
"Mommy janji sayang, kalau begitu kita pulang sekarang ya, ayo!" Seru Jenny seraya merentangkan kedua tangannya agar sang putra mendekat ke arahnya.
Ken kecil akhirnya menurut dan mennghampiri sang Mommy untuk pulang bersamanya. Setelah keduanya berpamitan, suasana rumah megah itu kembali terasa sepi, apa lagi kemarin Nenek Martha baru saja di bawa ke rumah sakit untuk perawatan. Sehingga rumah megah itu terasa makin sepi bak tak berpenghuni.
"Oma, apa Ken dan Mommy akan kembali?" Tanya Marsya.
"Kita doakan saja ya sayang, sebaiknya sekarang kau mandi, kau kan belum membersihkan diri sejak bangun tidur tadi, ayo Oma antar!" Tutur Mom Bella seraya menggandeng tangan mungil Marsya.
Di kediamannya, Jenny kini baru saja selesai membersihkan diri, dia beranjak ke ruang keluarga dan mendapati sang anak yang tengah murung seraya memainkan alat mewarnainya. Sepertinya Ken kecil masih kecewa karena harus pulang sore itu.
"Kenapa wajahmu di tekuk begitu? apa kau masih marah pada Mommy?" Tanya Jenny menghampiri sang putra dan ikut duduk di sampingnya.
"Ken ingin tidur bersama Daddy seperti tadi Mom, Ken sangat nyaman ada di dekat Daddy!" Tutur mulut kecil menggemaskan milik Ken.
"Kita kan masih bisa ke sana kapan pun sayang, tapi kalau untuk menginap, sepertinya itu akan mengganggu Daddy, bukannya kau lihat sendiri kalau kaki Daddy terluka?!" Sahut Jenny memberi penjelasan.
"Apa Daddy sakit Mom, kenapa Mommy tidak merawatnya seperti saat Ken sakit?" Tanya Ken kecil.
"Daddy sudah besar sayang, dia bisa mengurus dirinya sendiri, beda dengan kau! putra kecil Mommy yang begitu menggemaskan," Ucap Jenny seraya mencubit gemas hidung mancung Ken kecil.
"Ya sudah, sebaiknya kau ajak Oma dan Oma buyut makan ya, Mommy akan menyiapkan makan malam untuk kita!" Seru Jenny yang di angguki Ken kecil sebagai jawaban.
"Mom, apa Uncle Jo belum pulang?" Tanya Ken kecil sebelum benar-benar melangkah ke kamar Omanya.
"Uncle masih sibuk di kantornya sayang, sepertinya sebentar lagi juga pulang," Jawab Jenny seraya mulai menyiapkan makan malam.
Malam kian beranjak, bergantian pagi yang begitu cerah dengan sinar mataharinya yang sangat bersinar menerangi seluruh kota besar itu.
Kenny terbangun dan berusaha melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun sayangnya kakinya masih terasa sakit dan sedikit menyulitkannya untuk berjalan seperti biasa.
"Ah, sial! kapan kaki ini sembuh sih?!" Gerutu Kenny seraya terus menggusur kakinya ke dalam kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, Kenny segera bersiap berangkat ke kantornya. Hari ini dia bertekad untuk mendekati Jenny kembali, namun kali ini Kenny akan mencoba lebih mengatur emosinya agar Jenny tak menghindar dan menolaknya lagi.
"Aku akan mencobanya terus Jenn, kali ini akan aku dekati dulu putra kita, aku harap kau bisa luluh dengan mudah," Harap Kenny dalam hatinya.
Kenny segera memasuki mobilnya setelah berpamitan pada orang rumah, kali ini mau tak mau dia harus menggunakan jasa supir hingga kakinya benar-benar sembuh.
"Daddy apa hari ini Ken juga ikut lagi Mommy ke kantor?" Tanya Marsya yang ternyata ikut pergi ke kantor menemani Kenny.
"Entah lah sayang, semoga saja dia ikut lagi, kau sangat menyukainya ya?" Sahut Kenny bertanya.
"Emm... Ken sangat baik Dadd, dia teman terbaik ku!" Aku Marsya.
"Andai kau tau Sya, Ken adalah putra kandung Daddy yang sebenarnya sayang, tapi kau tenang saja, Daddy juga akan terus menyayangi mu meski nanti keluarga Daddy Kemabli utuh, kau akan tetap menjadi putri Daddy sayang," Batin Kenny seraya menatap sendu wajah putrinya.
Tiba di depan gedung perusahaannya, Kenny di sambut Tian yang segera memberikan tingkat untuk membantu Kenny menopang kakinya yang masih terasa sakit.
"Selamat pagi Tuan!" Sapa Tian menghampiri setelah pintu mobil di buka oleh supir.
"Pagi! apa Jenny sudah datang?" Tanya Kenny yang langsung menanyakan kehadiran mantan istrinya itu pada sang Asisten.
Sejurus kemudian terdengar langkah kaki yang menghampiri mereka. Sosok yang sejak tadi jadi bahan perbincangan akhirnya menampakkan diri dengan wajah yang begitu bersinar alami meski tanpa polesan make up yang tebal.
"Selamat pa...pagi Nona!" Sapa Tian terbata seraya menatap terkesima dengan kecantikan mantan Nona mudanya.
"Hei, berhenti menatapnya begitu, kau membuatku kesal tau!" Gerutu Kenny merasa risih saat banyak pasang mata yang memandang mantan istrinya itu tak berkedip.
"Ma...maaf Tuan, saya tidak bermaksud apa-apa, mari saya antar ke ruangan!" Sahut Tian merasa bersalah karena sudah terpesona dengan kecantikan Jenny.
"Kenapa hari ini dia cantik sekali sih, dia kan jadi pusat perhatian kalau begini, bahkan Tian juga sempat terus memandanginya tadi, benar-benar tidak bisa aku biarkan!" Gerutu Kenny dalam hatinya.
Jenny hanya bisa melempar senyum untuk membalas, dia juga menggelengkan kepalanya sat melihat tingkah Kenny yang dia rasa begitu konyol.
"Mommy! apa Ken ikut juga bersama Mommy?" Seru Marsya bertanya.
"Ken harus menemani Oma dan Oma buyut ke panti asuhan sayang, mereka sedang melakukan kegiatan bakti sosial rutin, jika kau mau kau bisa ke sana juga nanti dengan Mom," Tutur Jenny.
"Boleh kah? aku akan sangat senang jika bisa ikut dengan Mommy," Sahut Marsya antusias.
"Tentu sayang, nanti siang Mom akan mengajak mu untuk menjemput Ken, kalau begitu Mommy kerja dulu ya sekarang, bye cantik," Ucap Jenny seraya mengusap lembut sebelah pipi Marsya sebelum pergi.
"Haist... kenapa perempuan itu terlihat semakin sempurna Ti?! sepertinya aku akan semakin gila jika tidak dapat memilikinya lagi," Gumam Kenny seraya terus memandang Jenny yang sudah melenggang pergi meninggalkannya.
Di sebuah gubuk yang begitu memperihatinkan, terlihat seorang pria bertubuh tambun sedang termenung seraya memandangi sebuah foto di tangannya.
Pria yang tak lain Mark itu terus meneteskan air matanya seraya meneguk minuman keras dan menatap foto perempuan yang sudah meninggalkannya dari dunia ini.
"Ge, aku sangat merindukanmu, aku ingin segera menyusul mu ke surga, tapi... putri kita saat ini sedang tersisihkan karena kehadiran wanita sialan itu dan anaknya, aku harus merebutnya kembali ke sisi ku, aku ini ayahnya kan, kenapa aku tidak boleh mengurus putri ku sendiri, Ge!" Gumam Mark meracau.
Mark semakin berambisi untuk merebut kembali putrinya, dia terus memikirkan cara apa yang akan dia gunakan untuk mendapatkan kembali putrinya itu. Kegilaannya akan cinta pada Gea, membuat kewarasannya Kemabli terganggu setelah di nyatakan sembuh oleh Dokter beberapa Tahun lalu.
Sedangkan di sebuah panti asuhan, Ken kecil yang di temani Oma dan Oma buyutnya ternyata di susul Jo untuk memastikan keadaan ketiga orang yang dia sayangi itu. Pria tampan itu rela meninggalkan meeting nya demi melihat sendiri keadaan dua wanita yang tak lagi muda itu beserta pria kecil yang begitu Jo sayangi.
"Uncle!!! apa Uncle menjemput ku dan Oma?" Teriak Ken kecil saat mengetahui Jo menghampirinya.
.
.
.
.
.
.
.
See you next episode guys 😘😘😘