
"Hm... Daddy, sebenarnya aku juga ingin tidur siang bersama Mommy di rumah Ken, apa aku boleh menginap di sana?" Tanya Marsya penuh harap.
"Tapi sayang, nanti kau bisa merepotkan mereka, lagi pula sekarang Daddy mau mengajak mu pergi menjenguk Oma buyut di Mansion Opa, lain kali saja, ya!" Bujuk Kenny yang memang harus segera menemui Nenek Martha yang sudah memintanya datang sejak kepulangan mereka ke Tanah Air beberapa hari yang lalu.
"Hm... baiklah! Ken, aku akan menginap di rumah mu nanti, sekarang aku pergi dulu ya," Tutur Marsya sendu.
"It's ok Sya, kau bebas datang menginap kapan pun ke rumah ku, Mommy juga pasti senang kalau kau sering main ke rumah, kalau begitu aku juga pulang dulu ya, bye!" Sahut Ken kecil seraya melambaikan tangannya.
"Kau pria kecil yang baik Ken, Om bangga padamu!" Ucap Kenny seraya mengacak pucuk kepala Ken kecil sebelum bocah menggemaskan itu di bawa pergi oleh sang pengawal yang menjemputnya.
Di Mansion keluarga Alvaro, Kenny segera menghampiri kamar Nenek Martha yang akhir-akhir ini sering sakit-sakitan. tubuh renta nya semakin terlihat mengurus kering. Sejak beberapa tahun lalu setelah kelumpuhannya berangsur sembuh, kini Nenek Martha sudah bisa bergerak dan berbicara lancar lagi, namun badan ringkih nya sangat mudah lelah, Mungin itu faktor usia yang sama-sama menyergap Oma Dona juga akhir-akhir ini.
"Nek, bagaimana kabar Nenek hari ini?!" Tanya Kenny seraya menggenggam tangan sang Nenek yang kini sedang terbaring di atas tempat tidurnya.
"Nenek baik-baik saja Kenn, Nenek hanya terlalu lelah setelah merangkai bunga-bunga bersama Bella tadi, kau sendiri apa kabar sayang? apa kau tidak berniat mencari gadis baru?" Tutur Nenek Martha.
"Kenny belum mau memikirkannya Nek, Kenny masih ingin fokus membesarkan Marsya, masalah gadis baru... biarlah urusan nanti! Kenny tidak ingin terlalu memikirkannya untuk sekarang," Sahut Kenny seraya menyorotkan tatapan sendu di kedua bola matanya.
"Kenn, apa kau tau? akhir-akhir ini Nenek sering memimpikan Jenny, Nenek begitu senang bisa bertemu lagi dengannya meski hanya lewat mimpi itu, rasanya, dia benar-benar ada di sini saat ini,".
"Apa kau masih tak menemukan jejaknya?" Tanya Nenek Martha di akhir perkataannya.
"Kenn... masih belum menemukan keberadaannya Nek, dia menghilang bagai di telan bumi," Lirih Kenny.
"Semoga dimana pun dia berada, dia bahagia bersama Cicit Nenek ya, Kenn! Cicit Nenek pasti sudah besar sekarang," Tutur Nenek Martha seraya menitihkan air matanya.
"Sudahlah Nek, jangan di bahas lagi ya! sebaiknya sekarang Nenek istirahat saja, Kenn akan turun ke bawah dulu untuk melihat Marsya," Sahut Kenny seraya beranjak dan melangkah pergi dari kamar Nenek Martha.
"Semoga kau juga mendapatkan kebahagiaan kau kembali Kenn, semoga suatu saat nanti kalian bisa di persatukan lagi di kehidupan selanjutnya," Gumam Nenek Martha seraya menatap kepergian sang cucu.
Beberapa hari kemudian, Jenny mendatangi sebuah pabrik kain yang akan dia gunakan untuk pertunjukan hasil desain nya. Perempuan beranak satu itu terlihat begitu serius memilih bahan yang akan dia gunakan sebelum menjadi gaun atau pun pakaian lainnya yang dia desain sendiri.
"Maaf Nona, apa kain ini cocok?" Tanya salah satu karyawan pabrik yang Jenny beri tugas untuk memilih kain yang dia inginkan.
"Emm... warnanya sih bagus, tapi ini masih kurang soft, tolong cari lagi yang lebih soft dari ini ya!" Tutur Jenny kembali berkeliling mencari bahan yang dia butuhkan.
Sejurus kemudian seorang pria berjas rapi memasuki pabrik yang sama saat Jenny tengah asik memilih kain yang dia cari. Pria itu ternyata sudah mengatur janji untuk menemui koleganya dan membahas persiapan sang kolega untuk pertunjukannya kelak.
"Selamat datang Tuan, Nona Alexa masih memilih kain yang akan di gunakan di Gudang C," Tutur seorang resepsionis yang menyambut kedatangan sang Bos.
"Ok, kalau begitu aku ke sana saja, aku juga ingin tahu sejauh mana dia memilih kain terbaik," Sahut pria berjas rapi itu yang tak lain, Kenny.
"Nona, Tuan kami sudah datang, beliau ingin menemui kalian sekarang!" Seru salah satu karyawan pabrik.
"Oh, baiklah! aku akan memberitahu Nona Alexa dulu kalau begitu, terimakasih ya." Sahut Anggun seraya melenggang menghampiri Jenny.
"Nona! Tuan Kenny sudah datang, apa kau sudah siap?!" Tutur Anggun memberi kabar.
"Dia sudah datang ya?!' Tanya Jenny.
"Huft... kau pasti bisa Jenn! semoga saja dia tidak mengenali penampilanku saat ini," Batin Jenny seraya membenarkan penampilannya.
"Dia sedang berjalan kemari Nona, semangat... kau pasti bisa hadapi Tuan!" Seru Anggun memberi dukungan.
Derap langkah pria berjas rapi yang tak lain Kenny itu kian terdengar mendekat, beriringan dengan detak jantung Jenny yang kian berdegup tak karuan, entah perasaan apa itu. Rasanya semua kecewa, sakit, dan sedihnya bercampur menjadi satu saat tau pria yang dulu pernah dia cintai sekaligus mengkhianatinya kembali menjelma di depan matanya.
"Selamat siang Tuan, senang bertemu dengan Anda kembali," Sapa Anggun memulai percakapan setelah Kenny berdiri tepat di hadapannya.
"Aku pun Gun! jadi... apa kalian sudah menemukan kain yang cocok untuk pertunjukannya?".
"Oh iya! apa ini Nona Alexa yang terkenal dengan tangan emasnya itu?" Tanya Kenny beralih menatap Jenny yang kini masih diam terpaku di samping Anggun.
Sepertinya Jenny masih terkesima dengan pertemuan nya kembali dengan sang mantan suaminya itu, degup jantungnya serasa berhenti berdetak kala kedua sorot mata Kenny beradu pandang dengan sorot matanya.
Deg...
"Kenapa dadaku berdegup kencang begini? aku tidak mungkin masih mencintainya kan, dia sudah terlalu membuatku menderita selama ini, aku tidak boleh lengah! bisa-bisa dia akan mengenaliku dengan mudah," Batin Jenny bermonolog.
"Ah... iya Tuan, aku hampir lupa memperkenalkannya padamu, Nona... ini Tuan Kenny Alvaro, pemilik Alva corp yang terkenal di berbagai bidang bisnis yang mendunia, dan Tuan! ini Nona Alexa, desainer kebanggaan kami yang selalu menghasilkan karya-karya nya yang menakjubkan," Tutur Anggun memperkenalkan mereka.
Kenny pun mengulurkan tangannya lebih dulu ke arah Jenny, akhirnya dengan penuh perjuangan Jenny membalas uluran tangan Kenny tersebut dan berjabat tangan untuk saling menyapa.
"Senang bertemu dengan mu Nona, aku sudah banyak mendengar tentang karya-karya mu yang begitu menakjubkan itu, semoga kali ini kau juga bisa menghasilkan karya-karya yang tak kalah menakjubkan dari karya-karya mu sebelumnya," Tutur Kenny seraya menyunggingkan senyum di bibir tipisnya.
"Hm... semoga kita bisa bekerja sama dengan baik Tuan!" Sahut Jenny.
"Kenapa suaranya begitu tidak asing di pendengaran ku? tapi... perempuan ini sangat tidak mirip sedikit pun dengan... ahh!! sudahlah! bisa-bisa aku beran-benar gila jika terus memikirkannya," Batin Kenny.
Ketiga orang dewasa itu akhirnya memilih beberapa kain yang akan di gunakan sesuai kebutuhan pertunjukan. Di lain tempat, Aldo yang kini sedang berkutat di depan layar canggihnya di kejutkan oleh seseorang yang selalu mengganggu hari-harinya beberapa tahun ini.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" Seru sang empunya ruangan.
Ceklek...
"Kak..." Panggil seorang gadis cantik seraya berderai air mata.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys... 😘😘😘