
“Aku mencintaimu sayang, cepatlah sembuh!” Gumam Kenny yang masih memeluk Jenny. Hingga akhirnya Kenny ikut naik ke atas tempat tidur kekasihnya yang memang masih sedikit cukup luas untuk di tiduri satu orang lagi.
“Kenn, kau tidak akan nyaman jika tidur bersama denganku di sini!” Tutur Jenny yang merasa khawatir jika Kenny tetap memaksakan tidur bersamanya.
“Sudahlah, kau jangan khawatir, aku hanya ingin tidur sambil memeluk mu malam ini sayang, ayo kita tidur!” Sahut Kenny yang menjadikan sebelah tangannya bantalan untuk kepala Jenny dan mendekapnya dengan hangat.
“Kenn, aku mencintaimu!” Gumam Jenny dalam hati seraya memejamkan kedua matanya dan mulai terlelap ke alam mimpinya.
Pagi kian menyapa, saat ini Jenny sedang membersihkan diri setelah seorang suster membantunya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sedang Kenny memilih melihat beberapa email masuk melalui ponselnya yang selama seharian kemarin belum dia periksa sedikit pun.
“Haist!! kenapa Tian memberiku banyak sekali pekerjaan sih!” Gerutu Kenny saat melihat deretan email yang masuk di ponsel pintarnya.
“Kenn, apa kau sibuk? jika memang benar, sebaiknya kau masuk kerja saja, aku sudah membaik ko, lagi pula di sini juga ada suster yang bisa membantu ku jika aku membutuhkan sesuatu!” Seru Jenny setelah keluar dari kamar mandi yang di dampingi seorang suster yang menuntunnya.
“Tidak sayang, aku tidak akan meninggalkan mu sampai kau sembuh, pekerjaan ini masih bisa aku tangani ko, kau tenang saja,”.
“Oh iya, apa kau menginginkan sesuatu sekarang? kau kan belum makan apa-apa ya Budari sore kemarin,” Tanya Kenny seraya menghampiri Jenny untuk membantunya kembali berbaring di tempat tidurnya.
“Aku kan di infus Kenn, jadi kau tidak perlu khawatir, lagi pula sebenar lagi pihak rumah sakit juga mengantarkan sarapan untuk ku ko, kalau mau kau beli lah untuk sarapan mu sendiri, kau juga tidak boleh membiarkan perutmu kosong! bisa-bisa kau ikutan sakit lagi nanti,” Tutur Jenny panjang lebar.
“Baiklah ratu ku, kalau begitu aku telepon Tian dulu sebentar ya!” Seru Kenny seraya beranjak untuk menghubungkan panggilan telepon pada Asisten andalannya itu.
“Nona, kau begitu beruntung memiliki pasangan setampan dan sebaik Tuan Kenny, kau begitu membuat iri banyak gadis yang selama ini mengidolakannya!”
“Hm… iya Sus, aku begitu bersyukur bisa menjadi kekasihnya,” Sahut Jenny.
Tak berapa lama kemudian Kenny kembali ke dalam ruangan rawat kekasihnya, dia memilih untuk membersihkan diri sebelum Tian membawakannya sarapan yang dia pesan sebelumnya. Jenny sendiri akhirnya memilih memeriksa ponselnya yang sejak kemarin belum dia sentuh sama sekali, dia memeriksa chat yang masuk dan beberapa panggilan dari beberapa rekannya yang menanyakan keadaannya.
“Ha! jadwal dekor di Negara A kenapa jadi hari ini berangkatnya? bukannya Tuan Jo bilang masih bisa di persiapkan dari besok ya?” Gumam Jenny setelah membaca salah satu chat dari rekan kerjanya yang memberitahu jadwal keberangkatan Jenny ke Negara A sesuai keinginan koleganya.
“Ha…sepertinya aku harus telepon Tuan Jo sekarang!” Dengan cekatan Jenny mencari kontak Jonathan untuk menghubunginya dan menanyakan perihal jadwal yang berubah mendadak tersebut.
Tut…tut… bunyi sambungan telepon yang belum terhubung.
“Duh… Tuan Jo kenapa tidak menjawab telepon ku sih?” Gerutu Jenny yang mulai gelisah.
“Sayang! kau sedang menelepon siapa?” Tegur Kenny yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Ke…Kenn!! kenapa kau tidak memakai baju di dalam saja sih? kau sengaja ya ingin memperlihatkan tubuhmu itu pada suster-suster di sini?” Gugup Jenny seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya setelah melihat tubuh atletis Kenny yang hanya di tutupi handuk sebatas pinggang hingga lututnya saja.
“Untuk apa aku memperlihatkannya pada mereka! baju ku tadi jatuh ke lantai dan basah, jadi aku tidak bisa memakainya lagi, lagi pula aku kan tidak membawa pakaian ganti sayang,” Tutur Kenny menjelaskan.
“Haist! cepat pakai baju pasien saja sana, kalau tidak salah di lemari bawah sana ada satu set lagi baju pasien yang di sediakan rumah sakit ini,” Seru Jenny seraya menunjukkan telunjuknya ke arah lemari tempat penyimpanan baju pasien.
“Tapi itu pasti baju untuk kau ganti sayang, aku akan menunggu Tian saja, dia sudah aku pinta untuk membawa baju ku juga ko,” Sahut Kenny seraya menghampiri Jenny dan mengelus kepalanya untuk mengecek suhu tubuh kekasihnya.
“Kenn, kau mau apa? kau tidak akan macam-macam kan?” Tuduh Jenny seraya menyilang kan kedua tangannya di depan dada.
“Aku hanya ingin mengecek suhu tubuhmu sayang! kau terlalu berpikiran negatif terhadapku. Atau jangan-jangan kau memang mengharapkan aku untuk bermacam-macam pada mu ya?” Ucap Kenny sambil menunjukkan seringai jahil di bi***nya.
“Ish! kau ini, tapi tidak begitu dekat seperti ini juga kan?” Sanggah Jenny gugup karena posisi mereka yang terlihat begitu intim.
“Bukan begitu Kenn! hanya saja kalau ada orang yang melihat adegan kita barusan mereka pasti akan menyangka kalau kita berbuat hal yang tidak senonoh di dalam Rumah Sakit,” Ucap Jenny menjelaskan.
“Hm… aku pikir kau tidak suka aku perhatian padamu,” Rajuk Kenny memasang wajah kecewa.
“Sayang, apa kau mulai ragu padaku?” Bujuk Jenny dengan nada menggodanya.
“Haist! siapa juga yang ragu padamu sayang, apa lagi kalau kau bersikap manja seperti ini, aku benar-benar gemas jadinya,” Seru Kenny sambil mencubit gemas hidung Jenny.
“Aww!! sakit Kenn, nanti bisa berdarah kalau terlalu kencang!” Tutur Jenny yang tak sengaja di dengar sang Kakak yang hendak masuk ke dalam ruangan rawat inap Jenny.
“Dasar bajingan! kau apa kan adik ku, hah?!” Tegur Aldo yang tiba-tiba masuk menyerobot pintu dan langsung melayangkan tinjunya di wajah Kenny.
Bughhhh....
“Aaah!” Pekik Kenny seraya terhuyung karena tak siap menerima serangan Aldo.
“Kakak! apa yang Kakak lakukan? Kenny pasti kesakitan itu!” Seru Jenny terkejut sekaligus khawatir.
“Jenn, dia sudah membuatmu sakit kan barusan, jadi itu balasannya karena dia sudah membuatmu kesakitan!” Ujar Aldo menggebu-gebu.
Jenny hanya bisa menghela kasar nafasnya seraya menggeleng-gelengkan kepala, dia tidak habis pikir jika Aldo akan memukul Kenny karena salah paham.
“Astaga! Kak! Kenny barusan hanya sedang bergurau dengan Jenny, dia tidak menyakiti Jenny sama sekali ko! tadi itu hanya salam paham saja, sebaiknya Kakak minta maaf padanya sekarang!”.
“Tapi tadi kau berteriak kesakitan kan Jenn, aku tidak mungkin salah mendengar, apa lagi tadi kau juga bilang bisa berdarah, Kakak kan jadi panik!” Sangkal Aldo.
Karena sudah merasa lebih baik akhirnya Kenny menyela percakapan kedua Kakak beradik tersebut, dia tidak ingin restu Aldo kembali di cabut olehnya jika dia ikut menyalahkan Kakak dari kekasihnya itu.
“Sudahlah sayang! Kak Aldo tidak salah ko, dia begitu juga pasti karena sangat khawatir padamu, ini tidak apa-apa ko, aku akan mencuci lukanya di kamar mandi, kalian jangan bertengkar lagi ya!” Sanggah Kenny seraya melenggang ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan buat Mom supaya lebih semangat lagi upnya ya guys. Favorit, like, komen, gift dan vote nya boleh banget loh. Mom tunggu ya...
See you next episode guys...😘😘😘