Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 144 # Bertemu tapi tak bisa bersama.



Di tempat semula Ken dan Jenny duduk, terlihat seorang perempuan cantik tengah gelisah mencari putra kecilnya. Ya! dia adalah Jenny, sekembalinya membeli Es Krim, dia berlarian menghindari hujan demi menjemput sang putra yang tengah menunggunya sejak tadi.


Jeduarrr...


Tiba-tiba suara petir menggelegar di udara, membuat Ken kecil refleks memeluk Kenny yang ada di sampingnya. Tubuh pria kecil nan menggemaskan itu terlihat gemetaran seraya memeluk erat tubuh Kenny.


"Tenanglah, Ken! ada Om dan Marsya di sini, apa kau sangat takut dengan suara petir?" Tutur Kenny bertanya dan hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Ken kecil.


"Astaga... kenapa aku seperti melihat Jenny ya saat Ken ketakutan seperti ini! Jika sedang hujan dan petir begini, biasanya Jenny juga akan mengalami hal yang sama seperti yang Ken lakukan saat ini," Batin Kenny.


"Dadd, sepertinya Ken juga kedinginan! apa Daddy membawa jaket lain lagi?" Ucap Marsya yang mengira tubuh menggigil Ken kecil akibat kedinginan saja. Padahal kenyataannya Ken sangat ketakutan saat mendengar petir.


"Tidak sayang, tapi Daddy pakai jas! biar Daddy pakaikan padanya saja ya!" Seketika Kenny melepas jas yang dia kenakan dan memakaikannya pada Ken kecil.


Masih di bawah guyuran hujan, Jenny yang dulu mengidap phobia suara petir pun akhirnya berjongkok untuk menghilangkan rasa takutnya tersebut, dengan kekuatan yang tersisa, Jenny kembali bangkit demi mencari keberadaan sang putra.


"Ken!!! kau dimana sayang?! Ken!!!" Teriak Jenny di tengah lebatnya air hujan yang mengguyur bumi.


Langkah Jenny semakin mendekat ke arah aula tempat Kenny membawa anak-anak. Pandangan perempuan cantik itu terus dia edarkan demi menemukan wajah sang anak yang begitu dia khawatirkan. Dan sosok yang di cari pun tertangkap oleh kedua sorot mata indahnya yang terguyur hujan.


"Ken!!!" Teriak Jenny ke arah Ken kecil yang sedang di pakaikan jas oleh Kenny.


Seketika kedua pria berbeda generasi tersebut pun menoleh secara bersamaan. Membuat kedua pasang bola mata indah milik Kenny dan Jenny saling beradu.


Sejurus kemudian, Jenny segera menghampiri sang putra yang berada di hadapan Kenny tanpa menghiraukan pria dewasa di sampingnya itu, Jenny segera menggendong sang putra dengan perasaan yang tak karuan. Yang Jenny pikirkan saat ini, dia harus segera pergi menjauhi pria tampan yang sampai saat ini mengisi relung hatinya yang paling dalam.


"Je...Jenny?!" Gumam Kenny seraya terpaku di tempatnya. Pria itu masih membeku karena terkesima dengan apa yang di lihatnya.


"Ayo kita pergi dari sini, sayang!" Ucap Jenny seraya menggendong Ken kecil dan melenggang pergi membelah deras nya hujan yang membasahi bumi.


"Mommy..." Teriak Marsya. Namun teriakannya itu sama sekali tak di gubris oleh sang empunya nama.


"Mommy?" Gumam Kenny mengulang teriakan putri kecilnya.


"Daddy... kenapa Daddy membiarkan Mommy pergi? ayo kita susul mereka, Dadd!!" Seru Marsya yang terlihat nampak tak sabar ingin mengejar Jenny dan Ken kecil.


"Ta...tapi bagaimana kau bisa memanggilnya Mommy sayang?" Tanya Kenny terbata.


"Daddy lupa ya?! bukannya Daddy sendiri yang memberitahuku foto Mommy waktu itu?!" Tutur Marsya mengingatkan.


"Ahh...iya, aku sampai lupa jika aku pernah memberitahu Marsya jika Jenny adalah Mommy nya," Batin Kenny.


"Dadd?! Daddy... kenapa malah melamun sih," Rajuk Marsya yang terlihat kesal karena tak bisa menyusul Jenny dan Ken kecil.


"Kau benar sayang, tadi itu memang Mommy, tapi..." Ucap Kenny tercekat.


"Astaga! kenapa aku baru menyadarinya? Ken di bawa pergi oleh Jenny barusan, dan itu berarti... Ken... anak ku!" Batin Kenny kembali bergumam.


Dengan pasti Kenny menggendong Marsya ke dalam pangkuannya, pria itu berniat mengejar kedua orang yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya di setiap malam. Kenny ingin segera menebus segala kesalahannya di masa lalu, dirinya benar-benar sudah tak sabar ingin segera mengungkapkan segala penyesalannya dan meminta maaf pada Jenny.


"Daddy, kita mau pergi kemana sekarang?" Tanya Marsya yang kini sudah berada di dalam mobil yang dilajukan oleh Kenny.


"Kita akan menemui Mommy dan Ken sayang, Daddy ingin menyusul mereka," Sahut Kenny tampak antusias.


Marsya tak tau jika Daddy-nya akan membawanya kemana, gadis kecil itu hanya tau jika sebentar lagi dia akan bertemu kembali dengan sang Mommy dan juga Ken.


Setibanya di sebuah pekarangan rumah yang terlihat sedikit berbeda, Kenny segera turun dan menekan bel yang terpasang di samping pintu masuk.


Ting... tong...


"Siapa yang bertamu ya?" Gumam pelayan rumah.


Ceklek...


"Apa Jenny ada di sini?!" Jawab Kenny balik bertanya.


"Jenny? apa mungkin adiknya Tuan Aldo yang kemarin datang itu ya?" Batin sang pelayan menduga-duga.


"Bibi... kenapa kau tak menjawab pertanyaan Daddy ku? apa Mommy Jenny ada di sini?" Tegur Marsya yang ikut membantu sang Daddy menanyakan keberadaan Jenny.


"Maaf Nona kecil, Tuan! semua orang di rumah ini sedang keluar, hanya ada saya dan pelayan satu lagi yang sedang membersihkan gudang!" Tutur sang pelayan yang akhirnya menjawab.


"Yahhh... apa itu berarti Mommy tidak ada di sini ya Dadd, atau jangan-jangan Mommy di Apartemen!" Ucap Marsya.


"Apartemen? oh iya... kalau Ken waktu itu tinggal di sebrang Apartemen kita, itu berarti..." Kenny menggantung ucapannya karena Marsya langsung menyanggahnya dengan membenarkan dugaannya.


"Mommy juga tinggal di sana Dadd, ayo kita pulang sekarang! sepertinya Mommy dan Ken sudah menunggu kita di sana!" Seru Marsya tak sabar.


"Ok, ok! tunggu sebentar ya!".


"Bi... kalau begitu kami permisi dulu ya, tolong jangan beritahukan kedatangan saya pada siapa pun pada orang di rumah ini, ok!" Tutur Kenny seraya menjabat tangan Bibi pelayan dan menyelipkan beberapa lembar uang untuk pelayan rumah tersebut yang tak lain rumah Ayah Primus.


"Ba... baik Tuan, dan terimakasih untuk imbalannya!" Jawab pelayan rumah.


Tanpa membuang waktu lagi, Kenny segera bergegas mengunjungi Apartemennya, dia nampak sama tak sabarnya dengan Marsya yang ingin segera bertemu dengan Jenny dan Ken.


Di lain tempat, tepatnya di sebuah Gereja sederhana. Terlihat sepasang manusia berbeda jenis kelamin tengah mengucap janji suci pernikahan. Mereka yang saat ini tengah berdiri di atas altar menghadap sang pastur pun terlihat berwajah bahagia dan lega.


"Aku mencintaimu sayang!" Ucap sang mempelai pengantin Pria yang tak lain, Aldo.


"Aku juga mencintaimu, Kak!" Sahut Mirea sang mempelai wanita seraya menerima kecupan singkat di bibirnya dari sang suami yang baru saja resmi menikahinya.


Riuh tepuk tangan dari seluruh anggota keluarga yang hadir ikut memeriahkan prosesi pernikahan sederhana tersebut, mereka nampak haru bahagia melihat perjuangan Aldo yang akhirnya bisa mempersunting sang pujaan hati.


"Selamat sayang! akhirnya kalian dipersatukan juga," Tutur Ibu Tania seraya merangkul putra angkatnya.


"Terimakasih banyak Bu, mungkin Aldo tidak akan menjadi seperti sekarang jika tidak Ibu adopsi waktu itu, Aldo benar-benar sangat berhutang budi pada kalian," Sahut Aldo setelah melerai pelukannya.


"Kau itu putra Ibu Do, tidak ada putra yang di wajibkan untuk membalas budi, kau bahagia saja sudah memberikan kami kebahagiaan yang luar biasa, nak! semoga pernikahan mu selalu di limpahkan kebahagiaan ya sayang," Ucap Ibu Tania seraya memeluk kembali tubuh putra angkatnya.


Di sebuah ruangan, masih di Gereja yang sama. terlihat seorang perempuan yang baru saja berganti pakaian sedang menggandeng putra kecilnya menuju ke ruangan tempat pernikahan di gelar.


Tok...tok...tok... suara langkah kaki.


"Jenn! kemana saja kau? kenapa kau sangat lama membawa Ken bermain?!" Cecar Aldo memberikan beberapa pertanyaan pada sang adik.


"Sorry... tadi sedikit ada insiden, Kak! tapi semuanya sudah ok, kok! selamat ya Kak, Jenn turut bahagia untuk kalian," Jawab Jenny seraya memeluk sang Kakak dengan begitu erat.


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys... 😘😘😘