
Maaf dari kemarin slow respon 🙏🏻 my boy lagi sakit soalnya, mohon doanya dan harap di maklum ya guys...
Happy reading... 😘
Keesokan harinya, Kenny dan Jenny sudah bersiap pulang ke rumah mereka. Kenny yang sampai saat ini belum memeriksa ponselnya, terlihat masih begitu tenang dan perhatian pada Jenny. Apa lagi saat Jenny kembali melakukan kebiasaan barunya pagi itu yang tak lain memuntahkan isi perutnya.
“Sayang sebaiknya kita ke Dokter saja ya, ini sudah kesekian kali nya aku melihat mu muntah-muntah di pagi hari, kau jangan menolaknya lagi ya!” Seru Kenny seraya membantu Jenny memegangi rambutnya agar tak terurai menghalangi wajahnya yang sedang menunduk memuntahkan isi perutnya.
“Aku akan ke Dokter nanti Kenn, sepertinya ini gara-gara aku tidak makan dengan baik akhir-akhir ini, kau tenang saja ya!”.
Tiba-tiba salah satu ponsel Kenny berdering, pria itu nampak mencari-cari keberadaan ponselnya yang ternyata tersimpan di atas meja makan, sedangkan ponselnya yang semalam di gunakan Jenny menerima telepon dari Gea, dia simpan di saku jas yang dia kenakan dengan menggunakan mode silent. Sebenarnya hari ini Kenny tidak ingin di ganggu masalah pekerjaan, jadi dia memilih memegang ponsel pribadinya di banding ponsel kantornya yang semalam masih dia gunakan sebelum Gea menelepon. Namun sepertinya pria itu memang harus pergi bekerja hari itu, karena ternyata sang penelepon yang mengusik Kenny pagi itu adalah Tian yang ingin memberitahukan perihal meeting penting yang harus di laksanakan di luar kota hari itu juga.
“Sayang, kau angkat dulu saja teleponnya! siapa tau telepon itu penting!” Seru Jenny yang sudah sedikit membaik setelah aksi muntah-muntahnya mereda.
“Tapi hari ini aku ingin menemani mu sayang! kau belum benar-benar sehat,” Ucap Kenny yang kini membantu Jenny untuk duduk di salah satu kursi ruang makan dan memberikannya segelas air putih hangat.
“Aku sudah membaik Kenn, kau tidak perlu khawatir!”.
“Nah… lihat lah! ponsel mu berdering lagi, kan! sepertinya peneleponnya ingin menyampaikan sesuatu yang penting deh!” Tutur Jenny yang akhirnya membuat Kenny mau tak mau memeriksa ponselnya.
Kenny sedikit mengerutkan keningnya saat melihat nama Tian yang terpampang di layar ponselnya, sejurus kemudian pria tampan itu pun menggeser gambar hijau yang tertera di layar ponselnya untuk menjawab panggilan telepon yang masuk tersebut.
“Halo! ada apa Ti?” Seru Kenny.
“Maaf Tuan, hari ini ada perubahan jadwal meeting dadakan dari perusahaan XXXXX, mereka meminta jadwalnya di majukan menjadi hari ini juga,”.
“Kenapa bisa mendadak begini? aku kan sudah bilang kalau hari ini aku tidak ingin di ganggu!”.
“Maaf Tuan, tapi meeting ini sangat berpengaruh besar pada perkembangan perusahaan kita setelah dampak masalah kemarin, jadi mau tidak mau kita harus memenuhi undangannya hari ini juga, saya sudah menyiapkan pesawat serta keperluan yang Tuan butuhkan, jadi Tuan bisa segera berangkat siang ini juga!”.
“Ha… baiklah! kalau begitu aku akan mengantar istriku pulang dulu sekarang!” Kenny terlihat enggan meninggalkan istrinya, namun pekerjaannya sedang di pertaruhkan saat ini, mau tidak mau dia harus pergi demi kelancaran perusahaannya.
“Sayang, sepertinya aku tidak bisa menemani mu ke Dokter hari ini, barusan Tian memberi tahu jadwal meeting dadakan yang harus aku laksanakan hari ini juga, kau tidak apa-apa kan pergi dengan Bruno?” Sesal Kenny. Wajahnya nampak terlihat sendu karena tak tega membiarkan istrinya memeriksakan diri sendirian.
“Hei! it’s ok sayang, aku baik-baik saja, kalau kau memang sibuk, pergilah! aku sangat mengerti dengan keadaan perusahaan mu saat ini!” Jenny membingkai wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya, sekilas dikecupnya bibir tipis milik suaminya itu untuk memberinya semangat.
“Terimakasih untuk pengertian mu sayang, kalau begitu sebaiknya kita pulang sekarang ya, aku harus menyiapkan berkas-berkasnya yang ada di rumah, kau tidak apa-apa kan kalau kita pulang sekarang?”.
“Aku tidak keberatan sayang, ayo! kita berpamitan dulu pada Bibi ya!” Jenny menghampiri kamarnya untuk membereskan barang-barang yang dia bawa kemarin, setelahnya gadis itu menghampiri Bibi Rosa yang kebetulan sedang menyiram tanaman di halaman depan.
“Bi… kami pulang sekarang ya! lain kali kami pasti ke sini lagi untuk mengunjungi Bibi,” Ucap Jenny tulus seraya memeluk wanita bertubuh tambun tersebut.
“Bibi akan selalu menyambut kedatang kalian Nona, Tuan! semoga kalian selamat sampai rumah ya,” Sahut Bibi Rosa setelah melerai pelukannya.
“Kalau begitu kami pamit ya Bi!” Seru Kenny seraya membukakan pintu mobil untuk istrinya.
“Hati-hati saat nanti berangkat ya sayang, aku mencintai mu.” Ucap Kenny seraya mengecup kening dan bibir Jenny sebelum masuk ke dalam mobilnya.
“Aku juga mencintaimu sayang, kau juga hati-hati ya, kabari aku jika sudah sampai di sana!” Jenny mengantar sang suami hingga di depan pintu mobil mewahnya. Gadis itu terus memandangi mobil yang membawa sang suami pergi hingga tak terlihat lagi.
“Sebaiknya aku juga berangkat, aku akan ke Rumah Sakit hari ini, tapi bukan untuk memeriksakan diri, aku harus bisa meluluhkan hati Nenek, aku tidak mau Kenny sampai di benci hanya karena gara-gara menikah dengan ku, aku harus tunjukkan padanya kalau aku juga pantas menjadi pendamping Kenny.” Gumam Jenny bermonolog.
Setibanya di depan loby Rumah Sakit, Jenny tak sengaja bertemu dengan Oma Dona dan juga Jonathan yang entah mau apa mengunjungi Rumah Sakit tersebut. Sesaat mereka bercengkrama dan menuturkan maksud mereka datang ke Rumah Sakit tersebut.
“Jadi kau sudah menikah ya?” Tanya Oma Dona yang nampak kecewa setelah mengetahui status Jenny yang sudah menikah.
“Benar Oma, Jenny sudah menikah sejak dua bulan yang lalu, dan sekarang Jenny bermaksud menjenguk Nenek dari suami Jenny di sini, Oma sendiri sedang apa di sini? apa Oma mau menjenguk juga?” Jenny balik bertanya setelah menjelaskan status dirinya yang tak lagi lajang.
“Oma memang mau menjenguk sahabat Oma Jenn, katanya dia di bawa ke Rumah Sakit ini semalam, kalau begitu Oma dan Jo duluan ya! Oma mau menanyakan ruangannya dulu pada suster jaga,” Sahut Oma Dona.
“Hati-hati Oma, semoga Oma selalu sehat ya!” Ucap Jenny tulus sebelum mereka benar-benar berpisah.
Tak lama setelah Jo dan Oma Dona menanyakan keberadaan ruangan Nenek Martha, mereka akhirnya mengunjungi ruangan tersebut. Namun setelah sampai di depan ruangannya, Oma Dona dan Jo di buat heran oleh keberadaan Jenny yang berdiri mematung sambil menatap lurus ke dalam ruangan yang pintunya masih tertutup itu.
“Jenn! kenapa kau berdiri sendiri di sini?” Tegur Jo.
“Sepertinya Jenny sedang memperhatikan seseorang Jo, dia sampai tidak merasakan kehadiran kita di sini, apa dia baik-baik saja ya?” Bisik Oma Dona yang ikut memperhatikan kelakuan Jenny yang hanya diam memandangi pintu ruangan VVIP yang ada di depannya.
“Eh… tapi itu bukannya ruangan sahabat Oma ya Jo? benar! ini ruangan Martha, apa jangan-jangan…” Oma Dona tak sempat melanjutkan ucapannya karena Jo segera membenarkan dugaan nya.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys...
See you next episode... 😘😘😘