Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 106 # Terabaikan



Pada akhirnya gadis itu mengurungkan niatnya untuk bertanya karena saat ini perut bagian bawahnya terasa keram. Dengan hati-hati Jenny mendudukkan tubuhnya di atas closet duduk yang berada di dalam kamar mandi seraya memegangi perutnya.


“Ya Tuhan, perutku sakit sekali! apa ini karena hampir terjatuh barusan ya? akh… ini benar-benar sakit,” Jenny terus meringis menahan perutnya yang sakit di bagian bawah seraya meredam suaranya agar tak terdengar oleh Kenny, gadis itu masih memikirkan tentang kejutan untuk suaminya yang tak ingin terbongkar sebelum waktunya.


Tak lama kemudian ponsel Kenny berdering memecah keheningan malam itu, setelah melihat nama si penelepon Kenny segera mengangkat panggilan telepon tersebut dan berbincang.


“Halo Kenn! kau ke Rumah Sakit sekarang ya! Nenek tiba-tiba saja pingsan barusan!” Ucap Papah Oscar yang tak lain seseorang yang menelepon Kenny.


“Astaga, baiklah! Kenn segera ke sana Pah, Papah kirim kan alamat Rumah Sakitnya ya!” Dengan gelisah sekaligus panik Kenny segera mengganti pakaiannya dan langsung menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya.


Pria tampan itu sampai lupa untuk memberitahu dan berpamitan pada sang istri yang masih berada di kamar mandi. Bahkan Kenny sampai melupakan juga ponselnya yang dia tinggalkan begitu saja di atas tempat tidur setelah mengakhiri sambungan teleponnya bersama Papah Oscar tadi.


Sementara di dalam kamar mandi, Jenny semakin meringis kesakitan, dengan susah payah dia melangkahkan kakinya menuju pintu untuk mencari keberadaan sang suami yang ingin dia mintai tolong, namun setelah berhasil keluar dari kamar mandi, Kenny tidak terlihat keberadaannya.


Jenny semakin bercucuran keringat saat perutnya semakin terasa seperti diperas begitu kuat, gadis itu merangkak meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang, namun tidak ada satu pun yang menyahut panggilannya karena malam itu sudah sangat larut. Dimana waktu untuk para makhluk bernama manusia beristirahat dan merangkai kisah indah di alam mimpinya.


Hanya satu kontak yang belum Jenny berani hubungi dia masih menimbang-nimbang saat ingin menghubungi nomer tersebut, dia tidak ingin suaminya salah paham dan berpikiran yang tidak tidak lagi terhadapnya. Namun rasa sakit yang menyerang perut bagian bawahnya akhirnya mengalahkan ketakutannya itu. Setelah dering ketiga, akhirnya penggilan tersebut di angkat oleh sang pemilik nomer yang Jenny hubungi.


“Ha…halo Kak!” Rintih Jenny terbata.


“Jenn! kau kenapa? apa kau baik-baik saja?” Sahut Jo begitu panik saat mendengar suara sang pujaan hati terdengar begitu lemas.


“Tolong aku Kak, aku ingin ke Rumah Sakit!” Tutur Jenny.


“Astaga! apa yang terjadi Jenn? kenapa kau malah menelepon ku? kemana suami mu?” Jo begitu geram saat tak mendapati jawaban dari Jenny yang meyakinkannya jika Kenny tidak berada di sampingnya saat ini.


“To…tolong aku Kak, aku sudah tidak kuat...” Pekik Jenny seraya menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.


“Baiklah…baiklah kau tenang saja aku akan ke sana menjemput mu sekarang, kau tunggu aku ya!”.


Jo tak bertanya lagi, pria tampan itu memilih segera menjemput Jenny untuk membawanya ke Rumah Sakit. Sepertinya kondisi Jenny saat itu benar-benar sangat buruk, Jo akhirnya memacu kendaraannya dengan begitu kencang agar segera sampai menemui Jenny. Beruntung keadaan jalanan pada malam itu sangat lenggang dan memudahkannya meluncur tanpa hambatan menuju rumah Jenny yang dia tuju.


Ceklek…


“Kenapa pintunya tidak di kunci?”.


“Apa jangan-jangan Jenny baru saja kemalingan ya? dan dia kena serangan panik lagi? tapi rumahnya masih terlihat rapih, sepertinya tidak mungkin kalau ada maling yang masuk!”.


Jo melangkah menuju lantai atas, suasana rumah yang begitu hening membuat Jo semakin geram.


“Bisa-bisanya Kenny meninggalkan istrinya yang sedang kesakitan sendirian, awas saja nanti kalau aku bertemu dengannya!” Gumam Jo penuh amarah, dirinya terus menyusuri setiap kamar yang ada di lantai dua tersebut, hingga akhirnya dia menemukan satu kamar yang dia yakini sebagai kamar Jenny dan Kenny.


Perlahan Jo mencoba mengetuk pintu, takut-takut jika saat itu Jenny sedang bersama suaminya atau sedang tidak memakai pakaian. Ah… memikirkan nya saja membuat pipi Jo langsung merona, bagaimana jika dia melihat aslinya ya?.


Tok…tok…


Cekrieeettt…


Pintu yang Jo ketuk ternyata tidak terkunci, bahkan pintu itu ikut terbuka saat tak sengaja terdorong oleh ketukan yang Jo lakukan. Seketika itu juga mata Jo langsung membulat sempurna menyaksikan Jenny yang sedang memegangi perutnya sambil meringkuk kesakitan di atas tempat tidurnya.


“Astaga! Jenn! kau kenapa?” Seru Jo seraya menghampiri.


“Ok-ok! aku akan membawa mu ke Rumah Sakit sekarang Jenn, ayo!” Dengan sekuat tenaga Jo membawa Jenny ke dalam gendongannya dan menuruni anak tangga.


Pria tampan itu segera memasukkan Jenny ke dalam mobilnya dan segera meluncur ke Rumah Sakit agar Jenny segera mendapatkan penanganan.


“Tolong tunggu di luar Tuan!” Cegah seorang suster yang hendak menutup pintu ruangan tindakan setelah membawa tubuh Jenny ke dalam ruangan tersebut.


“Ya Tuhan selamatkan lah Jenny dan bayinya!” Gumam Jo memanjatkan doa.


Di ruangan lain, namun masih di Rumah Sakit yang sama. Setelah mendapat penanganan yang tepat, akhirnya Nenek Martha di pindahkan ke ruangan rawat inap. Para keluarga yang menemaninya ikut masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut setelah Nenek Martha kembali siuman dari pingsannya.


“Nek, bagaimana keadaan Nenek? kenapa Nenek bisa pingsan sih?” Tanya Kenny begitu mengkhawatirkan Neneknya.


“Nenek hanya kelelahan Ken, kau tidak perlu khawatir, Nenek hanya butuh istirahat saja ko!” Sahut Nenek Martha menjawab.


“Nenek jangan berbohong, apa selama ini Nenek menyembunyikan sesuatu dari kenn? Nek! Kenn sangat menyayangi Nenek, jadi Nenek jangan sungkan untuk memberitahu Kenn jika ada yang terjadi ya,” Tutur Kenny seraya mengusap lembut sebelah tangan sang Nenek.


“Kau cucu terbaik ku Kenn, tapi aku benar-benar tidak apa-apa sayang! mungkin Nenek akan cepat pulih jika kau temani semalam di sini, karena besok Nenek ingin segera pulang ke rumah, Nenek paling tidak betah berada di Rumah Sakit seperti ini,”.


“Baiklah Nek, Kenn akan temani Nenek di sini malam ini, sekarang Nenek tidur lah, Kenn akan menyuruh Mommy dan Papah pulang dulu, kasian mereka jika harus ikut menunggu di sini!” Seru Kenny seraya beranjak untuk menghampiri kedua orangtuanya.


“Bagaimana keadaan Nenek mu Kenn, dia tidak apa-apa kan?” Tanya Mom Bella.


“Nenek hanya butuh istirahat Mom, sebaiknya Mom dan Papah pulang saja, biar Kenn yang menunggu di sini malam ini,” Ucap Kenny menjelaskan.


“Ha… syukurlah kalau begitu, kau yakin akan menemani Nenek di sini? apa kau sudah memberitahu istrimu jika kau akan menginap di sini?” Tanya Mom Bella.


Kenny nampak menepuk keningnya karena terlupa dengan istrinya.


“Astaga! Kenn lupa memberitahunya Mom, karena panik Kenn langsung pergi begitu saja tadi, Jenny pasti sedang mencari Kenn sekarang, Kenn coba hubungi dia dulu deh,” Serunya seraya meraba saku pakaian dan jaket yang dia gunakan. Namun hasilnya nihil. Kenny tidak menemukannya di kantong mana pun, bahkan dia juga melupakan dompetnya yang di letakan di atas nakas samping tempat tidur.


.


.


.


.


.


.


.


Favorit, like, komen, gift dan vote nya jangan lupa ya.


See you next episode guys…😘😘😘