
“Aku harus menemuinya sesegera mungkin untuk meminta maaf!” Tegasnya yang masih berdiri sendiri di ruangan cukup luas itu.
Kring…kring…
“Tuan! Nona Gea mencoba bunuh diri!” Ucap Tian di sebrang telepon yang baru sja Kenny angkat.
“Apa?! argh!! awas kau Ge!!” Umpat Kenny dengan raut wajah yang penuh kekesalan.
Kenny yang tadinya sudah bertekad pergi untuk mencari Jenny harus mengurungkan niatnya dan memeriksa terlebih dahulu keadaan Gea. Kenny sangat khawatir jika anak yang di kandung Gea saat ini terancam keselamatannya karena tindakan bodoh Ibunya sendiri.
“Mam, ada apa? kenapa Mamih menunjuk-nunjuk terus ke arah meja kerja Oscar?” Tanya Mom Bella yang kini tengah membawa Nenek Martha melewati ruang kerja suaminya.
“Apa Mamih menginginkan sesuatu dari dalam sana?” Tanya Mom Bella lagi.
Nenek Martha terlihat menganggukkan kepalanya, setelah berangsur membaik beberapa bulan belakangan ini, Nenek Martha selalu berusaha untuk menyampaikan kebenaran pada semua keluarga nya. Setelah masuk ke dalam ruangan kerja Papah Oscar, Mom Bella segera memindai sekeliling ruangan sederhana tempat suaminya itu menuntaskan beberapa pekerjaan kantor. Dilihatnya ada sebuah note yang berceceran di atas meja. Awalnya Mom Bella ingin merapikannya dan menyimpan sisa note kosong di atas meja kerja suaminya itu, namun baru saja hendak merapihkan note tersebut, Nenek Martha kembali menunjuk note tersebut dan sebuah bolpoin yang tersimpan rapih di sebuah wadah khusus ATK milik menantunya itu.
“Apa Mam ingin menulis sesuatu?” Tebak Mom Bella. Sesegera mungkin Nenek Martha kembali menganggukkan kepalanya.
“Ini…” Mom Bella menyerahkan sebuah note kosong dan bolpoin pada Nenek Martha.
Tanpa membuang kesempatan lagi, Nenek Martha segera menuliskan semua kebenaran yang dia ketahui tentang keburukan Gea selama ini. Mom Bella terlihat tak begitu terkejut dengan penuturan yang Nenek Martha tulis di atas note tersebut, Pasalnya Mom Bella dan Papah Oscar sudah mengetahui keburukan menantu barunya itu sejak kepulangan Tian dari perusahaan Tuan Hendrik.
“Jadi selama ini Mamih juga tau ya keburukan si Gea itu!” Ucap Mom Bella setelah membaca note yang di tulis Oleh Nenek Martha.
Nenek Martha terlihat menulis sesuatu kembali sebelum akhirnya menyerahkannya lagi pada Mom Bella.
“Mamih benar! saat ini yang harus kita beritahu, Kenny! anak itu pasti yang paling menyesal jika tahu kebenaran ini,” Tutur Mom Bella setelah membaca kembali tulisan Nenek Martha.
Di sebuah Rumah Sakit ternama, Kenny yang sudah geram segera menuju sebuah ruangan yang menjadi tempat perawatan istri keduanya saat ini. Pria yang akhir-akhir ini terlihat tak merawat diri itu mencoba menerobos masuk tanpa menghiraukan seorang Dokter yang tengah memeriksa keadaan istrinya saat ini.
“Maaf Tuan, sebaiknya anda tunggu sebentar di luar, pasien sedang di periksa Dokter saat ini.” Tutur seorang suster yang menghadang langkah Kenny.
“Jangan halangi aku! aku suaminya, aku berhak masuk ke dalam untuk melihat kondisi istriku sendiri!” Ucap Kenny penuh penekanan.
“Tapi Tuan…” Suster tersebut tak dapat menghalangi Kenny lagi kala pria tampan itu terus menerobos masuk dengan membuka paksa pintu ruangan perawatan Gea saat ini.
Brak…
“Tu…Tuan! apa yang anda lakukan ,seharusnya anda menunggu sebentar selama saya memeriksa Nyonya!” Tutur Dokter yang terlihat gelagapan saat Kenny berhasil masuk.
“Kenapa kau jadi gugup seperti itu! ayo lakukan saja pemeriksaannya, aku ingin melihat istriku di perlakukan dengan baik di Rumah Sakit ini!” Ucap Kenny yang di bubuhi kebohongan.
Padahal Kenny hanya ingin meyakinkan apa yang Tian ucapkan di sambungan teleponnya tadi, Tian bilang Gea pasti akan melakukan hal apa pun sebelum mendapatkan semua yang dia inginkan, dan itu ternyata terbukti lagi. Hanya dalam hitungan Jam Kenny meninggalkan Gea di rumah mewahnya, wanita licik itu sudah kembali menyusun rencana untuk meluluhkan kembali hati Kenny.
“Kenn, akhirnya kau datang juga,” Lirih Gea setelah Dokter pergi.
“Kau kenapa mencoba bunuh diri? apa kau sudah gila ya? kau bisa membunuh anak tak bersalah itu juga kalau sampai tak tertolong!” Ucap Kenny.
“Aku melakukannya karena kau, Kenn! kau sudah berani meninggalkan aku tadi, aku benar-benar tak bisa kehilangan mu Kenn, apa gunanya aku mengandung anak ini jika ayahnya saja sudah tak peduli lagi!” Sahut Gea dengan isak kepalsuannya.
“Kau selalu membuat alasan yang sama Ge, jika kau memang menginginkan aku, maka jangan coba-coba kau berbuat hal bodoh ini lagi, atau kau akan tau akibatnya nanti!” Ucap Kenny seraya berlalu pergi dari ruangan perawatan Gea.
“Aaaaaaaaa!!! kenapa dia masih saja sulit aku takluk kan sih!!” Teriak Gea penuh amarah.
“Nyonya Jenny Alexa, silahkan! Dokter sudah menunggu anda di dalam!” Seru Seorang suster yang berjaga.
“Aku datang! ayo Oma!” Sahut Jenny yang di temani Oma Dona.
Di dalam ruangan pemeriksaan.
“Selamat siang Nyonya, apa kabar? senang bisa bertemu dengan kalian lagi!” Sapa sang Dokter kandungan yang bernama Lusi.
“Selamat siang juga Dokter! aku sudah tidak sabar ingin menjenguk cicit ku,” Kekeh Oma Dona.
“Baiklah! kalau begitu mari kita mulai!” Seru Dokter Lusi seraya mengarahkan Jenny untuk segera berbaring di tempat tidur prakteknya.
Kini usia kandungan Jenny menginjak bulan ke 4. Jenny biasa di temani oleh Oma Dona di setiap pemeriksaannya, Oma Dona beralasan jika dia selalu penasaran dengan jenis kelamin calon cicit nya itu.
“Bagaimana? apa jenis kelaminnya sekarang sudah bisa terlihat?” Tanya Oma Dona antusias setelah Jenny kembali menghampirinya.
“Sudah Nyonya! saya akan memberitahukan jenis kelaminnya di acara baby shower Nona Jenny akhir pekan nanti, jadi Nyonya harap bersabar sebentar lagi ya!” Kekeh Dokter Lusi.
“Haist! kenapa harus menunggu pekan depan sih? aku ingin mengetahuinya saat ini juga, padahal aku selalu bersemangat jika mengetahui Jenny akan pemeriksaan rutin,” Keluh Oma Dona dengan raut wajah yang di buat sendu.
“Oma, Jenny juga belum tau jenis kelamin cicit Oma ini, biarkan semuanya jadi kejutan yang membahagiakan saja ya nanti, lagi pula akhir pekan kan hanya tinggal 3 hari lagi! Jenny rasa itu tidak terlalu lama untuk menunggu sampai harinya tiba,” Kekeh Jenny yang merasa gemas setelah melihat tingkah Oma Dona yang merajuk.
“Hem… baiklah! aku akan bersabar deh,” Ucap Oma Dona yang mengundang kekehan dari Jenny dan Dokter Lusi.
Kembali ke Negara di mana Kenny tinggal.
“Ti! kenapa kau tidak pernah memberitahu ku soal kejutan Jenny ini?” Ucap Kenny seraya menatap alat testpack yang dia ambil dari kotak hadiah di Apartemennya.
“Maaf Tuan, saya pikir Nona sudah memberikan kejutannya malam itu, tapi ternyata…” Sesal Tian.
“Sudah lah! semuanya sudah terlanjur terjadi, sebaiknya aku mencari keberadaannya sekarang untuk meminta maaf sesegera mungkin padanya,” Lirih Kenny.
.
.
.
.
.
.
.
Hari Senin nih guys, jangan lupa vote nya ya 🤗🤗🤗
See you next episode….😘😘😘