Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 157 # Sebab trauma Ken.



"Daddy?! aku kangen! sejak kapan Daddy datang? apa Marsya juga ikut?" Seru Ken kecil seraya berhambur memeluk sang Daddy.


"Daddy juga sayang, apa kau mau makanan ringan juga?" Tawar Kenny seraya membawa sang putra ke dalam gendongannya.


"Hati-hati Kenn, kaki mu belum sembuh betul kan!" Seru Jenny mengingatkan.


"Tenang saja sayang, aku akan berhati-hati!" Sahut Kenny di akhiri senyum merekah.


Dalam hatinya bersorak sangat gembira, bagaimana tidak? semakin hari, Jenny menunjukkan kepedulian dan perhatiannya pada Kenny, dan itu semua tentu saja membuatnya semakin yakin jika lambat laun Jenny pasti bisa menerimanya lagi.


"Kalau begitu kita ke supermarket yang ada di depan saja yuk, kau bebas memilih makanan yang kau suka nanti di sana!" Seru Kenny.


"Asik... Mommy, boleh ya aku pergi bersama Daddy!" Ucap Ken kecil seraya meminta izin dari Mommy nya.


Jenny hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju, dia ikut bahagian jika melihat putranya juga bahagia. Jenny juga tak dapat menyangkal, jika Ken kecil memang membutuhkan sosok Ayahnya. Meski hatinya belum sepenuhnya siap menerima Kenny lagi, namun dia tak ingin menjauhkan lagi putranya dari sang Ayah kandungnya.


"Semoga kau selalu bahagia sayang, Mommy sangat menyayangi Ken!" Batin Jenny seraya menatap kepergian Kenny yang membawa sang putra keluar dari ruangannya.


Setelag Kenny dan Ken kecil keluar, Jenny kembali melanjutkan pekerjaannya. Nampaknya Jenny benar-benar harus bekerja ekstra lebih gesit lagi agar hasilnya dapat selesai tepat waktu. Akhirnya tanpa membuang-buang waktu, Jenny menuntaskan rancangannya tersebut yang segera dia perlihatkan ke bagian penjahitan agar segera di buatkan hasil rancangannya tersebut.


Langit sore terlihat pamit di gantikan langit gelap milik sang malam. Jenny sudah bersiap pulang bersama sang putra yang sejak tadi terus di temani Kenny di ruangannya.


"Mommy, apa pekerjaannya sudah selesai? aku sudah mengantuk," Gumam Ken kecil seraya mengucek kedua matanya yang terasa gatal karena kantuk.


"Sudah sayang, ayo kita pulang!" Sahut Jenny menghampiri dan membenahi pakaian sang putra yang sudah terlihat tak beraturan.


"Aku antar ya, sayang!" Seru Kenny.


"Aku bisa pulang sendiri Kenn! lagi pula aku membawa mobil sendiri," Tutur Jenny.


"Sudah! biar nanti mobilmu Bruno saja yang mengantarkan, sekarang kau aku yang antar saja ya!" Ucap Kenny tak ingin di bantah.


"Apa Daddy akan ikut kita pulang?" Tanya Ken kecil.


"Jika Mommy mengijinkan, Daddy juga sangat ingin menginap di Apartemen kalian malam ini," Sahut Kenny menjawab.


"Lain kali saja Kenn, lagi pula kau kan masih harus menjaga Marsya, aku khawatir dia membutuhkan mu juga Kenn!" Tutur Jenny diplomatis.


"Hm... benar juga sih, ya sudah kali ini Daddy akan mengantar kalian saja deh, Daddy lain kali saja menginapnya!" Ucap Kenny merasa sedikit kecewa.


Setelah tiba di area parkir, Jenny segera di buka kan pintu mobil oleh Tian yang sudah siapa menjadi supirnya dalam perjalanan pulangnya kali ini.


"Silahkan Nona!" Seru Tian.


"Terimakasih Kak," Ucap Jenny seraya menyunggingkan senyumnya.


"Kau tidak perlu terlalu ramah padanya sayang! lain kali jangan memberinya senyuman semanis itu lagi padanya," Tutur Kenny dengan rasa cemburunya.


"Haist! kau terlalu berlebihan Kenn!" Sahut Jenny merasa konyol dengan tingkah mantan suaminya itu.


"Dasar Tuan! sepertinya hubungan mereka sedikit mengalami kemajuan!" Batin Tian.


"Kenapa kau tidak menyalakan mesin mobilnya juga? kau lupa bagaimana caranya mengemudi ya?!" Tegur Kenny yang sudah tak sabar.


"Ma...maaf Tuan, saya akan menyalakannya sekarang," Sahut Tian terbata.


"Daddy aku ngantuk!" Gumam Ken kecil yang sudah memposisikan tubuhnya senyaman mungkin dalam pangkuan Daddy-nya.


"Tidurlah sayang, Daddy akan menjagamu!" Ucap Kenny seraya mempererat gendongannya agar Ken kecil tak terjatuh dan merasa nyaman.


"Tak mau! Ken ingin bersama Daddy, Mom! please..." Ucap Ken kecil memohon.


"Biarkan saja sayang, aku juga tidak apa-apa ko," Sahut Kenny seraya mencium kening sang putra.


"Hm... dia bisa manja jika kau terus memenuhi keinginannya Kenn," Gumam Jenny sedikit kesal.


"Tidak apa-apa, aku akan menggantikan mu untuk memanjakannya, lagi pula apa kau tidak kasihan padanya karena sudah menunggumu seharian ini bekerja? seharusnya Ken kau titipkan saja di tempat Play Group, jadi dia masih bisa berbaur dengan sebayanya dan bebas bermain." Tutur Kenny seraya memberi saran.


"Aku masih trauma menitipkannya di tempat seperti itu..." Lirih Jenny.


"Kenapa? apa yang terjadi selama ini pada kalian? maafkan aku Jenn, aku tidak bisa menjaga dan mendampingi kalian selama ini!" Cecar Kenny dengan penyesalannya.


"Dulu saat aku tengah sibuk mengurus sebuah proyek pertunjukan fashion, aku tak sempat mengawasi Kenji sama sekali. Jika aku titipkan pada Ibu dan Oma pun aku tak tega membuat mereka lelah, sehingga waktu itu aku memutuskan menitipkannya di sebuah penitipan anak-anak, tapi baru saja sekitar satu jam aku meninggalkan Ken di penitipan itu, salah satu rekan kerja ku memberitahu jika Ken di larikan ke Rumah Sakit," Tutur Jenny menjelaskan.


"Astaga! kenapa bisa begitu?" Kenny terlihat begitu terkejut setelah mendengar penuturan Jenny.


"Dia di dorong oleh teman bermainnya hingga kepalanya terbentur besi ayunan, namun bukan itu saja perlakuan yang Kenji terima saat itu, sebelumnya dia di bentak- bentak dengan perkataan kasar oleh salah satu pengasuh di sana, sehingga sampai kini dia sedikit takut jika mendengar orang yang berbicara dengan nada tinggi," Tutur Jenny lagi.


"Pantas saja saat makan siang waktu itu, dia begitu ketakutan saat Kakak mu memarahiku. Astaga, sayang! maafkan Daddy nak, Daddy tidak bisa menjagamu dari orang-orang jahat itu," Gumam Kenny.


"Sudahlah! tidak ada gunanya lagi kau menyesalinya juga Kenn," Sahut Jenny yang terlihat begitu letih hingga beberapa kali dia menutup mulutnya yang menguap.


Sejurus kemudian, kepala Jenny ikut bersandar di bahu Kenny. Perempuan cantik itu sudah sangat tak kuat menahan kantuk dan lelahnya lagi.


"Astaga, mimpi apa aku semalam, suasana ini benar-benar membuatku bahagia, andai saja waktu bisa aku hentikan, ingin rasanya aku bersatu seperti ini selamanya bersama mereka berdua," Batin Kenny.


Sesampainya di depan Apartemen Kenny, Tian segera membantu sang majikan membukakan pintu mobil dan mengambil alih tubuh mungil Ken kecil ke dalam gendongannya. Tanpa sepengetahuan dan persetujuan Jenny, Kenny membawa keduanya pulang ke Apartemennya sendiri.


"Pelan-pelan Ti, jangan sampai anakku terganggu tidurnya!" Bisik Kenny penuh intimidasi.


"Baik Tuan," Sahut Tian seraya merebahkan tubuh Ken kecil di atas tempat tidur king size milik Kenny.


"Kau boleh pergi sekarang, tapi sebelum kau meninggalkan Apartemen ku, kau harus menghubungi Orang rumah Jenny agar mereka tidak khawatir mencarinya." Tutur Kenny.


"Baik Tuan, kalau begitu saya pamit!" Sahut Tian seraya membungkukkan tubuhnya sebelum meninggalkan sang majikan.


"Akhirnya kita bisa tidur bersama juga sayang, semoga kalian betah tinggal di sini," Gumam Kenny dengan suara yang begitu pelan.


.


.


.


.


.


.


.


Sorry kemarin gak jadi tambah bab, dikarenakan ada banyak saudara dan yang menginap, alhasil bisa Up hari ini juga udah Alhamdulillah 😁😅 mohon di maklum ya guys, happy weekend and see you next episode...


jangan lupa dukungannya ya guys 😘😘😘