
“Kenn! kau pilih ikut aku masuk kamar atau pilih mendengarkan cerita dia!” Ucap Jenny dengan lantangnya.
“A…aku pasti ikut denganmu ke kamar lah sayang, ayo!” Seru Kenny seraya menggiring istrinya ke kamar mereka kembali.
“Kenn, kau mau kemana? Kenny!” Teriak Gea frustasi.
Di kamar.
“Sayang… apa kau tidak kasihan ya sama Gea, Mommy nya itu benar-benar sedang sakit keras loh!” Tutur Kenny membujuk dan menjelaskan.
“Aku tau Kenn, tapi dia tidak perlu bergelayut manja seperti tadi juga kan! atau kau memang menyukainya. Kalau memang itu yang kau mau aku sebaiknya pergi saja sekarang!” Sahut Jenny seraya mencoba melangkah ke arah pintu.
“Sayang…sayang! aku tidak menyukainya, aku hanya menyukaimu, aku juga tida suka dia bergelayut seperti tadi, aku hanya terharu saja tadi,” Tutur Kenny mencoba menghadang Jenny agar tidak pergi dari kamar mereka.
Kenny memeluk istrinya dengan begitu erat meski Jenny terus memberontak dan tak mau menatap ke arahnya. Ada rasa bahagia sekaligus gemas yang di rasakan Kenny saat ini, melihat istrinya cemburu seperti ini membuatnya semakin yakin jika Jenny saat ini sudah sangat mencintainya.
“Aku mencintaimu Jenny Alexa. Hanya kau yang ada di sini, dan selamanya akan ada di sini sayang,” Ucap Kenny seraya membawa telapak tangan Jenny di dadanya setelah Jenny mulai tenang.
Hening… Jenny belum mau mengucapkan satu kata pun dari mulutnya. Dia masih mencoba mengatur perasaannya dan mencoba mempercayai ucapan suaminya.
“Sayang!” Ucap Kenny seraya mengendus leher jenjang milik istrinya.
“Kenn… lepas! aku ingin ke kamar mandi sekarang!” Pinta Jenny yang sudah tak tahan menahan gai***nya yang terpancing kembali oleh sentuhan suaminya. Dia tidak ingin luluh begitu saja setelah Kenny membuatnya kesal di ruang tamu tadi.
“Aku temani ya, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi mulai sekarang!” Sahut Kenny yang langsung menggendong tubuh ramping istrinya ke dalam kamar mandi.
Di kamar mandi, Kenny terus memperhatikan istrinya yang tengah terduduk di atas kloset tanpa memalingkan wajahnya sedetik pun.
“Haduh! kalau begini terus bisa-bisa pertahanan ku goyah nih! aku harus cari cara agar Kenny mau keluar dari kamar mandi ini,” Gumam Jenny dalam hatinya.
“Kenn! kau keluarlah dulu, aku tidak nyaman jika harus buang air besar seperti ini,” Tutur Jenny beralasan.
“Tidak apa-apa sayang, aku akan menunggumu di sini sampai kau selesai, lagi pula kau tidak perlu malu lagi padaku, aku kan sudah melihat setiap inci tubuhmu, bahkan aku sudah menikmatinya semalaman.” Sahut Kenny sambil menunjukkan seringai licik di bibirnya.
“Bukan begitu… aku hanya tidak mau kau menghirup aroma kotoran ku jika terus berdiri di sini, itu pasti sungguh tidak nyaman kan!” Ucap Jenny kembali beralasan.
“Aku mencintaimu dengan seluruh yang ada pada dirimu sayang, jadi aku sama sekali tidak masalah dengan aroma kotoran mu itu,” Sahut Kenny dengan santainya sambil mendekat dan mengecup bi*** Jenny dengan sekilas.
“Kenn, aku kan sudah bilang aku ingin buang air besar, aku benar-benar tidak nyaman jika buang air di lihat orang seperti ini,” Gerutu Jenny dengan gelagat seperti orang yang ingin buang hajat sungguhan.
“Ha… baiklah-baiklah sayang, aku tunggu kau di kamar deh, jangan lama-lama ya!” Ucap Kenny mengalah seraya mengecup kembali bi*** Jenny sebelum keluar dari kamar mandi.
“Ha… dasar pria menyebalkan! tapi sayangnya aku sudah terjatuh dalam jerat cintanya! terlebih dia sudah menjadi suamiku juga sekarang!” Gumam Jenny setelah kepergian Kenny.
10 menit kemudian Jenny keluar dari kamar mandi dan menghampiri Kenny di atas tempat tidur yang ternyata sedang memeriksa beberapa email yang masuk di laptopnya.
Ceklek… suara pintu kamar mandi di buka.
“Sayang! apa kau sudah selesai?” Tanya Kenny setelah melihat sang istri berjalan menghampiri tempat tidur mereka.
“Ya… kau sedang apa?” Jawab Jenny balik bertanya.
“Aku sedang memeriksa beberapa email yang masuk sayang,”.
“Oh… sepertinya kau begitu sibuk. Apa sebaiknya kita pulang saja ya sekarang?”.
“It’s ok Kenn, lagi pula aku harus mengemas pakaianku di rumah Ibu sebelum pindah ke Apartemen mu,” Sahut Jenny yang kembali mendapat kecupan di bi***nya dari sang suami.
“Emm…” Kecupan yang bermula sekilas itu akhirnya semakin menuntut dan berakhir dengan pergulatan panas mereka kembali sebelum akhirnya mereka meninggalkan Villa sore itu.
Dia tempat lain. Seorang Ibu paruh baya terlihat sedang sibuk menyiapkan makan malam di kediaman putranya.
“Bu, Jo kan sudah bilang jangan masak! kita pesan saja dari Restoran bawah, Ibu jangan terlalu lelah, ok!” Tutur Jonathan ketika melihat sang Ibu yang sedang berkutat di dapur Apartemennya.
“Ibu hanya membuat omlet kesukaan mu sayang, ini kan begitu mudah! Ibu sama sekali tidak merasa lelah ko, lagi pula Ibu akan bosan jika tidak melakukan sesuatu,” Sahut Ibu Erika yang tak lain nama Ibunya Jonathan.
“Ha… Ibu selalu membuatku khawatir saja! tapi kepala Ibu tidak pusing lagi kan sekarang? obat yang Jo tebus waktu itu masih ada juga kan? Ibu jangan lupa memakan obatnya ya, biar Ibu cepat sembuh!” Ucap Jonathan seraya memborong beberapa pertanyaan untuk Ibunya.
“Masih ada ko, kau tenang saja, Ibu tidak akan lupa memakannya ko!” Sahut Ibu Erika.
*****
Setelah tiba di kediaman Ayah Primus, Jenny dan suaminya segera masuk dan menuju kamar Jenny untuk mengemas pakaian dan barang-barang Jenny yang akan di bawa pindah ke Apartemen Kenny sementara sebelum mansion yang Kenny renovasi selesai.
“Kenn! malam ini kita menginap di sini dulu ya! aku masih ingin tidur di kamar ku sebelum pindah ke Apartemen mu!” Pinta Jenny di sela kegiatannya membenahi pakaian yang akan dia bawa pindah.
“Terserah padamu sayang, aku tidak masalah jika kau masih ingin tinggal di sini beberapa hari lagi pun,” Sahut Kenny seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Jenny.
“Haist! dasar tukang tidur, baru juga rebahan sudah mendengkur lagi!” Gerutu Jenny setelah melirik sang suami yang sudah memejamkan matanya.
Setelah selesai mengemas pakaiannya, Jenny menghampiri dapur untuk membantu Ibu Tania menyiapkan makan malam.
“Ibu mau masak apa malam ini?” Tanya Jenny seraya menghampiri.
“Loh… ko sudah turun lagi! sudah selesai ya berkemas nya?”Sahut Ibu Tania balik bertanya.
“Sudah Bu, lagi pula Jenny tidak membawa semua pakaian dan barang-barang Jenny ko, hanya sebagian saja! Ibu mau masak apa sekarang? Jenny bantu ya Bu!” Seru Jenny.
Setelah masakan selesai, Ibu Tania segera menyuruh Jenny untuk memanggil Kenny dan juga Aldo yang masih asik bergulat dengan barang-barang Elektronik rusak yang dia perbaiki. Rangga dan Ayah Primus yang baru pulang bekerja pun segera ikut bergabung makan bersama di rumah sederhana itu, menikmati hidangan yang sudah Ibu Tania dan Jenny masak bersama untuk orang-orang yang mereka sayangi.
.
.
.
.
.
.
.
Like, komen, gift, dan vote nya jangan lupa ya.
See you next episode guys... 😘😘😘