Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 8 # Terciduk



“Bagus, itu sangat cocok dengan warna kulit putih mu Re,” Ucap Kenny sekenanya.


“Haistt!! Ini tikar Kenn, bukan bahan untuk menjahit baju,” Renata memutar bola matanya jengah.


“Aku pikir itu kain untuk membuat baju, sorry!” Kekeh Kenny seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Sudahlah! Kak! aku mau yang ini ya,” Renata menyerahkan tikar pilihannya dan segera menghampiri kasir untuk membayar belanjaannya.


Tak butuh waktu lama bagi Renata dan Kenny untuk menuju tempat tujuan mereka siang ini, tepat pukul 12.00 mereka sudah sampai di sebuah Danau dengan pemandangan yang begitu asri dan sejuk.


“Ha… akhirnya sampai juga, Kenn aku akan membereskan tikar nya, kau bawa makanan dan minuman yang kita beli tadi ya,” Renata segera menggelar kemah sederhananya dengan menghadap tepi Danau.


Ditempat yang sama ternyata Erfan juga baru saja selesai menyiapkan perkemahan sederhananya untuk menyambut sang gadis yang akan segera dia jemput untuk makan siang bersama.


“Stiv! kau jaga di sini sebentar ya, aku akan segera kembali dengan gadis istimewaku!” Erfan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menjaga hasil kerja kerasnya menata perkemahan sederhana nan romantis itu.


“Siap Tuan, saya akan pastikan semuanya aman selama Tuan menjemput Nona,” Anak buah Erfan yang bernama Stiv itu memberi hormat seraya menegakkan tubuhnya pertanda dia siap menjalankan tugas dari atasannya.


“Bagus! kalau begitu aku pergi dulu,” Erfan bergegas menuju mobilnya dan segera menjemput Jenny di tempat kerjanya.


Jenny yang baru saja selesai memeriksa semua pekerjaannya, memilih pergi ke toilet sebelum seseorang menjemputnya untuk makan siang.


“Semoga keputusanku kali ini tidak salah, sepertinya Erfan juga pria yang baik,” Gumam Jenny di depan cermin toilet.


10 menit kemudian Erfan tiba di halaman parkir hotel, dia segera menghampiri lobby dan menghubungi Jenny untuk memberi tahunya jika dia sudah menunggunya di sana.


“Semoga saja Jenny sudah selesai bekerja, jadi aku memiliki banyak waktu untuk pendekatan dengannya,” Gumam Erfan seraya menghubungkan sambungan telpon pada kontak Jenny.


Kring… kring…


“Wah…ternyata panjang umur juga dia, baru saja aku membicarakannya, eh tau-taunya orangnya langsung menelpon,” Gumam Jenny sebelum menerima panggilan telepon yang menampilkan nama Erfan di layar pipih ponselnya.


“Halo Jenn, kau sudah selesai bekerja kan? aku sudah menunggumu di lobby, kita jadi kan makan siang bersama?” Erfan segera memborong pertanyaan setelah Jenny menerima panggilan telepon darinya.


“Ok-ok Tuan, sepertinya kau sudah sangat lapar ya, aku segera menemui mu sekarang, tunggulah!” Jenny terkekeh di akhir ucapannya sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


“Haist!! mendengar suaranya saja sudah membuat jantungku berpacu cepat,” Gumam Erfan saat Jenny sudah memutus sambungan telepon darinya.


Sejurus kemudian terlihat Jenny yang baru saja keluar dari kotak besi yang membawanya turun dari ball room yang baru saja selesai dia dekor.


“Hai! apa kau sudah lama menunggu?” Sapa Jenny setelah sampai di hadapan Erfan.


“Ca…cantik,” Gumam Erfan pelan, namun masih bisa di dengar oleh Jenny.


“Fan, kau baik-baik saja kan?” Tegur Jenny yang seketika membuat kesadaran Erfan kembali.


“Eh, sorry-sorry! kau benar-benar terlihat berbeda kali ini, semakin cantik, ayo!” Erfan memilih jujur dengan perasaannya dan segera menarik tangan Jenny menuju mobilnya.


Semenjak bertemu dengan Jenny hari itu, dia seperti tak bisa melupakan wajak cantiknya yang terus terbayang siang dan malam. Semenjak itu Erfan memantapkan hatinya untuk mendekati Jenny.


“Aku ingin membawamu ke sebuah tempat yang cukup indah, aku harap kau menyukainya nanti,” Erfan begitu percaya diri seraya terus menyunggingkan senyum yang tak pernah luntur dari bibir tipisnya.


Jenny yang mendengar hal manis itu tersipu malu, ini kali pertamanya dia pergi dengan seorang pria. Entah apa yang ada di pikiran gadis cantik itu sekarang, yang pasti dia sudah memutuskan untuk mencoba membuka hatinya untuk seseorang saat ini.


“Semoga saja ini awal dari kebahagiaanku,” Batin Jenny.


Sesampainya di tempat yang di tuju, Erfan segera turun dari mobilnya dan bergegas membukakan pintu untuk Jenny.


“Silahkan turun!” Erfan tersenyum dengan riang seraya melebarkan sebelah tangannya layaknya seorang pangeran yang menyambut putrinya.


“Terimakasih,” Jenny tak kalah tersenyum manis sambil turun dari mobil milik Erfan.


Suasana yang begitu asri langsung memanjakan mata siapa pun yang memandang keindahan Danau itu, airnya yang jernih menambah kesan sejuk dan penghilang penat setelah seharian bekerja.


“Wah… Danaunya indah sekali, udaranya benar-benar masih sejuk,” Erfan semakin tersenyum puas karena sang gadis menyukai kejutannya.


“Sebaiknya kita makan dulu sekarang, kau pasti lapar kan setelah seharian bekerja!” Jenny tak kalah senang dengan perhatian yang di berikan Erfan untuknya.


Apalagi Erfan sampai menyediakan semua keperluan makan siangnya dengan sangat sempurna dan romantis. Dengan telaten dan penuh perhatian Erfan menuang minuman dingin untuk Jenny, setelahnya dia juga menyajikan semua persediaan makanan yang sudah dia siapkan sedari pagi tadi.


Tiba-tiba saja Erfan mendekatkan wajahnya saat Jenny masih mengunyah makanan di mulutnya, entah apa yang ingin pria tampan itu lakukan pada Jenny, namun hal itu telah berhasil membuat jantung Jenny berpacu begitu kencang, seakan-akan ingin melompat dari tempatnya.


“Ya Tuhan, jantungku… kau baik-baik saja kan?? pria tampan ini mau apa ya? astaga apa dia ingin mencium ku? tapi masa sih, bukannya terlalu cepat untuk melakukan hal itu, kita kan baru saja akrab hari ini, uhh…Jenn! sadar…sadar… kau tidak mau kan di cap wanita gampangan,” Batin Jenny bermonolog seraya memegangi dadanya yang terasa bergemuruh.


“Emm… Tuan, eh Erfan! apa di wajahku ada yang aneh ya?” Jenny segera menjaga jarak aman dengan memundurkan wajahnya sedikit menjauh dari wajah Erfan.


“Tidak, hanya…” Erfan terus mendekatkan wajahnya hingga membuat pipi putih Jenny merona merah.


Blush…


“Ha….hanya apa? kenapa kau terus mendekat seperti ini?” Jenny masih mencoba menjaga jarak aman agar dia tak kebablasan.


“Aku hanya ingin…” Erfan terus mendekatkan wajahnya seraya menggoda Jenny.


“Ingin apa? cepat katakan!” Jenny semakin salah tingkah.


“Ingin, ini… ada sisa mayones di ujung bibirmu,” Erfan mengusap lembut ujung bibir Jenny dengan ibu jari tangannya.


Di lain sisi Danau, seorang gadis cantik terlihat sedang berjalan mencari toilet untuk mencuci buah-buahan yang dia beli sebelumnya.


“Kenn, aku cuci buah-buahannya dulu ya, kau siapkan yang lainnya saja!” Renata beranjak berdiri dari tikar yang dia gelar bersama Kenny.


Gadis itu melangkah sambil memangku sebuah keranjang berisi buah-buahan yang akan dia cuci di toilet terdekat, matanya melihat ke sekeliling sambil terus melangkah ke tempat yang dia tuju. Hingga akhirnya pandangan matanya menangkap sosok yang begitu dia kenali.


Seketika hatinya terasa sesak saat menyaksikan orang yang dia cintai nya begitu dekat dengan seorang gadis cantik yang entah siapa itu. Renata semakin mendekati keberadaan orang itu dengan derai air mata yang sudah berjatuhan. Amarahnya semakin memuncak saat tau orang yang ia cintai menyiapkan semua perkemahannya dengan begitu sempurna dan romantis.


jangan lupa dukungan terbaiknya readers... see you next episode 😘