
Jenny hanya bisa menganggukkan kepalanya seraya menunduk sedih. Dia kembali teringat pada kedua orangtuanya yang sudah pergi sejak 15 Tahun yang lalu.
“Hei Jenn! jangan sedih seperti itu. Fan! sepertinya pertanyaan mu itu tidak tepat saat ini, lihatlah! Jenny berubah menjadi sedih sekarang!” Gerutu Kenny seraya beranjak dari duduknya menghampiri Jenny untuk menenangkan gadis cantik itu.
“Aku baik-baik saja Tuan, kau tidak perlu cemas, aku hanya teringat pada kedua orangtua ku saja saat ini!” Jenny mengusap air mata yang berhasil lolos di ujung pelupuk matanya.
“Emm… ngomong-ngomong kau tau dari mana kalau aku tinggal di sini? dan ada keperluan apa datang sepagi ini?” Cerca Jenny berturut-turut.
“Aku hanya ingin berbicara padamu Jenn, aku ingin meminta maaf karena semalam aku sudah meninggalkanmu,
kau tidak marah kan?” Erfan menatap intens ke arah Jenny seakan tak memperdulikan keberadaan Kenny yang sudah gelisah melihat pandangan kedua muda mudi itu yang saling bertatapan.
“Tidak masalah, lagi pula aku yang seharusnya meminta maaf padamu Fan, karena aku pergi begitu saja tadi malam, aku bahkan tidak sempat memberi kabar juga malam tadi, kau pasti sama khawatirnya kan dengan orang-orang di rumahku?” Seru Jenny yang malah asik berbincang dengan Erfan.
Karena merasa di acuhkan akhirnya Kenny memiliki ide, dia kembali berpura-pura sakit untuk mencari perhatian dari Jenny.
“Aww!! astaga, sepertinya kepalaku terasa pusing lagi!” Pekik Kenny berakting dengan piawainya.
“Astaga! Tuan, apa kau baik-baik saja?” Panik Jenny seraya menempelkan punggung tangannya di kening Kenny.
“Sepertinya aku mulai menggigil lagi Jenn, apa kau mau memelukku?” Pinta Kenny yang segera Jenny kabulkan dengan memeluknya tanpa berpikir lagi meski Erfan memperhatikannya.
Erfan yang melihat tingkah Kenny itu akhirnya bisa menyimpulkan dugaan. Ternyata Kenny merasa cemburu saat dia bisa selangkah lebih dekat dengan Jenny. Tapi kenapa Kenny bersikap seperti itu? apa dia sudah melupakan Renata? pikir Erfan.
“Kenn, apa kau benar-benar sakit? aku antar kau ke rumah sakit ya!” Seru Erfan menawarkan bantuan.
“Tidak-tidak, tidak perlu Fan! aku hanya butuh di peluk saja ko, emm… sepertinya pelukanmu sangat mujarab Jenn, aku langsung merasa jauh lebih baik setelah di peluk seperti ini olehmu!” Tutur Kenny dengan manjanya.
“Ya ampun jantungku berpacu cepat lagi!” Batin Jenny.
“Kau tidak sedang berpikir untuk menduakan Renata kan Kenn? apa kau sudah melupakannya sekarang?” Tanya Erfan.
“Renata? oh iya, aku hampir saja lupa!” Kenny melerai pelukannya dari tubuh ramping Jenny dan kembali duduk dengan benar.
“Lupa? lupa apa Kenn? apa kau benar-benar sudah lupa kalau seharusnya kau melamar Renata malam tadi!” Erfan sedikit tercengang kala Kenny mengucapkan kata lupa saat dirinya membahas Renata.
“Iya, aku memang lupa dengan lamaran itu, aku lupa kalau aku tidak seharusnya melakukan hal itu sejak awal, aku terlalu lupa diri dengan perasaan suka ku pada Renata hingga aku menutupi kenyataannya kalau kau juga lebih mencintainya Fan!” Tegas Kenny meluapkan perasaannya.
“Kenn, apa maksudmu? aku benar-benar tidak mengerti!” Erfan masih bingung dengan penjelasan Kenny, dia masih berusaha mencerna setiap perkataan Kenny yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri.
“Aku tau kau juga mencintai Renata Fan, bahkan di hari Renata mengungkapkan perasaannya padamu,” Lirih Kenny.
Erfan membulatkan matanya sempurna, dia begitu terkejut dan tidak tahu jika Kenny mengetahui hal itu sejak pertama kali Renata mengungkapkan perasaannya pada dirinya.
Jenny yang memperhatikan keduanya hanya bisa diam dan mencerna setiap obrolan yang mereka berdua ucapkan, sedikit banyaknya Jenny bisa menangkap kalau ternyata sebenarnya mereka hanya kurang berkomunikasi. Jika Jenny lihat lagi, Erfan dan Kenny itu memang sudah seperti kakak beradik yang sedang beradu pendapat. Tapi sebenarnya mereka saling menyayangi satu sama lain.
“Tuan-tuan, maaf aku menyela obrolan kalian! tapi menurutku kalian ini seharusnya saling bicara dari awal, bukannya saling menyembunyikan perasaan sayang kalian! sebaiknya sekarang kalian pikirkan perasaan Kak Renata, dia yang pasti akan lebih sedih jika tau semua kebenaran ini!” Tutur Jenny menjelaskan pendapatnya.
“Iya, kau benar Jenn! aku memang salah, seharusnya sejak awal aku berkata jujur pada kau Kenn, tapi aku terlalu pengecut untuk mengungkapkannya waktu itu, maafkan aku! aku benar-benar menyesal!” Erfan menundukkan kepalanya seraya mengusap bulir bening yang tak dapat dia tahan dari ujung matanya.
“Jika kau memang merasa menyesal maka tebus lah kesalahanmu itu Fan, kau harus membuatnya bahagia, karena bagaimana pun juga aku menyayangi kalian, aku ingin melihat kalian bahagia dan bersatu, karena kalian berdua sahabatku dan kalian juga saling mencintai,” Ucap Kenny tak kalah sendu.
“Apa kau sudah merelakan Renata padaku Kenn?” Kenny hanya menganggukkan kepalanya seraya memberikan senyuman terbaiknya.
Seketika kedua pria tampan itu saling berpelukan, melepaskan semua belenggu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Jenny yang sedari tadi menyaksikannya pun ikut terharu dan bahagia, akhirnya kedua pria tampan itu bisa menyelesaikan persoalan rumit diantara mereka.
“Aku turut berbahagia untuk kalian berdua Tuan-tuan, semoga kalian berdua selalu berbahagia sampai tua nanti!” Ucap Jenny memanjatkan doa untuk kedua pria tampan di hadapannya itu.
“Terimakasih ya Jenn! ini semua berkatmu juga, aku benar-benar bersyukur sudah di pertemukan denganmu, aku tidak akan tau semua kebenarannya jika kau tidak membawa Kenny pulang ke rumahmu ini!”
“Itu hanya kebetulan Fan!”.
“Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kau jemput kak Renata ya sekarang, aku ingin mengajaknya makan-makan juga, sepertinya aku harus menambah menunya lagi, aku akan pesan via online saja deh!” Gumam Jenny yang langsung di cegah oleh Kenny.
“Jangan! sebaiknya kita berempat makan-makan bersama di luar saja nanti, aku tidak ingin orang-orang rumahmu repot, benar kan Fan! kau juga masih harus kembali bertugas kan sekarang?” Sanggah Kenny seraya melirik ke arah Erfan.
“Hm… ya, aku rasa Kenny benar Jenn, aku juga harus bertugas kembali saat ini, mungkin nanti malam aku baru selesai!”.
“Ya sudah, kalau begitu nanti malam kita makan-makan berempat ya, kau yang traktir!” Tunjuk Jenny ke arah Erfan.
“Kenapa aku? bukannya Kenny lebih kaya, suruh dia saja yang traktir!” Goda Erfan.
Dia tau kalau Kenny paling tidak tahan jika ada seseorang yang menjatuhkan wibawanya.
“Hei! kau meremehkan aku ya Jenn! tenang saja, aku akan mentraktir kalian nanti malam sampai puas!” Ujar Kenny percaya diri.
“Yes! berhasil! Kenny pasti belum tau, kalau semua kartu kreditnya sudah di tangguhkan oleh Tante Bella, kali ini dia pasti tidak bisa bersikap angkuh seperti biasanya lagi,” Batin Erfan bersorak jahil.
“Hm… terserahlah, aku hanya tidak ingin kejadian malam tadi terulang saja!” Gumam Jenny yang langsung mendapat bekapan di mulutnya oleh Kenny.
“Hei! itu tidak benar Jenn, kau jangan bicara sembarang di depan Erfan! kalau dia tau semua kartu ku sudah di tangguhkan, aku bisa mati kutu!” Bisik Kenny seraya membekap mulut Jenny dengan sebelah tangannya.
See you next episode...