Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 26 # Semakin suka



“Bibi, apa Bibi tidak ingin memelukku sebelum aku pulang?” Pertanyaan Jenny sontak membuat wanita paruh baya itu terharu.


“A…apa Bibi boleh melakukannya Nona?” Ucap Bibi Rosa ragu.


“Tentu saja, kemari lah!” Jenny merentangkan kedua tangannya, menyambut wanita paruh baya itu memeluknya.


Pluk… pelukan seorang Ibu beranak tiga itu pun tidak terelakkan. Bibi Rosa benar-benar merasa lega setelah memeluk Nona mudanya, dia seakan terlepas dari rasa bersalahnya yang sudah membuatnya gelisah sejak tadi.


“Maafkan Bibi ya Non, gara-gara Bibi Non terluka!” Tutur Bibi Rosa.


“Sudahlah Bi, itu bukan salah Bibi, tadi itu memang aku yang ceroboh, justru aku yang ingin meminta maaf pada Bibi, gara-gara aku Kenny jadi memarahi Bibi tadi!” Sahut Jenny seraya mengelus lembut punggung wanita paruh baya itu sebelum mereka melerai pelukannya.


“Tidak apa-apa Non, Tuan memang seperti itu, tapi Bibi tau hatinya begitu lembut dan penyayang, Bibi doakan semoga kalian bisa bahagia selalu ya Non,” Jenny mengaminkan doa Bibi Rosa dalam hatinya.


“Em… ya sudah kalau begitu Bibi jangan merasa bersalah lagi ya, lain kali Jenny akan mampir lagi ke sini, sekarang Jenny harus pulang dulu Bi, Jenny pamit ya!” Jenny kembali merangkul tubuh sintal wanita paruh baya itu untuk berpamitan.


“Hati-hati di jalan ya Non, semoga kita bisa sering berjumpa lagi nanti!” Ucap Bibi Rosa seraya melerai pelukannya.


“Semoga ya Bi, kalau begitu Jenny ke mobil sekarang ya, bye-bye Bibi!” Pamit Jenny sambil mengayunkan telapak tangan di depan dadanya.


Kenny yang sejak tadi penasaran diam-diam menguping semua pembicaraan mereka. Senyum di bibirnya kian merekah saat tahu jika gadis cantik itu begitu lembut dan santun pada siapa pun. Membuat gadis cantik itu semakin istimewa di matanya.


“Kau benar-benar penuh kejutan Jenn, dan aku semakin suka!” Gumam Kenny lirih setelah melihat Jenny berpelukan yang kedua kalinya dengan sang asisten rumah tangganya itu.


Sesegera mungkin Kenny kembali masuk ke dalam mobilnya, seolah-olah dia tidak pergi kemana-mana saat itu. Jenny yang sudah sangat cemas dengan orang-orang di rumahnya segera meminta Tian untuk melajukan mobil milik majikannya itu sesegera mungkin.


Di kediaman rumah Rangga, tepatnya rumah yang di tinggali Jenny selama ini bersama Kakaknya setelah mereka di adopsi oleh kedua orangtua Rangga. Semua orang nampak cemas dan khawatir memikirkan anak gadis mereka yang tidak ada kabar sejak semalam. Rangga yang sempat bertemu Jenny tadi malam tidak sempat bertanya pada gadis itu. Alhasil saat ini dirinya yang paling di salahkan karena tidak mampu menjaga Jenny dengan baik.


“Ini semua gara-gara aku Bu, harusnya semalam aku mengajaknya pulang, kalau itu aku lakukan pasti Jenny tidak akan menghilang tanpa kabar seperti saat ini!” Lirih Rangga merasa bersalah.


“Sudahlah Ga, jangan terlalu menyalahkan diri, sebaiknya kita coba hubungi kembali teman-teman terdekatnya, siapa tau dia ada bersama mereka sekarang!” Sahut Aldo memberi solusi.


“Aldo benar Ga, sebaiknya kita coba hubungi kembali teman-teman terdekatnya, siapa tau ponselnya kehabisan daya semalam, jadi dia tidak bisa mengabari kita!” Tutur Ibu Tania menambahkan.


Saat mereka tengah sibuk untuk menghubungi beberapa kontak teman-teman Jenny, seseorang terdengar telah mengetuk pintu rumah sederhana itu dari luar.


Tok…tok…tok…


“Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?” Tanya Ayah Primus sambil menatap wajah istrinya.


“Entahlah Yah, sebaiknya Ayah periksa saja ke depan!” Seru Ibu Tania.


“Hm… baiklah, biar Ayah periksa dulu ke depan!” Ayah Primus pun melenggangkan kakinya ke arah pintu rumahnya.


“Maaf! cari siapa ya?” Pertanyaan Ayah Primus itu di balas senyuman terlebih dahulu oleh Erfan.


Ya! Erfan lah yang bertamu ke rumah Jenny pagi menjelang siang itu. Dirinya merasa harus bertemu dengan Jenny untuk meminta maaf.


 “Jenny nya ada gak Om?” Tanya Erfan.


“Ada perlu apa ya Pak?” Ayah Primus balik bertanya tak kala melihat baju seragam dinas yang Erfan kenakan saat itu.


“Em… sebelumnya perkenalkan Om, saya Erfan temannya Jenny, saya kemari hanya ingin berbicara padanya, apa Jenny nya ada di rumah?”.


Ayah Primus menelisik penampilan Erfan yang begitu gagah dan berwibawa, rasa-rasanya putrinya itu tidak pernah bercerita jika Jenny memiliki teman seorang aparat kepolisian seperti Erfan. Selama ini Jenny tidak pernah menutup-nutupi hal apa pun dari kedua orangtua angkatnya itu. dia selalu terbuka dalam berbagai hal, termasuk jika ada pria yang sedang mendekatinya, atau pun rekan-rekan kerjanya.


“Saya Primus Ayahnya Jenny, silahkan masuk!” Seru Primus mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah.


“Terimakasih Om,” Ucap Erfan seraya melenggang masuk mengikuti sang Tuan rumah yang kini mulai mendaratkan bokongnya di salah satu sofa ruang tamunya.


“Em… jadi bagaimana Om, saya boleh bertemu kan dengan Jenny?” Erfan merasa tak sabar ingin segera bertemu dengan orang yang dia cari.


Ayah Primus terlihat menghela nafasnya lesu sebelum menjawab pertanyaan Erfan. Dia akhirnya memberitahu keberadaan Jenny yang sampai saat ini belum pulang ke rumahnya pada Erfan. Ayah Primus benar-benar khawatir dengan putri angkatnya itu, biar pun mereka tidak memiliki hubungan darah, namun Ayah Primus sudah menganggap Jenny seperti putri kandungnya sendiri. Dia begitu tulus menyayangi kedua anak angkatnya itu sejak pertama kali dia mengadopsi keduanya.


“Hm… sebenarnya Jenny tidak ada di rumah Pak, dari semalam dia belum pulang dan tidak memberi kabar, aku benar-benar khawatir padanya!” Lirih Ayah Primus.


“Jadi Jenny belum pulang juga ya? Om, kalau begitu biar saya bantu mencarinya ya, sepertinya saya tau harus mencarinya kemana, Om tenang saja ok!” Erfan begitu yakin jika Jenny masih berada di villa kelurga Kenny.


Terakhir kalinya dia mendapatkan informasi dari anak buahnya. Erfan di beri alamat keberadaan Jenny yang ternyata singgah di sebuah villa milik keluarga besar Alva Corp.


“Apa Ba..” Ucap Ayah Primus yang segera di sanggah oleh Erfan.


“Panggil saya Erfan saja Om, tidak perlu terlalu formal, saya di sini hanya sebagai tamu, bukan sebagai aparat kepolisian!” Sanggah Erfan yang mengerti perasaan canggung yang di tunjukkan oleh Ayah Primus.


“Baiklah nak Erfan, apa kau benar-benar tau keberadaan putriku?” Erfan tersenyum penuh arti.


Baginya sangat mudah mengantongi kepercayaan dari orang-orang yang membutuhkan pertolongannya seperti Ayah Primus, karena tugas Erfan sendiri adalah pengayom masyarakat yang tentu begitu di andalkan dalam memberi perlindungan dan pertolongan untuk masyarakatnya.


“Erfan akan coba tanyakan keberadaannya dulu pada anak buah Erfan, Om tunggu sebentar ya!”.


Erfan segera mencari kontak anak buahnya di ponsel pintarnya seraya beranjak dari duduknya menuju ke teras rumah Ayah Primus. Namun ternyata aksinya itu harus terhenti kala sebuah mobil mewah yang begitu dia kenali baru saja terparkir di depan rumah Ayah Primus.


See you next episode guys...