
“Cieee… yang udah baikan!” Goda Renata yang tiba-tiba sudah berdiri di mulut pintu bersama Mom Bella dan juga Erfan.
“Sepertinya yang demam juga sudah membaik tuh!” Tambah Mom Bella seraya melenggang menghampiri.
Jenny pun melerai pelukannya dan tersipu, dia tidak tau kalau Mom Bella, Renata dan juga Erfan akan mengejutkannya seperti itu.
“Haist! kalian menganggu saja deh!” Gerutu Kenny yang terlihat kesal.
“Hem... mentang-mentang udah baikan bawaannya sensi terus kalau di ganggu, makanya buruan nikah Kenn, biar bebas mesra-mesraan kaya kita, benar gak sayang?” Pamer Erfan seraya merangkul pundak istrinya dengan mesra.
“Iya Kenn, kenapa kalian tidak langsung menikah seperti kita saja sih?” Sahut Renata menambahkan.
“Jenny kan belum mengenalku lama seperti kalian Re, jadi dia masih butuh pendekatan! benarkan sayang?” Tutur Kenny.
“Tidak juga, siapa bilang aku masih butuh pendekatan,” Ucap Jenny seraya memalingkan pandangannya ke sembarang arah seraya tersenyum-senyum malu.
“Eh… kau tidak sedang bercanda kan sayang?” Tanya Kenny memastikan.
“Wah… berarti Mommy sebentar lagi bakal beneran punya menantu dong, terimakasih ya sayang! Mom benar-benar bahagia hari ini, Mom akan urus secepatnya acara lamaran dan pernikahan kalian, ok!” Seru Mom Bella antusias seraya memeluk Jenny dengan gemas.
“I…iya Tan, eh Mom,” Sahut Jenny yang membuat semua orang terkekeh melihat tingkahnya yang polos.
“Sayang, terimakasih ya sudah mau menerimaku, aku benar-benar bahagia mendengar keputusanmu ini,” Kenny kembali menarik Jenny ke dalam dekapannya dan memeluknya dengan erat. Melupakan orang-orang yang masih menemani mereka berdua di dalam kamar tersebut.
“Haist! sepertinya kita harus ngontrak nih, kita ke lantai bawah saja yuk Re, Fan!” Seru Mom Bella yang ingin memberi waktu berdua untuk anak dan calon menantunya berbicara kembali.
Sepeninggalan Mom Bella dan sepasang suami istri yang masih setia bertamu itu, Papah Oskar terlihat baru saja pulang dari kantornya dan menghampiri mereka semua yang sedang asik bercengkrama di ruang keluarga.
“Hai Re,Fan! kapan kalian datang?” Seru Papah Oscar setelah tiba di ruang keluarga rumahnya.
“Tadi Om, Om baru pulang dari kantor ya?” Sahut Renata menjawab.
“Iya Re, ha… apa kalian sengaja menjenguk Kenn ya?” Tanya Papah Oscar seraya melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya setelah Mom Bella membantunya melepas jas yang dia kenakan sebelumnya.
“Iya Om, tapi sepertinya Kenny sudah sembuh sekarang!” Tutur Erfan memberi jawaban.
“Sembuh? bagaimana bisa? bukannya anak itu masih mogok makan ya sejak tadi pagi!”.
“Kenny sudah bertemu pawangnya Pah,” Sahut Mom Bella yang membuat sang suami menatapnya bingung.
“Maksud Mom? tunggu-tunggu… pawang ya, ah… apa Jenny ikut dengan kalian ke sini?” Erfan dan Renata mengangguk bersamaan.
“Pah, sepertinya keinginan kita untuk segera memiliki cucu akan segera terkabul loh!” Seru Mom Bella bersemangat.
“Maksud Mommy?”.
“Apa Jenny sudah bersedia ya menikah dengan Kenny?” Tanya Papah Oscar.
“Iya Pah, dia sudah bersedia untuk di nikahi putra kita, Mommy senang sekali, akhirnya Jenny mau menerima lamaran putra semata wayang kita Pah!”.
“Syukurlah kalau benar begitu, kalau begitu biar Papah siapkan gedung untuk acara resepsinya nanti ya!” Seru Papah Oscar tak kalah antusias.
“Wah… Kenny sangat beruntung memiliki orangtua yang begitu kompak menyayanginya, kalau kedua orangtua Erfan masih ada, mungkin mereka juga akan melakukan hal yang sama kan Om, Tante!” Lirih Erfan. Seketika Mom Bella dan Papah Oscar menatap ke arahnya.
“Tentu sayang, dan mereka pasti bangga memiliki putra yang begitu sukses sepertimu saat ini, kemari lah! kau masih punya kami nak, anggaplah kami seperti kedua orang tuamu sendiri ya!” Ucap Mom Bella begitu tulus seraya merentangkan kedua tangannya.
“Sayang! kau kan juga punya aku sekarang!” Isak Renata yang tak kalah haru melihat kebersamaan mereka.
Saat suasana di ruangan tersebut menjadi haru biru. Sedangkan pasangan kekasih yang masih berada di dalam kamar tadi saat ini sedang kedatangan seorang kepala pelayan yang membawakan semangkuk bubur untuk Tuan mudanya.
“Astaga Kenn! aku tau, tapi kau tidak perlu memelukku erat-erat seperti ini, aku tidak bisa bernafas dengan benar kalau begini,” Sahut Jeny yang berusaha melonggarkan pelukan Kenny.
“Tidak mau, aku ingin memelukmu sampai aku sembuh,”.
“Haist!!” Jenny memutar bola matanya jengah.
“Sayang, kau menginap di sini saja ya!” Seru Kenny dengan rengekannya.
“Haa… dasar bayi besar, kau tidak lupa kan kalau Kak Aldo masih marah, bisa-bisa kita tidak jadi menikah kalau aku tidak pulang malam ini,” Tutur Jenny yang membuat Kenny segera menghentikan rengekannya.
“Astaga! kau benar sayang, lalu bagaimana caranya aku membujuknya supaya tidak marah lagi? sayang…aku sudah tersiksa karena kau marah padaku, aku tidak bisa membayangkan kalau kau tidak bisa aku nikahi, aku pasti bisa gila nanti!” Ucap Kenny yang kembali memeluk Jenny dengan erat.
Tok…tok…tok…
“Haist! siapa lagi sih, mengganggu kesenangan orang saja!” Gerutu Kenny yang membuat Jenny terkekeh.
“Kenn! aku lihat dulu ya, siapa tau itu Mom atau Renata yang mau berpamitan,” Jenny mulai beranjak dan menghampiri pintu kamar yang sedikit terbuka.
“Permisi Nona, saya membawakan bubur untuk Tuan muda, barang kali Tuan merasa lapar sekarang,” Tutur Bibi Sari setelah Jenny membukakan pintu kamar dengan lebar.
“Oh, berikan pada saya saja Bi, biar saya yang memberikannya ada Kenny, terimakasih ya!” Sahut Jenny seraya menerima mangkuk berisi bubur dari Bibi Sari.
Jenny pun kembali dengan semangkuk bubur di tangannya, saat Jenny hendak memberikan mangkuknya pada sang kekasih, Kenny menolaknya mentah-mentah. Pria tampan itu tidak mau makan jika bukan Jenny yang suapi.
“Haist! kau benar-benar bayi besar yang manja Kenn, ya sudah tapi kau harus habiskan semuanya ya!” Seru Jenny mengalah dan bersiap menyuapi kekasihnya yang benar-benar manja itu.
Perilaku keduanya tidak terlepas dari pandangan sang kepala pelayan yang sedari tadi ternyata masih berdiri di samping pintu kamar Tuan mudanya, Bibi Sari ternyata diam-diam mengintip kelakuan Tuan mudanya yang begitu manja kepada kekasihnya.
“Sepertinya Tuan Kenny sudah menemukan tambatan hatinya,” Gumam Bibi Sari seraya tersenyum lega sebelum beranjak meninggalkan kamar Kenny.
*******
“Bu, kenapa Ibu tidak bilang sih kalau mau ke sini, Jo kan bisa jemput Ibu di bandara kalau tau Ibu mau ke sini tadi,” Tutur Jonathan setelah berada di Apartemennya.
“Kalau Ibu bilang pun kau pasti sedang sibuk Jo, Ibu tidak apa-apa ko, lagi pula Ibu juga sudah ada di sini kan sekarang, Ibu hanya merasa kesepian tinggal di sana sendirian, Ibu pikir Ibu juga akan menetap di sini bersama mu mulai sekarang, kau tidak keberatan bukan?” Tutur Ibunya Jo yang ternyata menjadi alasan Jo telat menemui Jenny tadi sore.
“Jo akan sangat senang kalau Ibu mau tinggal di sini bersama Jo, Bu!” Sahut Jonathan seraya membantu Ibunya yang sedang merapihkan pakaiannya yang akan di masukkan ke dalam lemari.
Hari semakin malam. Kini Renata, Erfan dan semua orang yang berada di mansion Mom Bella sedang duduk bersama di ruang makan, menikmati semua hidangan yang sudah di sediakan para pekerja bagian dapur rumah mewah tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys... 😘