Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 159 # Aku Ayah biologisnya.



"Selamat tidur sayang-sayang ku," Ucap Kenny seraya ikut terlelap dengan satu tangannya yang terus mencoba memeluk sebelah bahu Jenny di hadapannya yang terhalang sang putra.


Pagi harinya, Jo yang mengkhawatirkan Jenny dan Ken kecil pun akhirnya memutuskan untuk mencarinya kembali setelah semalaman tak dapat menemukan keberadaan kedua orang yang beberapa tahun ini tinggal bersamanya di Negara M.


"Semoga kalian baik-baik saja Jenn, aku benar-benar khawatir pada kalian," Gumam Jo seraya memandangi foto dirinya bersama Jenny dan juga Ken saat bermain di sebuah taman hiburan di Negara M.


Ceklek...


"Jo..." Seru sang Ibu menghampiri.


"Apa kau masih mengkhawatirkan Jenny dan Ken?! Ibu tau kau pasti sangat gelisah saat tau jika mereka tidak pulang semalam, tapi sebenarnya semalam ada yang menghubungi Ibu, dia bilang jika Jenny menginap di Apartemen Anggun, jadi Ibu tidak terlalu khawatir lagi," Tutur Ibu Erika.


"Apartemen Anggun? kenapa Ibu tidak bilang dari semalam?" Sahut Jo bertanya.


"Bagaimana Ibu bisa memberitahumu jika kau sendiri baru pulang dini hari. Lagi pula semalam Ibu terlalu mengantuk setelah memakan obat," Papar Ibu Erika.


"Ha... ya sudah, kalau begitu biar Jo jemput mereka saja ya sekarang!" Ucap Jo seraya beranjak dari duduknya dan meraih kunci mobil yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya.


"Hati-hatilah nak," Seru Ibu Erika seraya mengusap sebelah bahu Ko sebelum pria tampan itu berlalu pergi.


Sementara di Apartemennya, Kenny dan Ken kecil terlihat masih asik terlelap dalam tidurnya. Jenny yang sudah bangun sejak subuh menatap keduanya secara bergantian.


"Kenapa aku baru menyadarinya kalau wajah mereka begitu mirip?!" Gumam Jenny seraya mengusap samping wajah sang putra dengan lembut.


"Emm... selamat pagi sayang, apa tidurmu nyenyak?" Seru Kenny seraya beranjak duduk.


"Aku harus pulang Kenn, aku harus berganti pakaian dan memandikan Ken," Sahut Jenny tanpa menjawab pertanyaan Kenny sebelumnya.


"Aku akan mengantarmu sayang, tapi putra kita belum bangun, jika kau tak keberatan biarkanlah dia tinggal di sini sedikit lama lagi, aku juga ingin membawanya ke mansion lagi jika kau izinkan, Mommy dan Papah bilang mereka juga merindukan cucunya," Tutur Kenny.


"Tapi sejak kecil dia tidak terbiasa berjauhan dengan ku Kenn, aku. tidak yakin jika dia bisa bertahan lama dengan orang lain," Ucap Jenny lirih.


"Sayang, aku dan kedua orangtuaku bukan orang lain bagi Ken, kita adalah keluarganya, aku Ayahnya... jadi tidak mungkin Ken merasa seperti yang kau ucapkan, buktinya setelah pertemuan kami, Ken tidak terlihat risih dan tak nyaman bukan?" Tutur Kenny.


"Tapi aku juga tak terbiasa berjauhan dengannya Kenn, dia putraku yang aku lahir kan susah payah, aku tidak mau kehilangannya!" Ucap Jenny seraya meloloskan bulir air mata dari ujung mata indahnya.


"Ma...maafkan aku sayang, aku tahu aku salah! aku tidak bisa menemani mu berjuang melahirkan putra kita, aku benar-benar pria tak bertanggung jawab," Tutur Kenny seraya tertunduk dan ikut terisak.


"Sudahlah Kenn, sebaiknya lain kali saja kau membawa Ken ke mansion Mommy, aku ingin pulang sekarang, aku akan menggendongnya jika dia masih mengantuk," Sahut Jenny yang tak ingin terlarut kembali pada rasa sakit yang pernah dia rasakan di masa lalu.


"Kalau begitu tunggulah sebentar! aku akan mencuci muka dulu dan mengantarmu pulang!" Seru Kenny bergegas beranjak ke kamar mandi.


"Kenapa kau bersikap seperti ini sekarang Kenn, aku semakin gelisah dengan perasaan ku sendiri, aku tidak mau terlibat lagi dalam permainan cintamu!" Gumam Jenny yang kembali terisak sepeninggalan Kenny ke dalam kamar mandi.


Tak butuh lama, pria tampan bertubuh atletis itu segera meraih kunci mobilnya dan menghampiri sang putra yang terlihat masih terlelap.


"Kenn, aku harap setelah hari ini kau jangan menemui kami lagi, hubungan di antara kita saat ini tidak lebih dari rekan bisnis saja," Ucap Jenny saat mereka sudah berada di dalam mobil yang Kenny kemudikan.


Tiba-tiba Kenny menepikan mobilnya dan berhenti sejenak. Pria itu tak habis pikir jika Jenny akan berkata demikian. Padahal dirinya sangat berharap jika Jenny mau kembali lagi dengannya bersama sang putra.


"Jenn, aku mohon jangan berbicara seperti itu, bagaimana pun juga aku ayah biologis Kenji sayang, kau tidak mungkin bisa memisahkan kami, apa kau akan tega melihat putra kita bersedih lagi karena tak bisa bersatu dengan kita?" Tutur Kenny.


Jenny tidak bergeming, hatinya bimbang. Jenny terus menundukkan kepalanya seraya terisak. Dadanya masih terasa sesak jika mengingat perpisahannya dulu dengan kenny.


"Sayang, beri aku kesempatan lagi ya, kali ini aku benar-benar tidak akan membuatmu terluka lagi, aku hanya ingi menghabiskan sisa hidup ku bersama kalian," Ucap Kenny.


"Mom... apa kita sudah mau pulang?" Gumam Ken kecil yang beru terbangun.


"Tapi Daddy juga ikut kita pulang kan?! aku ingin bermain lagi bersama Daddy," Tutur Ken kecil seraya beranjak dari pangkuan sang Mommy dan mendaratkan bokongnya di atas pangkuan Kenny yang terduduk di depan kemudi mobil.


"Hati-hati sayang! kau bisa mengganggu Daddy mu mengemudi jika duduk di sana!" Seru Jenny.


"Tidak apa-apa sayang, biarkan saja. Aku rasa kau tidak bisa menolak keinginanku lagi Jenn! kau lihat sendiri kan betapa lengketnya kami berdua?!" Sahut Kenny merasa memenangkan permainan.


"Ha... kau selalu licik Kenn, kau selalu memanfaatkan keadaan!" Ketus Jenny seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Sementara itu di sebuah Apartemen yang begitu rapi dan wangi. Terlihat seorang perempuan cantik tengah membuat sarapannya dengan suka cita. Di telinganya terlihat sepasang earphone yang terpasang kokoh dengan lantunan musik yang dia pilih sebagai penyemangat nya pagi itu.


"La...la...la... du...du...du..." Senandung sang perempuan.


Teng tong... teng tong...


"Kenapa tidak ada yang menyahut sama sekali?!" Gumam sang penekan bel.


Ceklek...


"Eh, ternyata pintunya tidak tertutup dengan benar! bisa-bisanya dia ceroboh seperti ini, bagaimana kalau ada maling yang masuk nanti?!" Gerutu Jo m, pria yang tak lain sang penekan bel tadi.


Diedarkannya pandangannya ke segala sudut ruangan, sepertinya di sana tidak banyak yang tinggal. Apartemen yang terlihat rapih dan wangi itu tampak sepi bak tak berpenghuni, hanya ada suara bising dari benturan alat masak dari arah dapur.


"Apa mereka sedang memasak?" Gumam Jo seraya menghampiri area dapur.


Tap...tap...tap...


"Syalalala.... wow....wow..." Jerit Anggun yang ternyata masih menikmati alunan musik yang dia dengar melalui earphone nya.


"Astaga! kemana perempuan ini bisa bersuara jelek sekali?!" Gerutu Jo seraya menghampiri Anggun yang asik mengaduk-aduk masakannya di atas wajan yang dia gunakan.


Perlahan namun pasti Jo terus mendekati Anggun, pria itu berniat menyentuh pundak anggun untuk memberitahu keberadaannya.


Pluk...


"Hah! siapa yang menyentuh bahuku? apa jangan-jangan di apartemen ini ada hantunya ya?!" Batin Anggun seraya diam tak berkutik.


.


.


.


.


.


.


.


Hari Senin lagi nih, jangan lupa vote nya ya...


See you next episode guys... 😘😘😘