Love Me Please Jenny

Love Me Please Jenny
Eps 35 # Gara-gara mati listrik



Karena tidak tahan dengan ocehan Jenny yang menurutnya terdengar begitu menggoda itu, akhirnya membuat Kenny langsung meraup ceri kenyal berwarna merah itu dengan rakus. Kenny benar-benar selalu kehilangan kendali jika sudah beradu tatap dengan Jenny, apa lagi tindakan Jenny sebelumnya membuat Kenny benar-benar lepas kendali menahan hasr*** nya.


“Emm…” Jenny sampai tidak sadar mengeluarkan suara lengu*** nya, meski ciuman Kenny begitu mendadak, namun akhirnya dia bisa mengimbanginya dan ikut terhanyut dalam kenikmatan berpagutan tersebut.


“Sayang! kita akhiri saja ya! aku rasa aku tidak akan bisa menahannya lagi jika tidak menghentikannya,” Seru Kenny saat keduanya sudah melepaskan pagutan mereka karena kehabisan oksigen.


“Kau menyebalkan Kenn!” Sahut Jenny seraya memukul manja dada bidang milik Kenny.


“Tapi kau menikmatinya kan?” Goda Kenny yang kembali mendekatkan wajahnya seraya menarik pinggang Jenny.


“Kenn! aku masih sulit mengatur nafas!” Cegah Jenny seraya menutup mulut kekasihnya yang mulai mendekatkan kembali wajahnya.


Kenny terkekeh saat menyaksikan betapa menggemaskannya wajah merahnya Jenny saat ini, dia benar-benar puas telah mengerjai kekasihnya itu hingga tersipu malu seperti saat ini.


“Kenn! sudahlah! jangan menggodaku terus, kalau tidak aku akan pulang saat ini juga!” Ancam Jenny seraya hendak beranjak.


“Baiklah-baiklah, jangan marah dong sayang! nanti cantiknya hilang loh,” Seru Kenny seraya mencekal pergelangan tangan Jenny yang mencoba melenggang meninggalkannya.


Tiba-tiba listrik di Apartemen sederhana itu pun mendadak mati. Jenny yang sebelumnya memiliki phobia pada gelap langsung menjerit dan memeluk Kenny yang sejak tadi mencekal pergelangan tangannya.


Trak…  Suara lampu padam.


“Aaaaa!! Kenn! tolong aku!” Jerit Jenny saat tiba-tiba saja listrik gedung Apartemen itu mati mendadak.


Dengan sigap Kenny segera membawa Jenny ke dalam pelukannya dan menggiringnya ke arah ruang tamu untuk mendaratkan bokong mereka di salah satu sofa ruang tamunya dengan di temani pencahayaan lampu kecil yang menempel di ponsel pintarnya.


“Kenn, aku takut!” Tubuh Jenny kian bergetar dan mengeluarkan keringat yang membasahi kening dan tangannya.


“Tenanglah sayang, aku tidak akan membiarkanmu sendirian, kau aman bersamaku! sebaiknya kita ke kamar saja ya, supaya kau bisa berbaring dengan nyaman di sana!” Seru Kenny yang merasa tak tega jika harus membiarkan gadisnya terus ketakutan di atas sofa Apartemen nya.


Jenny tidak menjawab, dia hanya menelusup kan kembali kepalanya ke dalam dekapan Kenny dan memeluknya dengan begitu erat. Karena saking sibuknya, Kenny jadi tidak sempat membaca pemberitahuan pemadaman listrik dari pihak Apartemen yang sudah Tian kirimkan ke email nya sejak petang tadi.


“Astaga! kenapa Tian tidak memberitahuku soal pemadaman listriknya sih?”Batin Kenny seraya melenggang membawa sang kekasih kedalam kamarnya.


“Kenn, kapan listriknya menyala?” Ucap Jenny yang sudah berbaring di atas tempat tidur Kenny lengkap dengan selimut tebal yang menutupi tubuh rampingnya hingga batas leher jenjangnya.


“Entahlah sayang, aku juga tidak tau! apa kau baik-baik saja?” Sahut Kenny yang sama-sama berbaring di tempat tidur yang sama dengan Jenny seraya memeluknya.


“Hm… selama kau memelukku, kurasa aku akan baik-baik saja!” Jenny menelusup kan kepalanya ke dada bidang Kenny yang masih memeluknya.


Membuat sesuatu di bawah sana milik Kenny terusik tanpa Jenny sadari. Kenny berusaha menahan has*** nya dengan sekuat mungkin. Hingga akhirnya listrik Apartemen pun menyala dan membuat ketakutan Jenny berakhir.


“Akhirnya listriknya menyala juga!” Seru Jenny seraya beranjak dari tempat tidur dan merapihkan pakaiannya.


Karena sudah tak sanggup menahan has*** nya, Kenny segera berlari ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamar Apartemen nya itu.


“Kenn, kau kenapa? kau baik-baik saja kan?” Cemas Jenny seraya mengetuk pintu kamar mandi yang sudah Kenny kunci dari dalam.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, yang ada hanya suara air yang mengalir deras dari keran dan juga shower yang sengaja Kenny nyalakan untuk menyamarkan suara eran*** nya saat bersolo karir.


“Kenny kenapa ya? apa dia sakit perut? tapi kan tadi kita tidak makan makanan yang pedas!” Gumam Jenny yang memilih berlalu dari kamar tersebut dan menghampiri dapur untuk membuatkan Kenny teh hangat jika prianya itu benar-benar sakit perut.


 20 menit kemudian.


“Sayang, apa yang sedang kau buat?” Tanya Kenny seraya melingkarkan kedua tangannya di perut Jenny dari belakang.


“Kau benar tidak apa-apa Kenn?” Jenny membalikkan tubuhnya dan menyentuh kening Kenny.


“Aku hanya sedikit mulas tadi, kau buat apa itu? sepertinya enak!” Sahut Kenny sambil menyendok sedikit masakan yang Jenny buat dengan garpu nya langsung.


“Apa kau hanya makan mie instan saja ya selama ini? pantas saja kau mudah sakit Kenn, kau sepertinya kekurangan gizi dan makanan yang sehat!” Tambah Jenny.


“Tidak juga, aku hanya menyetok nya saat keuanganku menipis, kau tau sendiri kan kalau Mommy menyita semua fasilitas ku! Aku sekarang tidak sekaya dulu soalnya,” Tutur Kenny berbohong.


Padahal dia selalu memakan makanan yang bergizi yang Mom Bella antar kan setiap harinya, apa lagi semenjak hukuman Kenny di cabut oleh Mom Bella Kenny bisa membeli makanan apa saja yang dia inginkan.


“Hm… begitu ya, ya sudah sebaiknya kita makan sekarang sebelum mie nya mengembang! oh iya, aku juga tadi membuatkan mu teh hangat Kenn, tapi sepertinya teh nya sudah dingin sekarang, biar aku hangatkan lagi nanti ya!” Seru Jenny setelah menuang mie nya dan menaruhnya di atas meja makan mini yang ada di Apartemen Kenny.


*****


“Sayang!” Panggil Erfan.


“Ya, ada apa?” Renata yang masih memeluk tubuh kekasihnya itu hanya menjawab tanpa merenggangkan pelukannya.


Saat ini keduanya tengah menonton film horor di Apartemen Erfan. Renata sengaja memilih film horor tersebut kerena tau jika Erfan takut dengan hantu.


“Kita ganti saja ya filmnya, film ini tidak seru! lebih baik kita putar film aksi atau romantis saja ya!” Pinta Erfan seraya meraih remote televisi.


“Jangan! tunggu sebentar lagi deh, ini tuh bagian yang paling menegangkan nya, habis si pembunuhnya pergi hantunya bakal muncul buat gentayang in pembunuhnya!” Tutur Renata mencegah aksi Erfan yang ingin mengganti film yang sedang mereka tonton.


“Ganti aja ya, aku gak suka film horor seperti itu,” Pinta Erfan memelas.


“Kamu kenapa sih Fan, jangan bilang kamu takut sama hantu ya!” Sarkas Renata seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah Erfan.


“Eng…engga ko, siapa bilang aku takut!” Sangkal Erfan.


Diam-diam Renata menunjukkan seringai di bibirnya. Tiba-tiba saja dia memiliki ide untuk menakut-nakuti Erfan saat itu juga.


“Benar?” Tanya Renata seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Erfan.


“Be…benar lah Re, ka… kamu kenapa sih gak percaya sama aku?” Ucap Erfan terbata-bata.


“Hm… kamu tidak takut ya! kalau begitu…” Renata menekan tombol mempercepat di remote televisi yang semenjak tadi dia pegang.


Dan hasilnya putaran film pun lebih cepat melaju ke menit berikutnya yang menampilkan sosok yang paling Erfan tidak mau lihat.


“Aaaaaaaaa!!!” Teriak Erfan seraya memeluk Renata dan menyembunyikan wajahnya tepat di depan dua gundukan


kenyal milik Renata.


.


.


.


.


.


.


.


Kalau bang Erfan cari kesempatan sama Renata... Mom mah mau cari dukungan dari para readers tercinta aja deh...jangan lupa tinggalkan jejak dukungan terbaik kalian di setiap episode novel receh kedua Mom ini ya guys, see you next episode....