
"Aku tidak mencintaimu lagi, Kenn!" Jerit Jenny tanpa menoleh sedikit pun pada Kenny.
Seketika Kenny memutar tubuh Jenny yang berdiri membelakanginya. Pria itu menatap Jenny dengan lekat.
"Kau bohong Jenn! jika itu benar kau pasti tidak akan memalingkan wajah mu dari, ku!" Ucap Kenny seraya meremas kedua bahu Jenny.
"Aww! kau menyakiti bahu ku, Kenn!" Pekik Jenny.
"Jika kau ingin aku melepaskan mu, maka jawab dulu pertanyaan ku dengan sejujur-jujurnya! apa kau masih mencintaiku, Jenny Alexa?!" Tanya Kenny penuh penekanan.
Sorot matanya terlihat berkilat merah karena menahan amarah saat mendengar Jenny berkata tidak lagi mencintainya.
"Kenn! lepas! ku mohon, kau menyakiti ku!" Seru Jenny seraya mencoba melepaskan tangan Kenny yang memegang kedua bahunya dengan kuat.
"Jawab saja Jenn, aku ingin mendengarnya sambil menatap mata, mu!" Tegas Kenny yang tak membiarkan tangannya bergeser sedikit pun.
Perlahan kedua bola mata indah milik Jenny mulai berembun. Perempuan berparas cantik itu berkaca-kaca bukan karena sakit yang dia rasakan pada bahunya saja, namun jauh di relung hatinya yang terdalam dia begitu tersiksa dengan kenyataannya saat ini, bahwa dia sangat membenci sekaligus mencintai Kenny secara bersamaan.
"Bukan kah aku sudah bilang padamu! AKU TIDAK MENCINTAIMU LAGI, KENNY ALVARO!!" Teriak Jenny seraya menjatuhkan bulir bening dari kedua bola matanya yang sudah tak tertahankan lagi.
Sejurus kemudian pegangan tangan Kenny mulai mengendur di bahu Jenny, Kenny nampak tak percaya dengan apa yang dia dengar dan saksikan. Rasanya dia ingin sekali meninju sesuatu saat itu juga. Dia marah, bahkan dia sangat murka saat mendengar Jenny sudah tak mencintainya lagi.
"BOHONG!!! ITU SEMUA TIDAK BENAR, JENN!!! KAU MASIH SANGAT MENCINTAIKU! AKU BISA MERASAKANNYA!" Teriak Kenny seraya bergegas keluar meninggalkan ruangan Jenny dengan amarah yang masih menghias wajah tampannya.
"Ya Tuhan! kenapa aku begitu sesak saat melihatnya marah seperti itu? apa aku memang harus mencintainya lagi?" Gumam Jenny dengan air mata yang sudah membanjiri wajah cantiknya.
Kenny semakin tak dapat mengontrol emosinya. Setelah sekian Tahun lamanya mencari keberadaan Jenny, akhirnya dia bisa menemukannya lagi. Namun, saat dirinya di hadapkan dengan kenyataan seperti tadi emosinya seakan tersulut dengan mudah untuk membludak.
"Kau masih mencintaiku Jenn! masih!" Gumam Kenny seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Pria bertubuh atletis itu terus memacu kendaraan beroda empatnya dengan kencang, Kenny juga tak segan-segan melanggar beberapa rambu lalu lintas yang dia lewati.
"Astaga! Tuan, kumohon jangan membuatku lelah lagi kali ini," Keluh Tian yang saat ini sedang berusaha mengejar Kenny dengan mobil perusahaan.
"Tuan Erfan! ya sepertinya aku harus menghubunginya untuk meminta tolong!" Gumam Tian kembali seraya mencari kontak Erfan di ponselnya.
Tak lama kemudian, Erfan terdengar menyahut panggilan telepon Tian. Setelah Tian menjelaskan apa yang sedang terjadi pada Kenny saat ini, Erfan akhirnya segera menurunkan beberapa anak buahnya juga untuk mengikuti Kenny yang pergi melaju cepat entah kemana. Dengan bermodal CCTV di sepanjang jalan, Erfan Segeran bergegas bertindak sebelum sesuatu yang tak di inginkan terjadi pada sahabatnya itu.
"Kau kenapa jadi begini sih Kenn! padahal dulu saat tau Renata tak mencintaimu kau tidak segila ini, ha..." Gumam Erfan di sela mengemudinya mencari keberadaan Kenny.
Sedangkan di perusahaan Alva corp. Jenny sudah terlihat sedikit membaik meski kedua bahunya masih terasa linu akibat cengkraman Kenny yang begitu kuat tadi. Perempuan itu terlihat beberapa kali menghela kasar nafasnya, Jenny benar-benar tak menyangka jika Kenny bisa berbuat seperti itu padanya.
"Sepertinya aku harus mencari obat untuk meredakan nyerinya, ahhh! kenapa Kenn tega melakukannya padaku sih?" Gumam Jenny seraya menghampiri kotak P3K yang berada di ruangan nya.
Di lain tempat, tepatnya di sebuah taman hiburan.
Mom Bella yang ternyata tengah menghabiskan waktunya dengan para cucu-cucunya yang menggemaskan begitu bahagia hingga tak sadar jika ada seseorang yang memperhatikan gerak geriknya saat bersenda gurau dengan kedua cucunya itu.
"Ken, apa kau mau menginap di rumah Oma malam ini?" Tanya Mom Bella saat mereka tengah duduk menikmati makanan ringan yang Tian belikan sebelum pergi menyusul Kenny.
Flash back start.
"Nyonya ini pesanan anda!" Ucap Tian seraya menyerahkan bingkisan belanjaan permintaan Mom Bella.
Sejurus kemudian ponsel Tian berdering, di lihatnya layar datar benda pilihnya itu.
"Sella?! ada apa dia menghubungiku?" Gumam Tian. Tak lama dia pun memutuskan menjawab panggilan telepon itu untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Tuan! gawat!!! Tuan Kenny mengamuk!" Ucap Sella yang tak lain Resepsionis perusahaan Kenny, setelah sambungan telepon dijawab Tian.
"Mengamuk? tapi apa sebabnya? bukannya Tuan sudah bertemu dengan Nona Jenny, ya?!" Sahut Tian merasa heran.
"Aku juga tidak tau! sepertinya dia benar-benar sedang murka sekarang, dia baru saja menaiki mobilnya dan melakukannya dengan kecepatan tinggi," Tutur Sella dengan nada paniknya.
Pria gagah itu kembali mengantongi ponselnya ke dalam saku jas yang dikenakan. Raut wajahnya terlihat tegang kala ingin meminta izin pergi pada Mom Bella.
"Ada apa Ti? kenapa kau gelisah seperti itu?" Tegur Mom Bella.
"Ti...tidak apa-apa nyonya, a...aku hanya ingin meminta izin untuk kembali ke kantor, sepertinya di sana ada sedikit masalah!" Tutur Tian.
"Oh... ya sudah kau pergi saja! aku masih ingin di sini menemani cucu-cucu ku, lagi pula suamiku juga sedang di perjalanan kemari, jadi kau bisa pergi jika sibuk!" Sahut Mom Bella penuh pengertian.
"Terimakasih atas pengertiannya Nyonya, kalau begitu saya pamit!" Ucap Tian seraya membungkukkan tubuhnya sebelum melenggang pergi meninggalkan majikannya itu.
Flash back done.
"Ken sih mau Oma, tapi Ken harus meminta izin dulu pada Mommy, Mommy pasti khawatir jika Ken tidak bilang dulu," Ucap Ken kecil menjawab pertanyaan Omanya.
Sejurus kemudian terlihat seorang pria paruh baya menghampiri mereka bertiga.
"Hai sayang! maaf lama menunggu," Sapa Pria paruh baya tersebut yang tak lain Papah Oscar.
"Papah kenapa lama sih,? mereka sudah terlihat bosan tuh menunggu Papah!" Rajuk Mom Bella seraya menu jika ke arah dimana kedua cucunya menikmati makanan ringan.
"Maaf! Papah sedikit sibuk tadi Mom,ya sudah kalau begitu kita pulang ke rumah saja, yuk! Papah lapar Mom," Tutur Papah Oscar yang masih tak menyadari dengan keberadaan Ken kecil yang bergabung bersama meraka. Papah Oscar pikir, Ken kecil adalah teman baru Marsya yang baru dia temui di taman itu.
"Hm... Papah! apa Papah tidak mengenali seseorang?!" Tegur Mom Bella.
"Siapa memangnya?" Tanya Papah Oscar yang terlihat cuek sambil memainkan ponselnya memeriksa beberapa email masuk.
"Ihh... Papah! lihat lah dulu siapa yang duduk dengan Marsya sekarang!" Gerutu Mom Bella merasa kesal dengan tingkah suaminya yang selalu terfokus pada ponselnya.
Seketika pandangan Papah Oscar menuruti saran istrinya. Dia menoleh ke arah anak laki-laki tampan nan menggemaskan yang berada di samping cucu perempuannya.
"Siapa anak itu? kenapa wajahnya mirip seperti Kenny saat mengunyah?" Cecar Papah Oscar beruntun.
"Papah tanyakan saja pada anak itu siapa orangtuanya, Papah pasti terkejut kalau tau siapa Ibunya!" Tutur Mom Bella memberi saran.
"Haist! kenapa harus menanyakannya pada bocah kecil itu sih Mom, kenapa Mommy tidak memberitahu Papah saja langsung!" Keluh Papah Oscar, namun tak urung menghampiri Ken kecil yang masih asik mengunyah makanan ringannya.
"Hai jagoan! siapa nama mu?" Sapa Papah Oscar bertanya.
"Namaku Ken Opa, Opa suaminya Oma cantik ya?" Sahut Ken kecil menjawab.
"Haist! kecil-kecil sudah pandai menyanjung orang ya, pintar sekali! pasti Ayah dan Ibu mu bangga ya punya anak yang cerdas dan menggemaskan seperti mu," Puji Papah Oscar seraya mengacak pucuk kepala Ken kecil.
"Ken hanya punya Mommy Opa, tapi Daddy Marsya bilang Ken sekarang boleh memanggilnya Daddy juga, benarkan, Sya?" Tutur Ken kecil meminta persetujuan.
"Emm... Ken putra Daddy juga, Opa!" Sahut Marsya membenarkan.
.
.
.
.
.
.
.
Sorry baru sempet Up guys, see you next episode... 😘😘😘