
“Terimakasih sayang, I Love You,” Ucap Erfan di akhir pergulatan panasnya malam menjelang pagi hari itu.
Sementara dua anak manusia yang sejak semalam mabuk pun baru tersadar ketika sang surya menyengat kan sinarnya melalui jendela besar yang tak tertutup tirai dari Apartemen Kenny.
“Emm… kepalaku kenapa sakit sekali, apa semalam terbentur sesuatu ya?”Gumam Jenny yang baru saja terbangun.
“Astaga! kaki ku sepertinya keram deh, duh… mana Kenny masih nyenyak lagi tidurnya!” Jenny mencoba menggeser tubuhnya agar kepala Kenny bisa terbaring di atas sofa.
Namun sepertinya usahanya itu sia-sia, karena kakinya kebas Jenny jadi sedikit kesakitan untuk menggerakkannya.
“Awww!” Pekik Jenny seraya mengusap betisnya yang terasa berdenyut nyeri.
Akhirnya Kenny terbangun akibat suara pekikan Jenny tersebut. Dia begitu merasa bersalah karena sudah membuat paha Jenny sebagai bantal tidurnya semalaman dan mengakibatkan gadisnya itu merasa kebas di sekujur kakinya.
“Sayang! apa kau kesakitan? maafkan aku ya!” Tutur Kenny seraya beranjak duduk di samping sang kekasih.
“Tidak apa-apa Kenn, sebaiknya kau sekarang mandi saja, lepas itu antar kan aku pulang, aku harus bekerja hari ini!” Pinta Jenny yang masih mengusap-usap sendiri kakinya.
“Hm… baiklah, aku akan pesankan sarapan dulu sebelum mandi, jadi kau bisa memakannya sebelum pulang nanti,” Sahut Kenny seraya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja depan sofa yang dia duduki saat ini.
Jenny tak menyahuti lagi, dia masih sibuk meredakan rasa kebas pada kakinya dengan mengurut sedikit lebih kuat di bagian betisnya, sedangkan sang kekasih mulai menyalakan ponselnya yang ternyata memiliki beberapa chat masuk dan juga panggilan telepon tak terjawab sebelum beranjak ke kamar mandi.
“Wah… Erfan dan Renata ternyata benar-benar kompak! semalam mereka bergantian meneleponku, tapi ada apa ya? apa mereka sedang mendapat masalah?” Gumam Kenny setelah melihat beberapa panggilan telepon tak terjawab di ponselnya.
“Kenapa tidak coba hubungi balik saja?” Sahut Jenny seraya mendekat untuk melihat layar ponsel Kenny.
“Aku periksa chat masuknya dulu deh!” Kenny segera membuka aplikasi chat yang dia gunakan dan mulai membaca chat yang masuk pada ponselnya itu.
“Astaga! mereka benar-benar memberiku kejutan pagi ini!” Ucap Kenny setelah membaca isi chat yang di kirim Erfan.
“Ada apa? kejutan apa maksudnya?” Jenny penasaran dan mendekati kekasihnya dan ikut membaca chat masuk di ponsel Kenny.
“Mereka baru saja melangsungkan pernikahan tadi malam,” Ucap Kenny yang nampak sedikit murung setelah tau jika Renata sudah resmi menjadi istri dari sahabatnya itu.
Dia masih merasa sedikit terkejut saat tau Erfan dan Renata sudah melangsungkan pernikahan. Namun itu tidak berlaku lama karena Jenny langsung memegang wajah tampan kekasihnya itu agar menghadap ke wajahnya.
“Apa kau menyesal merelakan Nona Renata?” Tanya Jenny seraya menatap kedua bola mata Kenny dengan lekat.
Menyadarkan Kenny yang ternyata hanya merasa kesal karena dia tidak bisa menyaksikan acara pernikahan kedua sahabatnya itu tadi malam.
“Tidak sayang! untuk apa aku menyesal, lagi pula aku kan sekarang punya kamu,” Godanya seraya mencolek. dagu Jenny.
“Hm…berarti aku hanya pelarian mu saja ya!” Seloroh Jenny yang segera di bungkam oleh Kenny dengan kecupan singkat di bibir kekasihnya.
Kenny yang merasa gemas akhirnya melu*** kembali bi*** ranum Jenny, sepertinya hal itu sudah menjadi candu baginya saat ini.
“Kenn, cukup! cepat mandi, aku bisa kesiangan nanti, aku kan ada jadwal bekerja hari ini!” Tutur Jenny setelah mereka melepaskan pagutannya.
“Kau selalu menggodaku sih, sepertinya aku akan menyusul Erfan untuk segera menikahi mu,” Kecup Kenny kembali di pipi kanan Jenny sebelum dirinya benar-benar masuk ke kamar mandi.
“Astaga! apa dia benar-benar kekasihku ya manisnya!” Jenny merasa gemas sendiri mendapat perlakuan manis seperti tadi.
Sambil menunggu Kenny selesai Jenny menyempatkan menjemur pakaian Kenny yang semalam dia cuci. Jenny juga sempat membersihkan debu-debu yang bersarang di setiap furniture Apartemen tersebut dengan cekatan.
“Ha… selesai!” Gumam Jenny.
“Sayang! apa kau membersihkan Apartemenku lagi? kau kan semalam sudah melakukannya, kenapa kau mengulangnya lagi sih, kau bisa capek nanti!” Seru Kenny seraya keluar dari kamarnya menghampiri Jenny yang baru selesai membersihkan Apartemennya.
“Aku bukan mengulangnya Kenn, aku hanya membersihkan sisanya, sudahlah! sekarang kita pulang saja ya,”Sahut Jenny seraya menyimpan kembali peralatan kebersihan yang sudah dia gunakan sebelumnya.
“Tidak perlu Kenn, aku akan mandi di rumah saja, lagi pula kalau aku mandi di sini pun aku tidak punya baju untuk berganti nantinya,” Jenny segera meraih hand bag miliknya dan segera melenggang ke arah pintu Apartemen Kenny.
“Benar juga sih, ya sudah lain kali aku akan menyiapkan pakaian khusus untukmu di sini, jadi kalau kau ingin mandi di sini kau tidak perlu bingung lagi,” Seloroh Kenny seraya meraih kunci mobilnya dan mengejar langkah Jenny yang sudah lebih dulu berjalan ke arah pintu Apartemennya.
Mereka berdua pun akhirnya pulang ke rumah Jenny setelah sebelumnya menyantap sarapan yang Kenny pesan tadi sebelum mandi. Awalanya Jenny dan Kenny mendapat amukan dari Aldo yang sudah mewanti-wanti nya untuk pulang semalam, namun setelah Jenny menjelaskan dan membujuknya, akhirnya Aldo mau memaafkan Jenny kembali.
*****
“Emm… wanginya!” Gumam Renata yang masih memejamkan matanya di atas tempat tidur sang suami setelah pertempuran panasnya sepanjang malam tadi.
Erfan yang sejak tadi sudah bangun lebih awal berinisiatif membuatkan sarapan untuk istri tercintanya, karena dia sudah terbiasa membuat dan mengolah makanan sendiri, Erfan jadi tidak merasa kesulitan sedikit pun.
“Aww!!” Pekik Renata saat hendak beranjak untuk berdiri.
Erfan yang kebetulan baru saja akan memanggil sang istri untuk sarapan pun di buat terkejut bukan main. Dia begitu khawatir saat mendengar Renata memekik kesakitan.
“Sayang, kau baik-baik saja kan?” Tanya Erfan seraya menghampiri tubuh Renata yang masih hanya menggunakan lilitan selimut tipis saja.
“Aku tidak bisa berdiri Fan, **** * ku terasa sakit sekali!” Ucap Renata dengan polosnya.
“Kau mau kemana? biar aku gendong ya!”.
“Aku ingin ke kamar mandi, aku ingin buang air kecil!”.
Tanpa ba bi bu lagi Erfan segera menggendong Renata ala bride style, dengan hati-hati dia mendudukkan istrinya di atas kloset dan membantunya untuk menuntaskan hajat kecilnya itu.
“Fan, kau keluar saja! aku malu kalau kau masih diam di sini!” Tutur Renata dengan pipinya yang sudah semerah tomat matang.
“Astaga Re, aku bahkan sudah melihat seluruh tubuhmu semalaman, kenapa harus malu lagi sih?” Sahut Erfan yang merasa gemas dengan sikap istrinya itu.
“Fan, aku sudah tidak tahan kau keluar dulu ya,” Bujuk Renata seraya memelas.
“Hm… baiklah sayang, tapi kalau sudah selesai panggil aku lagi ya, aku tidak akan membiarkan kau berjalan dulu hari ini, kau pasti kesakitan kan setelah aku gempur semalaman!” Erfan menyunggingkan senyum di bibirnya seraya mengusap rahang Renata dengan sebelah punggung tangannya.
“Fan!” Seru Renata yang sudah begitu tersipu dengan godaan suaminya itu.
Setelah keduanya selesai membersihkan diri, Renata duduk di kursi meja makan dengan suami barunya itu.
Mereka menikmati setiap waktu kebersamaan mereka dengan begitu romantis dan bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode...😘
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungannya ya guys...