
"Aku belanja di pasar tradisional tadi, sudahlah cepat bantu Ken bangun, ini sudah sangat siang, aku masih harus pulang ke rumah untuk mengganti pakaian sebelum berangkat kerja!" Seru Jenny seraya menyingkap selimut yang menutupi tubuh sang putra.
"Kalian tidak perlu pulang sayang, semalam aku sudah suruh Tian untuk membawakan pakaian kalian, jadi kita bisa makan dengan tenang," Sahut Kenny.
"Haist! kau selalu bersikap seenaknya Kenn, ya sudah, sebaiknya kalian cuci muka dan gosok gigi dulu, sana!" Perintah Jenny.
"Siap Mommy!!" Ucap Kenny seraya menempelkan ujung jemari tangannya di ujung pelipis bak sedang hormat di depan bendera.
Ketiga anak manusia tersebut pun akhirnya berkumpul di ruang makan. Dengan telaten, jenny melayani Kedua pria tampan berbeda generasi tersebut.
Kring... kring....kring...
Disela melahap sarapan lezatnya, Kenny di kejutkan oleh dering ponselnya yang memekakkan telinga. Diraihnya benda pipih tersebut dan membaca nama yang tertera di layarnya.
"Mommy?!" Gumam Kenny setelah melihat nama si penelepon.
"Siapa? jika penting angkat saja! aku dan Ken juga sudah hampir selesai ko sarapannya," Seru Jenny.
"Ini telepon dari Mommy sayang, sebentar aku angkat dulu ya!" Sahut Kenny seraya menggeser gambar berwarna hijau di layar ponselnya.
"Halo Mom, ada apa?!" Tanya Kenny setelah sambungan teleponnya terhubung.
"Kenn!! kenapa kau lama sekali mengangkat telepon Mommy? cepat ke Rumah Sakit sekarang! kondisi Marsya semakin drop, baru saja Dokter membawanya kembali ke ruang ICU," Sahut Mom Bella terdengar panik dan cemas.
"Apa?! baiklah-baiklah, Kenn segera ke sana sekarang Mom," Sahut Kenny tak kalah panik seraya menutup sambungan teleponnya secara sepihak.
"Ada apa Kenn, kenapa kau terlihat panik?" Tanya Jenny.
"Marsya, Jenn!! dia di larikan ke ruang ICU lagi, aku harus menyusulnya ke sana sekarang! kau tidak apa-apa kan berangkat ke kantor sendiri? sebentar lagi Tian akan kemari membawakan pakaian kalian, aku juga akan menyuruhnya untuk mengantar kalian sampai kantor!" Tutur Kenny panjang lebar.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami Kenn, kau pergilah! Marsya sedang membutuhkanmu sekarang!" Seru Jenny.
"Apa aku boleh ikut, Dadd?!" Sahut Ken ke il yang sedari tadi memperhatikan percakapan kedua orangtuanya.
"Kau ikut Mommy saja sayang, jika kau ikut Daddy, nanti malah merepotkan!" Ucap Jenny memberi penjelasan.
"Hm... apa Marsya akan baik-baik saja?" Gumam mulut mungil Ken kecil.
"Kita berdoa saja sayang! ya sudah sekarang kita cuci muka dan gosok gigi lagi ya, ayo!" Seru Jenny seraya membantu sang putra beranjak dari kursi meja makan.
Sesaat sebelum Jenny menyusul sang putra Kenny menarik sebelah tangan sang mantan istri hingga Jenny jatuh ke dalam pelukannya. Sepertinya pria tampan itu masih enggan berpisah dengan perempuan cantik itu.
"Kenn, kau harus segera pergi, kasihan Marsya dan Mommy, mereka pasti sudah menunggu mu!" Ucap Jenny.
"Tapi aku masih ingin memelukmu, sayang! aku benar-benar merindukanmu," Lirih Kenny yang masih asik memeluk serta menghirup dalam-dalam aroma tubuh Jenny yang selalu dia rindukan.
"Sudahlah! sekarang kau harus pergi ke Rumah Sakit, Kenn! aku juga harus bersiap untuk pergi ke kantor, jika nanti siang pekerjaanku sudah selesai, aku akan mengunjungi Marsya ke Rumah Sakit," Tutur Jenny.
"Hm... baiklah! aku pergi dulu ya, tapi..." Ucap Kenny menggantung perkataannya.
"Tapi apa lagi, Kenn?" Sahut Jenny.
Tanpa permisi Kenny mendaratkan satu kecupan singkat di bibir sang mantan istri yang masih dia cintai. Pria tampan itu seperti mendapat tambahan energi setelah mengecup bibir ranum itu.
"Kenn!! kau..." Rutuk Jenny seraya memukul dada bidang Kenny.
"Kenapa? apa masih kurang?" Goda Kenny seraya mendekatkan kembali wajahnya.
Dengan sigap Jenny menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, membuat pria tampan itu terkekeh puas karena berhasil menggoda sang mantan istri.
Cup...
Akhirnya kecupan kedua itu mendarat di kening Jenny, setelah puas menggoda Jenny, Kenny segera bergegas pergi begitu saja, meninggalkan Jenny yang masih terpaku di tempatnya.
"Mommy, apa pakaiannya sudah tiba? aku sudah selesai mencuci muka dan menggosok gigi?!" Tegur Ken kecil menghampiri.
"Astaga!! Ken, kau membuat Mommy terkejut sayang, sepertinya Om Tian masih di perjalanan, kita tunggu sebentar lagi ya!" Sahut Jenny seraya menghampiri meja makan kembali untuk membereskan bekas sarapannya bersama Kenny dan Ken kecil.
...****************...
Tiba di Rumah Sakit, Kenny segera berlari menuju ruang ICU, setelah sampai di depan ruangan yang masih tertutup itu, Kenny menghampiri sang Mommy yang terlihat murung dan gelisah.
"Mom, bagaimana keadaannya sekarang?!" Tanya Kenny.
"Marsya masih di tindak di dalam Kenn, Mommy benar-benar takut dia tidak bisa tertolong!" Gumam Mom Bella.
"Tenang lah Mom, kita harus yakin kalau Marsya pasti sembuh, selama ini dia selalu berhasil melewati masa-masa kritisnya, jadi Kenn percaya kalau kali ini dia juga bisa bertahan!" Tutur Kenny menenangkan sang Mommy.
Tanpa di duga ternyata yang menunggu di sana saat itu bukan hanya Mom Bella dan Kenny saja. Mark yang tak lain Ayah kandung Marsya sudah mengintip sedari tadi untuk mengetahui kondisi putrinya.
"Ini semua gara-gara perempuan sialan itu dengan anaknya, kalau saja si brengsek Kenny tidak meninggalkan putriku dalam keadaan seperti ini, pasti kondisinya tidak akan separah sekarang, pokoknya aku tidak akan membiarkan kalian bersenang-senang dan bahagia jika sampai putri ku tak terselamatkan," Gumam Mar dalam hatinya.
Giginya bergemertuk saling beradu, menandakan betapa marahnya pria itu saat mengetahui kondisi sang putri yang mengalami penurunan yang drastis. Ditambah lagi, dia saat ini tidak bisa melakukan hal apa pun selain mengintip dari kejauhan untuk melihat sang putri yang sedang berjuang di antara hidup dan matinya.
Beberapa jam telah berlalu, lampu yang menyala di atas pintu ruangan ICU pun kini terlihat padam, menandakan jika kegiatan di dalamnya sudah selesai. Tak lama setelah lampu tersebut padam, keluarlah seorang Dokter dengan atribut kerjanya yang masih dia gunakan.
Ceklek...
"Dok, bagaimana keadaan putriku? apa dia baik-baik saja?" Cecar Kenny tak sabar setelah melihat Dokter keluar dari ruang ICU.
"Maaf Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain. Nona Marsya baru saja menghembuskan nafas terakhirnya, kami turut berdukacita, Tuan!" Tutur Dokter.
"Tidak...tidak... tidak mungkin Dok! putriku pasti selamat, kan! kau pasti sedang membohongiku, kan!" Racun Kenny nampak tak terima dengan penjelasan Dokter.
Dokter hanya bisa tertunduk pilu. Bagi seorang tenaga medis sepertinya, tak tertolong nya nyawa pasien adalah sebuah kegagalan yang memilukan.
"Maaf Tuan, kami akan segera mengurus surat keterangan kematian Nona sekarang, saya permisi!" Ucap Dokter seraya berlalu dari hadapan Kenny dan Mom Bella.
"Mom, ini semua tidak benar kan! Marsya masih hidup kan Mom, kenapa dia cepat sekali menyusul Ibunya? apa dia tidak tau kalau Kenn juga sangat menyayanginya meski dia bukan putri kandung Kenn, Mom!" Racun Kenny.
"Sudahlah Sayang, kau harus kuat! ikhlaskan kepergian Marsya, nak! dia sudah tenang sekarang, dia tidak akan mengalami kesakitan lagi karena penyakitnya," Sahut Mom Bella yang tak kalah terpukul atas kepergian cucu perempuannya itu.
Pasangan anak dan Ibu itu akhirnya memasuki ruangan di mana tubuh kaku Marsya di baringkan. Wajah manis nan menggemaskan itu terlihat tak seperti mayat pada umumnya. Wajah Marsya begitu terlihat damai dengan kedua kelopak matanya yang sudah tertutup rapat.
"Sayang, kenapa kau meninggalkan Daddy, Sya?! Apa kau tidak ingin bermain lagi dengan Daddy?!" Gumam Kenny seraya terisak di depan tubuh kaku putri kecilnya.
"Sabar Kenn, kau harus ikhlas!" Seru Mom Bella berusaha menguatkan.
.
.
.
.
.
.
.
Baper gak sih guys, ko Mom sendiri kebawa nangis bombay ya, jadi teringat sama kejadian keguguran tahun kemarin ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
See you next episode...