
Seketika Nenek Martha tak berani melawan kembali, tubuhnya tiba-tiba bergidik ngeri kala mendapati Gea yang sudah mendekatinya dengan bantal yang siap di tindih kan ke wajahnya.
“Dasar wanita laknat, wanita gila! aku pasti akan membeberkan kejahatannya secepatnya. Jenny! semoga kau bisa bertahan hingga Nenek pulih lagi, nak!” Batin Nenek Martha seraya membulatkan kedua matanya sempurna kala melihat tangan Gea yang siap menindih kan sebuah bantal sopa ke wajahnya.
Ceklek…
“Ge! apa yang kau lakukan?” Tegur Kenny tepat waktu.
Wanita licik itu akhirnya urung menindih kan bantal ke wajah Nenek Martha, dengan aktingnya yang sudah kawakan, Gea memberi alasan jika dia ingin menambah bantal di kepala Nenek Martha agar bisa lebih nyaman bersandar.
“Aku mau menambah bantal di kepala Nenek Kenn, sepertinya itu akan semakin membuatnya nyaman,” Tutur Gea.
“Oh… begitu ya. Apa kau butuh bantuan?” Sahut Kenny seraya menawarkan bantuan.
“Tidak Kenn, aku bisa melakukannya sendiri, ko!” Akhirnya Gea mengangkat kepala Nenek Martha perlahan dan menambahkan bantal yang sudah dia pegang sejak tadi di belakang kepala Nenek Martha.
“Kali ini kau selamat Nenek tua! tapi lain kali, aku tidak akan membiarkanmu lolos lagi dari maut mu!” Ancam Gea seraya berbisik tepat di telinga Nenek Martha.
“Dasar wanita jahat! Ya Tuhan, apa yang bisa aku lakukan sekarang.” Batin Nenek Martha menjerit.
Di luar Rumah Sakit, Mom Bella masih terlihat mengusap punggung menantunya dengan lembut. Wanita paruh baya itu sangat menyayangkan dengan sikap putranya yang terlalu berlebihan mengusir Jenny dengan kasar.
“Jenn, kau yang kuat ya sayang! Mommy akan selalu ada untuk mu, Nak! Mommy percaya kalau kau sedang mengandung cucu Mommy saat ini, Mommy percaya padamu sayang.” Tutur Mom Bella seraya mengecup kepala Jenny yang kini terduduk lemas di salah satu bangku taman di sekitar Rumah Sakit.
“Terimakasih Mom, Jenny akan melakukan tes DNA secepatnya untuk membuktikan pada Kenny jika bayi ini adalah bayi kita,” Sahut Jenny yang masih terisak pilu.
Lain halnya dengan Papah Oscar, Pria yang tak lagi muda itu memilih pergi entah kemana. Papah Oscar memiliki caranya sendiri untuk mengurai kekusutan yang sedang terjadi saat ini.
“Aku harus bisa membuktikan jika Jenny benar-benar tidak bersalah.” Ucapnya penuh keyakinan seraya menghubungi seseorang melalui ponselnya.
*****
“Sayang, sudahlah! jangan menangis lagi, kita masih bisa mencobanya lagi nanti, aku akan berusaha lebih keras lagi nanti malam, ok!” Hibur Erfan.
“Tapi Fan, kita sudah melakukan program halim ini sebanyak 3 kali, aku sudah lelah… apa sebaiknya kau menikah lagi sa…” Belum selesai Renata berucap, Erfan sudah lebih dulu meraup bi*** ranum istri tercintanya itu.
“Jangan ucapkan sesuatu yang tidak ingin aku dengar Re, aku akan tetap bersama mu meski kita ditakdirkan tidak akan memiliki buah hati.” Tegas Erfan.
“Tapi aku merasa tidak sempurna untuk mu, Fan! aku tidak bisa memberimu keturunan dan kebahagiaan yang sempurna,” Lirih Renata.
“Kau begitu sempurna sayang, sudahlah! lagi pula kita menikah beru beberapa bulan, jadi sangat wajar jika kau belum kunjung hamil sayang, sebaiknya kita sekarang pulang ke tanah air saja ya! aku sudah rindu masakan Mommy di rumah!” Seru Erfan membujuk.
“Ha… aku ikut kau saja Fan!” Sahut Renata seraya menghela kasar nafasnya.
Kedua sejoli itu akhirnya memutuskan pulang ke tanah air setelah beberapa bulan menyambangi Negara tetangga untuk melakukan pengobatan pada keduanya agar lekas memiliki momongan.
*****
Setelah meninggalkan ruangan Nenek Martha, Kenny dan Gea akhirnya pergi entah kemana. kedua anak adam tersebut memilih pergi bersama dengan alasan bisnis yang sedang mereka jalankan saat ini, namun nyatanya mereka malah merencanakan liburan di saat prahara rumah tangga Kenny yang sedang di guncang kehancuran.
“Kenn, bagaimana kalau kita ke XXXXX saja, sepertinya Negara itu sangat cocok untuk menenangkan diri, kita juga bisa lebih tenang membahas bisnis nantinya!” Seru Gea yang saat ini sedang berada di dalam mobil yang Kenny kendarai.
“Aku terserah kau saja Ge, sepertinya kau lebih tau apa yang aku butuhkan saat ini, terimakasih ya!” Ucap Kenny seraya tersenyum manis.
“Tidak perlu Ge, aku hanya butuh menenangkan diri saja.” Tolak Kenny sambil tetap fokus mengemudi.
“Huh! dasar sok jual mahal! lihat saja nanti! aku akan membuat kau membutuhkan sentuhan ku lagi setelah tiba di XXXXX.” Batin Gea dengan pikiran liciknya.
Beberapa hari ini, Kenny selalu bepergian sendiri tanpa di damping Tian, asisten andalannya. Kebetulan Tian saat ini masih mengurus kerja sama perusahaan majikannya itu dengan investor yang beberapa hari lalu Kenny temui untuk menyepakati kerja sama dengan perusahaan mereka. Namun karena foto yang di kirim Gea malam itu, Kenny harus pulang sebelum pekerjaannya itu tuntas, alhasil Tian yang harus membereskan sisa pekerjaannya itu.
“Ha... sepertinya aku harus meminta cuti setelah pekerjaan ini selesai, apa lagi aku sudah sangat merindukan wanita ku di Tanah Air,” Gumam Tian seraya mengemasi berkas-berkas yang baru saja dia susun dan memasukkan nya ke dalam tas kerjanya.
Dua hari selanjutnya, Nenek Martha sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Meski kondisi beberapa bagian tubuhnya belum berfungsi seperti semula, namun kesehatannya semakin membaik.
“Pah! Mommy kepikiran sama Jenny, dia sedang apa ya sekarang? sudah dua hari ini dia tidak ada kabar, Mommy jadi khawatir dengan keadaannya, Pah!” Ucap Mom Bella yang kini tengah berada di kamarnya bersama sang suami.
“Dia gadis yang kuat Mom, Papah percaya kalau Jenny pasti akan baik-baik saja saat ini, sebaiknya Mommy istirahat ya! ini sudah sangat malam, Papah gak mau kalau kesehatan Mommy memburuk lagi,” Saran Papah Oscar seraya mengecup kening istrinya sebelum mereka terlelap.
Di Apartemen Jo, Jenny terlihat sedang panik seraya mengguncang-guncang tubuh Ibu Erika yang tiba-tiba saja tak sadarkan diri.
“Bu! Ibu! bangun Bu!!” Jerit Jenny.
“Jenn, ada apa dengan Ibu mu?” Tanya Oma Dona menghampiri.
“Oma, Ibu tiba-tiba saja tak sadarkan diri, sepertinya Ibu pingsan, Oma!” Tutur Jenny seraya terisak.
“Astaga! kalau begitu sebaiknya kita bawa dia ke Rumah Sakit saja ya! Oma juga takut dia kenapa-napa Jenn!”.
“Oma akan menelepon supir dulu untuk membawanya ke Rumah Sakit!” Oma Dona segera menghubungi supirnya dan membantu Jenny untuk menopang tubuh Ibu Erika.
Setelah tiba di Rumah Sakit, Ibu Erika segera di larikan ke ruangan tindakan untuk mendapatkan penanganan, Jenny masih terlihat syok dan cemas, gadis itu terus menangis di pelukan sang Oma yang kini menemaninya.
“Sayang, sudah lah! kau harus tenang, Erika pasti akan baik-baik saja! kau jangan terlalu bersedih, itu akan mempengaruhi bayi yang ada di dalam kandungan mu!” Ucap Oma Dona seraya mengelus lembut punggung Jenny yang masih terguncang akibat tangisan nya.
.
.
.
.
.
.
.
Hai... hai... hai.. guys...
Mom mau kasih rekomendasi novel bagus nih, karyanya kak Linda sagita... jangan lupa mampir dan kasih dukungannya juga ya, di jamin seru deh cerita-cerita novelnya.... see you next episode 😘😘😘