
Erfan segera mencari kontak anak buahnya di ponsel pintarnya seraya beranjak dari duduknya menuju ke teras rumah Ayah Primus. Namun ternyata aksinya itu harus terhenti kala sebuah mobil mewah yang begitu dia kenali baru saja terparkir di depan rumah Ayah Primus.
“Ayo Jenn! hati-hati! tanganmu masih sakit kah?” Kenny terlihat begitu khawatir saat Jenny terlihat sedikit meringis saat mencoba membuka seat belt yang dia gunakan.
Alhasil Kenny segera membantunya membuka sabuk pengaman tersebut hingga akhirnya kedua wajah mereka saling bertemu kembali dalam jarak yang begitu dekat. Tatapan teduh dari keduanya seolah saling menyelam ke lautan cinta yang begitu dalam. Membuat keduanya terhanyut kembali dengan hembusan nafas yang kian terasa menghangat dari masing-masing bibir ranum mereka.
Kenny yang sudah sangat terbuai mencoba mendekatkan wajahnya lebih rapat lagi, agar jarak di antara keduanya melebur dengan gai*** cinta yang begitu membuncah di antara mereka, semakin dekat Kenny mengarahkan bib** ranumnya, semakin terasa menusuk pula hembusan hangat nafasnya di wajah sang gadis. Jenny sendiri ternyata sudah menutup matanya, mencoba menikmati setiap hembusan nafas yang membuat kulitnya menghangat. Hingga…
“Ehem…!!”.
Deheman Tian akhirnya membuyarkan konsentrasi mereka yang kini bersikap canggung setelah terpergok bagai maling yang tertangkap basah sedang mencuri. Kenny benar-benar geram dengan gangguan yang dia dapatkan. Padahal jika Tian tidak mengganggunya dia pasti sudah menikmati kembali bibir manis gadis cantik itu.
“Haist!! kau mengganggu ku saja Tian, kenapa kau berdehem di saat yang tidak tepat sih?” Gerutu Kenny dengan santainya.
“Maaf Tuan, tapi di depan pintu sudah ada tuan Erfan yang menunggu anda dan Nona!” Tian mencoba menjelaskan alasannya mengganggu aksi Tuan mudanya itu.
Jenny yang juga mendengar penuturan Tian tersebut membulatkan matanya dengan sempurna, rasanya dia benar-benar sangat malu saat ini. Apa mungkin Erfan melihat adegan mesranya tadi ya?. Jenny terus berpikir dalam lamunannya hingga akhirnya pintu mobil pun di buka dari luar oleh pria tampan berseragam Polisi itu.
“Jenn! tangan mu kenapa? apa kau baik-baik saja?” Seru Erfan setelah membuka pintu mobil milik Kenny tersebut.
“A…aku baik-baik saja Fan, ini hanya luka kecil saja ko!” Ucap Jenny terbata.
“Hm… ya sudah ayo turun! sepertinya orang-orang rumahmu sedang mencemaskan mu sekarang,” Tutur Erfan seraya membantu Jenny turun dari mobil mewah itu.
Kenny yang sejak tadi menyaksikan perbincangan kedua anak manusia berbeda kelamin itu akhirnya ikut turun dan mengikuti keduanya masuk ke sebuah rumah sederhana milik Ayah Primus.
“Sayang! kau kemana saja Jenn? Ayah dan semua orang di rumah benar-benar sangat khawatir padamu!” Seru Ayah Primus seraya memeluk sang putri setelah Jenny berhasil masuk ke dalam rumahnya.
Karena mendengar kebisingan di depan rumahnya, akhirnya Ibu Tania, Rangga dan Aldo pun menghampiri ruang tamu rumah mereka.
“Maafkan Jenny ya Yah, ponsel Jenny kehabisan daya semalam, jadi Jenny tidak bisa memberi kabar pada kalian, tapi Jenny baik-baik saja ko, Ayah tidak perlu cemas lagi ya!” Tutur Jenny setelah melerai pelukannya.
“Jenn!!” Seru Ibu Tania yang langsung memeluknya dengan erat.
Dia benar-benar bersyukur karena putrinya sudah pulang dengan keadaan selamat.
“Jenn, kau dari mana saja semalam? kenapa tidak memberi kabar pada kami kalau kau tidak pulang? terus ini telunjuk mu juga kenapa di perban begini?” Aldo langsung mencecar Jenny dengan pertanyaan-pertanyaannya saat Ibu Tania sudah melepaskan pelukannya.
“I…ini hanya terkena serpihan gelas pecah Kak, Jenny tidak apa-apa ko,” Jenny berusaha menjawab saat kedua mata Aldo menatapnya tajam.
“Lalu, siapa pria-pria ini?”.
“Mereka teman-teman Jenny, Kak!” Seru Jenny.
“Haist!! kau paling pintar membuatku tidak jadi marah padamu Jenn!” Gerutu Aldo mengakui kelemahannya.
“Kalau begitu jangan marah lagi ya, lagi pula Jenny baik-baik saja ko, Kakak lihat sendiri kan kalau Jenny masih sehat dan cantik seperti ini!” Jenny menempelkan kedua telapak tangannya di masing-masing sisi pipi wajahnya sambil mengedip mengedipkan mata indahnya.
Akhirnya pertahanan Aldo pun runtuh juga. Bukan hanya dia saja, tapi ternyata kedua pria yang berstatus teman Jenny tadi pun merasa diporakporandakan pertahannya saat melihat wajah cantik nan manis milik Jenny yang tersenyum merayu.
“Astaga Jenn, kau benar-benar membuatku gila! senyum mu kenapa sangat manis, rasanya aku ingin mengecup bibir itu kembali!” Batin Kenny seraya menatap penuh damba ke arah Jenny.
“Aku akui kalau gadis ini ternyata tidak kalah cantik dari Renata, senyumnya benar-benar membuat siapa saja yang melihatnya ikut bahagia,” Batin Erfan.
Sadar menjadi pusat perhatian semua orang, Jenny segera memeluk tubuh Aldo untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam karena malu.
“Hei! Apa kau tidak ingin memeluk Ayah dan Ibu juga nak? kemari lah sayang, kami semua sangat menyayangimu Jenn, semoga kau selalu bahagia ya sayang,” Seru Ibu Tania seraya membawa Jenny kedalam pelukannya.
“Em… kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita makan-makan? aku akan mentraktir kalian sup kaki ayam kalau kalian setuju!” Usul Rangga saking senangnya.
“Wah… boleh sekali itu, kebetulan aku juga sangat lapar sekarang , Kakak temani kau belanja ya, ayo!” Seru Aldo seraya mengayunkan kedua tongkatnya untuk melenggang pergi ke luar rumah.
“Hati-hati ya Kak, kalian harus cepat kembali!” Teriak Jenny saat kedua pria yang begitu dia sayangi itu sudah terlihat pergi menjauh dari rumahnya.
“Hm… kalau begitu kalian duduklah dulu, Ibu akan membuatkan kalian minuman dan menyediakan persiapan untuk makan-makan kita di dalam. Yah! tolong bantu Ibu ya!” Seru Ibu Tania seraya menyeret suaminya ke arah dapur rumah mereka.
“Jenny bantu ya Bu!” Ibu Tania segera melarangnya karena dia merasa jika Jenny harus berbincang dengan kedua pria temannya itu sekarang.
“Tidak perlu Jen, kan sudah ada Ayah yang membantu Ibu, benar kan Yah?” Lirik Ibu Tania meminta dukungan suaminya.
“Oh… iya sayang, kalian berbincang lah dulu, anggap saja seperti di rumah sendiri ya, kami ke dalam dulu sekarang, ayo Bu!” Tutur Ayah Primus seraya merangkul bahu istrinya dan melenggang masuk ke dapur mereka.
“Ah… ya sudahlah, emm… ayo kita duduk dulu!” Seru Jenny mengajak kedua pria tampan itu untuk duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
“Kau begitu beruntung Jenn, kau di kelilingi orang-orang yang begitu menyayangimu di sini!” Erfan memulai perbincangan mereka bertiga.
“Ya… kau benar Fan, aku memang sangat beruntung memiliki mereka semua, merekalah yang selalu ada saat aku dan Kak Aldo di tinggalkan orangtua kami dulu!” Jawab Jenny lirih.
“Jadi mereka berdua bukan orangtua kandungmu?” Erfan kembali melayangkan pertanyaannya.
Jenny hanya bisa menganggukkan kepalanya seraya menunduk sedih. Dia kembali teringat pada kedua orangtuanya yang sudah pergi sejak 15 Tahun yang lalu.
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan nya ya guys...
See you next episode...