
“Aku baik-baik saja Kak! lain kali, kau tidak perlu repot-repot untuk menggendongku lagi, aku benar-benar malu menjadi tontonan seperti barusan,” Jawab Jenny.
“Tapi aku benar-benar mengkhawatirkan mu Jenn,” Tutur Jo seraya memegang kedua sisi pundak adik tirinya itu.
“Kakak tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri, ko!” Sahut Jenny seraya memberhentikan sebuah taksi yang melintas di depan mereka.
Tanpa menunggu persetujuan dari Jo, Jenny segera pergi menjauh dari hadapan pria yang begitu baik itu. Pria yang sampai kapan pun tak pernah bisa Jenny jadikan kekasih hatinya. Bahkan setelah rumah tangganya hancur pun Jenny masih tak bisa membuka hatinya untuk Jo, dia sudah sangat nyaman menganggap Jo seperti Kakak kandungnya sendiri.
“Jenn! Jenny!” Teriak Jo yang sudah sangat terlambat karena Jenny sudah pergi menjauh dengan taksi yang membawanya entah kemana.
Di dalam taksi sendiri, Jenny terlihat berurai air mata. Harapannya untuk bisa membongkar kebusukan Gea sirna begitu saja tak kala melihat bukti jika Kenny sendiri yang menginginkan tubuh wanita licik itu. Jenny semakin membenci suaminya, dia bahkan sudah bertekad untuk menetap di Negar M, Negara yang kini dia singgahi bersama Ibu kandungnya tanpa ingin kembali lagi ke Tanah Airnya.
“Sayang! kau jangan takut ya nak, Mommy akan membesarkan mu dengan sangat baik meski tanpa Daddy mu, biarkan saja Daddy mu itu bersenang-senang di atas penderitaan kita saat ini, Mommy yakin suatu saat nanti, kita juga akan menemukan kebahagiaan kita sendiri sayang!” Batin Jenny seraya mengusap perutnya yang sudah sedikit menonjol.
Di belahan dunia bagian lainnya, kini terlihat sepasang suami istri yang siap menikmati malam pengantinnya. Siapa lagi jika bukan Kenny dan Gea. Meski Kenny sudah menyuruh Gea untuk beristirahat malam itu, namun Gea tak pantang menyerah merayu suami barunya itu. Dia terus menggoda Kenny dengan rayuan-rayuan andalannya. Hingga akhirnya Kenny pun luluh dan memberikan apa yang Gea inginkan malam itu.
“Maaf Nona, saya sudah tidak tau lagi harus membawa Nona kemana, ini sudah sangat larut, saya juga sudah harus pulang dan menyetorkan hasil mengemudi saya hari ini pada bos saya, jika Nona masih ingin berkeliling, Nona silahkan cari taksi lain saja!” Tutur supir taksi yang membawa Jenny tadi.
“Astaga! maafkan saya Tuan, kalau begitu bisakah antar kan aku untuk yang terakhir kalinya ke alamat XXXXX?” Tutur Jenny penuh penyesalan setelah tersadar dari rasa sedih yang menyelimutinya.
Supir taksi pun terlihat menghela kasar nafasnya sebelum menjawab keinginan Jenny, pria paruh baya itu sebenarnya merasa iba melihat kondisi Jenny yang sepertinya tengah mengandung itu, akhirnya dia pun mengantarkan Jeny sesuai alamat yang di beritahukan Jenny tadi.
Setibanya di depan sebuah gedung pencakar langit. Jenny segera memberikan tarif yang di beritahukan supir taksi tadi padanya. Setelah selesai membayar, Jenny akhirnya memasuki gedung tersebut dan memasuki sebuah lift yang menuju ke sebuah hunian mewah milik Kakak barunya.
Tring… Suara pintu lift terbuka.
Jenny menghela kasar nafasnya sesaat dan membenahi penampilannya sebelum memasuki Apartemen Kakaknya itu. Jenny tidak ingin kelurganya semakin mengkhawatirkan keadaannya, terutama Ibu Erika. Jenny tidak ingin kesehatan Ibunya itu kembali drop jika tau keadaannya yang begitu menyedihkan saat ini.
“Huft! semoga Ibu dan yang lainnya sudah tertidur saat ini!” Gumam Jenny seraya meraih gagang pintu dan membukanya setelah memasukkan kata sandi hunian tersebut.
“Syukurlah… sepertinya mereka semua benar-benar sudah tertidur saat ini,” Gumamnya lagi seraya menghampiri kamarnya.
Namun baru saja Jenny meraih gagang pintu kamarnya, seseorang mengejutkannya dengan memeluknya dari belakang dengan begitu erat.
“Eh! Siapa yang memeluk ku ini?” Batin Jenny.
“Syukurlah kau baik-baik saja Jenn, aku benar-benar mengkhawatirkan mu!” Ucap pria tampan yang tak lain Jonathan.
“K…Kak, tolong lepaskan!” Lirih Jenny.
Jo segera melerai pelukannya, dia begitu lega setelah tahu Jenny pulang dalam keadaan baik-baik saja.
Flash back start.
“Jenn! Jenny!” Teriak Jo.
Kring…kring… Bunyi nada dering panggilan masuk di ponsel Jo.
“Halo Oma!” Sapa Jo setelah menerima panggilan telepon tersebut.
“Jo! apa kau sudah bertemu dengan Jenn? bagaimana keadaannya sekarang?” Cecar Oma Dona cemas.
“Jenny baru saja pergi menggunakan taksi Oma, Jo akan menyusulnya sekarang! Jo tutup dulu ya teleponnya!” Sahut Jo.
“Tunggu Jo! sebaiknya kau biarkan saja dia pergi, dia pasti butuh menyendiri saat ini, Oma yakin Jenny tidak akan melakukan hal yang tidak kita inginkan!” Cegah Oma Dona.
“Tapi Oma…” Sahut Jo yang terpotong dengan panggilan masuk dari Aldo.
“Kak Aldo!” Gumam Jo.
“Apa Aldo menelepon mu sekarang?”Tanya Oma Dona.
“Iya Oma, kalau begitu Jo angkat dulu telepon dari Kak Aldo ya!” Jawab Jo seraya mengalihkan panggilan teleponnya.
“Jo, kenapa nomer Jenny sulit di hubungi? dia baik-baik saja kan? kau pasti sudah tau dengan berita yang beredar hari ini, kan?” Tanya Aldo bertubi-tubi.
“I…iya Kak, Jo baru mengetahuinya tadi, dan saat ini Jenny baru saja pergi untuk menenangkan diri,” Tutur Jo menjawab.
“Astaga! apa itu berarti Jenny sudah mengetahui beritanya?” Ucap Aldo yang terdengar begitu khawatir dan panik.
“Sepertinya Jenny memang sudah tau Kak, bahkan dia tadi sempat hampir pingsan di Supermarket. Beruntung Jo datang tepat waktu, kalau tidak dia pasti sudah terkulai di lantai.” Tutur Jo menjelaskan.
“Astaga! dia pasti sangat syok dan sedih saat ini,” Lirih Aldo.
“Apa Jo susul sekarang saja ya? Jo juga sangat khawatir pada kondisi Jenny Kak!” Ucap Jo menyampaikan kekhawatirannya.
“Sebaiknya kau tunggu dia kembali saja Jo, Jenny pasti hanya butuh menenangkan diri saat ini, dia tidak akan melakukan hal yang macam-macam ko, Kakak yakin dia pasti akan kembali pulang jika sudah merasa sedikit tenang.” Tutur Aldo memberi saran.
Aldo sangat hafal dengan sifat adik kesayangannya itu, sesedih dan seterpuruk apa pun keadaannya, Jenny pasti tidak akan mungkin untuk melakukan hal yang dapat merugikan dirinya sendiri.
“Hm… ya sudah kalau begitu Jo kembali ke perusahaan saja ya Kak, kebetulan Jo tadi sebenarnya hendak meeting, Jo akan kirimkan anak buah untuk mengawasi keberadaan Jenny saja sekarang,” Ucap Jo penuh penyesalan.
Sebenarnya Jo sangat ingin menyusul Jenny, dia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Jenny yang sedang mengandung saat ini. Namun pria tampan itu harus menahan semua keinginannya itu agar Jenny bisa melepaskan semua beban pikirannya sejenak tanpa ada yang mengganggu.
Flash back done.
“Apa kau baik-baik saja Jenn?” Tanya Jo.
“Aku baik-baik saja Kak, ini sudah malam! sebaiknya Kakak istirahat ya, Jenny juga ingin segera tidur sekarang,”Seru Jenny.
“Hm… baiklah, kalau begitu istirahat lah Jenn! kalau kau butuh sesuatu kau langsung panggil aku saja ya!” Tutur Jo mengalah. Jenny terlihat hanya menganggukkan kepalanya, gadis itu memilih langsung masuk ke kamarnya tanpa berkata apa pun lagi.
2 bulan kemudian. Saat ini Kenny sedang menghadiri rapat penting terkait saham perusahaanya yang kian menurun drastis setelah pernikahannya di gelar bersama Gea.
.
.
.
.
.
.
.
Sorry telat up guys, Mom masih kurang sehat nih... 🙏🏻🙏🏻😞😞
See you next episode… 😘😘😘