
“Nek! Jenny datang lagi hari ini, Nenek kapan siuman, Jenny sangat rindu mendengar celotehan Nenek yang baru beberapa hari lalu Jenny dengar dan rasakan. Nek! apa boleh Jenny bercerita?” Lirih gadis cantik itu seraya menggenggam tangan renta milik Nenek Martha.
Sejurus kemudian, tangan Nenek Martha terlihat merespon dengan mengeratkan pegangan tangannya di genggaman tangan Jenny. Gadis yang sedari tadi menemaninya berbincang pun di buat sedikit terkejut sekaligus bahagia. Jenny segera menekan tombol untuk memanggil Dokter agar Nenek Martha segera di periksa.
“Jenn! ada apa? kenapa Dokter bergegas masuk?” Tanya Mom Bella yang penasaran dengan apa yang terjadi saat ini ada sang Ibu.
“Mommy tenang saja. sepertinya ini pertanda baik, baru saja Jenny merasakan tangan Nenek merespon genggaman tangan Jenny, jadi Jenny memanggil Dokter untuk memeriksanya,” Tutur Jenny menjelaskan.
“Benarkah? syukurlah jika benar begitu Jenn, semoga Nenek bisa segera siuman ya!” Ucap Mom Bella dengan mata berbinar penuh harap.
“Amin Mom, sebaiknya kita tunggu Dokter selesai memeriksa di dalam ya!” Seru Jenny.
Kedua wanita berbeda generasi tersebut akhirnya memilih duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan ICU untuk menunggu Dokter keluar dari ruangan Nenek Martha. Mereka terlihat saling menguatkan dan memberi keyakinan jika Nenek Martha akan segera sembuh seperti sedia kala.
Ceklek…
“Hei! lanc…Ge! ada perlu apa kau kemari?” Ucap Kenny.
“Kenn, aku masih merasa tidak enak atas keadaan Nenek mu, apa hari ini kau mau mengantar ku ke Rumah Sakit?” Tutur Gea seraya menghampiri Kenny dengan langkah gemulainya.
“Kau jangan menyalahkan dirimu terus Ge, kau itu tidak sepenuhnya salah! kalau Jenny tidak melepaskan tas miliknya seperti yang kau katakan, mungkin kau tidak akan jatuh menimpah Nenek ku,” Sahut Kenny.
“Tapi Kenn…” Gea berusaha berakting sesedih mungkin.
“Sudah lah Ge! aku akan mengajak mu ke Rumah Sakit sekarang, ayo!” Kenny mengulurkan tangannya ke arah Gea yang di sambut dengan antusias oleh wanita genit itu.
Kedua muda mudi itu segera memasuki mobil dan melaju menuju Rumah Sakit. Gea begitu memanfaatkan keadaan itu dengan sangat baik, sesekali dia bergelayut manja di lengan Kenny, dan nampaknya Kenny tak merasa risi atau pun terganggu. Pria itu membiarkan Gea bertingkah semaunya terhadap dirinya.
“Kenn! kenapa kau nampak pucat sekali?” Tanya Mom Bella ketika melihat putranya menghampiri bersama wanita genit yang tak terlalu di sukai nya.
“Kenny kenapa bisa ke sini dengan Gea? apa selama ini mereka memang bersama ya?” Batin Jenny yang melihat ke arah tangan Gea yang bergelayut manja di lengan suaminya.
“Kenn hanya kurang tidur Mom, bagaimana keadaan Nenek?” Tutur Kenny mengalihkan pertanyaan Mommy nya.
“Nenek sedang di periksa Dokter Kenn, Jenny bilang tadi Nenek merespon genggaman tangannya!” Sahut Mom Bella menjelaskan.
“Benarkah? itu bukan tipuan nya lagi kan?” Sindir Kenny seraya melirik tajam ke arah sang istri.
“Kenn, kau tidak boleh menuduh istrimu seperti itu, Mommy tau kalian sedang bertengkar, tapi tidak harus di sini juga, dan Mommy harap kalian bisa secepatnya menyelesaikan masalah kalian ini sebelum pengganggu datang memperkeruh keadaan,” Ucap Mom Bella yang secara tak langsung menyindir Gea yang masih bergelayut manja di lengan putranya.
Sejurus kemudian, Dokter terlihat keluar dari ruangan Nenek Martha. Beliau menyampaikan kabar menggembirakan pada orang-orang yang sedang menunggu di luar ruangan ICU tersebut, Dokter menyampaikan jika sang Nenek sudah siuman, namun sayangnya sebagian organ tubuhnya belum bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
“Tapi jangan terlalu khawatir Nyonya, jika Nyonya Martha mengikuti terapi dengan rutin kemungkinan kesempatan untuknya sembuh akan semakin besar.” Tutur Dokter.
“Benarkah? kalau begitu apa kami sudah bisa masuk sekarang Dok?” Tanya Mom Bella tak sabar.
“Silahkan Nyonya!” Sahut sang Dokter.
“Terimakasih banyak Dokter,” Ucap Mom Bella tulus dan segera mengajak sang menantu untuk masuk memeriksa keadaan Nenek Martha.
Di dalam ruangan ICU, terlihat tubuh renta wanita tua yang tak lain Nenek Kenny tersebut terbaring lemah dengan sorot mata yang terlihat berkaca-kaca.
“Nenek! apa Nenek baik-baik saja?” Tanya Jenny menghampiri. Seketika kedua mata Nenek Martha mengucurkan air mata yang tak terbendung.
“Awww!” Pekik Jenny saat merasakan pergelangan tangannya yang terasa nyeri akibat cengkraman Kenny yang terlalu kuat.
“Hm…dasar lemah! baru segitu saja sudah meringis,” Cibir Kenny.
“Kenn, kenapa kau berlaku kasar pada istrimu sendiri sih!” Tegur Mom Bella yang segera memeriksa pergelangan tangan menantunya.
“Tidak apa-apa Mom, Kenn benar! mungkin Jenny terlalu lemah, kedepannya Jenny akan lebih kuat lagi!” Ucap Jenny dengan sorot mata yang sendu.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian sih Jenn, kenapa Mommy seperti memiliki firasat buruk tentang hubungan kalian ke depannya?” Batin Mom Bella.
Lama mereka berkumpul di dalam ruangan itu dalam keheningan, Nenek Martha ternyata masih belum bisa berbicara pasca koma nya, wanita tua itu sangat sedih karena melihat perlakuan kasar cucunya pada Jenny.
“Huft! benar-benar membosankan, kenapa mereka sangat betah sih menunggu wanita tua ini berbaring berjam-jam, lagi pula kenapa wanita tua ini tidak sekalian mati saja! benar-benar merepotkan!” Batin Gea yang sudak kesal menunggu Kenny yang terlihat enggan beranjak dari tempatnya.
“Sayang! sebaiknya kalian pulang saja sekarang, biar Nenek, Mommy dan Papah yang menjaganya di sini!” Tutur Mom Bella memecah keheningan.
“Kenn, masih ingin menemani Nenek, Mom! Kenny akan menginap lagi di sini saja!” Ucap Kenny.
Ceklek…
“Sayang! bagaimana keadaan Mamih?” Sapa Papah Oscar yang baru saja memasuki ruangan Nenek Martha.
“Mamih sudah sadar Pah, dan itu berkat menantu kita yang selalu memberinya perhatian dan dukungan, Mamih bahkan sampai bisa menggerakkan tangannya meski masih kaku,” Tutur Mom Bella menjelaskan.
“Benarkah? wah… kau hebat sayang, Papah rasa jika Nenek terus kau temani pasti akan segera pulih,” Sanjung Papah Oscar yang nampaknya tak di sukai oleh wanita genit yang masih setia berdiri di samping Kenny.
“Itu hanya kebetulan saja Pah! Papah tidak perlu terlalu memujinya, dia bisa besar kepala nanti!” Sanggah Kenny ketus.
“Kenn, kau kenapa sih? lama-lama Mommy jadi geram loh lihat sikap kamu itu!” Tegur Mom Bella.
“Kenny hanya berbicara yang sebenarnya Mom, kalau Mom tidak suka sebaiknya Kenn pergi saja sekarang, Mom ternyata sama saja dengan wanita pembohong ini! ayo Ge kita pergi!” Seru Kenny seraya menarik tangan Gea agar ikut pergi bersamanya.
Hal tersebut sontak membuat kedua mertua Jenny melongo, mereka menatap nanar kepergian putranya yang entah mengapa akhir-akhir ini terlihat kasar pada menantunya, bahkan Kenny malah mengajak Gea pergi.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode… 😘😘😘