
“Bu, apa Ibu mau menemuinya? sepertinya dia benar-benar menginginkan bertemu dengan Ibu saat ini!” Jo ingat kalau Jenny saat ini sedang hamil, dan bisa jadi keinginannya kali ini untuk bertemu dengan sang Ibu adalah kemauan dari si jabang bayi yang Jenny kandung di dalam rahimnya.
“Ibu akan menemuinya Jo!” Ibu Erika pun segera beranjak di bantu oleh Jo, setelah mereka tiba di ruang tamu keduanya langsung melihat Jenny yang sudah berdiri menyambutnya dengan derai air mata.
“Ibu…” Lirih Jenny di temani isak yang lolos dari bibir ranumnya.
“Ada apa nak? kenapa kau menangis? Kemari lah!” Ibu Erika langsung merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Jenny.
Rindu yang sudah sekian lama dibendung akhirnya tumpah ruah di ruangan tamu yang cukup megah itu. Jenny benar-benar meluapkan rasa rindunya yang sudah terkumpul belasan tahun dalam dekapan Ibu nya, Ibu yang sudah mengandung dan melahirkan nya.
“Aku buatkan minuman dulu ya!” Jo yang ikut terharu melihat interaksi Jenny tersebut hampir lupa jika dia belum membuatkan Jenny minuman apa pun.
Setelah merasa lebih tenang, Jenny akhirnya melerai pelukannya dan menatap intens kedua bola mata Ibunya. Ada rasa aneh yang di rasakan wanita yang tak lagi muda itu, tapi dia sendiri tak paham, bahkan dia dengan mudahnya memeluk Jenny dan mengecup keningnya dengan nyaman layaknya menyalurkan kasih sayang pada putrinya sendiri.
“kau kenapa menangis, hm?” Tanya Ibu Erika.
“Jenny… hanya rindu pada Ibu, bisakah Jenny setiap hari ke sini? Jenny benar-benar suka dan senang bertemu dengan Ibu,” Sahut Jenny lirih yang di temani luncuran air matanya yang terjatuh kembali membasahi pipi.
“Tentu saja sayang, Tante juga tidak paham dengan perasaan Tante saat ini, sejak bertemu dengan mu kemarin, Tante seperti sudah mengenal mu sejak lama. Apa kau memang memilik hubungan denganku di masa lalu?” Ibu Erika mengusap air mata Jenny dengan begitu lembut, memberikan kehangatan tersendiri di hati Jenny yang memang sudah lama menginginkan sentuhan lembut dari Ibunya.
“Apa aku boleh jujur, Bu?” Jenny semakin menatap intens kedua bola mata Ibunya.
“Katakan lah! Tante akan mendengarkan nya sayang,” Ibu Erika ternyata tak menyadari panggilan Jenny padanya sejak pertama adis itu melihatnya di Apartemen Jo.
“Bu, Jenny tau Ibu saat ini hilang ingatan, sebenarnya Jenny datang kemari hari ini untuk memberitahu Ibu jika Jenny adalah putri kandung Ibu, Jenny benar-benar merindukan Ibu, sekian lama Jenny dan Kak Aldo mencari keberadaan Ibu, akhirnya kita di pertemukan juga,”.
Ibu Erika merasa syok mendengar penuturan Jenny. Ada rasa bahagia di hatinya, namun entah mengapa dia juga sedikit tak enak pada Jonathan yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Di liriknya putra sambungnya itu, kini pria remaja itu sudah menjelma menjadi pria dewasa yang begitu tampan dan gagah. Setelah membuatkan 3 gelas minuman, Jo segera duduk di salah satu sofa ruang tamunya dan menyaksikan drama kedua perempuan berbeda generasi itu yang sedang melepas rindu. Seakan paham tatapan Ibunya, Jo pun hanya menganggukkan kepalanya pertanda dia baik-baik saja, dia bisa mengerti dengan perasaan sang Ibu yang masih bingung karena belum sembuh dari Amnesia nya.
“Apa kau bisa menunjukkan padaku salah satu buktinya pada Ibu Jenn? maaf jika Ibu masih meragukan mu sayang, Ibu hanya ingin lebih memastikan jika kau memang benar-benar putri Ibu,” Tutur Ibu Erika.
“Jenny mengerti Bu, ini pasti seperti mimpi bagi Ibu, Jenny pun merasakan hal sama saat kemarin bertemu kembali dengan Ibu, sebentar… sepertinya Jenny punya bukti yang akan membuat Ibu yakin pada Jenny,” Sahut Jenny seraya merogoh tas selempang yang di gunakan sejak bepergian tadi.
Jenny ternyata menunjukkan foto keluarganya yang selalu dia bawa kemana pun, jika Jenny sedang teringat Ayah dan juga Ibu nya, dia pasti memandangi foto tersebut sambil terisak.
“A…apa ini semua keluarga ku dulu?” Tutur Ibu Erika terbata.
“Iya Bu, ini adalah foto kita saat berlibur ke kota C bersama Ayah dan Kak Aldo,” Jelas Jenny.
Ibu Erika masih tak menyangka dengan kenyataan yang sedang dia hadapi saat ini, dia benar-benar masih berusaha mencerna semuanya, dan menerima kehadiran Jenny yang ternyata anak kandungnya sendiri yang sudah terpisah sejak beberapa belas tahun silam.
“Kau anak Ibu Jenn!” Ucap Ibu Erika dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Jenny hanya mampu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan Ibu nya meski dalam keadaan seperti itu.
“Ibu akan selalu di sini menemani kalian sayang, Ibu janji! karena saat ini hanya kalian yang Ibu punya.” Ibu Erika pun akhirnya memeluk Jenny dan membelai kepalanya dengan begitu lembut, sesekali ujung matanya melirik ke arah Jo yang terlihat tak kalah haru dengan bulir Kristal yang entah sejak kapan menganak sungai.
Hari pernikahan Rangga pun di gelar, semua sanak keluarga dari Shakira dan keluarga Rangga pun turun hadir menyaksikan ikrar janji suci kedua insan berbahagia tersebut. Kedua nya nampak begitu memukau dengan balutan baju pengantin yang begitu serasi.
“Jenn!” Panggil seseorang saat gadis cantik itu sedang berjalan menelusuri lorong hotel untuk menghampiri kamar pengantin perempuan.
Yang di panggil pun akhirnya menoleh dan menunjukkan senyum merekahnya pada sang pemanggil tadi. Jenny menghentikan langkahnya seraya menunggu orang tersebut menghampiri dirinya yang kini sudah berdiri di depan pintu sebuah kamar hotel.
“Ibu! Jenny kangen, Ibu dengan siapa ke sini? dengan Oma Dona kah?” Tutur Jenny bertanya.
“Ibu bersama Jo sayang, kau cantik sekali hari ini, Ibu benar-benar sampai takut salah mengenali mu tadi,” Sahut Ibu Erika seseorang yang memanggil Jenny tadi seraya terkekeh di akhir ucapannya.
“Ibu bisa saja, kecantikan Jenny kan menurun dari Ibu juga,” Sanjung Jenny.
“Ha… kau bisa saja membolak-balikkan perkataan Ibu Jen,” Kekeh Ibu Erika.
“Oh iya! kau bilang kemarin akan mempertemukan Ibu dengan Kakak mu, kau tidak lupa kan Jenn? Ibu benar-benar penasaran dengan wajah putra sulung Ibu saat ini!” Ucapnya lagi.
“Jenny ingat ko Bu, Kak Aldo sedang menemani Kak Rangga di ruangan make over, Jenny pasti mempertemukan Ibu ko nanti, Ibu sabar dulu ya, soalnya Jenny harus menemui dan menemani Shakira dulu sekarang, apa Ibu mau ikut?” Seru Jenny.
“Emm… Ibu tunggu bersama Oma saja sayang, kau lakukan saja tugas mu dulu, Ibu akan sabar menunggu ko!”.
“Baiklah, nanti Jenny hubungi Ibu ya kalau sudah selesai,”.
Kedua perempuan berbeda usia itu akhirnya berpisah kembali ke tempat tujuan mereka masing-masing. Acara demi acara pun telah terlaksana dengan begitu lancar dan hikmat, kedua mempelai pengantin pun kini sedang menerima ucapan selamat dari beberapa tamu yang datang malam itu.
.
.
.
.
.
.
.
Happy weekend and see you next episode guys… 😘