
"Tidak akan, kembalilah dengan ku, sayang! aku ingin menikahi mu lagi untuk yang terakhir kalinya," Lirih Kenny yang masih mendekap tubuh Jenny.
"A...aku, aku masih ragu Kenn, aku masih butuh waktu untuk memikirkannya," Sahut Jenny seraya melerai pelukan Kenny.
Ceklek...
"Daddy... apa itu sakit?!" Tunjuk Ken kecil pada sebelah bahu Kenny. Pria kecil itu baru saja masuk bersama Jo dan juga Anggun.
"Tidak, sayang! bahu Daddy baik-baik saja, yang terluka punggungnya, jadi kau harus berhati-hati ya jika memeluk, Daddy!" Sahut Jenny menjawab.
"Siap, Mom! tapi aku boleh kan duduk di pangkuan Daddy? aku merindukan Daddy, malam ini aku ingin tidur bersama Daddy lagi, Mom! please..." Bujuk Ken kecil dengan wajah menggemaskannya.
"Naik lah, sayang! Daddy juga sudah sangat merindukan mu," Seru Kenny seraya menepuk samping tempat tidur pasiennya.
"Tidak bisa Ken, kau masih kecil! Dokter pasti tidak akan mengizinkan juga, kau ikut Mommy pulang saja, ya!" Sahut Jenny.
"Aaaah Mommy, aku kan ingin merawat Daddy!" Rengek Ken kecil seraya bermanja di pangkuan sang Daddy.
"Biar kan saja, Jenn! lagi pula aku sudah lebih baik, biar Ken menemani aku semalam saja di sini!" Sahut Kenny.
Jenny menghela kasar nafasnya, jika sudah di hadapkan dengan keinginan sang putra, dia harus sedikit mengalah. Pasalnya, Kenji tidak akan berhenti merengek sebelum keinginannya di kabulkan.
"Ijinkan saja, Jenn! mungkin Ken memang merindukan Daddy-nya," Seru Jo.
"Ha... kalau begitu aku pulang dulu, aku akan membawa pakaian untuk Ken menginap di sini malam ini," Tutur Jenny.
"Biar aku saja yang membawanya, Jenn! kau tunggulah di sini, aku juga akan menyuruh Bibi Tere (ART di Apartemen Jo) untuk menyiapkan pakaian mu!" Seru Jo.
"Tapi kalian kan harus menyiapkan pernikahan kalian, aku bisa sendiri, ko!" Sanggah Jenny.
"Tidak apa-apa, Nona! kami tidak akan kerepotan ko jika hanya membawakan pakaian," Sahut Anggun.
Jenny tak bisa mencegah lagi, akhirnya dia mengalah untuk menunggu, sementara pakaiannya dan pakaian Kenji akan di bawakan oleh Jo dan Anggun. Seusai menyepakati perihal bawa membawa pakaian. Jenny, segera menghampiri sang putra yang terlihat asik menikmati ice cream nya bersama sang Daddy. Jauh di relung hatinya, Jenny merasa sangat bahagia tiap kali melihat kedekatan Kenji dengan Daddy-nya. Entah kali ini dia harus benar-benar kembali pada Kenny atau tidak. Bagi Jenny, kebahagian dan keceriaan sang putra adalah yang paling terpenting. Dia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk putranya.
"Sepertinya sudah saatnya aku kembali, semoga keputusanku kali ini, tepat!" Lirih Jenny dalam hatinya.
"Mommy, kenapa diam saja di sana? kemari lah! aku juga membelikan ice cream coklat untuk Mommy tadi," Tegur Ken kecil.
"Benarkah? wah... sepertinya enak, Mommy akan melihatnya!" Sahut Jenny.
Jenny pun memeriksa ice cream yang di maksud sang putra, setelah menghampiri bingkisan yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur Kenny, Jenny meraih isi bingkisan tersebut yang tak lain ice cream coklat yang sudah meleleh sebagian di sebuah wadah.
"Yahh, ice cream Mommy sepertinya sudah mencair, Ken!" Ucap Jenny berpura-pura mengeluh.
"Sorry, Mom! mungkin tadi Ken terlalu lama mengajak Om Jo membeli mainan, hehe..." Kekeh Ken kecil nampak menggemaskan.
"Astaga! sudah berapa kali Mom bilang, Ken! kenapa kau membeli mainan lagi?!" Tutur Jenny seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sudahlah sayang, jangan memarahi putra kita terus, dia masih kecil, jadi wajar saja yang di belinya mainan dan mainan," Bela Kenny.
"Haist! kau mana tau berapa banyak mainan milik Ken di rumah, aku saja sampai pusing untuk menatanya," Gerutu Jenny mengeluh.
"Sudah-sudah... nanti aku buatkan ruangan khusus untuk menyimpan mainan, Ken. sekarang sebaiknya kau ikut berbaring dengan kami, ayo!" Sahut Kenny.
"Mana bisa, Kenn? tempat tidur pasien mu itu sangat sempit, aku akan merebahkan tubuh di sofa saja, kalian istirahatlah!" Sanggah Jenny seraya menuju sofa untuk merebahkan tubuhnya.
Baru 10 menit Jenny merebahkan tubuhnya di atas sofa, kedua matanya terlihat terpejam dengan damai. Sepertinya perempuan cantik beranak satu itu kelelahan setelah beragam peristiwa yang dia lalui.
"Sayang, ayo bersihkan mulut mu, dulu!" Seru Kenny seraya menggendong sang putra ke arah kamar mandi.
"Tentu saja, kalau Daddy tidak hebat dan kuat, bagaimana Daddy melindungi kalian berdua, hem?!" Tutur Kenny seraya membasuh mulut mungil putranya dengan lembut dan telaten.
Mungkin karena kebiasaannya dulu membesarkan Marsya, membuat Kenny jadi terbiasa mengurus anak. Sehingga dia tak kesulitan lagi mengurusi putranya sendiri.
"Selesai! apa kau mengantuk?" Tanya Kenny saat melihat sang putra menguap.
"Emm... aku sudah terbiasa tidur siang, Dadd!" Gumam Ken kecil seraya menyandarkan kepalanya di sebelah bahu sang Daddy yang masih menggendongnya.
"Ya sudah, Kalau begitu kita tidur di Apartemen Daddy saja, ya! Daddy juga akan membawa Mommy mu agar istirahat lebih nyaman di sana!" Tutur Kenny seraya meraih ponselnya untuk menghubungi Tian.
Ken kecil sudah tak menjawab lagi, pria kecil menggemaskan itu akhirnya ikut berselancar je alam mimpi menyusul sang Mommy yang sudah tertidu pulas lebih dulu.
Tanpa menunggu lama, Tian segera mengambil alih tubuh Ken kecil yang sudah tertidur pulas dari gendongan Kenny. Sementara Kenny, dia sudah pasti akan menggendong Jenny dengan kedua tangannya sendiri.
"Kenapa tubuhmu terlihat semakin menggoda, sayang?!" Batin Kenny saat kedua tangannya meraih tubuh Jenny.
Karena lelah, Jenny dan Ken kecil sama sekali tak terusik dari tidurnya, meski sesekali kedua anak manusia itu menggeliat, namun keduanya masih terlihat nyenyak tertidur dengan posisi tidur mereka masing-masing.
"Dasar anak dan Ibu yang kompak, mereka berdua benar-benar membuatku gemas," Batin Kenny.
Tiba di Apartemen, Kenny segera menyuruh Tian untuk merebahkan Ken kecil di ruangan sebelah kamarnya. Sebelumnya, ruangan itu adalah ruangan kerja Kenny, namun beberapa hari sebelumnya Kenny sudah menyulap ruangan itu menjadi kamar anak dengan dekorasi bertema benda-benda luar angkasa yang sangat menarik.
"Kau boleh pergi, Ti! tapi usahakan jika nanti aku hubungi, kau harus segera datang secepatnya!" Titah Kenny.
"Baik, Tuan! kalau begitu saya permisi!" Pamit Tian.
Tuan segera bergegas keluar dari Apartemen, Kenny. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan istirahatnya itu sedikit pun. Dengan segera, Tian melajukan mobil inventaris perusahaannya itu menuju kediaman sang pujaan hati.
Ting... tong...
"Sebentar!" Seru seorang gadis dari salah sebuah apartemen sederhana.
Derap langkahnya terdengar mendekat kearah pintu. Sejurus kemudian, orang yang ingin Tian temui itu pun menunjukkan senyum di wajahnya karena melihat kedatangannya.
Ceklek...
"Hai sayang, apa aku boleh masuk?!" Ucap Tian menyapa.
"Tentu, masuklah Tuan!" Sahut sang gadis seraya menunduk tersipu karena panggilan sayang yang di lontarkan Tian padanya.
.
.
.
.
.
.
.
Kira-kira siapa yang di temuin Tian ya??? ikutin terus kelanjutan kisahnya ya guys, see you next episode 😘😘😘