
Tanpa membuang kesempatan, Kenny malah melum** bibir ranum milik Jenny yang masih menempel di bibirnya.
Awalnya Jenny terus memberontak, namun setelah Kenny melepaskan pagutan nya, kedua netra mereka saling bertabrakan dengan deru nafas yang sama-sama memburu, seolah kehilangan kendalinya. Kali ini Jenny yang menyerang terlebih dahulu, membuat Kenny senang bukan kepayang, kesempatan seperti ini benar-benar harus dia manfaatkan.
"Emm... pelan-pelan saja sayang!" Ucap Kenny di sela pagutan bibirnya.
"Kenn, kau tidak menyimpan obat apa pun kan di dalam makanan tadi, kau tidak sedang menjebak ku lagi kan?!" Racau Jenny yang sudah semakin bergairah.
Entah mengapa tubuhnya seolah memang menginginkan sentuhan itu. Padahal dirinya sama sekali tidak mabuk.
"Aku tidak pernah menjebak mu lagi setelah hari itu sayang, mungkin ini adalah keinginan hatimu yang sebenarnya, jadi kau tidak perlu malu lagi jika menginginkannya, aku akan memberikannya dengan senang hati, apa lagi jika kau sampai setuju untuk kembali rujuk dengan ku,".
Tiba-tiba Jenny melepas pagutan mereka, dia beranjak dari atas tubuh Kenny dan duduk seraya membenarkan penampilannya.
"Sayang..." Lirih Kenny seraya menyentuh sebelah pundak Jenny dengan lembut.
Jenny masih tak bergeming, pikirannya masih berkecamuk ke sana kemari, mencoba mencerna apa yang sudah dia lakukan saat ini, kenapa akhir-akhir ini dia begitu mudah ter*angsang jika berdekatan dengan Kenny.
"Jenn... aku akan selalu menunggumu sampai kau siap kembali," Tutur Kenny yang kini ikut terduduk dan memeluk Jenny dari belakangnya.
"Sudahlah, aku harus kembali menyelesaikan pekerjaannya, Kenn!" Lirih Jenny siap beranjak.
Namun dengan cepat, Kenny menarik sebelah pergelangan tangan Jenny dan membuatnya duduk kembali.
"Ada apa lagi? aku harus bergegas, Kenn!" Tegur Jenny.
"Kau melupakan ini sayang, sejak dulu aku ingin mengembalikannya padamu," Ucap Kenny seraya memasangkan gelang pertama yang pernah dia berikan pada Jenny yang sempat Gea curi, dahulu.
Jenny menatap gelang tersebut dengan haru, sekian lama gelang itu tak dia lihat, seolah mengingatkannya lagi pada kenangan-kenangan indahnya dulu bersama sang mantan suami.
"Aku akan menyimpannya, Kenn! terimakasih," Ucap Jenny seraya beranjak dan meninggalkan Kenny sendirian di ruangannya.
Sementara itu di lain tempat, tepatnya di sebuah apartemen sederhana milik seorang gadis cantik nan sederhana.
"Bagaimana? apa kau setuju?!" Tanya Jo saat memperlihatkan salah satu konsep dekorasi pernikahan pilihannya.
"Aku terserah padamu saja, aku akan mengambil cemilan dulu di dapur!" Sahut Anggun seraya beranjak meninggalkan Jo yang masih melihat-lihat konsep dekorasi yang lebih bagus.
Di dapur, Anggun ternyata tak hanya mengambil cemilan. Saat ini dia sedang mengatur perasaannya kembali, bayangan kegagalan pernikahannya yang pertama akibat di tinggal sang kekasih kecelakaan yang merenggut nyawanya kembali membuat hatinya gelisah. Anggun jadi takut jika kejadian itu bisa saja terjadi lagi.
"Ya Tuhan, bayangan menyedihkan itu masih sangat nyata bagiku, apa aku berhak bahagia kali ini?" Gumamnya seraya mengusap wajahnya.
"Apa kau masih trauma?" Tanya suara yang terdengar dari balik punggung Anggun.
Jo memutuskan menyusul Anggun ke dapur karena perasaannya mulai tak enak. Sejak dia menunjukkan beberapa konsep dekorasi pernikahan tadi Anggun selalu terlihat murung. Dan hal itu yang membuat pikiran Jo menjadi cemas dan khawatir.
Jo mengerti dengan masa lalu yang pernah Anggun alami, bagaimana pun juga, di tinggalkan oleh orang yang kita cintai selamanya dari dunia ini sangatlah menyakitkan dan menyedihkan. Jo tidak ingin memaksa Anggun atas keinginannya, dia ingin Anggun memutuskan pilihannya atas kesadarannya sendiri.
"Maaf... aku hanya kembali teringat pada pernikahanku dulu," Lirih Anggun.
Jo pun mengerti, dia memeluk Anggun dari belakang seraya mengendus aroma yang selalu dia sukai dari tubuh gadisnya itu.
"It's ok sayang, aku sangat mengerti perasaanmu, aku bisa menunggumu sampai kau siap," Tutur Jo seraya membenamkan wajahnya di sela leher Anggun.
"Tapi... aku sudah putuskan! aku harus bisa melupakannya, Kak! jadi aku akan mencobanya, mari kita menikah!" Tegas Anggun yang membuat Jo segera mengangkat wajahnya dan memutar tubuh Anggun agar berhadapan dengannya.
"Apa kau serius, sayang?!" Tanya Jo meyakinkan.
"Hem... aku mencintaimu, Kak!" Ucap Anggun.
Seketika Jo menyambar bibir ranum yang selalu menjadi candunya beberapa waktu ini, dia benar-benar sangat bahagia mendengar jawaban yang Anggun berikan padanya.
Awalnya Anggun menginginkan pesta yang sederhana, namun Jo tak menyetujuinya, dia ingin pesta pernikahan yang meriah agar kelak dapat di kenang seumur hidupnya.
"Aku mencintaimu, sayang! tetaplah di sampingku hingga ajal memisahkan," Ucap Jo seraya mendekap erat tubuh ramping gadisnya.
Beberapa hari kemudian, perayaan pertunjukan Fashion desain hasil karya Jenny pun di gelar. Pagi-pagi sekali, Jenny sudah tiba di gedung tempat acaranya di gelar. Dia memeriksa semua persiapannya sebelum acara megahnya itu di mulai.
"Gun, aku rasa model yang akan memakai baju yang warna gold ini kau tambahkan aksesoris ini saja, itu akan membuatnya semakin menyatu dengan karakter baju yang dia gunakan nanti!" Tutur Jenny seraya menyerahkan sebuah aksesoris pendukung penampilan bagi model yang akan memperagakan pakaian-pakaian hasil rancangannya.
"Ok, aku akan menyuruhnya menggunakan ini, nanti! apa ada lagi yang harus aku lakukan?!" Tanya Anggun.
"Aku rasa sudah cukup, kita tinggal menunggu waktu pembukaannya di mulai saja, sebaiknya kita. segera bersiap di balik panggung untuk memastikan setiap model telah ready dengan pakaian-pakaiannya." Tutur Jenny.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memberikan aksesoris ini dulu ke ruangan tunggu para model," Sahut Anggun seraya membawa aksesoris yang tadi Jenny berikan padanya.
Tak lama, acara pertunjukan akbar Fashion dari perancang ternama pun di mulai, riuh tepuk tangan dari para tamu undangan yang hadir pun ikut memeriahkan acara tersebut.
Jenny benar-benar tidak menyangka jika namanya akan sangat terkenal di Tanah Airnya. Terlihat dari banyaknya antusiasme para tamu undangan yang hadir yang begitu banyak memenuhi kursi yang sudah di sediakan pihak acara.
"Selamat sayang, aku benar-benar bangga padamu," Ucap Kenny seraya menyerahkan buket bunga mawar berukuran cukup besar.
"Terimakasih," Jawab Jenny seraya mencium aroma mawar yang terlihat nampak masih sangat segar.
"Apa kau menyukai bunganya?!" Tanya Kenny.
"Hm... aku sangat menyukai bunga mawar, Kenn! terlepas apa pun warnanya, aku sangat menyukainya," Tutur Jenny yang kembali menghirup buket bunga pemberian Kenny tersebut.
"Apa kau yakin hanya suka pada bunganya? lalu... bagaimana dengan orang yang memberikan bunganya? sepertinya jika kau cium aku seperti bunga itu juga tidak buruk, ya... anggap saja sebagai ucapan terimakasih," Gumam Kenny berharap.
Dan tanpa pria tampan itu kira, Jenny mendaratkan satu kecupannya tepat di pipi sebelah kirinya dengan kilat.
"Hei! itu sama sekali bukan ciuman, ayo ulang lagi!" Tegur Kenny pura-pura merajuk.
"Haist! kau memang perhitungan, Kenn!" Gerutu Jenny.
"Biarkan saja, ayo cepat! kau harus mencium ku dengan benar jika ingin berterimakasih!" Sahut Kenny seraya mendekatkan pipinya ke arah wajah Jenny.
Mau tak mau, Jenny akhirnya harus mendaratkan kembali ciumannya di pipi Kenny. Namun saat wajahnya sudah sangat dekat dengan pipi Kenny, Pria tampan itu membalik wajahnya secepat kilat, sehingga ciuman yang seharusnya Jenny darat kan di pipi Kenny pun harus mendarat tepat di bibir mantan suaminya itu. Bahkan tak tanggung-tanggung. Kenny segera melu*at bibir ranum Jenny yang selalu dia rindukan siang malam.
Jenny membulatkan matanya sempurna, dia benar-benar tak menyangka jika Kenny akan mencurangi nya seperti itu. Namun lembutnya pagutan yang Kenny ciptakan membuatnya melayang terbawa suasana. Membuat pertahanan Jenny mulai mengendur dan goyah. Perempuan cantik itu pun akhirnya ikut menikmati sesi bertukar saliva nya bersama sang mantan suami.
.
.
.
.
.
.
.
Pemanasan dulu guys pagi-pagi 😁😁✌🏻
Jangan lupa dukungannya selalu ya...
See you next episode... 😘😘😘