
"Apa yang ingin kau katakan, Kenn?! apa kau membohongiku lagi?!" Cecar Jenny.
"Sebenarnya... aku..." Belum sempat Kenny mengungkapkan kebenarannya, tiba-tiba saja ponselnya berdering dengan nyaring.
Karena merasa penasaran dengan sang penelepon yang terus menghubunginya. Kenny akhirnya memutuskan menerima panggilan telepon tersebut tanpa beranjak dari hadapan Jenny.
"Angkatlah dulu, Kenn! siapa tau teleponnya penting!" Seru Jenny yang sedari tadi memperhatikan Kenny yang menolak panggilan teleponnya beberapa kali.
"Tapi aku tidak yakin jika Viky memiliki hak penting yang akan dia sampaikan padaku, aku malas menjawab telepon darinya,".
"Haist! dia sepupu mu, bukan! tapi kenapa kau seperti bermusuhan dengannya?! angkat lah dulu! jika dia tidak ada hal penting yang di sampaikan, tidak mungkin dia sampai terus mengubungi mu berkali-kali, seperti itu?!" Saran Jenny.
Kenny menghela kasar nafasnya sebelum akhirnya menuruti saran Jenny. Mau tak mau pria tampan itu menggeser gambar hijau di layar ponselnya untuk menjawab panggilan telepon yang ternyata dari Viky tersebut.
"Halo?! ada apa kau menghubungiku?!" Sarkas Jenny setelah menggeser gambar hijau pada layar ponselnya.
"Kenn, Nenek!! Nenek kembali tak sadarkan diri, kondisinya kembali drop!" Tutur Viky penuh kepanikan.
"Apa?! lalu bagaimana keadaannya sekarang?!" Sahut Kenny tak kalah panik.
"Sekarang Nenek di bawa ke ruangan ICU lagi, Mamih bilang Dokter memvonis usianya yang tak akan bertahan lama lagi, karena pasca operasi kemarin, kondisinya yang sangat lemah membuat kesadarannya perlahan menurun, kau segera lah kemari, Kenn!" Tutur Viky di sebrang telepon menjelaskan.
"Ok baiklah, aku akan segera ke sana sekarang!" Sahut Kenny seraya memutus sambungan telepon secara sepihak.
"Ada apa Kenn?! kenapa kau gelisah seperti itu?!" Tanya Jenny.
"Nenek, Jenn! Nenek kembali masuk ICU, dan kali ini dia di vonis tak akan bertahan lama, aku harus ke sana memeriksa keadaannya sekarang! aku harus bergegas!" Seru Kenny seraya beranjak dan meraih koper di atas lemari pakaiannya.
"Aku ikut, Kenn! aku akan membantumu berkemas!" Tutur Jenny membantu Kenny berkemas pakaian.
"Tapi Jenn, Kenji sedang tidur! kau tidak mungkin meninggalkannya!" Sanggah Kenny teringat sang putra yang baru saja terlelap kembali.
"Aku akan menghubungi Kak Aldo atau Kak Jo untuk menjemputnya di sini!" Sahut Jenny seraya mencari kontak Kakaknya di ponsel miliknya.
Setelah selesai menghubungi salah satu Kakaknya, Jenny segera menemani Kenny untuk segera bergegas ke Negara di mana Nenek Martha di rawat. Ini penerbangannya yang kedua menjenguk Nenek Martha. Namun kali ini suasananya sangat berbeda, sepanjang perjalanan, Kenny terlihat gelisah dan cemas, dia benar-benar takut jika sang Nenek tak dapat dia temui terlebih dahulu setelah dia sampai di Rumah Sakit, nanti.
"Kenn, tenanglah! aku yakin jika Nenek pasti tertolong lagi kali, ini! sebaiknya kau berdoa," Tutur Jenny seraya mengelus sebelah bahu Kenny untuk menenangkan.
"Aku benar-benar takut, Jenn! aku belum bisa membahagiakan Nenek, bahkan aku belum sempat memenuhi keinginannya," Lirih Kenny.
"Tapi setidaknya kau sudah berusaha menjadi cucu yang baik, Kenn! kau jangan cemas! aku yakin, jika Nenek pasti mengerti dengan keadaanmu," Sahut Jenny.
"Semoga saja, Jenn!" Ucap Kenny seraya menundukkan kepalanya.
Jenny benar-benar ikut cemas, apa lagi saat ini kondisi Nenek Martha benar-benar sangat memperihatinkan. Dia hanya bisa berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja dan Nenek Martha bisa kembali sembuh dan sehat lagi seperti sedia kala. Beberapa jam kemudian, Kenny dan Jenny telah tiba di tempat tujuan mereka. Tanpa membuang waktu, Kenny segera mengajak Jenny untuk menemui Nenek Martha di ruangannya.
"Tante, bagaimana keadaan Nenek?" Tanya Kenny setelah tiba di depan ruangan Nenek Martha.
"Dia masih belum sadarkan diri, Kenn!" Isak Tante Regina.
"Aku ingin melihatnya ke dalam!" Seru Kenny seraya menerobos masuk ke dalam ruangan Nenek Martha
"Nek, Kenny datang! Nenek harus sembuh. Bukannya Nenek ingin melihat Kenn menikah lagi, ya! Nenek harus bertahan, lawan penyakit itu, Nek! Kenny masih ingin melihat Nenek sembuh!" Tutur Kenny bercucuran air mata.
"Yang sabar sayang, kau kemari dengan siapa?" Seru Mom Bella seraya bertanya.
"Jenny, Mom! dia ada di luar bersama Tante Regina," Jawab Kenny.
"Kalau begitu, Mom akan panggil dia masuk, siapa tau Nenek akan kembali siuman jika mendengar suara Jenny," Ucap Mom Bella seraya beranjak untuk memanggil mantan menantunya itu.
Kenny tak menjawab lagi, saat ini fokusnya hanya pada wajah pucat sang Nenek yang begitu dia sayangi. Ada segudang penyesalan yang Kenny rasakan saat ini, dia benar-benar menyesal karena tak dapat mewujudkan keinginan Neneknya untuk memperistri Jenny kembali. Setelah beberapakali dia menyatakan kembali perasaannya pada Jenny, Kenny masih tak yakin jika mantan istrinya itu mau menerima kembali dirinya meski dengan alasan anak sekali pun.
"Kenn, bagaimana keadaan Nenek?" Tanya Jenny dengan suara sedikit pelan.
"Nenek masih belum siuman, Jenn! aku benar-benar takut kehilangannya!" Isak Kenny seraya menenggelamkan wajahnya di atas kedua tangannya yang dia lipat sebagai tumpuan kepalanya.
Perlahan, Jenny menghampiri tempat pembaringan Nenek Martha, tak lama dia pun beralih pada Kenny. Perempuan cantik itu benar-benar tak tega melihat Kenny terpuruk seperti itu. Jenny mengusap kepala Kenny yang tertunduk hingga sang mantan suaminya itu mendongakkan kepalanya.
"Kenn, kau tak sendirian! masih ada aku, Mommy, Papah dan yang lainnya di sini, kau harus kuat untuk Nenek, Kenn! kau harus memberinya semangat, bukan tangisan menyedihkan seperti ini!" Tutur Jenny.
"Tapi Dokter sudah memvonisnya tak akan bertahan lama Jenn, aku benar-benar takut, baru saja beberapa Minggu lalu aku di tinggalkan Marsya, aku tak mau kehilangan orang-orang yang aku sayang lagi, Jenn! aku tak mau,".
Jenny tak menyahut lagi, dia benar-benar mengerti keadaan Kenny. Sebisa mungkin, Jenny menghibur mantan suaminya itu, tapi apa lah daya. Nenek Martha kembali mengalami kejang saat Jenny dan Kenny masih berada di ruangannya. Membuat kedua anak manusia itu panik bukan main dan segera memanggil Dokter untuk memeriksa kondisi Nenek Martha.
"Nenek! bertahanlah! jangan tinggalkan kami Nek,Nenek harus sembuh lagi!" Racau Jenny seraya menggenggam erat sebelah tangan Nenek Martha.
Perlahan kedua mata Nenek Martha membuka. Kejang nya pun sudah tak terlihat lagi. Jenny sedikit merasa lega di buatnya.
"Jenn... kau kah ini?" Lirih Nenek Martha dengan nafas yang tersengal.
Sementara Kenny, masih memanggil Dokter, Jenny lah yang menunggu di dalam ruangan sendirian. Mom Bella dan Tante Regina sebenarnya ingin masuk kembali, namun di tahan oleh para suami mereka yang ingin memberikan ruang pada Jenny dan Nenek Martha.
Karena sebelum kondisi Nenek Martha kembali drop, dia pernah berpesan jika dia ingin bertemu Jenny. Nenek Martha ingin meminta Jenny agar kembali pada Kenny untuk yang kesekian kalinya. Meski itu hal yang tak pasti, tapi Nenek Martha tetap ingin mencobanya demi sang cucu.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya guys, see you next episode... 😘😘😘