Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 68 # Malam pertama



PERINGATAN!


Episode ini dan beberapa episode selanjutnya akan menceritakan keintiman perihal hubungan suami istri, jadi bijaklah dalam membaca ya guys, jika sekiranya umur readers belum cukup untuk membacanya, maka di skip aja ya, tapi tetap tinggalkan jejak dukungannya. ok!


Happy reading…😘


Semua orang yang tersisa di ruangan rawat Jenny saat itu akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Sedangkan pasangan pengantin baru tadi ternyata saat ini baru saja sampai di Villa dekat pantai keluarga Alvaro.


“Kenn, kenapa kau membawa ku ke sini?”.


“Apa kau tidak suka ya jika aku membawa mu ke sini?” Kenny malah balik bertanya setelah mematikan mesin mobil yang dia kendarai sendiri.


“Bukan begitu, tapi…” Jenny tercekat saat bi*** suaminya membungkam bi*** ranumnya secepat kilat.


“Emm… Kenn! sebaiknya kita turun dulu dari mobil, aku sudah kepanasan menggunakan gaun ini!” Ucap Jenny mencari alasan setelah melepaskan tautan bi***nya dengan bi*** Kenny.


“Hm… baiklah sayang, tunggu sebentar ya! aku akan menggendong mu lagi sampai kamar kita!” Seru Kenny yang membuat rona merah di pipi Jenny kian terlihat.


“Kamar kita? apa itu berarti malam ini aku akan tidur dengannya ya? ha… Jenn! tentu saja aku akan tidur dengannya, kita kan sekarang sudah resmi menjadi suami istri, dan malam ini adalah malam pertama kami. Tapi kenapa aku gugup begini ya? bukannya waktu itu kita pernah tidur bersama ya! Hh.” Batin Jenny bermonolog.


Ceklek… Pintu mobil di buka dari luar oleh Kenny.


Dengan sigap dan gagahnya Kenny langsung membawa Jenny dalam gendongannya menuju kamar pengantin mereka yang sudah Tian siapkan sebelumnya. Sepertinya malam ini Kenny benar-benar akan mengurung Jenny di kamar pengantin mereka.


“Tuan! Nona! selamat menempuh hidup baru, Bibi doakan kalian selalu bahagia sampai maut yang memisahkan!” Tutur Bibi Rosa yang menyapanya di muka pintu masuk Villa.


“Terimakasih Bi, kami ke atas dulu ya!” Ucap Kenny yang melangkahkan kembali kakinya menuju kamar pengantinnya.


Sementara Jenny yang sejak tadi di gendong hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang suaminya, dia terlalu malu untuk bertegur sapa dengan Bibi Rosa dan pelayan lainnya di Villa tersebut.


“Sayang, apa kau ingin mandi sekarang?” Tanya Kenny setelah mereka sampai di dalam kamar.


“Emm… iya Kenn,” Sahut Jenny sambil mencoba beranjak untuk meraih handuk yang akan dia gunakan untuk mandi.


“Kita mandi sama-sama ya!” Seru Kenny yang langsung menggendong Jenny menuju kamar mandi.


Mau tidak mau Jenny hanya bisa pasrah. Mau menolak pun tubuhnya sudah berhasil di angkut oleh Kenny ke dalam kamar mandi. Dengan malu-malu Jenny mencoba melepas gaunnya yang ternyata begitu sulit di buka jika di lakukan sendirian. Kancing-kancing kecil yang begitu banyak di punggungnya sebagai perekat gaun tak ada satu pun yang berhasil dia buka karena tangan Jenny yang tidak sampai meraihnya. Dengan sigap dan tanpa di mintai tolong, Kenny segera membantu istrinya itu untuk melepaskan kancing-kancing yang berderet di punggung halus istrinya itu.


“Biar aku yang membukanya sayang!” Seru Kenny seraya membuka satu per satu kancing yang berada di bagian punggung Jenny.


“A…aku bisa sendiri Kenn, kau mandi duluan saja! ini sudah malam, sebaiknya kita cepat-cepat mandi supaya tidak masuk angin!” Tutur Jenny mencari alasan.


“Apa kau sedang berusaha menghindari ku? kenapa ku terlihat begitu gugup sayang, aku tidak akan menyakiti mu, aku janji!” Seru Kenny seraya membantu Jenny melepas gaun yang melekat di tubuhnya. Menyisakan underwear berwarna hitam yang begitu kontras di kulit Jenny yang putih bersih.


Secepat kilat Jenny menyilang kan kedua tangannya di depan dada, dia benar-benar belum siap jika harus membuka semua pakaiannya di hadapan Kenny saat ini.


“Kenapa harus di tutupi tangan sih? sekarang kan aku suami mu, aku berhak penuh atas setiap inci tubuhmu itu sayang,” Tutur Kenny menghampiri sambil menunjukkan seringai di bi***nya.


“Ke…Kenn, apa yang akan kau lakukan? awww!!” Pekik Jenny di ujung ucapannya, karena Kenny dengan sigap menggendong tubuh istrinya kembali untuk dia bawa ke dalam bathtub yang sudah terisi air hangat dan busa sabun yang begitu wangi.


“Tenanglah sayang! aku hanya ingin membantumu mandi saat ini!” Tutur Kenny seraya ikut menceburkan dirinya ke dalam bathtub yang sama dengan yang di gunakan sang istri.


Lambat laun pagu*** itu semakin menuntut keduanya untuk melakukan hal yang lebih. Menikmati dan memadu kasih dan cinta yang mereka punya satu sama lain di sisa malam indah yang bertabur bintang.


“Sayang! kita lanjutkan di tempat tidur ya, aku sudah tidak tahan!” Pinta Kenny dengan suara beratnya.


Jenny yang tengah mengatur nafasnya hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban, karena dia pun kini sedang merasakan gai*** yang sama dengan yang di rasakan oleh suaminya. Penyatuan keduanya pun akhirnya terjadi dengan begitu panas dan penuh gai***di malam itu, keduanya sama-sama terkulai lemas setelah mengakhiri permainan mereka di penghujung malam menjelang subuh hari.


Keesokan harinya Jenny terbangun lebih dulu ketika sang surya menyapa kedua kelopak matanya dengan sinarnya yang cukup menyengat. Dengan susah payah Jenny menepikan tangan kekar Kenny yang masih melingkar di atas perutnya. Dengan susah payah Jenny terus mencoba menggeser tubuhnya untuk bangun dan beranjak ke kamar mandi. Namun baru saja dia hendak melangkah, Jenny menjerit pelan saat merasakan nyeri di bagian inti tubuhnya sisa pertempurannya semalam bersama sang suami.


“Awww! astaga! kenapa terasa sakit sekali,” Gumam Jenny seraya menahan nyeri di bagian intinya.


“Sayang! kau mau kemana? apa kau butuh bantuan ku lagi?” Seru Kenny yang ternyata terusik karena jeritan Jenny tadi.


Pria tampan itu langsung berdiri dan menghampiri Jenny dengan santainya tanpa menggunakan sehelai benang pun. Jenny yang melihatnya langsung terbelalak dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia mengingat kembali aksi liarnya Kenny yang membobol gawang miliknya dengan begitu bersemangat, hingga akhirnya di hentakan yang entah kesekian kalinya Kenny berhasil membobol gawang pertahanan Jenny dan membuat sang empunya gawang menjerit dan mere*** sprei yang sudah terlihat berantakan akibat ulah pergulatan panas keduanya.


“Kenn, kenapa kau tidak memakai kembali pakaian mu?” Tanya Jenny yang masih setia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Sayang, kenapa kau malah menutupi wajah cantikmu itu, apa kau masih malu ya? padahal kan semalam kita sudah saling melihat milik kita masing-masing!” Seringai Kenny yang kini mencoba menggendong istrinya untuk dia bawa ke dalam kamar mandi.


“Aaaaah! Kenn, turunkan aku!” Seru Jenny terkejut dan refleks mengalungkan tangannya di leher sang suami agar tak terjatuh.


“Tidak sayang, kau pasti masih kesakitan kan! aku akan membantu mu mandi lagi sekarang.”.


“Kenn, aku bisa mandi sendiri! kau keluarlah! aku tidak akan lama ko.” Pinta Jenny yang tak di dengar sama sekali oleh Kenny yang tetap kukuh membantu istrinya membersihkan diri.


“Sudahlah sayang, aku tidak akan macam-macam lagi ko sekarang. Aku tidak akan tega menggempur mu kalau kau masih kesakitan!” Tutur Kenny memberikan janji.


“Tapi Kenn…” Ucap Jenny yang langsung di sanggah oleh Kenny.


“Tidak ada tapi-tapi sayang, aku benar-benar hanya ingin membantu mu kali ini, jadi kau diam saja ya, ok!”.


.


.


.


.


.


.


.


Jejak dukungannya jangan lupa ya guys! biar bang Kenny sana Jenny selalu update nih…


See you next episode…😘😘😘