
"Terimakasih ya, sayang!" Ucap Ibu Erika seraya mengusap punggung tangan menantunya.
Kembali ke suasana berkabung di Negara Nenek Martha meninggal. Saat ini pemakaman baru saja selesai di laksanakan. Terlihat beberapa pelayat mulai meninggalkan area pemakaman Nenek Martha yang menyisakan Anggita keluarga inti saja.
"Mom, sebaiknya kita juga segera pulang, hari sudah sangat gelap, sepertinya akan turun hujan!" Seru Papah Oscar mengajak sang istri untuk pulang.
"Tapi, Pah! Mommy masih ingin di sini menemani Mamih, Mommy masih ingin bersamanya," Isak Mom Bella.
"Papah tau Mommy masih berat menerima kenyataan ini, tapi Mommy juga tidak boleh mengabaikan kesehatan Mom sendiri, Papah tidak ingin jika Mommy ikutan sakit gara-gara kehujanan di sini. Besok saja, ya! kita kembali lagi ke sini," Seru Papah Oscar membujuk.
"Mom, Papah benar! sebaiknya kita semua sekarang pulang dulu, sepertinya hujan akan segera turun!" Sahut Jenny menambahkan.
Mom Bella menghela kasar nafasnya sesaat. Di liriknya kembali batu nisan sang Mamih, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan area pemakaman.
Beberapa hari kemudian, Jenny sudah kembali ke Tanah Air, kepulangannya benar-benar di tunggu-tunggu oleh sang putra dengan gembira.
"Sayang!!!" Seru Kenny seraya menghampiri sang putra sambil merentangkan kedua tangannya siap menggendong.
"Daddy, kenapa kalian pergi lama sekali? aku kan jadi kesepian," Rajuk Ken kecil dengan bibir yang mengerucut.
"Maaf kan Daddy ya sayang, kemarin Daddy dan Mommy harus mengurus dulu pemakaman Nenek buyut, jadi kami tak bisa langsung pulang!" Sahut Kenny seraya mengecup wajah sang putra dengan gemas.
"Tapi kalian tidak akan pergi meninggalkan aku lagi kan setelah ini?!" Seru Ken kecil bertanya.
"Tidak sayang, bahkan Daddy akan tinggal satu rumah dengan mu dan Mommy kedepannya, kau senang, kan?!" Tutur Kenny.
"Benarkah?! yey... asik!! sekarang aku tidak akan di bully lagi karena tak memiliki Daddy, aku sayang padamu, Dadd!" Ucap Ken kecil gembira seraya mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi kiri sang Daddy.
"Kenji benar-benar sangat senang bisa dekat dengan Daddy-nya, sepertinya keputusanku kali ini sudah benar!" Batin Jenny.
Setibanya di Tanah Air, Jenny segera kembali ke Apartemennya yang di sewakan oleh Anggun selama singgah di Negara kelahirannya itu. Tak berselang lama dia kembali bersiap untuk menjenguk Oma Dona di Rumah Sakit.
"Sayang, apa kau sudah siap?!" Tanya Kenny saat melihat Jenny meraih tas selempang nya.
"Ya, aku baru saja selesai, ayo! sebaiknya kita berangkat sekarang!" Seru Jenny seraya membenarkan pakaian sang putra yang sudah dia dandani sebelumnya.
Ketiganya sampai di Rumah Sakit, mereka segera mencari ruangan Oma Dona dan bergegas menemuinya.
Tok...tok...tok...
"Sebentar ya Mih, sepertinya ada yang mengetuk pintu!" Seru Ibu Erika seraya beranjak untuk membuka pintu.
Ceklek...
"Sayang... apa kabar kalian?" Sapa Ibu Erika setelah pintu terbuka.
"Kamu baik Bu, bagaimana keadaan Oma sekarang?" Sahut Jenny bertanya.
"Oma sudah lebih baik, tapi Dokter bilang dia masih harus di rawat hingga seminggu ke depan. Tekanan darah ya sangat rendah, penyakit jantungnya pun masih harus di pantau," Tutur Ibu Erika menjelaskan.
"Hm... semoga saja Ima segera sembuh," Ucap Jenny.
"Astaga, Ibu sampai lupa, ayo masuk! kenapa kita jadi bicara di depan pintu begini?!" Kekeh Ibu Erika seraya mengajak mereka masuk.
"Tidak apa-apa, Bu!" Sahut Kenny.
Setelah melihat keadaan Oma Dona, Jenny memutuskan untuk kembali ke Apartemennya. Tubuhnya yang sudah melalui berbagai peristiwa dan perjalanan, membuat perempuan cantik itu tampak lelah dan layu.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?!" Tanya Kenny yang saat ini mengendarai mobilnya.
"Entahlah, mungkin aku hanya terlalu lelah, Kenn! aku ingin istirahat saja setelah sampai Apartemen," Sahut Jenny lesu.
"Hm... bangunkan aku jika sudah sampai, ya!" Ucap Jenny seraya memejamkan matanya.
Satu bulan kemudian. Tepat hari dimana Kenji berulang tahun, Jenny yang masih mengurus pernikahan keduanya bersama Kenny nampak beristirahat sejenak dan menikmati momen kebersamaan mereka bersama sang putra.
"Ha... akhirnya acaranya selesai juga, apa kau senang, Ken?!" Tutur Jenny seraya mendaratkan bokongnya di salah satu kursi kafe yang Kenny sewa hari itu untuk pesta ulangtahun putranya.
"Em... aku sangat senang, Mom! apa lagi Daddy selalu ada bersamaku sekarang," Sahut Ken kecil seraya memeluk sang Daddy yang duduk di sampingnya.
"Syukurlah jika kau senang, sayang! mulai sekarang dan seterusnya Daddy akan selalu membahagiakan kalian, jadi kau tidak akan pernah di bully lagi seperti, dulu!" Ucap Kenny mengelus kepala sang putra.
Di saat ketiga orang tersebut berbincang ringan, tiba-tiba saja Jenny menginginkan sesuatu. Entah mengapa dia sangat menginginkan makanan asam dan pedas saat itu juga.
"Kenn, apa di kafe ini menyediakan salad buah juga? atau semacam asinan deh?!" Tanya Jenny.
"Entahlah, apa kau menginginkannya, sayang? aku akan menanyakannya jika kau mau," Jawab Kenny.
"Ya, aku sangat menginginkannya! sepertinya makan asinan sangat enak saat ini!" Seru Jenny seraya menekan saliva nya.
"Kau sangat menginginkan nya ya, ya sudah! aku tanyakan pada pemilik Kafenya dulu ya! ayo sayang, apa kau mau ikut?!" Sahut Kenny beranjak yang segera di susul sang putra yang selalu menempel padanya.
Tak lama, Kenny kembali dengan rasa menyesal dan bersalah. Pasalnya Kafe tersebut tidak menyediakan makanan yang di inginkan Jenny.
"Sayang, maafkan aku! tapi Kafe ini tidak menyediakan menu makanan yang kau inginkan, apa kau mau kita mencarinya di lain tempat?" Tawar Kenny.
"Hm... sudahlah, aku sudah tak menginginkannya, Kenn! sebaiknya kita pulang saja sekarang, aku ingin beristirahat!" Sahut Jenny.
"Ada apa dengan Jenny? akhir-akhir ini dia sering menginginkan makanan yang asam-asam, selain itu dia juga mudah merasa lelah, apa jangan-jangan dia hamil ya?!" Batin Kenny curiga.
"Kenn, ayo! aku sudah sangat lelah, apa lagi nanti sore kita masih harus fitting baju untuk yang terakhir kali, kan!" Tegur Jenny sedikit merengek.
Hak itu benar-benar membuat Kenny semakin gemas melihatnya. Dengan segera, pria tampan bertubuh atletis itu menggendong sang putra serta menggiring Jenny ke arah mobil mewahnya.
Jenny benar-benar merasakan lemas di sekujur tubuhnya, dia sampai tak sadar tertidur di sebelah bahu Kenny yang duduk di sampingnya.
"Sayang, kau duduk di samping dulu ya, biar Daddy tahan Mommy dulu, sepertinya Mommy benar-benar lelah sampai tertidur!" Bisik Kenny saat Kenji mulai menguap.
"Tapi aku juga ngantuk, Dadd! aku tidur di pangkuan Daddy saja ya, aku juga tidak ingin berjauhan dengan Mommy," Tutur Ken kecil tak ingin beranjak dari pangkuan sang Daddy.
Mau tau mau, akhirnya Kenny membiarkan sang putra terlelap di pangkuannya, sementara Jenny sudah asik berselancar ke alam mimpinya seraya menyandarkan kepalanya di sebelah bahu Kenny. Benar-benar pemandangan yang sangat indah. Ketiganya akhirnya terlihat kompak terlelap kala Tian yang sedari tadi menjadi supir mereka menghidupkan pendingin mobil sedikit lebih dingin.
"Ha... mereka benar-benar membuatku iri, pokoknya aku akan segera menikahi Tantri secepatnya agar bisa seperti mereka," Batin Tian.
.
.
.
.
.
.
.
Udah mendekati ending nih guys... masih semangat kah mendukung Mommy??? jangan lupa like, komen, gift dan vote nya ya...
See you next episode 😘😘😘