Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 171 # Masih ingin sendiri.



"Sudahlah lah Pah, mungkin Viky ingin menikmati waktunya selama di sini, biarkan saja... dia kan sudah dewasa, dia pasti tau apa yang baik dan tidak baik untuknya sendiri," Sahut Mom Bella seraya menyuapi sang cucu.


Sejurus kemudian, Kenny turun menghampiri sang mommy dan yang lainnya di ruang makan.


"Kenapa kau turun sendiri Kenn,?" Tanya Renata.


"Jenny masih tidur, mungkin dia masih kelelahan!" Sahut Kenny seraya menarik kursi di samping sang putra.


"Daddy, apa aku bisa punya adik bayi seperti adik Fano?!" Tanya Ken Kecil dengan polosnya.


"Tentu sayang, dan hal itu pasti Daddy kabulkan," Sahut Kenny dengan seringai di bibirnya.


"Kenn, kau tidak berbuat macam-macam pada Jenny, Kan?!" Tanya Papah Oscar penuh intimidasi.


"Kenny hanya ingin mengikatnya lagi Pah," Ucap Kenny sedikit lesu.


"Astaga! jangan bilang kau memaksakan kehendak mu itu pada Jenny ya, Kenn! Mommy tidak setuju!" Sahut Mom Bella.


"Tapi sudah terlanjur, Mom! sepertinya benih Kenn akan segera tumbuh di ladang Jenny!" Tutur Kenny.


"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan sih?" Tanya Renata yang belum mengerti dengan arah pembicaraan sepasang Ibu dan Anak itu.


"Sayang, sebaiknya kita habiskan lebih cepat saja makanannya, kasihan Fano menunggu lama," Sanggah Erfan yang tak mau Mom Bella menjelaskan yang sebenarnya pada sang istri karena di ruang makan tersebut masih ada Ken kecil yang masih belum cukup umur untuk mendengarkan obrolan orang dewasa.


Sementara semua orang di mansion tengah menikmati makan malamnya, lain halnya dengan seorang pria bertubuh tambun nan menyeramkan. Wajahnya yang kini sudah di penuhi bulu-bulu halus yang menutupi kedua sisi pipi dan mulutnya, menambah kesan seram untuk penampilan Mark.


"Ini semua gara-gara kau, Kenny Alvaro! aku akan secepatnya membalaskan dendam ku padamu!" Gumam Mark.


"Kali ini aku akan membasmi semua orang-orang yang kau sayangi, aku ingin lihat seberapa menyedihkannya dirimu jika kehilangan mereka, hahaha..." Kelakar Mark dengan ide gilanya untuk membalaskan dendam.


Pagi harinya, Jenny yang terlelap tidur tanpa terganggu sedikit pun merasa lebih segar setelah bangun dan membersihkan tubuhnya dari jejak perbuatan brutal mantan suaminya hari kemarin.


"Hari ini aku harus pergi ke kantor dan menyibukkan diri, kalau aku terus di dekat Kenn, aku pasti akan dia jebak lagi!" Batin Jenny seraya menyisir rambutnya di depan cermin meja rias.


"Selamat pagi sayang, apa semalam tidur mu nyenyak?" Sapa Kenny yang baru saja masuk ke kamarnya seraya menghampiri Jenny dan mengecup kepala Jenny tanpa permisi.


"Ish... kau benar-benar menyebalkan, Kenn! mood ku sudah hancur hanya melihat wajah mu pagi ini!" Gerutu Jenny seraya mengusap kepalanya untuk menghilangkan jejak kecupan yang Kenny daratkan.


"Astaga sayang, kau semakin terlihat menggoda jika terus menggerutu seperti itu, apa kau ingin aku melahap bibir mu itu untuk sarapan pagi ini?!" Goda Kenny.


Dengan sigap Jenny menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan beranjak berdiri menjauhi keberadaan Kenny. Jenny segera meraih tas selempang nya dan bergegas keluar dari kamar itu, dia tak ingin terjebak lagi oleh godaan Kenny.


"Haist!! kenapa aku semakin mencintaimu sayang," Gumam Kenny seraya menatap nanar kepergian Jenny yang menghilang di balik pintu kamarnya.


Tap...tap...tap... suara langkah kaki menuruni anak tangga.


"Pagi sayang, ayo sarapan!" Seru Mom Bella menyapa.


"Hem... terimakasih Mom, tapi sepertinya Jenny harus ke kantor sekarang, Ken! ayo sayang! kita harus bergegas sekarang!" Sahut Jenny seraya menghampiri sang putra yang baru saja selesai di suapi Mom Bella.


"Jenn, biarlah Ken tinggal di sini dulu bersama Mommy beberapa hari lagi, Mommy masih ingin merawatnya sayang," Pinta Mom Bella.


"Sepertinya tidak ada salahnya juga jika kau mengijinkannya tinggal, Jenn! toh Tante kan Omanya Kenji juga," Sahut Renata membantu membujuk.


"Sudahlah sayang, biarlah putra kita menemani Mommy beberapa hari lagi, sebaiknya kita berangkat ke perusahaan sekarang ya, aku juga ingin memeriksa beberapa berkas penting pagi ini!" Seru Kenny menghampiri.


"Jagoan Daddy tidak apa-apa kan kalau. hari ini tidak ikut Mommy?" Tanya Kenny pada sang putra.


"Emm... Ken tidak apa-apa Mom, Ken juga masih ingin bermain dengan adik Fano, Mommy bekerja saja dengan Daddy," Tutur Ken kecil.


"Astaga, sepertinya pria kecilku sudah terlalu banyak terpengaruh oleh mereka," Rutuk Jenny dalam hatinya.


"Sepertinya masalahnya sudah kelar kan sayang, jadi... ayo kita berangkat sekarang!" Seru Kenny seraya menarik pinggang Jenny dengan posesif dan menggiringnya pergi meninggalkan ruang makan.


"Dasar pria mesum, apa kau tida bisa ya bertingkah tak semaunya seperti ini! lepas Kenn, kau membuatku semakin benci, padamu!" Tutur Jenny.


Kenny tak menghiraukan ucapan Jenny, dia terus menggiring langkah Jenny menuju mobil mewahnya tanpa melepaskan rangkulan di pinggang perempuan cantik itu sedikit pun.


"Tan, sepertinya Erfan juga harus pergi sekarang, Erfan titip Renata dan Fano di sini sebentar ya, nanti siang Erfan akan menjemput mereka pulang jika selesai bertugas," Tutur Erfan seraya beranjak dan menghampiri sang putra yang terlihat asik menikmati susu formula lewat sebuah botol kecil milik baby Fano.


"Kau tidak perlu khawatir sayang, kau pergilah bertugas dengan tenang, mereka pasti akan aman bersama Tante di sini," Sahut Mom Bella.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu ya sayang, hai boy... Papih berangkat kerja dulu ya nak, jangan nakal-nakal ya, love you honey," Ucap Erfan berpamitan pada putranya.


Di perjalanan, Kenny dan Jenny sama-sama diam dengan pikiran mereka masing-masing. Namun sekali-kali Jenny terlihat melirik sekilas ke arah Kenny yang tengah mengemudi dengan serius. Jenny tidak tau harus bersikap bagaimana lagi pada mantan suaminya itu.


Mungkin bibirnya bisa menolak atau pun memberontak, tapi jauh di dasar hatinya, Kenny masih memiliki posisi istimewa itu, bahkan waktu bertahun-tahun saja tak mampu mengikis sedikit pun perasaan Jenny pada pria tampan yang sudah berhasil mencuri hatinya itu untuk saat pertama kali mereka menjalin hubungan, dulu.


"Kenapa kau menatapku diam-diam seperti itu? apa kau akan puas ya jika menatap wajah ku yang tampan ini hanya dengan sekilas seperti itu?" Ucap Kenny dengan gaya narsisnya.


"Haist! jangan terlalu percaya diri," Ketus Jenny seraya memalingkan wajahnya ke arah samping jendela yang berada di sisi kirinya.


"Jenn... aku benar-benar minta maaf jika perbuatan ku kemarin dan tadi malam membuatmu tak nyaman, tapi aku benar-benar selalu merindukanmu selama ini, jadi kumohon kembali lah padaku Jenn, aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku jika kau sampai hamil!" Tutur Kenny yang tiba-tiba saja lirih.


"Hamil?! astaga! kenapa aku baru memikirkannya, bodoh!!! seharusnya aku memakan pil after se* dari kemarin, Ya Tuhan... bagaimana kalau yang di bicarakan Kenny menjadi kenyataan, aku belum siap jika harus kembali padanya, meski hatiku tak bisa menghapus namanya, tapi aku benar-benar belum yakin dan siap untuk membina rumah tangga lagi dengannya," Batin Jenny bermonolog.


"Jenn, kau mau ya?! kita mulai lagi semuanya dari awal sayang, aku janji... aku tidak akan mengulang kesalahan yang dulu sudah aku lakukan kepadamu!" Tutur Kenny seraya meraih sebelah tangan Jenny dan mengecup punggung tangannya sekilas.


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys 😘😘😘