
“Hei bocah busuk, cepat buka pintunya! kalau tidak aku akan memecahkan kaca mobilnya untuk menyeretmu keluar!” Ancam Roy.
Jenny menggelengkan kepalanya dari dalam mobil, dia semakin ketakutan kala petir kembali terdengar menggelegar begitu nyaring.
“Tidak! tolong! jangan!”.
“Hei cepat buka pintunya! dasar bocah nakal, kau ingin membuat kami berdua emosi ya?” Gerutu pria yang satunya lagi yang bernama Max.
Jederrr….
“Sudahlah Max, biarkan saja bocah itu! sebaiknya kita sekarang pergi dulu saja, hujannya semakin lebat, lagi pula kita harus laporkan semua tugas kita ini dulu ke bos, ayo!” Seru Roy pada temannya yang bernama Max itu.
“Haa… ya sudah ayo!” Sahut Max dengan melangkahkan kakinya menjauh dari mobil milik Ayah Jenny.
Falash back done.
“Semenjak dari kejadian itulah aku trauma dengan gelap dan juga suara petir!”.
“Astaga sayang, ternyata kau sudah banyak menderita selama ini, mulai sekarang aku janji padamu akan selalu menjaga, melindungi dan membahagiakanmu!” Janji Kenny seraya mendekap tubuh kekasihnya.
“Aku tidak ingin berharap lebih Kenn, aku hanya ingin kau selalu ada di sisiku di saat aku membutuhkan mu,” Lirih Jenny.
Kenny kembali melerai pelukannya, dia manatap lekat kedua bola mata kekasihnya dengan dalam dan mengecup keningnya. Ada banyak kesedihan dan kecemasan di mata indah kekasihnya itu. Kenny semakin yakin dan membulatkan tekadnya untuk selalu membahagiakan Jenny dan melindunginya dari segala hal yang membahayakan kekasihnya itu.
“Sayang, aku ingin kita segera menikah, apa kau setuju?” Tanya Kenny begitu serius.
“Aku… “ Jenny masih ragu dengan keputusannya, dia benar-benar tidak bisa memberikan jawabannya begitu saja saat ini.
“Hm… ya sudah, aku mengerti sayang, sebaiknya kau tidur saja ya sekarang!” Seru Kenny seraya beranjak dari tempat tidurnya.
“Kenn, jangan tinggalkan aku, aku masih takut!” Cegah Jenny yang langsung menahan pergelangan Kenny agar tidak meninggalkannya.
“Tapi aku takut kebablasan sayang, kau terlalu menggoda untukku,” Sahut Kenny yang langsung mendapat cubitan maut di pinggangnya.
“Awwww!! sakit sayang!” Pekik Kenny.
“Haist! kau selalu mesum Kenn, kita kan bisa tidur terpisah di kamar besar ini, kau tidur di sofa ya, atau aku saja deh yang tidur di sana!” Tutur Jenny sambil mencoba beranjak, namun segera Kenny hentikan karena dia tidak akan tega membiarkan Jenny yang harus tidur di sofa.
“Jangan! aku saja sayang. Kau tidur saja di tempat tidur ini ya, sini aku bantu selimuti!” Seru Kenny seraya membantu Jenny berbaring dan menyelimuti kekasihnya.
“Kenn, selamat malam!” Ucap Jenny yang langsung mendapat kecupan di pucuk kepalanya dari Kenny.
“Selamat malam sayang, mimpikan aku ya!” Kenny melenggang menghampiri sofa di kamar tersebut dan mulai merebahkan tubuh tingginya di sana.
“Aku benar-benar semakin ingin segera memilikimu seutuhnya Jenn, semoga kau bisa secepatnya memberiku jawaban sayang!” Batin Kenny sebelum memejamkan matanya.
Malam itu hujan masih setia mengguyur seluruh kota besar yang menjadi tempat tinggal Jenny dan Kenny. Mereka berdua terlelap begitu saja hingga sang surya mulai menunjukkan sinarnya di pagi hari yang cukup cerah setelah hujan semalam.
“Hoam… kemana Jenny? ko tempat tidurnya sudah rapih? apa jangan-jangan dia pulang sendiri ya?” Gumam Kenny seraya mengedarkan pandangannya ke seisi kamar Apartemen barunya itu.
“Sayang! Jenn! kau masih di sini kan?” Teriak Kenny beranjak dan melenggang ke luar kamarnya.
Jenny yang asik memakai ear phone pun tak dapat mendengar teriakan Kenny. Gadis cantik itu ternyata sedang asik memasak sarapan untuk mereka santap pagi itu seraya mendengarkan musik yang dia putar melalui ponsel pintarnya.
“Dudu…du… Eh!” Jenny terkejut saat kedua tangan kekar Kenny melingkar sempurna di perutnya.
“Sayang! ternyata kau sedang memasak ya, emm… baunya wangi sekali!” Seru Kenny yang masih betah memeluk kekasihnya seraya mengendus aroma masakan yang Jenny buat pagi itu.
“Kenn! kau membuatku terkejut tau! cepat cuci muka! kita sarapan!” Jenny mematikan kompor dan membalikkan tubuhnya seraya mencubit gemas hidung mancung kekasihnya.
“Haist! kenapa kau terlihat begitu menggemaskan pagi ini? bikin aku makin tak sabar saja untuk menikahimu,” Tutur Kenny sambil mencuri cium di bibir Jenny.
“Kenn! kau belum cuci muka, ayolah! aku sudah lapar sekarang!” Seru Jenny terlihat kesal.
Di ruangan makan sendiri kini Jenny sudah selesai menata makanan yang siap mereka santap untuk sarapannya. Pagi itu ternyata Jenny bangun begitu awal dan diam-diam meminta bantuan Tian untuk mencarikan bahan makanan yang akan dia olah menjadi sarapan pagi ini melalui ponsel Kenny yang tergeletak begitu saja di atas meja kamarnya.
“Selesai, emm… semoga saja mereka suka dengan masakan ku,” Gumam Jenny setelah selesai menata makanan yang akan dia santap bersama.
Ceklek…
Pintu kamar yang terbuka pun akhirnya menampakkan wajah tampan Kenny yang sudah tampak lebih segar. Dengan gagahnya pria tampan itu mengahmpiri Jenny dan duduk di salah satu kursi meja makan.
“Sayang, sejak kapan kau membuat sarapannya? sebanyak ini lagi?” Tanya Kenny seraya meneguk segelas susu yang sudah Jenny siapkan sebelumnya.
“Sejak jam 5 pagi Kenn, emm… sebenarnya tadi aku sempat meminjam ponselmu untuk menghubungi Kak Tian, kau tidak marah kan?” Tututr Jenny berhati-hati.
“Tian? kenapa kau menghubunginya?” Tanya Kenny seraya menaikkan sebelah alisnya.
“Aku meminta bantuannya untuk mengantar ku ke pasar tradisional. Aku membutuhkan banyak bahan makanan untuk aku masak, jadi aku membeli bahan-bahan makanan ini tadi,” Ucap Jenny jujur.
“Kenapa kau tidak membangunkan aku saja sih tadi, aku kan juga bisa mengantarmu sayang, kenapa kau malah menghubungi Tian?” Kenny terlihat kecewa atas sikap Jenny yang lebih memilih Tian untuk di mintai tolong.
“Aku tidak tega membangunkan mu tadi, kau terlihat begitu nyenyak, jadi aku memilih menghubungi Kak Tian tadi,” Sahut Jenny seraya menunduk.
“Hm… ya sudahlah, tapi lain kali kau jangan sungkan membangunkan aku ya, ayo makan!” Jenny mengangkat kepalanya dan menatap ke arah wajah Kenny seraya mencegah pria itu yang hendak mengambil nasi.
“Tunggu Kenn!” Cegah Jenny.
“Kenapa lagi sih? tadi katanya kau sudah lapar?” Ucap Kenny yang sedikit mendengus kesal.
“Tunggu sebentar lagi Kenn, kita makan bersama yang lainnya ya!” Sahut Jenny.
“Yang lainnya? kau mengundang siapa memangnya?” Tanya Kenny penasaran.
“Aku mengajak Nona Renata dan Tuan Erfan untuk sarapan bersama Kenn, Apartemen mereka kan begitu dekat dari sini,” Tutur Jenny menjelaskan.
“Oh… aku pikir siapa? ya sudah aku makan pisang dulu saja deh!”.
Sejurus kemudian bell Apartemen Kenny pun terdengar berbunyi nyaring. Menandakan jika ada tamu yang sudah berdiri di depan pintu hunian mewah tersebut dan hendak masuk.
“Biar aku saja sayang!” Seru Kenny seraya beranjak dan melenggang untuk membukakan pintu.
“Hai Kenn, kenapa kau tidak bilang kalau memiliki Apartemen mewah di sekitar sini?” Sapa Renata yang langsung melenggang masuk ke dalam Apartemen Kenny.
“Aku baru saja membelinya beberapa hari yang lalu Re, ayo! Jenny sudah menunggu kalian di ruang makan,” Seru Kenny yang membuat sepasang pengantin baru itu saling melempar pandang.
“Jenny?” Ucap Erfan heran.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode...