
Setelah kepergian Aldo ke kamarnya, Kenny terlihat merogoh saku celananya untuk meraih ponselnya yang terus bergetar sedari tadi. Ternyata saat itu Kenny di hubungi Neneknya yang berada di Negara B.
“Tante, Kenny angkat telepon dulu ya!” Pamitnya seraya melenggang ke arah depan rumah.
“Oh, iya nak silahkan!” Sahut Ibu Tania ramah seraya berpindah tempat duduk mendekati putrinya.
“Haist! pria itu pasti sibuk juga, kenapa tidak pergi saja sih!” Gumam Jenny yang masih bisa di dengar oleh Ibu Tania.
“Pria yang mana?” Tanya Ibu Tania yang entah sejak kapan sudah duduk merapat di samping putrinya.
“Astaga! Ibu bikin kaget aja deh!” Ucap Jenny seraya mengelus dadanya.
“Duh… ternyata putriku sudah dewasa sekarang! kapan kau akan berkencan dengannya?” Tanya Ibu
Tania yang membuat Jenny mengerutkan keningnya seperti Aldo tadi.
“Kencan? maksud Ibu apa sih? Jenny gak mau berkencan Bu, Jenny mau langsung menikah saja kalau memang calonnya sudah ada!” Jenny meraih gelas berisi teh hangat di atas meja seraya menyeruputnya kemudian.
“Oh jadi kamu mau langsung menikah dengan Tuan tampan itu ya, syukurlah! sepertinya Ibu bisa tenang sekarang!” Tutur Ibu Tania mengusap lembut rambut putrinya.
“Jenny memang mau menikah Bu, tapi tidak dengan pria menyebalkan itu,”.
“Kalau Jenny menikah dengannya, Jenny bisa hipertensi tiap hari, Ibu sih gak tau! dia itu orang yang paling menyebalkan yang pernah Jenny temui,” Ucap Jenny.
“Masa sih?” Tanya Ibu Tania memastikan. Dan Jenny pun menganggukkan kepalanya untuk menjawab.
“Jenn, hati-hati loh! Kalau kamu membenci seseorang berlebihan, nanti rasa benci itu bisa berubah menjadi cinta dikemudian hari,” Tutur Ibu Tania mengingatkan.
Jenny menghela kasar nafasnya, ucapan Ibu Tania barusan seakan nyata adanya. Jenny merasa perasaannya kini sulit dia kendalikan jika sedang bersama Kenny, entah apa yang membuat jantungnya selalu berdetak lebih kencang jika dia sedang berdekatan dengan pria tampan itu.
“Sudahlah Bu, Jenny tidak ingin membicarakan hal itu saat ini,” Jenny memilih melenggang ke arah dapur untuk menyimpan gelas kotor yang dia gunakan barusan.
"Haist! anak ini, kenapa sama saja dengan Kakaknya ya? mereka benar-benar tidak pandai menyembunyikan perasaannya!” Gumam Ibu Tania.
“Loh! Jenny nya kemana Tan?” Tanya Kenny setelah selesai mengakhiri sesi telponan nya dengan sang Nenek.
“Dia pergi ke dapur,”.
“Nak Kenn! apa kau menyukai putri Ibu?” Tanya Ibu Tania.
“Ma…maksud Tante?” Jawab Kenny terbata.
“Apa kau mencintai Jenny? jika benar, kau tidak boleh membuatnya bersedih, selama ini dia dan Kakaknya sudah sangat menderita dengan kisah hidupnya, Ibu tidak ingin melihat Jenny bersedih lagi!” Lirih Ibu Tania.
“Kenn…” Belum sempat Kenny meneruskan ucapannya, Jenny sudah terlihat kembali dan menyuruh Kenny untuk pulang, karena dia ingin beristirahat di kamarnya.
“Tuan, apa yang sedang kalian bicarakan?” Tegur Jenny menghampiri.
“Emm… ki…kita tidak sedang membicarakan apa-apa ko Jenn, kau habis dari dapur ya?” Tanya Kenny mengalihkan pembicaraannya.
Entah kenapa mood gadis itu berubah drastis setelah tak sengaja mencuri dengar perbincangan Kenny dengan Ibu Tania barusan. Jenny cukup tau diri dengan keadaannya sekarang, meski dia sudah sedikit memiliki perasaan pada Kenny, namun dia tidak ingin berharap lebih.
Jenny rasa, Kenny bisa saja mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari dirinya. Jenny hanya tidak ingin merasa kecewa dan terluka jika mengingat kembali perbedaan kasta di antara mereka yang begitu kentara.
“Benar! aku memang harus pergi sekarang, Tian juga sudah menungguku di luar sedari tadi, aku juga harus menyediakan pesta kita nanti malam, kau jangan lupa ya Jenn, nanti malam aku akan kembali lagi untuk menjemputmu ke sini!” Ucap Kenny seraya beranjak dari duduknya.
“Hm… kalau begitu berhati-hati lah, maaf! aku tidak bisa mengantarmu sampai ke depan rumah, aku sudah tidak kuat ingin segera tidur, kau tidak apa-apa kan kalau aku langsung ke kamar sekarang?”.
“Ya.. istirahatlah Jenn, aku tau kau pasti sangat lelah seharian ini, kalau begitu aku pergi ya, Tante! Kenny pamit ya,” Tutur Kenny berpamitan.
Jenny tak menunggu pria itu melenggang pergi, dia yang memang sudah tak kuasa menahan kantuk, akhirnya segera berlari kecil menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar aldo di lantai dua rumah sederhana itu.
“Jenny memang seperti itu kalau sudah mengantuk, kau hati-hati di jalan ya nak!” Ucap Ibu Tania seraya mengantar Kenny hingga ke depan rumahnya.
“Iya Tante, Kenn mengerti ko, terimakasih untuk jamuan nya hari ini ya, Kenn pamit Tan, sampai jumpa lagi!” Kenny memasuki mobilnya yang sudah terlihat siap di laju kan oleh Tian.
Asisten setianya itu tampak heran dengan raut wajah Tuan mudanya siang itu. Tidak biasanya Kenny menekuk wajahnya seperti saat ini.
“Tuan! apa anda baik-baik saja?” Tegur Tian setelah memperhatikan Tuan nya sedari tadi.
“Ya, aku hanya sedikit lelah! kau antar aku ke apartemen saja ya!” Titah Kenny yang segera di laksanakan oleh Tian.
Mobil Sport mewah berwarna hitam itu pun melaju dengan mulus ke arah sebuah bangunan Apartemen sederhana tempat Kenny tinggal saat ini. Hanya butuh waktu 15 menit saja bagi Tian untuk mengantarkan Tuan nya ke tempat tinggal sementaranya selama masa hukumannya.
Meski awalanya Kenny masih sering mengeluhkan tinggal di Apartemen sendiri, namun lambat laun dia mulai terbiasa dengan tempat tinggal yang tak begitu luas itu. Setelah sampai di depan pintu Apartemennya Kenny segera menekan kata sandi yang mengakses pintu tersebut agar terbuka. Tian yang memilih pamit setelah mengantar Tuan nya akhirnya bisa bernafas lega dan segera mencari makanan untuk mengisi perutnya yang sejak tadi sudah berperang meminta jatahnya.
“Ha…akhirnya aku bisa makan juga, sepertinya Tuan muda sedang tidak baik-baik saja! tidak biasanya dia mengabaikan perutku kosong di jam makan siang seperti tadi!” Gumam Tian seraya melahap sebuah burger berukuran large yang dia pesan take away
sebelumnya.
“Sepertinya akhir-akhir ini dia benar-benar selalu sibuk, aku jadi kasihan juga padanya, apa lagi sekarang dia pasti sedang patah hati, Nona Renata yang dia cintai tidak akan pernah dia dapatkan lagi setelah kesalahannya sendiri meninggalkan pesta tadi malam,” Tambahnya lagi bermonolog.
Sedangkan yang di bicarakan tengah bersiap merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Karena kondisi tubuhnya yang belum benar-benar sehat, akhirnya Kenny mencoba beristirahat sebelum dia menyiapkan makan malam untuk ke tiga teman-temannya nanti.
“Arrgh! kepala ku kenapa terasa nyeri lagi sih?” Pekik Kenny seraya memegangi kepalanya yang terasa berdenyut kembali.
“Obat! mana obatnya ya? aku harus meminumnya lagi supaya bisa membaik,” Gumam Kenny seraya
mencari obat yang dia konsumsi setelah pulang dari klinik malam tadi.
Setelah menemukan obat yang dia cari, Kenny segera meminumnya dan berbaring di atas tempat tidur untuk beristirahat.
Selamat berakhir pekan....
See you next episode...