
Hal tersebut sontak membuat kedua mertua Jenny melongo, mereka menatap nanar kepergian putranya yang entah mengapa akhir-akhir ini terlihat kasar pada menantunya, bahkan Kenny malah mengajak Gea pergi.
“Jenn! kau yang sabar ya sayang, Mommy pasti akan mencari tau penyebab Kenny berlaku kasar seperti ini padamu!”Janji Mom Bella seraya memeluk menantunya.
“Terimakasih Mom, tapi Jenny rasa Mom tidak perlu repot-repot mencari tau, sepertinya Jenny sudah tau penyebab Kenny bersikap seperti itu, Jenny akan memastikannya sendiri nanti, sebaiknya Mommy dan Papah pulang saja sekarang, biar Jenny yang menunggu Nenek malam ini!” Tutur Jenny berusaha tegar.
“Tapi Jenn…” Sahut Mom Bella merasa tak tega membiarkan menantunya yang berjaga sendiri malam itu.
“Tidak apa-apa Mom, Jenny baik-baik saja ko, justru jika Jenny di sini menemani Nenek, Jenny akan semakin merasa membaik,” Ucap Jenny meyakinkan.
“Ya sudahlah Mom, sebaiknya kita turuti kemauan Jenny saja, lagi pula Papah juga sangat lelah hari ini, ayo kita pulang sekarang!” Seru Papah Oscar yang sudah nampak lelah setelah menyelesaikan beberapa urusannya hari itu.
“Hm… baiklah Pah, kalau begitu Mommy dan Papah pulang dulu ya sayang, kau baik-baik di sini ya!” Tutur Mom Bella sebelum benar-benar meninggalkan Jenny di ruangan Nenek Martha.
Malam yang begitu pelik itu akhirnya Jenny lewati dengan menemani Nenek Martha di ruangan perawatannya. Meski Nenek Martha belum bisa berbicara namun Jenny bersyukur jika Nenek dari suaminya itu sudah sadar dari koma nya.
“Nek, Jenny tidur di samping Nenek seperti ini tidak apa-apa kan?” Lirih Jenny seraya menjatuhkan kepalanya tepat di samping tangan Nenek Martha yang terbaring lemah di tempat tidur perawatan nya.
Gadis itu menatap wajah sang Nenek yang kini masih terjaga membalas tatapannya. Nenek Martha sendiri seperti ingin menyampaikan sesuatu, namun tubuhnya masih sangat lemah dan tak berdaya. Hingga akhirnya Nenek Martha hanya bisa meneteskan air matanya saat mendengar penuturan yang Jenny ucapkan sebagai ungkapan isi hatinya yang tengah bersedih.
“Nek, Jenny tidak tau lagi harus bercerita pada siapa!” Ucap Jenny memulai curhatannya.
“Sebenarnya malam ini, seharusnya Jenny memberi kejutan ulang tahun untuk Kenn. Tapi…” Jenny men jeda perkataannya. Sesekali gadis itu terlihat terisak dan menghela kasar nafasnya, menahan sesak yang dia rasakan saat ini.
“Kejutan itu harus batal, karena Kenn tiba-tiba saja berubah acuh dan selalu marah-marah pada Jenny setelah kepulangan nya dari luar Negeri. Padahal Jenny sudah menyiapkan kejutan yang Jenny yakini akan membuatnya begitu amat bahagia, karena tepat seminggu yang lalu, Jenny di nyatakan hamil oleh Dokter yang memeriksa Jenny sebelum pernikahan Rangga dan Shakira di gelar.” Tutur Jenny yang masih asik meletakkan kepalanya di samping tempat tidur nenek Martha.
Jenny terisak, ingatannya kembali berputar kala dia sudah mencoba menjelaskan pada suaminya, namun Kenny nampak menutup telinganya untuk mendengarkan penjelasan Jenny itu. Di saat gadis itu tersedu-sedu, tangan Nenek Martha tiba-tiba saja menyentuh kepala Jenny yang tengah tertunduk menyembunyikan tangisan nya. Perlahan, Sentuhan itu kian kuat Jenny rasakan di kepalanya, hingga akhirnya Jenny mendongak kan kepalanya untuk memastikan jika yang dia rasakan bukanlah halusinasinya saja.
“Nenek! tangan Nenek bisa bergerak lagi?” Ucap Jenny dengan mata yang berbinar.
Nenek Martha hanya mampu menganggukkan kepalanya, dan itu hal yang sangat baik untuk kemajuan kesehatannya. Pasalnya sejak tadi siuman, Nenek Martha masih belum bisa menggerakkan kepala atau pun anggota tubuhnya yang lain. Namun setelah mendengar cerita memilukan dari mulut cucu menantunya itu, dirinya seakan memiliki kekuatan untuk memberikan dukungan pada Jenny.
“Ya Tuhan, Nenek! Jenny benar-benar senang Nenek bisa menggerakkan kepala dan tangan Nenek sekarang, biar Jenny panggilkan Dokter dulu ya, Nek!” Seru Jenny penuh semangat.
Gadis itu begitu senang hingga melupakan kesedihannya sesaat tadi, dia benar-benar bahagian bisa meyaksikan sendiri perkembangan kesehatan Nenek Martha. Setelah Dokter memeriksa keadaan Nenek Martha kembali, kini Jenny kembali duduk di samping tempat tidur Nenek Martha seraya menggenggam tangan renta milik Nenek Martha tersebut.
“Nek! apa Nenek ingin makan sesuatu? bagaimana kalau makan biskuit?” Tawar Jenny seraya menunjukkan bungkusan biscuit yang dia raih dari nakas samping tempat tidur Nenek Martha.
Nenek Martha menganggukkan kepalanya pertanda setuju, dia begitu senang mendapat perlakuan lembut dari cucu menantunya itu. Sementara di sebuah Bar, terlihat seorang pria yang tengah mabuk berat di temani seorang wanita yang selalu setia mengikutinya sejak mereka keluar dari Rumah Sakit.
“Kenn! kau sudah mabuk, kau jangan minum lagi ya!”.
“Biarkan aku minum sampai pagi, Ge! kau pulang lah, aku tidak ingin kau repot karena mengurus diriku yang sedang kacau ini,” Racau Kenny yang sudah sangat mabuk.
“Haist! benar-benar menyebalkan! kalau saja aku tidak ingat dengan tujuan ku balas dendam dan untuk membuat si gadis menyebalkan itu hancur aku tidak mungkin sudi menemaninya di sini!” Batin Gea menggerutu.
Hoek…
“Kenn! kau benar-benar menjijikan! ish… kenapa kau malah muntah di sini sih!” Ucap Gea seraya beranjak untuk memanggil anak buahnya.
Sejurus kemudian, Kenny sudah berada di dalam mobil yang Gea kemudikan sendiri. Kali ini wanita licik itu berencana mencari perhatian dari kedua orangtuanya Kenny.
Ting… tong…
Ceklek…
“Kenn! kau kenapa, nak?” Tanya Mom Bella setelah membuka pintu rumahnya seraya menghampiri tubuh putranya yang sudah setengah sadar.
“Emm… kau bau alkohol!” Ucap Mom Bella menambahkan.
“Kenny tidak mau mendengarkan Gea, Tante! dia minum terlalu banyak setelah pergi dari Rumah Sakit tadi, sepertinya dia benar-benar sedang frustasi.” Tutur Gea seraya menahan tubuh Kenny yang cukup berat tentunya.
“Astaga!”.
“Pah!! Papah!!” Panggil Mom Bella seraya berteriak.
Tak lama kemudian Papah Oscar pun terlihat menghampiri dengan nafasnya yang terlihat tersengal. Pria paruh baya itu sedikit panik ketika mendengar teriakan sang istri yang terdengar histeris. Karena takut terjadi apa-apa pada istri tercintanya itu, Papah Oscar akhirnya berlari untuk menghampirinya.
“Ada apa sayang? astaga! Kenn kenapa Mom?” Tanya Papah Oscar yang semakin panik kala melihat putranya yang sedang di giring duduk ke sofa ruang tamu.
“Kenny mabuk Pah!” Sahut Mom Bella.
“Astaga! sejak kapan dia jadi pemabuk seperti ini?” Ucap Papah Oscar yang tak habis pikir dengan kelakuan putra semata wayang nya itu.
“Sebaiknya kita bawa dia ke kamarnya dulu saja Pah!” Seru Mom Bella yang di setujui oleh sang suami.
Akhirnya kedua pasutri yang tak lagi muda itu menggiring tubuh putra semata wayang nya ke kamar. Mereka bekerja sama untuk merebahkan tubuh tinggi tegap anaknya itu di atas tempat tidur. Karena kondisinya yang sudah sangat larut, akhirnya mereka berdua terpaksa membawa Kenny sendiri ke kamarnya tanpa bantuan para pelayan mansion mewah itu.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys… 😘😘😘