
"Apa aku harus mengalah demi, Ken?! sepertinya dia benar-benar bahagia bisa berada di samping Daddy-nya," Batin Jenny.
Di hotel, Jenny segera membersihkan diri setelah Ken memilih ikut dengan Daddy-nya. Setelah terlihat segar perempuan cantik itu membuat secangkir teh yang sudah tersedia di kamar penginapan mewah itu. Jenny membawa cangkir tehnya ke arah balkon, sesaat dia benar-benar menikmati pemandangan Kota tersebut untuk menghilangkan lelah.
Ceklek...
"Sayang... apa kau sudah selesai mandi?" Teriak Kenny yang baru saja masuk ke dalam kamar Jenny.
"Apa Kenn membawa Kenji?!" Gumam Jenny beranjak meninggalkan balkon.
"Sayang..." Panggil Kenny terpesona.
"Kenapa kau hanya datang sendiri? kemana Kenji?" Tanya Jenny.
"Dia sudah tidur sayang, aku ingin mengajak mu makan malam, aku sudah memesan tempat di salah satu Restoran," Tutur Kenny.
"Tapi aku tidak lapar Kenn, kau pergilah sendiri," Sahut Jenny seraya melenggang ke arah mini dapur yang ada di kamar hotel tersebut.
"Sayang... aku mohon, aku hanya ingin mengajakmu makan malam, please... mau ya!" Bujuk Kenny seraya meraih kedua tangan Jenny dan menggenggamnya.
"Apa aku harus ikut dengannya?!" Batin Jenny.
"Jenn, mau ya! Tian sudah memesankan tempatnya sejak tadi, jika kita tidak jadi pergi, kasian kan dia," Tutur Kenny membujuk dengan alasan Tian.
"Haist!! jadi kau menyuruh kak Tian lagi ya?!" Sahut Jenny.
"Aku kan mengurus putra kita, jadi mana ada waktu untuk memesan tempat, lagi pula Restorannya tidak jauh dari hotel ini ko, mau ya Jenn, aku sudah sangat lapar sekarang, ayo kita pergi!" Seru Kenny.
"Hm... ya sudah, tunggulah sebentar, aku akan berganti pakaian dulu!" Sahut Jenny mengalah.
"Yes! akhirnya dia mau juga, semoga ini semua awal dari membaiknya hubungan kami," Gumam Kenny.
Sejurus kemudian, Jenny sudah selesai mengganti pakaiannya. Meski tanpa polesan make up, wajahnya masih saja terlihat cantik alami meski sudah memiliki satu anak. Membuat pria tampan yang menunggunya sedari tadi itu tak dapat memalingkan pandangannya dari wajah cantik Jenny sedetik pun.
"Ayo! bukannya kau bilang sudah sangat lapar ya?!" Tegur Jenny saat tak mendapati Kenny beranjak dari tempatnya duduk saat ini.
"Kenn... apa kita tak jadi pergi?!" Tegur Jenny.
"Hah... tentu saja jadi, ayo! aku hanya terpesona dengan wajah cantikmu sayang, meski sudah memiliki putra, kau masih saja seperti dulu! tetap cantik meski tanpa polesan make up," Tutur Kenny seraya mengejar langkah Jenny yang sudah melenggang lebih dulu.
"Dasar gombal!" Gumam Jenny.
Setibanya di Restoran yang di tuju, Kenny dengan cekatannya membukakan pintu mobilnya yang berada di samping Jenny. Dengan romantisnya, Kenny mengulurkan tangannya agar Jenny bisa turun dari mobil lebih mudah.
"Terimakasih!" Ucap Jenny.
"Ayo! aku akan tunjukkan tempatnya padamu sayang," Seru Kenny seraya melingkarkan sebelah tangan Jenny di sebelah lengannya.
Jenny tak menolak setiap perlakuan Kenny, dia merasa sangat nyaman dengan itu semua. Jenny pikir, mungkin ini memang saatnya jika dia harus membuka hati kembali untuk Kenny.
"Kenn, kenapa makanannya banyak sekali?" Tanya Jenny sesaat beberapa pelayan menyuguhkan hidangan di atas mejanya.
"Aku sengaja memesannya karena ingin membuatmu cepat pulih sayang, makan yang banyak ya!" Sahut Kenny seraya menyerahkan piring berisi daging panggang yang sudah dia potongkan untuk Jenny.
"Astaga! ini sih bukan pulih lagi, tapi ini semua bisa membuat tubuhku melar, Kenn!" Gerutu Jenny.
"Tidak masalah, pokoknya sekarang kau harus makan yang banyak, aku tidak mau melihat kau lemas tak berdaya lagi seperti kemarin," Sahut Kenny.
Ponsel Jenny yang tersimpan di dalam tas selempang nya tiba-tiba saja berdering saat kedua mantan suami istri itu tengah menikmati makan malam mereka.
"Apa itu bunyi ponselmu?" Tanya Kenny.
"Sepertinya begitu, aku akan memeriksanya!" Sahut Jenny seraya merogoh tasnya untuk mencari benda pipih miliknya yang terus berdering.
Setelah melihat nama si penelepon, Jenny segera menggeser gambar hijau untuk menyambungkan sambungan teleponnya.
"Halo..." Sapa Jenny.
"A...aku ada di Negara x, Gun! aku sudah pulih ko, ada apa ya?" Sahut Jenny.
"Kenapa kau ada di Negara x? aku pikir kau pulang ke Apartemen yang aku sewa untuk mu," Tutur Anggun.
"Aku sedang menjenguk Nenek Martha, mungkin besok pagi juga aku pulang bersama Kenji," Sahut Jenny.
"Ha... baiklah! aku hanya ingin mengingatkan acara pertunjukan yang tinggal beberapa hari lagi, aku harap kau bisa menyelesaikannya tepat waktu Nona, bukannya aku tega padamu yang baru saja pulih, tapi jika kita tidak merampungkannya, akan banyak pihak yang di rugikan dalam hal ini, terutama perusahaan Tuan Kenny, jadi aku harap Nona bisa mengerti," Tutur Anggun panjang lebar.
Sebenarnya Anggun sendiri tidak ingin mengganggu Jenny yang masih dalam masa pemulihan, namun setelah dia menerima kabar dari pihak penjahitan dan beberapa pihak lainnya yang mempersiapkan pertunjukan, Anggun mau tak mau harus menghubungi Jenny untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Aku mengerti Gun, kalau begitu besok pagi aku akan segera pulang untuk merampungkan semua sisa pekerjaannya," Ucap Jenny.
"Terimakasih Nona, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya, sampai bertemu lagi di Tanah Air," Tutur Anggun sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
"Ok!".
Klik. Sambungan telepon pun akhirnya terputus. Anggun yang ternyata sedang berada di kantor perusahaan Kenny, di kejutkan oleh kehadiran seseorang yang selalu mengisi relung hatinya setelah kepergian calon suaminya dulu.
"Sayang, apa kau masih sibuk?" Tanya Jo yang tak lain orang yang mengunjungi Anggun.
"Aku baru saja selesai, apa kau sengaja menjemputmu?" Sahut Anggun seraya menghampiri.
"Tentu saja, untuk apa lagi aku datang ke sini jika bukan untuk menemui mu," Goda Jo seraya menarik pinggang Anggun agar mendekat dengan tubuhnya.
"Kak, ini masih di kantor!" Sanggah Anggun sambil mencoba melepaskan diri.
"Biarkan saja, aku ingin mereka tau jika kau sudah ada yang memiliki, agar mereka tak ada yang berani menggoda mu lagi," Ucap Jo seraya mengecup sekilas bibir ranum Anggun.
"Haist! kenapa kau jadi bucin begini?" Sahut Anggun.
Meski bibirnya berucap demikian, tapi hati nya tak dapat di bohongi, jika dia benar-benar bahagia karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
"Semua ini salam mu sendiri, kenapa kau membuatku jatuh cinta padamu?!" Tutur Jo kembali mengecup bibir ranum Anggun.
"Apa kau benar-benar mencintaiku?" Lirih Anggun bertanya.
"Apa aku masih tak cukup membuktikannya?! jika kau mau, malam ini juga aku akan menikahinya sebagai bukti keseriusanku," Tutur Jo.
"Aku percaya! hanya saja aku masih tak percaya jika perasaan ku bisa terbalas, aku masih mencoba menerima kenyataan membahagiakan ini, Kak!" Sahut Anggun.
"Sayang, apa kau tau?! jika selama ini aku terus menjaga hatiku untuk satu perempuan, tapi perempuan itu sangat sulit aku jangkau hatinya, meski aku terus berusaha dengan segara hal, namun dia tetap tak tergoyahkan, dan setelah aku bertemu denganmu, perasaan ku padanya mulai tersadar, jika cintaku padanya bukan untuk dimiliki sebagai pasangan, tapi sebagai seorang Kakak yang selalu melindungi adiknya." Tutur Jo panjang lebar.
"Perempuan?! apa kau memiliki kekasih sebelumnya?" Tanya Anggun.
"Tidak, aku hanya memiliki satu perempuan yang aku suka sebelumnya, dan entah sejak kapan, perasaan itu sudah hilang dan tergantikan oleh dirimu, sayang!" Tutur Jo.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon maaf telat up guys, Mom lagi kurang sehat 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 minta doanya ya...
See you next episode...