Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 163 # Rencana pembalasan Mark.



"Sayang, kenapa kau meninggalkan Daddy, Sya?! Apa kau tidak ingin bermain lagi dengan Daddy?!" Gumam Kenny seraya terisak di depan tubuh kaku putri kecilnya.


"Sabar Kenn, kau harus ikhlas!" Seru Mom Bella berusaha menguatkan.


"Tapi Marsya, Mom! kenapa Tuhan begitu tidak adil, Kenny sudah merawatnya sejak dia bayi, tapi kenapa di saat Kenny benar-benar merasakan nikmatnya sebagai seorang Ayah, Tuhan malah mengambilnya lagi dari Kenny!" Ucap Kenny.


...****************...


Jenny tak kalah syok atas berita duka meninggalnya Marsya. Perempuan cantik itu sangat menyayangkan karena tidak bisa bertemu dengan gadis kecil itu sebelu Marsya menghembuskan nafas terakhirnya.


"Maafkan Mommy Sya, Mommy tidak sempat menjenguk mu, sayang!" Isak Jenny seraya menatap foto Marsya yang dia ambil beberapa waktu lalu melalui kamera ponselnya.


"Nona, jika anda mau, saya bisa mengantar anda sekarang ke Rumah Sakit!" Seru Tian memberi tawaran.


"Mommy, ayo pergi! aku ingin segera melihat Marsya! ayo, Mom!" Sahut Ken kecil yang sudah tak sabar ingin segera mengetahui kondisi terkini sang sahabat.


"Iya sayang, Mommy matikan komputernya dulu, sebentar!" Ucap Jenny seraya bergerak cepat mematikan komputernya dan bergegas keluar ruangannya untuk menuju Rumah Sakit.


Sementara itu, di salah satu sudut gedung Rumah Sakit, Mark terlihat begitu hancur saat mengetahui nyawa putrinya yang tak terselamatkan, kebenciannya selama ini pada Kenny semakin bertambah dan menggila. Sepertinya pria bertubuh tambun itu tidak akan membiarkan Kenny hidup tenang setelah ini.


"Semua ini karena kau Kenny Alvaro, jika kau tidak menemui perempuan sialan itu dan anaknya, putriku tidak mungkin mati! dulu, Gea juga mati karena kau! dan sekarang putriku juga mati karena kau! lihat saja, mulai hari ini aku tidak akan membiarkan hidup mu tenang! kau harus membayar semuanya dengan impas!" Ucap Mark bermonolog seraya menunjukkan seringai di bibirnya.


Pria bertubuh tambun itu sepertinya kembali mengalami depresi, sejak di nyatakan sembuh bersyarat, Mark tidak pernah mengontrol kan kembali kondisi kejiwaannya sesuai petunjuk yang Dokternya berikan saat dia keluar dari Rumah Sakit Jiwa, sehingga membuat kondisi psikisnya sangat mudah terganggu lagi, di tambah dengan kondisi perekonomiannya yang tak semudah dulu membuat pria bertubuh tambun itu harus kesulitan untuk bertahan hidup.


"Mommy, Jenny turut berdukacita!" Tutur Jenny menghampiri seraya memeluk tubuh tua mantan mertuanya itu.


"Terimakasih sayang, tapi sepertinya Kenny yang lebih terpukul atas kepergian Marsya, jika kau tak keberatan, hibur lah dia Jenn!" Sahut Mom Bella.


"Je... Jenny tidak yakin bisa menghiburnya, Mom!" Ucap Jenny.


"Coba lah sayang, Mom tidak ingin melihatnya terus menyalahkan diri atas kepergian Marsya ini,".


"Sejak Dokter memberitahu kabar duka itu, Kenny terus menerus menyalahkan dirinya sendiri karena tak mampu merawat Marsya dengan baik, padahal selama ini, Kenny sangat berjuang untuk merawatnya, siang malam Kenny tak pernah lelah untuk membuat Marsya bertahan hidup dari penyakitnya, tapi sekarang... Tuhan sudah mengambilnya kembali, Kenny masih tidak menerima kenyataan ini, dia benar-benar terpukul!" Tutur Mom Bella panjang lebar.


"Mommy, aku ingin melihat Marsya!" Ucap Ken kecil.


"Sayang, kau tunggu bersama Oma saja ya! Marsya sedang di mandikan sekarang, sebaiknya kita pergi mencari cemilan saja yuk!" Bujuk Mom Bella.


"Mom, apa Ken boleh pergi bersama Oma?" Tanya Ken kecil meminta persetujuan.


Jenny hanya mampu menganggukkan kepalanya tanda setuju, sepertinya perempuan cantik itu juga berniat menemui Kenny untuk menenangkannya.


"Ayo! Oma akan membawamu membeli cemilan yang banyak Ken! kau mau beli apa saja?" Gumam Mom Bella terdengar makin pelan tersapu oleh jarak yang semakin menjauh meninggalkan Jenny yang masih terpaku di tempat semula dia berdiri.


Di ayunkan nya kaki jenjangnya itu, Jenny benar-benar masih ragu untuk menenangkan Kenny saat ini, namun dia tetap mencobanya. Pasalnya kehilangan seseorang yang begitu kita sayangi itu sangat membuat hati sesak, meski kita tak menerima keadaanya, namu kenyataan harus tetap dihadapi bukan?!.


"Kenn!" Seru Jenny seraya menyentuh sebelah bahu pria tampan itu yang masih memandang ke dalam ruangan tempat Marsya di mandikan.


Padahal ruangan itu tertutup tirai berwarna hijau khas Rumah Sakit, namun kedua netra nya seakan enggan untuk berpaling sedikit pun. Semenjak meninggal Gea dan di tinggalkan oleh Jenny, hanya Marsya lah satu-satunya penguat Kenny untuk tetap melanjutkan hidup. Marsya benar-benar penghiburnya di saat hatinya hancur berkeping-keping.


Kenny menumpahkan kesedihannya dalam pelukan Jenny. Pria itu benar-benar rapuh dan kacau. Mungkin, benar yang di ucapkan Mom Bella, jika Jenny bisa menghiburnya saat ini.


"Semuanya sudah takdir Tuhan Kenn, setiap yang bernyawa pasti akan kembali padanya, begitu pun yang terjadi pada Marsya, mungkin Tuhan lebih menyayanginya, jadi Marsya di panggil lebih dulu meninggalkan kita, dia sudah tenang sekarang, dia tidak akan merasakan kesakitan lagi, Kenn!" Tutur Jenny penuh kelembutan.


"Sayang, aku mohon kembalilah kepadaku, aku sudah tak memiliki siapapun sekarang, berilah aku kesempatan lagi, Jenn!" Sahut Kenny seraya melerai pelukannya dan menatap Jenny dengan lekat.


"Kau masih memiliki Mommy dan Papah Kenn, kau juga masih punya Nenek yang harus kau perhatikan juga," Ucap Jenny.


"Tapi kebahagiaanku akan sempurna jika kau dan putra kita kembali bersama denganku, sayang! aku mohon Jenn, please... come back to me again!" Seru Kenny membujuk.


"Ini semua terlalu cepat Kenn, apa kau tau?! di sini...(menunjuk ke dada Jenny sendiri) aku masih merasakan sakitnya saat kau usir aku di depan kedua orangtuamu, sesaknya masih menjejak Kenn! kau sudah terlalu dalam menorehkan luka itu, aku tidak ingin kembali terjatuh pada lubang yang sama," Tutur Jenny seraya berlinang air mata.


"Maaf... aku memang sudah keterlaluan padamu si masa lalu Jenn, tapi aku mohon... beri aku kesempatan untuk memperbaikinya, aku janji tidak akan berbuat seperti itu lagi!" Ucap Kenny mengiba.


"Sudahlah Kenn, sebaiknya sekarang kau fokus pada pemakaman Marsya saja, sepertinya hal ini sudah tidak perlu kita bahas lagi," Sahut Jenny seraya memalingkan wajahnya.


Seketika, Kenny meraup wajah Jenny dengan kedua telapak tangannya dan mendaratkan ciumannya dengan brutal di bibir ranum Jenny, membuat perempuan itu membulatkan matanya sempurna dan terkejut karena mendapat serangan mendadak dari mantan suaminya.


Plakk...


Satu tamparan pun akhirnya di darat kan Jenny sebagai bentuk kekecewaannya di pipi mulus Kenny.


"Ma...maafkan aku Jenn, aku benar-benar tak bermaksud..." Tutur Kenny tercekat.


"Kau benar-benar keterlaluan Kenn, aku sangat membencimu!" Ucap Jenny seraya berbalik siap meninggalkan pria tampan itu.


Namun belum sempat melangkah, Kenny sudah menarik lengannya dan memeluk erat pinggang Jenny dari belakang.


"Lepas Kenn, kau tidak bisa berbuat seenaknya seperti ini, kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun!" Ucap Jenny memberontak.


"Sekarang memang tidak sayang, tapi sebentar lagi kita akan memilikinya kembali, aku akan membuatmu menjadi Nyonya Muda Alvaro kembali, apa pun yang akan terjadi kau tidak bisa lepas lagi dari ku, Jenn!" Sahut Kenny seraya mengunci pergerakan Jenny dengan pelukannya yang begitu kuat.


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys... 😘😘😘