkin mereka bisa saja berada di Rumah Sakit yang sama tadi.
.
.
.
.
.
.
.
Happy weekend and see you next episode guys… 😘