
“Hei! itu tidak benar!”.
“Jenn! kau jangan bicara sembarang di depan Erfan! kalau dia tau semua kartu ku sudah di tangguhkan, aku bisa mati kutu!” Bisik Kenny seraya membekap mulut Jenny dengan sebelah tangannya.
“Kenn! apa yang kau lakukan? Jenny bisa kehabisan nafas!” Tegur Erfan mencoba melepas bekapan tangan Kenny di mulut gadis cantik itu.
“Haa… astaga Tuan, kau membuat nafasku hampir habis, dasar pria menyebalkan!” Gerutu Jenny setelah Kenny melepaskan bekapan tangannya.
Di depan rumah ternyata Rangga dan Aldo baru saja kembali dan langsung masuk ke rumah mereka untuk menyajikan makanan yang di belinya. Ayah Primus dan Ibu Tania pun kembali menghampiri mereka dan menyuruh semua orang untuk beralih ke ruang makan rumah sederhana itu.
“Jenn, bisa kau tolong aku? di mobil masih ada beberapa bungkus sup kaki ayam, tolong ambilkan ya, sekalian dengan minuman kalengnya juga!” Seru Aldo setelah berhasil masuk ke dalam rumah.
“Oh, baiklah!” Jenny segera beranjak dan menghampiri mobil box milik tempat Rangga dan Jenny bekerja yang sering di bawa ke rumah oleh mereka.
“Aku bantu juga ya Jenn!” Seru Erfan ikut beranjak.
Namun tangannya segera di cekal oleh Kenny yang tak ingin di dahului untuk membantu Jenny membawa makanannya.
“Eits! kau duduk saja Tuan Polisi, biar aku saja yang membantu Nona Jenny,” Cegah Kenny seraya melenggang menghampiri sang gadis yang sudah lebih dahulu menghampiri mobil box.
"Haist! syukurlah! Jenny bisa mengobati luka hatimu Kenn!” Batin Erfan penuh syukur.
Setelah semua makanan tersaji, mereka pun langsung menyantap makanan itu dengan lahap, meski ini pertama kalinya bagi Kenny memakan sup kaki ayam, tapi dia terlihat begitu lahap dan menikmatinya. Baginya, makanan baru itu benar-benar sangat lezat, apa lagi dia makan bersama dengan gadis cantik yang duduk tepat di
sampingnya.
“Wah… kenyang nya, perutku semakin buncit saja setelah melahap semua sup kaki ayam ini!” Ucap Jenny yang mengundang tawa dari semua orang yang ada di meja makan.
“Sayang bantu Ibu membersihkan bekasnya ya!” Seru Ibu Tania yang di sambut penuh semangat oleh Jenny.
Ya, itu lah salah satu alasan kenapa Ibu Tania sangat menyayangi Jenny. Jenny tidak pernah mengeluh atau pun menolak jika di mintai tolong. Jenny akan melakukannya dengan suka rela meski dirinya sedang kelelahan sekali pun.
“Ok!” Sahut Jenny seraya beranjak.
Dan lagi-lagi Kenny mengikutinya untuk membantu gadis cantik itu.
“Kenapa kau mengikuti ku?” Tanya Jenny heran.
“Aku hanya ingin membantumu, sepertinya mangkuk dan alat makan yang kotor banyak sekali, aku tidak mau kau terlalu lelah, nanti malam kan kita akan makan-makan lagi bersama Renata,” Tutur Kenny beralasan.
Padahal Kenny hanya ingin terus berada di dekat Jenny. Entah mengapa saat gadis itu tidak ada di sisinya, hatinya menjadi gelisah. Seakan ada yang kurang dan selalu membuatnya tidak tenang.
“Yakin? kau tidak akan memecahkan perabotannya kan? lagi pula kau kan tidak pernah membersihkan peralatan makan sebelumnya? kenapa aku jadi ragu ya?” Jenny melipat kedua tangannya di depan dada seraya menatap lekat ke arah Kenny.
“Kau meremehkan ku lagi Jenn, ayo! sebaiknya kita buktikan saja sekarang!” Tegas Kenny seraya menarik tangan Jenny menuju tempat pencucian peralatan makan.
“Ok!” Seru Jenny segera melenggang ke arah pencucian piring.
Jenny benar-benar terus memperhatikan Kenny yang sedang membersihkan beberapa mangkuk dan gelas
“Selesai! bersih kan?” Ucap Kenny setelah mengakhiri kegiatan bersih-bersihnya.
“Hm… aku pikir kau akan kesulitan dan menyerah, tapi ternyata kau cukup lihai juga melakukannya, apa sebelumnya kau juga sering mencuci piring sendiri ya?” Tutur Jenny seraya memberikan lap tangan pada Kenny.
“Aku pernah hidup mandiri di Negara A sebelumnya, jadi hal seperti ini sudah biasa aku lakukan!” Ungkap Kenny menyombongkan dirinya.
“Oh, pantas saja! ya sudah, sebaiknya kita kembali ke dalam lagi yuk!” Ajak Jenny sambil melangkah mendahului
Kenny yang menyimpan lapnya terlebih dahulu.
Hanya tertinggal Ibu dan Aldo saja di ruang makan, Ayah Primus dan Rangga ternyata sudah berangkat bekerja juga setelah Erfan berpamitan tadi.
“Loh! Ayah, Rangga sama Tuan Erfan kemana Bu?” Tanya Jenny setelah sampai di ruang keluarga
rumahnya.
“Ayah dan Rangga baru saja berangkat bekerja, kalau Tuan Erfan dia juga sama sih, katanya dia harus kembali bertugas tadi, jadi dia pamit lebih dulu sebelum Ayah dan Rangga pergi,” Tutur Ibu Tania memberi penjelasan.
“Apa kau juga bekerja hari ini? Kakak harap kau beristirahat saja sehari ini, Kakak tidak mau kamu sakit Jenn!” Seru Aldo cemas.
“Jenny baik-baik saja ko Kak, tapi sepertinya Jenny hari ini memang mau di rumah saja deh, soalnya Jenny gak ada jadwal mendekor juga hari ini, sepertinya Rangga juga masuk kerja hanya untuk membereskan sisa dekorasi kemarin,” Sahut Jenny.
“Baguslah, kalau begitu Kakak kembali ke kamar dulu ya, Kakak masih harus menyelesaikan perbaikan notebook milik Mirea, sepertinya gadis itu benar-benar tidak sabar notebook nya kembali berfungsi!” Tutur Aldo seraya beranjak menuju kamarnya dengan tongkat yang selalu setia menemaninya selama dua tahun ini.
“Sepertinya Mirea sering sekali membetulkan alat-alat elektroniknya, apa jangan-jangan dia hanya mencari alasan saja ya?” Aldo menautkan ke dua alisnya, dia masih berusaha mencerna setiap ucapan adiknya itu.
“Alasan? alasan apa sih Jenn?” Ibu Tania mewakili bertanya.
“Iya benar! alasan apa sih? sepertinya dia hanya sedang sial saja deh, hampir dua bulan ini dia sering bolak balik meminta Kakak membetulkan alat-alat Elektroniknya,” Tutur Aldo yang mengundang tawa dari Jenny.
“Hahaha… Kakak tidak biasanya memanggil Mirea dia, apa jangan-jangan perasaanku ini benar ya?” Tambah Jenny menggoda Kakaknya.
“Apa sih Jenn! mungkin itu hanya perasaanmu saja!” Sangkal Aldo gelagapan dengan pipinya yang mulai merona.
“Sepertinya Kak Aldo menyukai gadis pemilik notebook rusak itu ya?” Seru Kenny yang membuat tatapan Aldo langsung mengarah tajam kepadanya.
“Betul! ternyata kau lebih pintar Tuan,”.
“Kak! Kakak sebenarnya suka juga kan sama Mirea?” Ucap Jenny.
“Apa sih Jenn! kau jangan mengada-ngada, mana ada Kakak seperti itu, sudah ah! Kakak mau ke kamar, sebaiknya Kakak kembali membenarkan elektronik dari pada meladeni mu!" Gerutu Aldo.
Jenny dan orang-orang yang tersisa di sana pun tertawa melihat wajah Aldo yang sudah memerah bagaikan udang rebus yang siap di santap. Mereka begitu puas bisa menjahili Aldo yang dikenal dingin dan selalu serius.
Setelah kepergian Aldo ke kamarnya, Kenny terlihat merogoh saku celananya untuk meraih ponselnya yang terus bergetar sedari tadi. Ternyata saat itu Kenny di hubungi Neneknya yang berada di Negara B.
See you next episode guys...