Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 109 # Pertengkaran kecil.



“Dia istri Kenny Nek, maafkan Kenny yang baru memperkenalkan nya pada Nenek!” Akhirnya Kenny membantu istrinya untuk menjawab sekaligus memberitahu status Jenny yang sudah sah menjadi istrinya.


“Apa? kau tidak sedang bercanda kan Kenn? lalu bagaimana hubungan mu dengan Gea? kau tidak mengkhianatinya, kan?” Tutur Nenek Martha bertanya seraya memegang kepalanya yang terasa sakit kembali.


“Nenek, apa kau baik-baik saja?” Tanya Jenny menghampiri.


“Jangan sentuh aku! kau tidak pantas untuk cucu ku! Kenny akan segera menikah dengan Gea, bukan dengan mu!” Ucap Nenek Martha.


“Nek! Nenek salah paham! Kenny tidak pernah berhubungan dengan Gea selain rekan bisnis biasa, Kenny tidak mungkin menikahinya, Kenny hanya mencintai Jenny.” Tutur Kenny menjelaskan.


“Bohong, pokoknya aku tidak akan merestui hubungan kalian Kenn, aku tidak mau memiliki cucu menantu yang tak tau sopan santun seperti dia!”.


Tak terasa bulir bening Kristal terjatuh di pelupuk mata Jenny, hatinya terasa sakit dan sesak saat dirinya tak mendapat restu dari Nenek Martha, dia sangat menyesali pertemuan pertama mereka yang harus berkesan tidak baik.


“Nek, Nenek belum mengenal Jenny dengan baik, Jenny adalah wanita yang sempurna Nek, Kenny tidak bisa hidup tanpanya, Nenek harus terima kenyataan ini, karena Kenny sudah menikahinya.” Kenny masih berusaha meraih hati sang Nenek. Namun nyatanya Nenek Martha terlalu termakan hasutan Gea yang sudah sering menjelekkan Jenny tanpa sepengetahuan Kenny dan Jenny.


“Nenek tidak peduli dengan hubungan kalian Kenn, pokoknya Nenek tetap akan menikahkan kau dengan Gea, titik!” Seru Nenek Martha sambil membuang pandangannya ke arah lain.


“Tapi Nek…” Ucap Kenny yang di sanggah oleh istrinya.


“Kenn… sudahlah! mungkin Nenek butuh waktu untuk menerima semuanya, sebaiknya kita biarkan beliau istirahat dulu saja!” Seru Jenny seraya mengusap bahu suaminya dan menggiring nya untuk ke luar dari ruangan rawat inap Nenek Martha.


Sesampainya di luar ruangan Nenek Martha, Kenny langsung memeluk tubuh ramping istrinya dengan erat. Dia mencurahkan penyesalannya yang telah mempertemukan istrinya dengan sang Nenek. Kenny pikir keduanya akan mudah akrab dan saling menerima, namun kenyataannya Kenny harus menelan pil pahit yang membuat hatinya juga hati Jenny sedih dan sakit.


“Maafkan aku sayang, aku tidak tau semuanya akan menjadi seperti ini! aku benar-benar menyesal telah membawamu ke sini! aku tidak ingin kehilanganmu Jenn!” Sesal Kenny yang masih memeluk tubuh istrinya.


“Aku percaya padamu Kenn, kau jangan menangis lagi, ok! sebaiknya kita pergi dulu saja dari sini, ayo!” Ucap Jenny berusaha tegar.


Kenny menatap ke dalam dua bola mata istrinya yang selalu meneduhkan, dia begitu malu pada dirinya sendiri. Kenny yakin jika saat ini, Jenny lah yang paling tersakiti, namun istrinya itu masih saja bisa menunjukkan senyumannya di saat hatinya sendiri tidak baik-baik saja.


“Apa kau ingin mengunjungi suatu tempat?” Tanya Kenny setelah keduanya berada di parkiran.


“Hm… tapi kita pergi dengan Kak Bruno ya, aku sudah mengirimnya pesan tadi, aku tidak ingin kau mengemudi sendiri, kau sedang tidak baik-baik saja saat ini, jadi kau harus duduk manis bersama ku di kursi belakang, ok!” Tutur Jenny yang membuat Kenny selalu merasa gemas dan bersyukur karena memiliki wanita yang begitu tangguh di hidupnya.


“Aku terserah padamu saja sayang!” Sahut Kenny seraya merangkul tubuh istrinya dari samping.


Beberapa menit kemudian, Bruno tiba untuk menjemput kedua majikannya yang ingin mengunjungi suatu tempat untuk menenangkan diri. Di perjalanan, Kenny terlihat menikmati perjalanannya kali ini bersama sang istri, dia benar-benar sangat menikmatinya. Rasanya dia telah lama tak menghabiskan waktu berdua seperti ini dengan istrinya. Jenny benar-benar paling tahu apa yang Kenny butuhkan saat ini.


“Kak, tolong tepi kan mobilnya sebentar ya!” Pinta Jenny di saat mereka sudah hampir sampai ditempat yang mereka tuju.


“Baik Nona!” Bruno pun menepikan mobil sesuai perintah Jenny.


“Sayang! kau mau kemana?” Tanya Kenny yang tak di hiraukan oleh Jenny yang langsung turun dari mobil setelah mobil terhenti sempurna di pinggiran jalan yang cukup sepi.


Hoek…


“Haist! kenapa kau membuat Mommy mual saat sedang bersama Daddy sih nak?” Batin Jenny bermonolog.


“Sayang! kau tidak apa-apa kan?” Tanya Kenny yang menyusul turun dan memeriksa keadaan Jenny.


“Aku baik-baik saja Kenn, mungkin karena tadi aku makan terlalu banyak, jadi perut ku terasa mual saat melakukan perjalanan yang cukup jauh!” Tutur Jenny beralasan.


“Tidak perlu Kenn, aku membawa obat yang di berikan Dokter semalam ko, mungkin setelah meminumnya aku akan kembali membaik,” Sahut Jenny.


“Ha… ya sudah! kalau begitu sebaiknya kita sekarang ke Villa saja ya, kau harus istirahat yang cukup sayang, bagaimana kita akan segera memiliki momongan kalau kau sendiri tidak memperhatikan kesehatan mu!” Tutur Kenny mengajak istrinya kembali masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di Villa, Kenny segera merebahkan istrinya di atas tempat tidur mereka dan ikut membaringkan diri di sampingnya sambil mengecup tangan Jenny yang dia genggam.


“Kenn, apa kau begitu menyayangi Nenek mu?” Tanya Jenny lirih.


“Tentu saja sayang, ada apa? apa kau masih memikirkan hal tadi siang?” Sahut Kenny balik bertanya.


“Hm… aku hanya tidak ingin hubungan kalian menjadi tidak baik karena aku Kenn, aku tidak ingin kau di benci oleh Nenek mu sendiri, aku…” Belum sempat Jenny menuntaskan ucapannya, Kenny sudah meraup bibirnya dengan tergesa seakan menyampaikan peringatannya agar Jenny berhenti membicarakan hal tersebut.


“Haist! dasar tukang serobot!” Gerutu Jenny setelah mereka melepaskan pagutan bibirnya.


“Salah mu sendiri, kenapa kau selalu menggemaskan seperti itu sih? aku kan mana tahan kalau melihat mu mengoceh seksi seperti tadi!”.


“Haist! kau benar-benar menjengkelkan Kenn!” Ucap Jenny seraya beranjak dari tempat tidur dan meraih air putih yang sudah di tuang ke dalam gelas yang berada di atas nakas samping tempat tidur.


“Tapi kau juga suka kan!” Goda Kenny.


“Sayang! kira-kira kapan ya baby kita tumbuh di sini?” Lirih Kenny yang kini sudah ikut berdiri di belakang Jenny sambil memeluknya.


“Em… kau membuatku geli Kenn, aku bisa merasa sembelit lagi kalau kau usap seperti itu lagi perut ku!” Tutur Jenny seraya menghindari tangan Kenny yang mengusap perutnya.


“Sayang! kenapa kau seperti sedang menghindari ku sih akhir-akhir ini?” Ucap Kenny meluapkan kekesalannya.


“A…aku bukan menghindari mu Kenn, aku hanya tidak ingin merasa sembelit lagi, kau pasti akan khawatir juga kan nantinya,” Sahut Jenny beralasan.


“Ha… sudahlah! aku akan ke bawah dulu sebentar,” Ucap Kenny seraya melenggang keluar dari kamar.


Tiba-tiba saja, ponsel Kenny berbunyi dan menampilkan nomor seseorang yang paling Jenny curigai. Kebetulan saat itu, Kenny meninggalkan ponselnya begitu saja di atas nakas samping tempat tidur, tepat di samping gelas yang tadi Jenny ambil untuk meneguk air minum.


.


.


.


.


.


.


.


Siapa yang telepon ke nomor Kenny ya??? hayoo tebak... buruan ketik di kolom komentar ya guys, jangan lupa like, vote serta gift nya juga ya...


See you next episode... 😘