Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 185 # Akting.



Ya Allah dari kemari yang sakit giliran, Mommy minta doanya ya man teman readers, kakak-kakak author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 semoga semua keluarga Mommy di beri kesembuhan dan kembali sehat seperti sedia kala... Aamiin Allahumma Aamiin...


.


.


.


"Kau putra terbaik ku sayang, pergilah beli ice cream yang kau mau, jangan nakal-nakal, ya!" Saran Jenny sebelum Jo dan Ken kecil benar-benar pergi ke arah kantin.


Setelah kepergian Jo bersama Ken kecil, Jenny kembali murung dan bersedih. Pasalnya, Kenny belum juga di ketahui keadaannya seperti apa saat ini.


"Gun, bagaimana kalau dia tak tertolong?!" Gumam Jenny di sela isak nya.


"Tenang lah, Nona! Tuan Kenny pasti selamat, aku percaya jika Rumah Sakit di sini memiliki penanganan yang sangat bagus, jadi mereka pasti memberikan pertolongan terbaiknya pada Tuan," Rayu Anggun menenangkan.


"Tapi kenapa sampai sekarang pintunya masih di tutup, Gun?! apa lukanya sangat parah, ya?!" Tanya Jenny.


"Mungkin peluru yang bersarang di punggung Tuan Kenn sedikit sulit di keluarkan, Nona! sebaiknya kita berdoa saja agar Tuan Kenn baik-baik saja," Seru Anggun.


"Semoga saja..." Lirih Jenny.


Sejurus kemudian pintu ruangan tindakan pun di buka oleh seorang Suster yang memiliki nama Rebecca. Jenny yang sudah tak sabar ingin mengetahui keadaan Kenny segera menghampiri Suster tersebut dan bertanya.


Ceklek...


"Suster, bagaimana keadaan Kenn?" Tanya Jenny seraya menghampiri.


"Tuan masih kritis, tapi beruntung pelurunya sudah berhasil kami keluarkan dari punggung nya, saat ini kami akan memindahkannya ke ruangan perawatan,"


Tutur Suster Rebecca.


"Syukurlah..." Lirih Jenny.


"Nona sebaiknya kita duduk dulu saja, kau pasti lelah, kan! kau belum istirahat sama sekali sejak pagi tadi." Seru Anggun menggiring Jenny untuk duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan tindakan.


Namun, belum sempat Jenny mendaratkan bokongnya di kursi, Jenny segera beranjak lagi dan mengikuti Suster yang keluar memindahkan Kenny.


"Kenn... apa kau baik-baik saja?" Teriak Jenny seraya mengejar Suster yang membawa Kenny ke salah satu ruangan perawatan VVIP.


"Nona, sebaiknya kita tunggu Suster selesai menempatkan Tuan di ruangannya saja, baru kita melihat keadaannya!" Saran Anggun.


"Aku sudah sangat tak sabar, Gun! aku ingin melihat keadaannya sekarang!" Sahut Jenny yang terus mengekor Suster ke dalam ruangan perawatan.


Meski kedua Suster yang membawa Kenny sudah tau rencana pasien eksklusif nya itu, namun Suster yang melihat kesedihan Jenny tersebut jadi ikut merasa haru. kesedihan Jenny karena takut kehilangan Kenny benar-benar membuat mereka tersentuh.


"Silahkan Nona, ajaklah Tuan berbincang sesering mungkin, itu akan membantunya terpancing agar cepat siuman, jika ada apa-apa, Nona bisa tekan tombol di samping tempat tidur pasien untuk memanggil kami, kalau begitu kami permisi," Tutur Suster Rebecca setelah menempatkan Kenny di ruangan perawatan.


"Terimakasih Suster," Sahut Anggun membantu menjawab.


Jenny sendiri sudah mendudukan dirinya di kursi yang tergeletak di samping pembaringan Kenny. Isak tangisnya semakin menjadi kala melihat beberapa alat medis yang masih terpasang di tubuh Kenny.


"Kenn, cepatlah sadar! jangan menakuti ku seperti ini, aku mohon, bangun lah! aku akan turuti semua keinginanmu jika kau sadar sekarang, please! aku mohon bangun lah! aku... aku masih mencintaimu Kenn, sangat mencintaimu..." Tutur Jenny seraya membenamkan wajahnya di atas tangannya yang ia lipat di samping tubuh Kenny.


"Apa itu benar, sayang?" Tanya Kenny yang sudah tak tahan ingin memeluk tubuh Jenny.


Anggun yang menyaksikan Kenny tersadar dengan mudah sedikit terkejut. Bahkan, Kenny tak terlihat meringis kesakitan sedikit pun saat pertama kali membuka matanya kembali.


"Apa Tuan Kenn benar-benar sakit? kenapa wajahnya sangat segar?!" Batin Anggun.


Seketika Anggun tak dapat menahan tawanya karena melihat kekonyolan Jenny yang masih menggerutu tak sadar.


"Pfffffttt... Nona, lihatlah baik-baik wajah Tuan, sepertinya dia sudah sembuh karena pernyataan cintamu!" Kekeh Anggun menyadarkan Jenny.


"Hah?! K... Kenn... kenapa kau tak bilang kalau kau sudah siuman, kau jahat! aku membencimu!" Rajuk Jenny melipat kedua tangannya di atas dada.


Kenny tersenyum lebar ketika melihat sang kekasih hati merajuk seperti itu, dia benar-benar bahagia karena Jenny nya telah kembali, Jenny nya telah memberikan jawaban yang selalu dia tunggu.


"Sayang, apa kau benar-benar masih mencintaiku?! uhuk..uhuk..." Tanya Kenny di selingi sedikit akting.


"Kenapa kau masih bertanya?! apa aku harus melompat dari gedung ini dulu ya? baru kau percaya, begitu?!" Gerutu Jenny.


Anggun yang melihat kode dari Kenny akhirnya mengerti dan segera keluar dari ruangan tersebut tanpa Jenny sadari.


"Tidak perlu, tapi kau harus mencium ku agar aku yakin!" Sahut Kenny.


"Dasar mesum, kenapa saat sakit seperti ini pun pikiran mu selalu mengarah ke sana, sih!" Gerutu Jenny.


"Aku bukan mesum, tapi aku hanya ingin bukti, sayang!" Tutur Kenny memanasi.


"Astaga! apa tidak ada cara lain ya? ini kan Rumah Sakit Kenn, lagi pula di sini ada Angg... loh! kemana Anggun?!" Sahut Jenny seraya memindai sekeliling ruangan perawatan Kenny.


"Dia sudah pergi saat kau menggerutu tadi, Jenn! ayolah, sekarang kau tidak bisa beralasan malu karena ada orang lain lagi, kan!" Ucap Kenny seraya berusaha duduk bersandar di atas tempat tidur pasiennya.


Karena belitan kain perban di tubuhnya, membuat Kenny sedikit kesulitan bergerak seperti biasannya.


"K...kau mau apa? sebaiknya kau jangan dulu banyak bergerak, Kenn!" Seru Jenny.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memudahkan kau untuk membuktikan cintamu itu, Jenn! ayo lakukanlah! aku sangat menunggunya, Jenn!" Sahut Kenny dengan seringai di bibirnya.


"Haist! dasar otak mesum, kalau begitu aku tarik kembali saja kata-kata tadi, sepertinya aku berubah pikiran untuk mencintaimu lagi!" Tutur Jenny seraya melipat kembali kedua tangannya di atas dada.


"Hei! tidak bisa begitu, Jenn! aku benar-benar sangat menginginkan kembali denganmu, aku mohon... akh..." Pekik Kenny mulai berakting kembali.


"Astaga! apa yang terjadi Kenn, apa lukanya masih sakit?! aku panggilkan Dokter, ya!" Panik Jenny seraya menyambar tombol di samping tempat tidur Kenny.


Namun secepat kilat, Kenny mencegahnya dan meraih tubuh Jenny agar dapat dia peluk dengan erat.


"Kenn... luka mu bisa kembali berdarah," Tegur Jenny cemas.


"Tidak akan, kembalilah dengan ku, sayang! aku ingin menikahi mu lagi untuk yang terakhir kalinya," Lirih Kenny yang masih mendekap tubuh Jenny.


.


.


.


.


.


.


.


See you next episode guys... 😘😘😘