
Keadaan gedung yang belum terlalu ramai akhirnya memberi kelancaran bagi Jo untuk membawa Jenny pergi ke Rumah Sakit terdekat. Namun langkahnya harus sedikit tersendat kala segerombol Reporter yang siap meliput acara peresmian gedung tersebut melihat sosok yang begitu mereka kenali sedang menggendong seorang wanita. Dengan cepat segerombolan Reporter tersebut mengerumuni Jo dan melayangkan beberapa pertanyaan pada Jo perihal wanita yang saat ini ada di dalam gendongannya.
“Tuan Jonathan! tolong beri kami waktu sebentar Tuan! siapa gadis yang anda gendong saat ini? apa dia calon istri anda? apa kalian sudah menikah?” Berbagai pertanyaan terlontar begitu saja saat Jo hampir saja sampai di dekat halaman parkir gedung Kenny yang akan di resmikan.
“Maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan kalian sekarang, saat ini saya harus segera membawanya dulu ke Rumah Sakit, jadi tolong kalian beri jalan pada saya ya!” Jawab Jo seraya membelah kerumunan para Reporter yang memburu informasi darinya.
Setelah sampai di dalam mobil. Jo, segera melajukan kereta beroda empat miliknya dengan kecepatan sedang menuju Rumah Sakit terdekat. Sesampainya di sana Jo segera membawa Jenny ke ruang UGD dan meminta suster yang berjaga segera menindak gadis yang di sukai itu.
“Suster tolong segera tangani dia, dia tiba-tiba saja pingsan setelah memuntahkan isi perutnya tadi!” Seru Jo menjelaskan.
“Baiklah Tuan, kami akan segera memeriksa Nona sekarang, anda silahkan tunggu di luar ya!” Perintah seorang Suster seraya menggiring Jo keluar dari ruangan UGD dan menutup pintu ruangan tersebut untuk seger melakukan serangkaian pemeriksaan pada Jenny.
Sekitar 20 menit Jenny, baru bisa Jo temui setelah beberapa perawat memindahkannya ke ruangan rawat inap.
“Tuan, kenapa aku ada di sini?” Tanya Jenny saat dirinya baru saja tersadar dari pingsannya.
“Kau tadi pingsan setelah muntah Jenn, apa kau baik-baik saja sekarang?” Jawab Jo balik bertanya.
“Hm… aku pikir, aku akan kuat menahan sakit kepala tadi, ha… maaf ya sudah membuat Tuan repot,” Keluh Jenny.
“Tidak perlu merasa sungkan Jenn, aku sama sekali tidak merasa direpotkan ko, ya sudah aku ganti pakaian dulu ya, sebentar lagi akan ada suster yang akan mengantarkan makanan untuk mu kemari, aku ke kamar mandi dulu ya!” Tutur Jo seraya melenggang ke dalam kamar mandi yang berada di ruangan rawat inap Jenny.
“Ha… Kenny pasti sedang mencari ku saat ini, aku harus menghubunginya sekarang juga.” Gumam Jenny seraya mencari kontak sang suami di ponselnya.
Setelah beberapa kali melakukan panggilan telepon pada suaminya, Jenny sedikit kecewa karena Kenny sama sekali tidak menjawab satu pun panggilan telepon darinya, namun Jenny berusaha mengartikan keadaan Kenny yang pasti sibuk dengan para tamu undangannya saat ini.
Di gedung peresmian sendiri Kenny saat ini memang benar-benar sibuk dengan beberapa tamu penting yang begitu berpengaruh terhadap kelancaran bisnisnya itu. Pria tampan bertubuh atletis itu hingga lupa dengan keberadaan istrinya yang sudah hampir setengah jam ini belum juga muncul di dalam gedungnya.
“Kenn, selamat ya sayang! kau memang cucuku yang terhebat, aku begitu bangga padamu sayang!” Ucap Nenek Martha yang baru saja tiba seraya mengecup pipi kana dan kiri Kenny secara bergantian.
“Terimakasih Nek, oh iya! apa Om Antoni hadir juga?” Sahut Kenny bertanya.
“Dia sih bilangnya akan menyusul, tapi entah lah, sebaiknya kau segera kenalkan Nenek pada kekasihmu saja sekarang , Nenek benar-benar sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengannya saat ini!” Tutur Nenek Martha antusias.
“Hm… baiklah, Nenek tunggu di sini sebentar ya, Kenn akan mencarinya dulu!” Pinta Kenny sambil mengedarkan penglihatannya ke segala penjuru gedung untuk mencari keberadaan istrinya.
Sejurus kemudian, Geandra menghampiri Nenek Martha dengan langkah gemulainya untuk menyapa wanita paruh baya tersebut.
“Selamat malam Nek,” Tegur Gea yang membuat Nenek Martha langsung memalingkan wajahnya ke arah Gea.
“Oh astaga! kau membuatku terkejut sayang, kau apa kabar?” Sahut Nenek Martha sambil memeluk Gea.
“Aku baik Nek, Nenek sendiri apa kabar?” Tanya Gea seraya menyelipkan anak rambutnya ke sisi telinga nya hingga memperlihatkan pergelangan tangannya yang menggunakan gelang yang begitu di kenali oleh Nenek Martha.
“Itu kan gelang yang ada di kotak perhiasan kemarin yang Kenny beli dari Antoni, sepertinya Gea benar-benar orangnya.” Batin Nenek Martha.
“Nek, apa Nenek baik-baik saja?” Tegur Gea, karena Nenek Martha malah melamun setelah melihat gelang yang Gea pakai.
Flash back start.
Pluk…
Tanpa Jenny dan Jo sadari, gelang yang melingkar di pergelangan tangan Jenny terlepas begitu saja saat Jo hendak menggendong tubuh ramping Jenny.
“Eh… itu kan si Jo! tapi kenapa dia menggendong Jenny? wah… ini sih harus segera aku abadikan.” Gumam Gea yang berdiri tak begitu jauh dari tempat Jo dan Jenny berada. Dengan cekatan wanita genit itu pun menangkap beberapa foto Jo yang sedang menggendong Jenny.
“Sip! ternyata mereka mengantarkan nyawanya sendiri pada ku!” Gea menunjukkan seringai di bibirnya setelah berucap.
Setelah melihat kepergian Jo yang membawa Jenny dalam gendongannya, Gea menghampiri tempat di mana Jo dan Jenny tadi berada, dia melihat sebuah gelang yang tergeletak begitu saja di atas lantai, dan Gea begitu yakin jika gelang tersebut adalah milik Jenny. Tanpa menunggu apa pun lagi, Gea segera memungut gelang tersebut dan memakaikannya di sebelah pergelangan tangannya sendiri, seolah-olah gelang itu memang miliknya yang sempat terlepas.
Flash back done.
“Oh iya Ge, Nenek baik-baik saja ko, apa kau sudah bertemu dengan Kenny?” Tanya Nenek Martha.
“Aku belum bertemu dengannya lagi Nek, apa Nenek haus? aku akan ambilkan segelas jus untuk Nenek ya!” Tutur Gea seraya menghampiri tempat minuman di sajikan.
Wanita genit itu benar-benar mencari muka di depan Nenek Martha, Gea terus memanfaatkan kedekatan nya dengan wanita paruh baya itu untuk mendapatkan Kenny. Setelah beberapa saat berbincang ringan dengan Nenek Marta, Gea di tegur Kenny yang entah mengapa mencari dirinya.
“Ge, apa kau mengenal Nenek ku? oh iya, tadi Om Alex mencari mu,” Ucap Kenny setelah menghampiri.
“Iya Kenn, aku akan menemui Papah nanti Kenn, terimakasih sudah memberitahu ya, mungkin Papah ingin memberi kabar tentang kesehatan Mommy barusan, sebenarnya aku merasa bersalah karena harus meninggalkannya di rumah kami,” Isak Gea dengan air mata buayanya.
“Sudahlah Ge, Mommy mu pasti baik-baik saja ko,” Kenny reflek mengelus punggung Gea yang sedikit bergetar karena tangisan palsunya.
“Wah… Kenny benar-benar perhatian pada kekasihnya, hanya saja kenapa dia belum mengenalkan Gea padaku juga ya? apa dia malu ya memberitahu hal itu di depan umum begini?” Batin Nenek Martha yang tak luput memperhatikan tingkah cucu nya.
“Nek, aku harus menjamu tamu-tamu yang lainnya lagi bersama Gea, Nenek tidak apa-apa kan jika kami tinggal?” Tutur Kenny bertanya.
“Pergilah Kenn, kau Tuan rumahnya malam ini, jadi kau harus menjamu semua tamu yang hadir,” Sahut Nenek Martha seraya mengukir senyum di bi***nya.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys…😘😘😘