
Assalamu'alaikum guys...
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungannya ya...
Happy reading...
Jenny pun akhirnya bercerita tentang awal mula dia bisa di pecat hari itu, meski itu bukan kesalahannya tapi tetap saja dia yang di salahkan.
Flash back start.
“Astaga? apa yang kau lakukan? lihatlah! berkas-berkas berharga ku jadi basah semua karena ulah mu, dasar pelayan bod**!” Hardik seorang pria paruh baya berkepala botak yang ternyata merupakan pelanggan tetap kafe tersebut.
Mendengar kegaduhan seseorang di kafenya sang bos pun akhirnya keluar untuk memeriksa keributan yang ada.
“Maaf Tuan, saya tidak merasa bersalah dalam hal ini, saya lihat Tuan sendiri yang tadi menyenggol gelasnya,” Jenny berusaha membela diri, karena dia memang tak melakukan kesalahan apa pun saat itu.
“Apa kau bilang! jadi kau pikir aku sengaja ya menumpahkan minuman ini ke berkas berhargaku, dasar wanita kurang ajar, kau…” Baru saja pria paruh baya itu melayangkan tangannya untuk menampar Jenny, sang bos terlihat sudah mencegahnya dan memilih memecat Jenny di hadapan pelanggannya itu agar tak memperpanjang permasalahan yang ada.
Meski sebenarnya bosnya tau jika Jenny tak mungkin melakukan kesalahan, karena selama Jenny bekerja di kafenya, Jenny merupakan pegawainya yang rajin dan jujur, sehingga bos nya terpaksa melakukan pemecatan itu.
“Maaf Tuan! ini kelalaian kami, saya akan memecat pegawai saya ini sebagai gantinya, maafkan kami atas ketidak nyamanan ini, saya akan menganti minuman dan makanan anda dengan yang baru secara gratis sebagai permintaan maaf, sekali lagi saya mohon maaf Tuan, permisi!” Bos Jenny pun melenggang pergi dan memberi isyarat pada Jenny agar dia segera mengikutinya ke ruangannya.
“Apa ini bos?” Jenny menatap amplop coklat yang di angsurkan ke hadapannya.
“Itu upahmu bulan ini sekaligus upah terakhirmu Jenn, maafkan saya karena tidak bisa mempertahankan mu bekerja lagi di sini, kau tau sendiri bukan kalau yang tadi itu pelanggan tetap kafe kita yang begitu berpengaruh, saya harap kamu mengerti dengan keputusan saya ini Jenn!” Bos Jenny pergi meninggalkan ruangannya setelah memberikan sisa upah Jenny. Dia sendiri benar-benar masih tak bisa percaya jika peristiwa itu harus terjadi pada Jenny.
Flash back done.
“Apa kau tipe perempuan yang gila bekerja?” Tanya Kenny.
Jenny mendongakkan kembali wajahnya, dia menggelengkan kepalanya seraya mendesah pasrah sebelum akhirnya memberi penjelasan pada Kenny.
“Sebenarnya aku sangat lelah dengan semua ini, tapi aku harus tetap melakukannya demi kesembuhan Kakak ku, dia masih harus mengikuti beberapa terapi untuk memulihkan kembali cedera kakinya akibat kecelakaan dua tahun yang lalu,” Lirih Jenny yang kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang Kenny.
“Apa kau di paksa melakukan semua itu?” Jenny kembali menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Aku sama sekali tidak di paksa dan keberatan melakukanya, bagiku kesembuhan kakak ku adalah segala-galanya, karena saat ini hanya dia yang aku punya,” Kini giliran Jenny yang terdengar terisak, bersautan dengan bunyi deburan ombak.
“Menangis lah jika itu membuatmu lega!” Ucap Kenny yang semakin mengeratkan pelukannya, seakan-akan sedang menyalurkan semangatnya pada gadis yang sedang dia peluk itu.
Setelah mendengar ucapan Kenny, Jenny benar-benar menumpahkan air matanya di dalam dekapan pria tampan itu. Beberapa menit kemudian, Jenny sudah merasa lebih tenang dan lega, dia meminta Kenny untuk kembali ke mobil dan mengantarnya pulang.
“Tuan, ini sudah semakin malam, ayo pulang!” Seru Jenny melerai pelukan mereka.
Di dalam mobil, Kenny memijat keningnya yang tiba-tiba terasa sedikit pening. Entah kenapa perutnya juga terasa bergejolak mual dan ingin memuntahkan sesuatu dari mulutnya.
Hoekk…
Akhirnya dia pun menyerah menahan gejolak yang mencabik-cabik perutnya saat itu, sesegera mungkin Kenny membuka pintu mobilnya kembali dan memuntahkan semua isi perutnya yang sejak tadi belum dia isi makanan apa pun.
“Astaga Tuan, apa kau baik-baik saja?” Jenny begitu panik sekaligus khawatir, dia segera turun dari mobil dan berjalan memutari mobil untuk menghampiri Kenny.
“Kepalaku benar-benar pusing! perutku juga sangat mual, hoekk…” Kenny kembali memuntahkan isi perutnya.
“Astaga… badanmu panas sekali Tuan, duh… aku harus mencari batuan kemana ya?” Panik Jenny setelah menempelkan punggung tangannya di kening Kenny.
“Kau hubungi asistenku saja, ini…kau cari nama Tian saja di kontaknya!” Kenny memberikan ponselnya dari saku celananya pada Jenny.
“Baiklah! bertahanlah Tuan, aku akan segera mencari bantuan untukmu!” Jenny segera mencari kontak yang di maksud Kenny.
Setelah menemukan nama kontak yang di maksud, Jenny segera menelpon asisten Kenny yang bernama Tian itu. Jenny benar-benar panik, tanpa dia sadari bulir bening di ujung matanya mengalir begitu saja seraya mengusap tengkuk Kenny agar pria itu merasa sedikit lebih baik.
“Apa kau menangis lagi?” Ucap Kenny lemah.
“Sudahlah Tuan, kau jangan memikirkan air mataku, kau harus bertahan, ok! sebentar lagi asisten mu pasti kemari!” Jenny mengusap wajah Kenny yang mengeluarkan peluh.
Kedua bola matanya tak berhenti berkaca-kaca karena saking cemasnya. Dia memilih masuk kembali ke dalam mobil, namun kali ini mereka memilih duduk di bangku tengah agar bisa duduk lebih nyaman, dengan susah payah Jenny membantu Kenny duduk di bangku tengah mobilnya dan membaringkan kepala Kenny di atas pangkuannya. Jenny terus memijat kening Kenny dengan begitu lembut, dia terus merapal doa agar pria tampan itu segera membaik.
“Tuhan, segera sembuhkan lah Tuan Kenny, aku benar-benar tidak tega melihatnya seperti ini!” Isak Jenny seraya mengusap wajah Kenny yang terlihat begitu pucat di pangkuannya.
30 menit kemudian, seorang pria bertubuh tinggi tegap menghampiri mobil Kenny dan mengetuk kaca yang berada tepat di samping Jenny.
“Nona, apa Tuan baik-baik saja?” Tanya Tian setelah Jenny membuka kaca mobilnya.
“Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit saja sekarang! aku khawatir, demamnya semakin memburuk,” Ucap Jenny yang segera di sanggah oleh Kenny yang berusaha bangun dan duduk di sampingnya.
“Tidak perlu, kau bawa aku ke villa dekat pantai saja, aku ingin beristirahat di sana saja malam ini, aku tidak akan apa-apa ko, aku hanya demam biasa,” Pinta Kenny dengan suara lemahnya.
“Tapi Tuan, kondisi anda benar-benar sangat mengkhawatirkan, sebaiknya saya bawa anda ke Klinik terdekat saja ya,” Tian terlihat mencemaskan atasannya itu, dia berusaha membujuk Kenny agar mau di periksa oleh Dokter.
“Sudahlah, kau turuti saja perkataan asisten mu itu, aku juga akan merasa lega jika kau mau di periksa oleh Dokter,” Sahut Jenny menambahkan.
Akhirnya Kenny pun menurut dan kembali membaringkan kepalanya di pangkuan Jenny sebelum Tian mengambil alih kemudi mobil atasannya itu untuk melaju menuju sebuah Klinik.
See you next episode...