
Jenny bingung sendiri saat ingin mengakui statusnya dengan Kenny, dia benar-benar sangat ingin tau keadaan Kenny di dalam ruangan tindakan tersebut, namun begitu Suster menutup rapat pintu ruangan tersebut, Jenny hanya bisa pasrah dan mencoba tenang.
...****************...
"Suster segera bersihkan terlebih dahulu sisa darahnya!" Titah Dokter yang menangani Kenny.
"Baik, Dok!" Jawab Suster seraya mendekatkan peralatannya untuk membersihkan darah yang memenuhi punggung Kenny.
Namun baru saja sang Suster hendak mencoba menggunting pakaian Kenny, dia di buat terkejut karena Kenny langsung terduduk dengan gagahnya. Pria bertubuh atletis itu benar-benar menampakkan dirinya yang sehat bugar tanpa cacat sedikit pun.
"Tu...Tuan kenapa A... Anda??" Tanya Suster terkejut.
"Sutttt!!! jangan berisik Sus, Dok! kalian kemari lah!" Seru Kenny dengan suara yang sangat pelan.
Mungkin maksud hatinya agar tidak terdengar oleh Jenny di luar, padahal ruangan tindakan itu terbilang cukup dalam letaknya dari mulut pintu pertama yang mencegah Jenny masuk tadi, sehingga tidak mungkin terdengar jika Kenny berbicara normal sekali pun.
"Ada apa Tuan? apa kau sedang mengerjai kami?!" Tanya tegas sang Dokter.
"Aku tidak mengerjai kalian, aku sedang mengerjai penjahat dan mantan istriku! apa kalian mau bekerja sama denganku?" Tutur Kenny.
"Jadi yang di depan tadi itu mantan istri anda? apa dia penjahatnya?" Tanya Dokter laki-laki yang sedari tadi hendak memberi pertolongan medis pada Kenny.
"Bukan!! dia sama sekali bukan penjahat, dia itu calon istriku, aku sedang berencana rujuk kembali dengannya. Aku sudah menyatakan cinta kembali padanya beberapa kali, tapi dia masih tak mau menjawab dengan jujur perasaannya padaku, jadi aku ingin mengujinya dengan berpura-pura terluka parah, jadi! apa kalian mau bekerja sama?! aku akan memberi imbalan yang besar jika akting kalian bagus," Tutur Kenny panjang kali lebar.
"Wah... anda licik juga Tuan, tapi apa yang harus kami lakukan jika kami ingin bekerja sama?!" Sahut Dokter Morgan yang tak lain Dokter yang sedang berbincang dengan Kenny tersebut.
"Mudah saja! kalian hanya tinggal berpura-pura memberitahu keadaanku kepadanya, katakan saja jika aku koma atau kekurangan darah apa lah, kalian pasti ahli kan jika di bidang menjelaskan hal seperti itu, jika Jenny percaya dengan ucapan kalian, maka setelah aku kembali rujuk dengan istriku lagi aku akan memberi kalian bonus yang besar, aku juga akan menambah investasi ku di Rumah Sakit ini juga jika perlu!" Tutur Kenny mantap.
"Wah... ini sih kesempatan emas namanya, tapi kali di lindungi hukum kan?! jika sewaktu-waktu Nina di depan itu menuntut bagaimana?!" Tanya Dokter Morgan.
"Itu tidak akan. terjadi jika kalian berakting dengan baik, sisanya biar aku yang mengurusnya nanti, kalian lakukan saja sesuai yang aku perintahkan tadi!" Seru Kenny.
"Baiklah Tuan, akan kami lakukan semua yang anda perintahkan, mari! sebaiknya sekarang anda melepas pakaian dulu saja, agar aktingnya tambah meyakinkan, suster akan membantu anda untuk membelikan sedikit perban di bagian punggung anda Tuan, tidak apa-apa, kan?" Tanya Dokter Morgan antusias.
"Lakukan lah! aku harap aktif kalian tak mengecewakan!" Ucap Kenny seraya membuka pakaian bagian atasnya.
Suster yang sejak tadi hanya menyimak percakapan antar Dokter dan pasiennya itu pun begitu terpesona saat melihat tubuh atletis Kenny yang begitu menggoda. Beberapa kali, Suster yang memiliki nama Rebecca itu pun menelan saliva nya dengan susah payah karena menahan kekagumannya pada tubuh Kenny yang sedang dia pasangkan kain perban.
"Ya Tuhan, anda benar-benar hebat Tuan, sepertinya anda sangat berpengalaman dalam bidang akting, apa anda seorang aktor?!" Tanya Dokter Morgan saat melihat beberapa plastik darah buatan yang masih menempel di pakaian Kenny bagian punggungnya.
"Kau terlalu memuji Dokter, aku hanya mengembangkan bakat terpendam ku saja," Sahut Kenny yang membuat Dokter Morgan sedikit merasa mual atas ke narsis an, Kenny.
"O...oh, pantas saja persiapannya begitu matang Tuan," Ucap Dokter Morgan.
"Ya begitulah, tapi sebenarnya aku lakukan ini bukan hanya untuk mengelabui calon istriku saja, tapi aku benar-benar sedang menjebak seorang penjahat juga tadi, kau lihat sendiri kan jika peluru yang bersarang di rompi anti peluru itu asli, itu semua adalah hasil kerja penjahat tadi, aku harap anak buah ku saat ini sudah berhasil menggiringnya ke Kantor Polisi." Tutur Kenny.
"Astaga! siapa yang berani melakukan hal ini semua pada Anda, Tuan? maaf jika saya banyak bertanya," Tanya Dokter Morgan sedikit sungkan.
"Dia orang di masa lalu mantan istri keduaku, sudahlah! sepertinya tidak penting membahas orang-orang jahat itu!" Ucap Kenny.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menyiapkan peralatan medis lainnya saja sekarang, agar nanti setelah perbannya selesai di pasang, Tuan tinggal beralih ke tempat tidur pasien yang sudah terpasang alat medis yang saya atur!" Seru Dokter Morgan bertindak cepat.
Kenny hanya menganggukkan kepalanya, dia benar-benar tak sabar ingin melihat reaksi Jenny jika tau dirinya dalam keadaan kritis.
Sementara itu, di lain tempat. Ternyata para anak buah Tian telah berhasil meringkus Mark yang tak dapat berkutik lagi setelah salah satu kakinya terkena timah panas dari salah satu anak buah Tian yang membawa senjata api.
"Tuan, kami berhasil meringkus penjahatnya!" Ucap Reno yang telah berhasil menembak kaki Mark.
"Bagus! kalian bawa langsung saja ke Kantor Polisi, aku sudah menghubungi Tuan Erfan juga untuk memberikan keterangannya, jadi kalian tinggal jebloskan saja penjahatnya!" Titah Tian dengan senyum penuh kemenangan.
Tian merapihkan sejenak pakaiannya, dia benar-benar tak menyangka jika sang atasan memiliki rencana yang begitu matang untuk penangkapan Mark. Sehingga dalam sekejap saja, pria bertubuh tambun itu berhasil di bekuk oleh para anak buahnya.
"Ha... sekarang giliran melihat kembali akting Tuan Kenn, sepertinya aku harus banyak belajar juga darinya tentang merayu wanita," Gumam Tian seraya melangkah ke arah ruangan tindakan.
...****************...
Kring.....kring....
"Halo?" Sapa Jenny setelah menggeser gambar hijau di layar pipih nya.
"Nona, kau dimana sekarang? bagaimana keadaan Tuan Kenny?! apa dia selamat?" Cecar Anggun di sebrang telepon.
"Dia masih di dalam ruangan tindakan, Gun! aku benar-benar takut dia tidak tertolong, aku tidak sanggup kehilangannya lagi, Gun!" Isak Jenny yang sejak tadi sudah tak bisa membendung air matanya.
"Tenang lah Nona! aku akan segera ke Rumah Sakit sekarang, beruntung acaranya sudah selesai tadi, jadi aku tidak terlalu kesulitan untuk mengakhiri acaranya, kau yang sabar, ya! aku akan menyusul ke sana sekarang juga, kau kirimkan saja alamat Rumah Sakitnya, ok!" Tutur Anggun panjang lebar.
"Hm... aku tunggu kau, Gun!".
Klik. Sambungan telepon pun terputus.
Jenny segera mengirimkan alamat Rumah Sakit pada Anggun, setelahnya dia kembali menunggu Kenny yang masih di tangani di dalam ruangan tindakan. Berkali-kali perempuan cantik itu berjalan mondar mandir tanpa lelah. Jenny benar-benar cemas, hingga akhirnya Anggun menghampirinya bersama Jo dan juga Ken kecil.
"Mommy...." Teriak Ken kecil menyeru sang Mommy.
"Sayang, kenapa kau ikut, nak?" Sahut Jenny seraya membawa sang putra ke dalam pelukannya.
"Ken ingin bertemu Daddy, Mom! Ken rindu pada Daddy, kenapa Mommy menangis sendirian di sini? kemana Daddy?!" Tutur Ken kecil bertanya.
"Daddy..." Lirih Jenny tercekat.
Dia masih sangat merasa sedih saat mengingat keadaan Kenny saat di larikan ke Rumah Sakit tadi.
"Daddy sedang di periksa Ken, nanti kau juga akan bertemu lagi dengannya jika Dokter sudah selesai memeriksanya, sebaiknya Ken ikut Om ke kantin saja, yuk! kita beli ice cream vanilla kesukaan mu, bagaimana?" Seru Jo membantu menjawab seraya membujuk Ken kecil agar tak terlalu mengingatkan Jenny pada kejadian tadi yang menimpa mantan suaminya.
"Ok! aku juga ingin membelikan satu untuk Mommy, Om! biasanya jika Mommy sedang sedih, Mommy selalu makan makanan yang berasa coklat, karena kita mau membeli ice cream, jadi Ken ingin membelikan satu coklat ice cream juga untuk Mommy," Oceh Ken kecil dengan kepolosannya.
"Kau putra terbaik ku sayang, pergilah beli ice cream yang kau mau, jangan nakal-nakal, ya!" Saran Jenny sebelum Jo dan Ken kecil benar-benar pergi ke arah kantin.
.
.
.
.
.
.
.
Mom udah tambahin ya babnya... jadi jangan lupa terus dukung Mommy dengan like, komen, gift, vote serta rate dari kalian ya guys... seeee buanyak-buanyaknya 😁😁👍🏻👍🏻 terimakasih...
See you next episode 😘😘😘