
“Hm… baiklah! tapi mandinya yang bersih ya sayang! apa kau ingin Mommy mandikan?” Tawar Jenny.
Ken kecil pun menggeleng dan berlaga layaknya pria dewasa tangguh yang tak membutuhkan bantuan dari seorang gadis. Dan hal itu berhasil membuat Jenny terkekeh dan menghujani wajahnya dengan ciuman-ciuman sayangnya pada putra kecilnya itu.
“Haist! pria kecil Mommy sudah dewasa ternyata, ya sudah! yang bersih ya mandinya!” Ucap Jenny seraya mengacak pucuk kepala Ken sebelum bocah menggemaskan itu masuk ke dalam kamar mandi.
Di saat putranya mandi, Jenny terlihat sibuk menyiapkan pakaian ganti dan keperluan lainnya untuk sang putra. Bertepatan dengan itu, pintu kamar Jenny di buka seseorang tanpa di ketuk terlebih dahulu.
Ceklek…
“Sayang!” Ucap Pria gagah yang langsung merengkuh Jenny ke dalam pelukannya.
“Aku sangat merindukan mu Kak, apa kau baru saja pulang bekerja?” Tanya Jenny yang masih berada di dalam pelukan Aldo.
“Kakak juga, Jenn! Kakak sengaja pulang lebih awal, mana bocah menggemaskan itu?” Sahut Aldo balik bertanya setelah melepaskan pelukannya pada sang adik tersayang.
“Dia sedang mandi Kak, sepertinya dia yang paling merindukan Kakak sejak tahu Jenn mau pulang ke sini!” Kekeh Jenny mengingat tingkah putranya yang begitu antusias dan gembira saat tau jika Jenny akan kembali ke Tanah Airnya.
“Baguslah, karena aku juga ingin menunjukkan sesuatu padanya nanti! kalau begitu Kakak juga mandi dulu ya!” Sahut Aldo seraya meninggalkan Jenny ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Jenny.
Hanya dua malam Jenny menginap di rumah Ayah Primus, Jenny memutuskan tinggal di Apartemen barunya yang sudah Anggun sediakan selama dia tinggal di Negara kelahirannya itu. Jenny tidak ingin merepotkan kedua orangtua angkatnya lagi, selain itu dia juga tidak ingin Ibu Erika dan Oma Dona merasa kurang nyaman karena menumpang tinggal.
“Sis, kenapa kau tidak memilih tinggal di sini saja sih? kita kan baru bertemu lagi setelah beberapa tahun tidak bertemu, aku masih kangen loh!” Rajuk Ibu Tania yang kini tengah membantu Ibu Erika mengemasi kembali pakaiannya.
“Kita masih bisa bertemu Nia, lagi pula Apartemen Jenny kan masih di kota ini, kita juga bisa saling mengunjungi nantinya,” Tutur Ibu Erika.
“Hm… iya juga sih, ya sudah! kalian hati-hati ya!” Sahut Ibu Tania mengantar mereka hingga ke depan rumah.
Setibanya di sebuah bangunan bertingkat, Jenny segera memboyong kedua wanita tersayangnya serta sang pangeran kecil ke sebuah hunian yang cukup luas, mereka segera mengemas pakaian-pakaian mereka dan juga beberapa barang yang sengaja mereka bawa dari kediamannya di Negara M.
“Huft!! akhirnya selesai juga,” Gumam Jenny setelah memasukkan semua pakaiannya dan pakaian Ken kecil ke sebuah lemari yang sudah tersedia di salah satu kamar yang Jenny pilih di Apartemen tersebut.
Kruyyyuuuk…
“Haist! perut ini tidak bisa di kondisikan sekali, tapi… sepertinya memang sudah waktu nya makan siang deh, kalau begitu aku pesan makanan online saja deh,” Gumam Jenny seraya meraih ponselnya dan memesan beberapa makanan untuk makan siangnya dan yang lainnya.
Tak butuh waktu lama, makanan yang di pesan Jenny pun di antar oleh seorang kurir dari salah satu Restoran terdekat yang Jenny pilih, namun sayangnya sepertinya sang kurir keliru dan mengirimkan makanan tersebut ke Apartemen yang berada di sebelah Apartemen Jenny.
Ting..tong…
“Daddy, ada yang menekan bell, apa aku boleh membuka kan pintunya?” Teriak gadis kecil yang tengah bermain boneka kesayangannya di ruang televisi.
“Iya sayang, tolong buka kan sebentar ya! Daddy sedang tanggung memasak ini!” Sahut sang Daddy dari arah dapur.
“Ok!” Gadis kecil itu pun beranjak menuju pintu dan membukanya.
Ceklek…
“Loh kenapa gadis kecil yang muncul? Bukannya di profil yang memesan tadi wanita cantik ya?” Batin sang kurir saat mengingat konsumennya.
“Paman, kenapa kau diam saja? apa kau ada perlu pada Daddy ku?” Tanya gadis kecil membuyarkan lamunan sang kurir.
“Oh, sebenarnya aku ingin mengantar pesanan, adik kecil! apa Ibu mu memesan makanan sebelumnya?” Sahut sang kurir makanan.
“Aku… hik…hik…” Gadis kecil yang tak lain Marsya itu terlihat terisak saat di tanya perihal Ibu oleh sang kurir, seketika tangisnya pecah karena teringat dengan kenyataan jika Marsya tidak pernah melihat wajah sang Ibu.
“Astaga! kenapa dia malah menangis semakin kencang, aku harus bagaimana ini?” Gumam sang kurir yang menjadi serba salah.
Ceklek…
“Kenapa ada anak kecil menangis di sana? apa orang itu mau berbuat jahat pada gadis kecil itu ya? ini bahaya, aku harus menyelamatkannya!” Batin Jenny saat melihat seorang gadis kecil yang menangis di depan pintu Apartemen yang berada di seberang Apartemennya.
“Hai! kau mau apa dengan anak ku?” Seru Jenny seraya menghampiri.
“No…Nona, ini tidak seperti yang kau lihat, aku hanya ingin…” Tutur sang kurir terbata dan yang langsung di potong oleh Marsya.
“Mommy…” Ucap Marsya seraya membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.
“I…iya sayang, ini Mommy, kau tidak apa-apa kan?” Tanya Jenny seraya mendekap tubuh mungil Marsya.
“Aku merindukan Mommy,” Marsya semakin menyusupkan kepalanya di dada Jenny. Gadis kecil itu terlihat sangat nyaman saat Jenny memeluknya.
“Apa anak ini ikut berakting seperti yang aku lakukan ya?” Duga Jenny dalam hatinya.
“Mommy juga sayang…” Sahut Jenny.
“Nona, bukan kah kau yang memesan makanan dari Restoran xxxxx, aku kurir yang mengantarkan makanan ini, sepertinya aku salah menekan bell,” Tutur sang kurir yang baru mengingat wajah cantik Jenny yang dia lihat di profil sang pemesan makanan.
“Jadi kau kurir yang mengantar makanan ku ya, ha… kenapa kau tidak bilang sejak tadi, sih?!” Sahut Jenny setelah melerai pelukannya pada Marsya.
“Aku sudah berusaha memberitahu tadi, tapi Non…” Jawab sang kurir yang kembali di potong oleh Marsya.
“Apa Mommy memesan pizza juga? emm… wanginya membuat perut ku lapar,” Ucap Marsya.
“Kalau begitu ayo kita makan bersama!” Seru Jenny seraya menggiring Marsya masuk ke dalam Apartemennya setelah menerima pesanannya dari sang kurir.
Dapur yang masih terlihat berantakan dengan segala isinya itu kini tengah di benahi sedikit demi sedikit oleh sang pembuat onar. Siapa lagi kalau bukan Kenny orangnya. Sejak tadi dia berusaha memasak untuk putrinya, namun sepertinya tidak semua makanan bisa dia buat, seperti permintaan putrinya siang itu. Marsya meminta Kenny membuatkannya pizza. Karena tak ingin memesan makanan sembarangan yang bisa membahayakan kesehatan sang putri akhirnya Kenny pun berusaha membuatnya sendiri.
“Ha…aku menyerah! sebaiknya aku pesan online saja deh,” Gumamnya setelah merapihkan sisa perbuatannya memporak porandakan dapurnya sendiri.
“Siapa gadis kecil ini Jenn?” Tanya Oma Dona.
“Entah lah Oma, Jenny bertemu dengannya di depan pintu Apartemen, sepertinya dia sedang tersesat, jadi Jenny bawa masuk dulu saja, lagi pula dia juga sepertinya sudah sangat kelaparan,” Tutur Jenny yang sejak tadi sudah membawa Marsya bergabung di ruang makannya.
.
.
.
.
.
.
.
Ketik bab kali ini sambil ketar ketir gemetaran, pasalnya pas waktu ketik bab ini tadi di kejutkan sama gempa yang berpusat di kota Mom ini guys 😢😞 semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT, Aamiin Allahumma Aamiin…
See you next episode…😘😘😘