Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 124 # Pergi.



“Sayang, sudah lah! kau harus tenang, Erika pasti akan baik-baik saja! kau jangan terlalu bersedih, itu akan mempengaruhi bayi yang ada di dalam kandungan mu!” Ucap Oma Dona seraya mengelus lembut punggung Jenny yang masih terguncang akibat tangisan nya.


“Oma akan menghubungi Jo dulu ya! dia pasti cemas jika tidak menemukan kita di Apartemennya.” Seru Oma seraya menghubungi cucu tampannya itu.


Jenny melerai pelukannya, gadis itu terlihat berusaha meredam isak tangisnya. Kesedihan nya seakan kian bertambah tak kala harus mendengar penuturan Dokter yang menjelaskan riwayat penyakit Ibu Erika yang semakin memburuk.


“Apa kalian keluarga pasien?” Sapa Dokter yang baru saja keluar dari ruangan tindakan.


“Iya Dok, saya putrinya! apa Ibu saya baik-baik saja?” Tanya Jenny dengan tak sabar.


“Kalau begitu tolong ikut ke ruangan saya, saya akan menjelaskan semuanya di sana, mari!” Seru Dokter.


Dengan langkah yang lebar, Jenny segera mengikuti Dokter ke ruangan kerjanya. Jo yang sudah di telepon oleh Oma Dona pun segera menyusul bersama Aldo dan menyusul Jenny ke ruangan Dokter.


“Dok, jadi bagaimana keadaan Ibu saya?” Tanya Aldo tak kalah cemas.


“Setelah kami melakukan pemeriksaan pada Nyonya Erika, kami menemukan sel tumor di otaknya, dan hal ini memerlukan penanganan yang cukup serius agar sel tumor tersebut tidak menyebar dan membahayakan nyawa beliau,” Tutur Dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya.


“Astaga! lalu apa Erika bisa sembuh, Dok?” Tanya Oma Dona.


“Nyonya jangan khawatir, beruntung tumor ini tergolong tumor yang jinak, namun jika di biarkan bisa berubah menjadi berbahaya, maka dari itu saya sarankan agar Nyonya Erika di operasi secepatnya,”.


“Kalau begitu lakukan lah operasinya, Dokter! kami ingin Ibu kami sehat kembali seperti sedia kala!” Seru Jo.


“Kami mengerti Tuan, makan dari itu saya mengajak anda semua berbicara di ruangan ini, namun sayangnya di Rumah Sakit ini tidak memiliki teknologi yang memadai untuk melakukan operasi tersebut, saya sarankan agar anda membawa Nyonya Erika di operasi di Negara M saja, di sana teknologi kesehatannya lebih memadai dan canggih,” Saran Dokter.


“Baiklah, kalau begitu saat ini juga akan saya laksanakan, Dok! saya akan menghubungi pihak Rumah Sakit Negara M tersebut untuk menindak langsung penyakit Ibu saya!” Tegas Jo seraya menghubungi orang kepercayaannya untuk mengurus semua keperluan pengobatan penyakit Ibu tirinya itu.


“Baiklah Tuan, kalau begitu saya juga akan mengurus surat rujukan dan yang lainnya sekarang!”.


Jenny dan yang lainnya akhirnya keluar dari ruangan Dokter tersebut dan menghampiri Ibu Erika yang masih tak sadarkan diri. Aldo sangat sedih karena sampai saat ini dirinya masih belum bisa menjadi kebanggaan kedua wanita yang begitu dia sayangi itu, Aldo merutuki dirinya yang tak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan sang Ibu.


“Kak, sudahlah! jangan bersedih lagi, Ibu akan baik-baik saja, Jenny yakin!” Ucap Jenny seraya mengusap bahu sang Kakak.


“Kakak sedih karena tak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan Ibu, Jenn! sampai saat ini Kakak tidak bisa membanggakan kalian,” Lirih Aldo.


“Kakak itu adalah Kakak terbaik yang Jenny punya, dan Jenny rasa, Ibu juga akan bangga pada Kakak karena sudah menjaga Jenny selama ini, jadi Kakak jangan bersedih lagi ya, sebaiknya Kakak doakan Ibu supaya segera sembuh, Jenny pamit ya, Kak!” Tutur Jenny seraya memeluk erat sang Kakak sebelum menemani sang Ibu untuk pengobatannya di Negara tetangga.


“Segera hubungi Kakak jika terjadi sesuatu ya Jenn, Kakak akan selalu berdoa untuk kebaikan kalian.” Ucap Aldo setelah melerai pelukannya pada sang adik tersayang.


“Kakak tidak perlu khawatir, Jenny dan Ibu masih ada aku yang menjaganya selama di sana, jadi Kakak fokus pada perusahaan di sini saja, aku percaya kalau Kak Aldo adalah orang yang tepat untuk menangani perusahaan ku di sini!” Sahut Jo yang ikut berpamitan untuk menemani sang Ibu dan Juga Jenny ke Negara tetangga.


“Aku titip mereka padamu ya Jo, aku juga tidak akan mengecewakan mu untuk masalah perusahaan, kau tenang saja! aku sungguh berhutang banyak padamu selama ini,” Tutur Aldo yang kembali sendu di akhir ucapannya.


“Kak, sekarang aku adik mu, meski kita tak memiliki hubungan darah, tapi aku benar-benar sudah menganggap Ibu seperti Ibu kandung ku sendiri, jadi itu sudah kewajiban ku  juga sebagai anaknya untuk mengurus beliau,” Sahut Jo.


“Dan kau Jenn! kalau kau menginginkan sesuatu atau ngidam, jangan segan-segan untuk memberitahu Kakak ya, kalau suami mu itu tidak becus memenuhinya, Kakak akan menjadi orang yang pertama yang akan menggantikan suami mu itu untuk mewujudkannya,” Ucap Aldo yang entah mengapa seperti tau jika hubungan Jenny saat ini dengan suaminya sedang ada masalah.


“Baiklah Kak, Kakak tenang saja, lagi pula masih ada Kak Jo juga kan yang bisa Jenny pinta kan tolong! Kakak jangan khawatir ya,”.


Ketiga Kakak beradik itu akhirnya berpisah setelah asisten Jo memberitahukan jadwal penerbangan mereka yang sudah sangat dekat dengan waktu penerbangan. Jenny sangat menyayangkan karena tak dapat bertemu terlebih dahulu dengan kedua orangtua angkatnya sebelum pergi.


Ternyata tepat dua hari sebelum keberangkatannya menemani sang Ibu untuk pengobatan, Ayah Primus terjatuh sakit dan harus di rawat beberapa hari di Rumah Sakit, sehingga menyebabkan Ibu Tania dan Ayah Primus tak bisa mengantarnya ke Bandara. Sedangkan pasangan pengantin baru yang beberapa waktu lalu menggelar pernikahannya itu, mereka masih menikmati waktu bulan madu mereka di salah satu pulau wisata di Tanah Airnya.


“Jangan pergi Jenn! jangan!” Teriak seorang pria yang terlihat masih memakai baju kerjanya yang sudah sangat bau dengan alkohol.


“No! saya sudah tidak tau lagi harus berbuat apa! semenjak Nona pergi dua hari lalu dari rumah ini, Tuan Kenny jadi sering minum alkohol dalam jumlah yang sangat banyak, saya jadi kasian melihat kondisinya,” Tutur Tantri sebelum pulang setelah waktu bekerjanya selesai.


“Kamu benar Tri, Tuan seperti kehilangan separuh jiwanya, saya juga sangat prihatin melihat kondisinya yang sekarang!” Sahut Bruno.


“Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu ya No, sampai bertemu besok!” Ucap Tantri seraya melenggang pergi dari rumah mewah milik majikannya itu.


Kring…kring…


“Hem…” Gumam Kenny yang masih terlentang di atas salah satu sofa rumah mewahnya.


“Kenn, kau jadi berangkat liburan kan?” Tanya Gea yang tak lain si penelepon yang menghubungi Kenny pagi itu.


“Akh! kepala ku sangat pusing Ge, sepertinya aku tidak akan jadi pergi! kau berangkat sendiri saja ya! aku percayakan padamu projek kali ini,” Tutur Kenny yang masih setia memejamkan matanya.


“Haist! kenapa kau mendadak membatalkannya sih! aku kan sudah memesan dua tiket dari hari sebelumnya, kalau kau tidak berangkat lantas satu tiketnya aku berikan pada siapa?. Tian? tidak mungkin kan, Asisten mu itu kan masih harus menangani kerjasama dengan perusaan Tuan Hendrik,” Sahut Gea.


.


.


.


.


.


.


.


Sorry telat up guys, Mom lagi kurang fit nih...


See you next episode guys… 😘😘😘