Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 142 # Di peluk lagi.



"Kak..." Panggil seorang gadis cantik seraya berderai air mata.


"Mi... kau kenapa menangis?" Aldo segera beranjak dari kursi kerjanya dan menghampiri.


"Kak, Kakak harus segera menikahi aku, aku..." Ucap gadis cantik yang tak lain Mirea.


"Kau kenapa Mi? kenapa kau mendadak memintaku menikahi mu?" Tanya Aldo seraya memegang kedua pundak Mirea seraya menatapnya lekat.


Mirea masih tertunduk, matanya masih enggan menatap Aldo yang kini terus memandangnya dengan intens, ada raut kegelisahan di wajah cantiknya, dia sudah tidak tau lagi harus meminta tolong pada siapa.


"Mi, katakanlah! apa yang terjadi? kenapa kau memintaku menikahi mu?" Tanya Aldo lagi.


Perlahan Mirea mengangkat kepalanya dan menatap ke dalam bola mata Aldo, pandangan keduanya saling beradu, saling menyelami semua perasaan yang mereka miliki satu sama lain.


"Aku... aku mencintaimu Kak, aku ingin menikah dengan mu, tapi..." Tutur Mirea yang kembali tercekat kala mengingat dirinya akan di nikahkan secara paksa oleh kedua orangtuanya demi membayar hutang sang Papah pada temannya.


"Tapi apa Mi? apa yang terjadi, kau seperti sedang memikirkan banyak beban saat ini," Sahut Aldo kembali bertanya.


Dengan berat Mirea menceritakan semua keputusan Papahnya yang memilih menikahkan dia untuk membayar hutang-hutang Papahnya pada temannya sendiri. Rencananya pekan ini Mirea akan di nikahkan dengan teman Papah nya itu yang di ketahui sudah memiliki 3 istri dan 5 anak dari hasil pernikahannya.


"Kak... aku tidak mau di nikahkan dengan pria tua itu, aku hanya mencintaimu Kak, Kakak mau kan membawaku pergi, aku tidak tau lagi harus kemana," Lirih Mirea seraya terisak.


Aldo menghapus jejak tangis di wajah Mirea dengan kedua ibu jari tangannya, Pria tampan itu menarik tubuh ramping sang gadis ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku Mi, maafkan aku karena terlambat meminta mu pada mereka, aku akan segera melamarnya secepatnya, aku janji!" Ucap Aldo.


"Tapi Kak, kalau Kakak tidak cepat mereka akan menikahkan aku dengan pria tua itu, aku..." Mirea tercekat kala Aldo meraup bibir ranumnya. Entah sejak kapan Aldo berubah menjadi penyerang aktif seperti saat ini.


"Emm..." Gumam Mirea yang kini ikut mengimbangi permainan bibir Aldo.


"Kau tidak perlu cemas, Kakak akan bereskan semuanya secepatnya, kau hanya milik ku, Mi! tidak ada yang bisa mendapatkan dirimu selain aku!" Tegas Aldo setelah mengakhiri cium*n nya.


"Aku mencintaimu Kak," Ucap Mirea yang kembali masuk ke dalam dekapan Aldo.


Kita beralih kembali ke Pabrik kain, dimana Jenny dan juga yang lainnya sudah berhasil memilih bahan-bahan terbaik untuk pertunjukkannya nanti. Saat ini ketiga rekan bisnis itu memutuskan untuk makan siang bersama, Kenny memilih mengajak mereka makan di sebuah Restoran seafood yang berada di dekat pesisir pantai.


"Tuan, kenapa kau mengajak kami makan di sini? apa ini tempat favorit mu? Restorannya benar-benar sangat nyaman," Tutur Anggun bertanya.


"Kenapa Kenn membawa kita makan di sini sih? apa dia sudah curiga padaku ya? sepertinya dia mau mengingatkan aku tentang masa lalu kita!" Batin Jenny saat baru saja duduk di salah satu kursi pengunjung VIP yang sudah Kenny pesankan untuk mereka bertiga.


"Aku hanya teringat seseorang saja, jika aku sangat merindukannya aku pasti akan berkunjung ke sini! hm... baiklah! aku akan memanggilkan pelayan dulu untuk memesan makanan, kalian tunggu sebentar ya!" Tutur Kenny seraya beranjak menghampiri Pria tua bertubuh tambun yang begitu Jenny kenali.


"Paman itu... dia masih saja sama seperti dulu, penampilannya tidak ada yang berubah sedikit pun," Batin Jenny seraya menatap Kenny yang tengah berpelukan akrab dengan Paman pemilik Restoran.


"Nona, apa kau baik-baik saja?" Tegur Anggun yang sejak tadi melihat Jenny diam saja.


"Ah...aku baik-baik saja Gun, sepertinya aku perlu ke toilet dulu sebentar, aku pergi dulu, ya!" Sahut Jenny seraya beranjak dari duduknya dan menuju toilet Restoran.


Sesaat menunggu di lorong yang cukup remang, Jenny terus berdiri gelisah, karena Toilet Restoran tersebut tidak seperti toilet-toilet pada umumnya yang sering di jumpai di beberapa Restoran mewah lainnya. Restoran ini hanya memiliki Toilet yang berbentuk kamar-kamar kecil dengan pintu yang terpisah-pisah, sehingga jika semua toilet penuh pengguna selanjutnya harus menunggu di depan pintu toilet yang memiliki lorong cukup luas namun hanya di beri penerangan remang-remang. Karena panggilan alamnya yang sudah di ujung tanduk, Jenny mau tidak mau menunggu hingga salah satu dari pintu toilet itu ada yang terbuka.


Hingga tiba-tiba saja lampu remang-remang yang menjadi satu-satunya penerangan di sana benar-benar padam karena aliran listrik yang tiba-tiba mati. Seketika itu pula Jenny menjerit, phobia nya akan gelap kembali menerjangnya di saat seluruh tubuhnya sudah basah dengan keringat dingin yang membuat tubuhnya semakin kaku dan membeku.


Greppp...


Seseorang entah siapa segera memeluk Jenny yang hampir saja berjongkok. Tubuh itu seakan memberi Jenny kenyamanan dan ketenangan, aroma yang tercium dari balik kemeja itu pun seakan menghipnotisnya, Jenny di buat damai dengan rangkulan menenangkan itu.


"Aroma ini... begitu menenangkan, Tuhan... siapa yang sudah memeluk ku, tapi aku benar-benar nyaman di dekap nya," Batin Jenny bermonolog.


"Kenapa perempuan ini sangat mirip dengan Jenny, bahkan aroma tubuhnya saja sangat familiar di Indra penciuman ku, apa aku berhalusinasi lagi ya, mungkin karena akhir-akhir ini aku sering melihat bayangannya di berbagai tempat dan keadaan, sepertinya aku harus segera memeriksakan kejiwaan ku sebelum semakin parah," Batin Kenny.


Trekk...


Sejurus kemudian Lampu yang tadi padam pun menyala kembali, salah satu pelayan Restoran menyampaikan permintaan maafnya yang mewakili pemilik Restoran tersebut atas ketidaknyamanan pemadaman yang tidak diberitahukan terlebih dahulu peringatannya. Beruntung pemadamannya tidak terlalu lama, sehingga semuanya bisa berjalan kembali seperti sedia kala.


"Syukurlah, Nona! apa kau baik-baik saja?" Tegur Kenny seraya melerai pelukannya.


"A... aku baik-baik saja, terimakasih!" Sahut Jenny.


"Kau..." Kenny menggantungkan ucapannya. membuat Jenny semakin gugup ketakutan karena kini Kenny terus memperhatikannya.


"A...aku...aku permisi Tuan!" Tutur Jenny susah payah seraya memasuki salah satu bilik toilet yang sudah terbuka pintunya.


"Dia Nona Alexa kan?! tapi... kenapa dia gugup seperti itu saat berada di hadapanku? apa karena pelukan tadi membuatnya menjadi canggung ya? kalau begitu aku akan meminta maaf padanya setelah dia kembali dari toilet nanti," Gumam Kenny seraya kembali ke mejanya.


Di dalam toilet, Jenny masih berusaha mengatur degup jantungnya yang sejak tadi berdetak tak karuan, ingatannya kembali berputar saat dia pertama kali di peluk Kenny saat lift tiba-tiba saja berhenti dan menyisakan kegelapan akibat lampunya yang ikut padam di Hotel tempat Renata ulangtahun kala itu.


"Kenapa aku masih mengingatnya? kenapa bayangan itu masih terus berputar di ingatan ku, aku harus membencinya, dia sudah membuang ku waktu itu, aku tidak boleh lemah! aku tidak boleh terbawa perasaan lagi!" Gumam Jenny.


Kenny dan Anggun yang sudah berbincang sedari tadi merasa sedikit cemas karena Jenny masih saja belum kembali dari toiletnya. Dengan langkah pasti akhirnya Anggun memutuskan untuk memeriksanya sendiri ke toilet.


"Gun, apa sebaiknya kita periksa saja ke toilet? aku khawatir dia tidak baik-baik saja saat ini!" Tutur Kenny yang sudah menceritakan kejadian tadi di toilet pada Anggun.


"Biar saya saja yang periksa ke sana Tuan, saya permisi dulu ya!" Sahut Anggun seraya beranjak dari duduknya.


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys... 😘😘😘