
"Cantik! kenapa aku baru melihatnya sekarang?" Batin Viky. Ya! Viky lah yang menolong perempuan cantik yang hampir terjatuh tadi.
Perlahan wajahnya mendekat ke arah wajah sang perempuan, Viky benar-benar terhipnotis oleh kecantikannya. Padahal di sana banyak sekali yang menyaksikan adegan mereka tersebut.
"Tu...Tuan! apa yang kau lakukan?! astaga! dasar mesum!" Rutuk perempuan cantik tersebut yang tak lain Dokter Lusi. Dokter kandungan yang pernah menangani Jenny saat melahirkan putrinya.
Duakk...
Dokter Lusi segera membenturkan keningnya untuk menyadarkan Viky yang di duga masih berada di alam khayalnya. Setelah mendapat teguran tersebut, Viky benar-benar tersadar seraya meringis memegang keningnya yang berdenyut.
"Awwww!!! kenapa kau malah membentur keningku?!" Gerutu Viky.
"Salahmu sendiri, siap suruh main sosor!" Sahut Dokter Lusi seraya membenarkan penampilannya.
"Astaga! apa aku benar-benar hampir menciumnya, ya?!" Batin Viky.
Sementara Dokter Lusi terlihat melenggang meninggalkan Viky untuk memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.
"Tunggu! siapa namamu?!" Cekal Viky meraih sebelah pergelangan tangan Dokter Lusi.
"Untuk apa kau tau namaku? dasar orang aneh!" Ketua Dokter Lusi.
"Hei... aku serius!" Seru Viky mengekor.
"Haist! kenapa pria ini mengikuti terus sih?" Batin Dokter Lusi.
Setelah memberi ucapan selamat pada Tian dan Tantri. Dokter Lusi pun bergegas turun dari pelaminan dan menuju meja yang menyajikan makanan sebagai jamuan pernikahan. Di liriknya makanan tersebut, seketika perutnya berbunyi menandakan jika dia benar-benar sangat lapar saat itu.
"Astaga... makanannya begitu terlihat menggiurkan, perutku sampai berontak ingin segera di isi!" Gumam Dokter Lusi yang tak sadar di dengar oleh Viky yang sejak tadi mengekornya.
"Kenapa hanya di pandang jika memang sudah lapar?!" Tegur Viky.
"Astaga! kenapa kau masih mengikuti ku sih?!" Sahut Dokter Lusi seraya mengusap dadanya karena terkejut.
"Jika makanannya kurang cocok untukmu, aku akan mengajakmu makan makanan yang lebih enak dari ini!" Seru Viky seraya menarik sebelah tangan Dokter Lusi.
"Hei, kau menyakiti tangan ku!" Tegur Dokter Lusi seraya menarik kembali tangannya.
"Maaf... aku tidak bermaksud menyakiti mu!" Ucap Viky menyesal.
"Haist! sudah lah lupakan saja, sekarang aku harus makan sebelum waktu ku habis!" Sahut Dokter Lusi seraya mengambil beberapa potong cake yang di sajikan ke atas piring berukuran sedang di tangannya.
Setelah piring tersebut penuh, Dokter Lusi pun segera menyantap makanannya dengan lahap. Dia benar-benar tak memperdulikan keberadaan Viky yang masih memperhatikan gerak geriknya. Hingga akhirnya ada sepasang muda mudi menghampiri mereka, tepatnya menghampiri Dokter Lusi dan mencibirnya.
"Lihat lah sayang, mantan tunangan mu itu benar-benar memalukan, dia sudah seperti pengemis kelaparan saat makan!" Cibir sang wanita.
"Hm... aku beruntung membatalkan pertunangan kami, kalau tidak aku pasti harus menanggung malu karena tingkahnya itu!" Hardik sang pria yang tak lain mantan tunangan Dokter Lusi.
Perempuan bergelar Dokter kandungan tersebut tampak cuek dan acuh pada keduanya, membuat mereka merasa kesal sendiri karena tak mendapat perlawanan sama sekali dari target mereka.
"Sayang, lihatlah! wanita ini selain rakus, dia juga sepertinya tuli! dia tidak merespon kita sama sekali sejak tadi!" Rutuk si wanita.
"Astaga! benar-benar bedebah-bedebah menyebalkan!" Batin Dokter Lusi.
"Sepertinya gadis cantik ini perlu bantuan ku!" Batin Viky
"Hei Lusi! jika kau terus seperti itu, mana ada pria yang mau menikahi mu, bahkan mungkin sekedar pacaran pun tak akan yang sudi!" Tutur mantan tunangan Dokter Lusi.
"Apa peduli kalian?! enyah lah, aku sudah tidak ada urusan lagi dengan kalian!" Jawab Dokter Lusi yang sudah benar-benar geram mendengar ocehan unfaedah kedua pasangan muda mudi didepannya itu.
"Sombong sekali kau! dasar wanita jelek!" Ucap sang wanita seraya melayangkan tangannya untuk menampar Dokter Lusi.
Namun tangan yang sudah mengudara itu tak terasa mendarat sama sekali di pipinya.
"Kenapa tak terasa apa-apa? atau jangan-jangan aku hanya mimpi, ya?!" Batin Dokter Lusi seraya membuka perlahan matanya yang sempat terpejam karena takut terkena dampratan tangan kekasih matan tunangannya itu.
"Akh... sakit!" Pekik si wanita.
"Hei kau! lepaskan tangan kekasih ku, kau membuatnya sakit!" Seru mantan tunangan Dokter Lusi.
"Aku akan melepaskannya jika kalian mau meminta maaf pada kekasih ku!" Tutur Viky. Dia lah yang menggenggam pergelangan tangan kekasih mantan tunangan Dokter Lusi.
"Ke....kekasih?! Sayang, sebaiknya kita pergi saja dari sini, kita bisa dalam bahaya jika menghadapinya tanpa persiapan!" Bisik si wanita.
"Kenapa harus pergi sekarang, memang siapa orang ini?!" Tanya mantan tunangan Dokter Lusi.
Dia belum tau, jika yang sedang berhadapan dengannya saat ini adalah sepupu pewaris keluarga Alvaro yang tak kalah terkenal dari Kenny kesuksesannya.
"Astaga! jadi kau tidak mengenal pria di depanmu ini ya! dia sepupu pewaris keluarga Alvaro, kita bisa di buat bangkrut dalam seketika jika berani mengusik mereka," Tutur si wanita masih berbisik.
"Hei, kenapa kalian malah berbisik di depan kami?! apa kalian sudah bosan hidup ya?!" Gertak Viky seraya memberi kode pada anak buahnya agar meringkus kedua orang tersebut.
"Tu..tunggu Tuan, maaf! kami memang salah! Lusi! tolong maafkan kami, kami janji tidak akan mengganggu mu lagi!" Seru si wanita seraya memohon dan mengiba.
"Apa pria ini sedang membantuku? kalau begitu aku harus mendukungnya!" Batin Dokter Lusi.
"Sayang, aku ingin mereka di usir dari sini, mereka benar-benar mengganggu ku!" Rengek Dokter Lusi seraya bergelayut manja di sebelah lengan Viky.
"S...sayang?! apa barusan dia memanggilku sayang ya?!" Batin Viky terpesona.
"Astaga, pria ini tidak bisa di ajak kerja sama!" Rutuk Dokter Lusi.
Perempuan cantik itu kemudian memeluk tubuh Viky dan berbisik tepat di samping telinganya.
Deg...
"Astaga! jantungku sepertinya ingin melompat dari tempatnya!" Batin Viky.
"Tuan, aku tau kau sedang menolongku, jadi aku juga ikut andil dari sandiwara mu ini, jadi bersikaplah selayaknya pasangan pada umumnya," Bisik Dokter Lusi.
"Jangan terlalu kencang, nanti mereka mendengar!" Tegur Dokter Lusi.
"Hm... baiklah, akan aku ikuti permainan ku!" Sahut Viky seraya menunjukkan seringai di bibirnya.
Sementara itu semua tamu undangan yang hadir saat itu masih asik menjadikan mereka tontonan. Bahkan tak sedikit dari mereka mengabadikan peristiwa tersebut melalui ponsel pintar milik mereka.
"Kenapa mereka malah bermesraan seperti itu, benar-benar kampungan!" Gerutu si wanita dalam hati.
"Rey, cepat bawa mereka berdua keluar! dan pastikan mereka berdua tak menerima investasi dari perusaan keluarga ku lagi, blokir semua akses yang berhubungan dengan mereka!" Tegas Viky memberi perintah.
"Siap, Tuan!" Sahut Rey yang tak lain anak buah Viky.
"Mari Tuan, Nona! kami harap kalian tak membuat keributan lagi setelah ini!" Tutur Rey seraya menggiring sepasang kekasih tersebut keluar gedung pernikahan.
"Huuuu!" Dokter Lusi menghela kasar nafasnya.
Dirinya seakan merasa lega setelah melihat kedua orang yang akhir-akhir ini dia hindari itu di giring keluar.
"Apa kau senang? sebaiknya kita makan di tempat lain saja sekarang! aku ingin kau berterimakasih padaku dengan cara yang benar!" Tutur Viky seraya menggendong tubuh ramping Dokter Lusi ala bridal style.
"Astaga! Tuan, tolong turunkan aku, semua orang sedang melihat kita sekarang!" Pinta Dokter Lusi yang hanya bisa menenggelamkan wajahnya di dada bidang Viky.
"Biar saja, toh mereka juga sekarang taunya kita pasangan, kan!" Sahut Viky dengan santainya melangkah menuju loby gedung dan memasuki mobilnya yang sudah di sediakan oleh para anak buahnya.
"Ya Ampun, mati aku! kenapa aku bisa terjebak dengan pria aneh ini?! tapi... kenapa aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya, apa karena dia sudah menolongku ya?!" Batin Dokter Lusi.
Setibanya di dalam mobil, perempuan cantik itu terlihat lebih banyak diam dari sebelumnya. Mereka berlalu meninggalkan gedung pernikahan menuju tempat pilihan Viky untuk meminta tanda terimakasih dari Dokter cantik yang sudah di tolong nya.
"Tu... Tuan, kau mau membawaku kemana?!" Tanya Dokter Lusi memecah keheningan.
"Kenapa?! apa kau takut, aku menculik mu?!" Sahut Viky balik bertanya.
"Tidak, siapa juga yang takut dengan mu?!" Ketus Dokter Lusi seraya melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang wajahnya ke arah jendela samping mobil.
"Baguslah! jadi aku tidak perlu membujuk mu lagi untuk menemui kedua orangtua ku!" Ucap Viky.
"Hah?! untuk apa kau mempertemukan ku dengan kedua orangtua mu?! tidak...tidak... aku tidak mau! sebaiknya kau turunkan saja aku di sini sekarang!" Sanggah Dokter Lusi seraya mencoba membuka pintu mobil yang berada di sampingnya.
"Tenanglah!" Lirih Viky seraya menyentuh sebelah tangan Dokter Lusi dengan lembut.
Seketika, perempuan cantik itu membeku di tempatnya. Dia benar-benar terkejut dengan perlakuan Viky yang di nilainya begitu mesum.
"Apa dia akan melecehkan ku?! tidak-tidak... aku harus cari cara agar dia menurunkan ku sekarang juga!" Batin Dokter Lusi bermonolog.
"Tu... Tuan, aku mau turun di sini saja, aku tidak bisa ikut denganmu," Ucap Dokter Lusi.
"Kenapa harus turun di sini? aku tidak akan macam-macam padamu, tenanglah!" Sahut Viky yang seakan tau kecemasan yang di rasakan Dokter Lusi.
"Kenapa dia bisa tau pikiranku, apa dia cenayang ya?!" Batin Dokter Lusi.
"Emm... aku Viky, siapa nama mu?!" Seru Viky memperkenalkan diri.
"A... aku Lusi," Jawab Dokter Lusi terbata.
"Nama yang cantik, secantik orangnya!" Sanjung Viky.
"Tem..terimakasih Tuan, apa aku sudah boleh pergi?!" Sahut Dokter Lusi.
"Kenapa kau bersikeras ingin pergi?! apa aku membuatmu tak nyaman?!" Cecar Viky.
"A...aku, a...aku, sama sekali tidak bermaksud begitu, hanya saja aku harus segera kembali ke Rumah Sakit sekarang, ya! ke Rumah Sakit! pasienku pasti sudah banyak yang mengantri di sana," Sahut Dokter Lusi beralasan.
"Jadi kau seorang Dokter ya?!" Ucap Viky bertanya.
"I...iya Tuan, aku Dokter kandungan, jadi biarkan aku pergi sekarang ya!" Iba Dokter Lusi.
"Tapi apa kau yakin akan kembali ke Rumah Sakit dengan gaun pestamu ini?!" Tanya Viky yang melihat penampilan Dokter Lusi yang sangat memukau.
"A...aku bisa menggantinya setelah tiba di Rumah Sakit nanti!" Sahut Dokter Lusi menjawab.
Tiba-tiba sebuah suara membuat Viky memiliki ide agar dia bisa bersama dengan Dokter Lusi lebih lama.
Kruyukkkk...
"Astaga! kenapa perutku tidak bisa di ajak kompromi sih?!" Rutuk Dokter Lusi dalam hatinya.
Perempuan cantik itu benar-benar malu dan tak bisa berkutik lagi. Apalagi Viky memperlakukannya dengan sangat baik.
"Perutmu masih lapar ya? kalau begitu aku akan menemanimu makan sebelum aku mengantar mu ke Rumah Sakit!" Tutur Viky seraya menepikan mobilnya di sebuah area parkir Restoran mewah yang kebetulan mereka lewati.
.
.
.
.
.
.
.
Ada yang setuju kah kalau Mom buatkan novel Viky dan Dokter Lusi??? atau lanjut ekstra part aja?? jawab di kolom komentar ya guys, see you... 😘😘😘