
"Uncle!!! apa Uncle menjemput ku dan Oma?" Teriak Ken kecil saat mengetahui Jo menghampirinya.
"Iya sayang, apa kalian sudah selesai?" Sahut Jo seraya menggendong Ken kecil.
"Emm... tapi Oma bilang, Mommy juga mau ke sini, jadi kami menunggunya dulu sebelum pulang," Tutur Ken kecil.
"Benarkah? ya sudah kalau begitu Uncle juga ikut menunggu Mommy deh di sini, apa kalian sudah makan siang?" Sahut Jo kembali bertanya.
"Belum Uncle, Mommy bilang kita akan makan siang di Restoran sebelum pulang," Jawab polos Ken kecil.
"Begitu ya, bagus lah... oh iya! Uncle masih penasaran loh sama Daddy baru yang selalu kau ceritakan itu, apa dia tampan seperti Uncle?!".
"Daddy sangat tampan Uncle, aku sangat menyukainya, dia juga sangat baik, aku suka berada di dekatnya," Oceh Ken kecil.
"Ternyata hubungan darah mereka begitu kuat, bahkan setelah beberapa tahun berpisah pun kontak batinnya masih sangat besar," Batin Jo yang sudah mengetahui jika Ken sudah bertemu dengan Daddy kandungnya dari informasi yang anak buahnya berikan.
Di perusahaan Alva corp. Jenny sedang bersiap untuk menjemput putranya, namun saat dia siap memasuki lift untuk turun ke lantai bawah, dia teringat akan janjinya yang mau mengajak Marsya untuk bertemu Ken kecilnya.
"Astaga! hampir saja aku lupa, kira-kira Marsya masih ada di ruangan Kenny tidak ya?" Gumam Jenny seraya berbalik badan dan menuju ruangan Bos besar perusahaan tersebut.
Kaki jenjang perempuan cantik itu terus melangkah menghampiri ruangan mantan suaminya, meski perasaannya masih terbilang takut dan ragu untuk bertemu Kenny, namun dia tidak ingin mengingkari janjinya pada gadis kecil yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri itu.
"Huft!! kau pasti bisa Jenn!" Gumam Jenny seraya menghela nafas sebelum mengetuk pintu ruangan Kenny.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" Seru suara Barito khas dari pemilik wajah tampan sang Bos besar.
Ceklek...
"Maaf Tuan, saya ingin mengajak Nona Marsya pergi!" Tutur Jenny to the poin.
"Mommy!!! apa Mommy akan mengajak ku bertemu Ken sekarang?" Seru Marsya seraya berlari menghampiri Jenny dan memeluk sebelah lututnya.
"Iya sayang, tapi kau harus meminta izin dulu pada Daddy mu ya, baru lepas itu kita berangkat," Tutur Jenny lembut.
"Ok! Marsya bilang dulu sama Daddy ya Mom,". Marsya kembali membalikkan badannya untuk menghampiri meja kerja Daddy-nya.
"Daddy, aku mau pergi dengan Mommy, boleh kan?!" Ucap Marsya.
"Emm... tidak boleh!" Sahut Kenny sedikit tegas yang sontak membuat wajah Marsya sendu.
"Kenapa tidak boleh? Marsya kan pergi dengan Mommy Dadd, Marsya janji deh tidak akan nakal selama ikut Mommy," Tutur Marsya dengan bujukannya.
"Bukan itu masalahnya Sya, kau tidak boleh ikut kalau Daddy juga tidak ikut!" Sahut Kenny seraya melirik ke arah Jenny.
"Maksud Daddy? apa Daddy juga mau pergi bersama kami? wahh... sepertinya itu akan lebih seru Dadd, kalau begitu ayo pergi bersama!" Seru Marsya berubah antusias seraya menarik sebelah tangan Kenny.
"Eh... tapi Sya, Momm..." Sahut Jenny yang langsung di sanggah oleh Kenny.
"Sudahlah sayang, kau tidak ingin putri kita kecewa kan?! lagi pula aku juga merindukan putraku sekarang, sebaiknya kita bergegas pergi sekarang ya, ayo!" Ucap Kenny yang sudah berhasil sampai di hadapan Jenny dan menarik pinggang ramping mantan istrinya itu.
"Eh... apa kau lakukan Kenn, lepas! jangan berlaku seenaknya seperti ini!" Tegur Jenny seraya melepaskan diri.
"Mommy kenapa tidak mau berdekatan dengan Daddy seperti orangtua teman-teman ku yang lainnya sih seperti di taman, mereka selalu bergandengan tangan, bahkan saling merangkul jika sedang bersama," Ucap polos Marsya.
"Kau dengar sendiri kan Sayang, ayo aku rangkul..." Bak di terpa angin segar Kenny tak membuang kesempatan langkanya itu, dengan segera dia mengeratkan pelukannya di pinggang Jenny dan menggiringnya ke luar ruangan meski kakinya masih terasa sakit.
"Tapi Kenn, kita bukan suami istri lagi, dan juga kaki mu pasti masih sakit kan!" Ucap Jenny seraya melepaskan tangan Kenny yang mengait di pinggangnya.
"Kita jalan masing-masing saja!" Seru Jenny tak ingin di bantah lagi.
Sekitar 35 menit kemudian, Jenny menepikan mobilnya di sebuah area parkir gedung panti asuhan. Perempuan cantik itu segera membukakan pintu untuk Kenny dan membantunya turun dari mobil setelah dia terlebih dulu membantu Marsya.
"Ayo! kau benar-benar merepotkan!" Gerutu Jenny seraya membantu Kenny turun dari mobilnya.
"Maaf..." Lirih Kenny yang merasa bersalah karena sudah membuat repot Jenny karena keadaan kakinya yang masih sakit.
"Ha... ya sudahlah, ayo!" Seru Jenny.
Ketiganya pun akhirnya memasuki sebuah ruangan tunggu, mereka di sambut baik oleh pengurus panti yang berjaga.
"Bunda! aku merindukan mu!" Ucap Jenny seraya memeluk seorang wanita paruh baya bertubuh langsing dengan khas tahi lalat di dagu bagian kirinya.
"Aku juga sayang, kenapa kau baru ke sini sekarang, aku pikir kau tadi akan ikut bersama Nyonya Dona?!" Tutur Wanita paru baya tersebut yang bernama Sonia.
"Jenny harus bekerja dulu Bun, Jenny sedang membuat projek pertunjukan besar saat ini, jadi sedikit agak sibuk," Kekeh Jenny.
"Hm... begitu ya, lalu dia bukannya..." Bunda Sonia menggantung ucapannya.
"Ya, dia Kenny Bun, dan itu putri kecilnya bersama Nona Geandra." Ucap Jenny datar.
Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam. Jenny pikir Marsya adalah putri kandung Kenny, dia belum mengetahui kebenaran tersebut meski dia. sudah tau jika Gea sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
"Apa selama ini Jenny belum tau ya kalau Marsya bukan putri ku?" Batin Kenny.
"Senang bertemu dengan Anda lagi Nyonya," Ucap Kenny seraya menjabat tangan Bunda Sonia.
"Sama-sama Tuan, kalau begitu Bunda tinggal dulu ya Jenn, Bunda akan. panggilkan Nyonya Dona dan Ibu mu dulu di dalam," Tutur Bunda Sonia.
"Mommy, apa Ken juga ada di dalam?" Tanya Marsya.
"Iya sayang, Ken ada di dalam bersama Oma dan Oma buyutnya, kita tunggu sebentar ya!" Seru Jenny.
"Jenn, apa kau mengira Marsya..." Tutur Kenny tercekat kala Jo menghampiri mereka seraya menggendong Ken kecil.
"Mommy!!" Teriak Ken kecil dari pangkuan Uncle nya.
"Sayang, kenapa kau di gendong Uncle? ayo turun!" Seru Jenny yang tak ingin membuat Jo kerepotan karena kemanjaan putranya.
"Tidak apa-apa Jenn, aku tidak keberatan ko menggendongnya," Sahut Jo yang memang sudah terbiasa menggendong Ken kecil.
"Daddy! Marsya! kalian ikut juga ya?!" Ucap Ken kecil dengan kedua bola matanya yang berbinar.
"Iya sayang, Daddy sengaja ikut menjemputmu," Sahut Kenny seraya merentangkan kedua tangannya berharap sang putra mau menghampirinya.
Dan hal itu ternyata di kabulkan segera oleh Ken kecil yang segera meminta turun dari gendongan Jo dan berlari ke arah Kenny. Seketika pasangan Ayah dan anak itu saling berpelukan melepaskan rasa rindu yang sempat terbendung. Kenny benar-benar selalu menikmati momen berpelukan dengan sang putra. Betapa tidak, selama bertahun-tahun dirinya tak memiliki kesempatan itu, baru kali ini lah dia di pertemukan kembali, jadi wajar saja jika dia masih sangat merindukan putra tampannya itu.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys 😘😘😘